Cinta Tabu

Cinta Tabu
Bab 15. Kegilaan Erlan


__ADS_3

Melia masih gelagapan Di hadapan Fahri. Lelaki itu memang melangkah seakan ingin menghampiri. Tapi kenyataannya ia hanya melewatinya begitu saja.


Entah apa yang di luar sana tadi dibicarakan dengan Erlan. Tapi yang jelas, ia telah melakukan kesalahan dengan menemui pria lain apa lagi secara diam-diam.


Tergambar jelas di airmuka Fahri, jika ia amat kesal hari itu. Seharusnya Melia meminta maaf, jika saja ia adalah istri normal seperti hubungan kebanyakan.


Namun, sayangnya pernikahan yang mereka jalani adalah sebatas kepura-puraan saja. Itu sebabnya, Melia bersikap biasa saja meski kini Fahri terlihat tak acuh kepadanya.


Hari-hari telah berlalu begitu cepat. Tak ada yang berbeda, di manapun Melia dan Fahri berada selalu ada pertengkaran di antara mereka. Meski itu seringkali perihal masalah kecil.


Dua hari berselang dari kedatangan Erlan. Pemuda itu semakin gencar berkirim pesan pada Melia. Sikapnya mendadak berubah menjadi pria yang egois.


Hari itu, seperti dua hari sebelumnya. Ia kembali datang dengan dalih memberikan kejutan untuk Melia tanpa takut Fahri memergokinya.


Mungkin saja, pemuda tersebut sengaja menciptakan suasana yang memanas di keluarganya, entahlah.


"Melia, tidak ada makanan. Aku akan memasak, tapi besok giliran kamu. Kita atur jadwal mulai sekarang!" Fahri memotong sayuran dengan penuh emosi.


Melia mengedikkan bahunya. "Terserah saja, kamu sudah tahu aku gak jago masak. Kalau nanti rasanya berantakan, ya jangan mengeluh!"


Fahri menghentikan aktivitas memotongnya. Ia yang semula menundukkan kepalanya, akhirnya perlahan mengangkat wajahnya meski sekedar untuk mencari tahu seperti apa ekspresi seorang Melia.


Namun, sayangnya wanita itu telah menghilang dari pandangannya, melenggang entah ke mana perginya.


Di waktu yang sama pula, Erlan yang sibuk memasak segera melepaskan dan menghempaskan Apron yang semula menggantung di lehernya.


'Melia, aku bertanggung jawab atas dirimu! Aku harus bisa mengubah pribadi dan kebiasaan buruk.' batin Fahri mendengus kesal.


Setelah sejenak Fahri berhasil meredakan emosinya, ia langsung beranjak dari dapur dan langsung melangkah menuju ruang tengah. Ya. Hanya dari sana biasanya istrinya menyelinap keluar diam-diam dari pintu samping.


Dari jendela kaca yang sama, Fahri kembali melihat Erlan dan Melia sedang berpegangan tangan.

__ADS_1


Kali kini Erlan tak sekedar membawakannya seikat bunga krisan putih, tapi pemuda itu pun membawa serta seikat balon yang bisa terbang.


Dari tangannya sendiri, bak sepasang remaja yang sedang dimabuk asmara, Erlan menyerahkan seikat balon bergerombol berwarna-warni dan juga seikat bunga krisan yang dibawanya.


Melihatnya saja, mampu membuat kedua sisi gigi Fahri beradu hingga menimbulkan suara menggeletak pertanda kekesalannya.


Semula ia marah, frustasi, bingung. Hingga beberapa saat ia yang gelisah harus mondar-mandir di depan pintu tanpa tujuan. Hingga akhirnya, sebuah ide gila melintas di benaknya.


Seketika, Fahri berlari menapaki anak tangga. Sesampainya di lantai dua rumah itu, ia masih dikuasai emosinya. Membuatnya kembali menatap Erlan dan istrinya yang sedang asyik berduaan dari balkon rumahnya.


Namun, itu hanya berlangsung beberapa detik saja. Dengan cepat ia melangkah dan menghampiri vas bunga berisi mawar merah dan air, tanpa pikir panjang pemuda itu mengeluarkan bunga mawar dari tempatnya, lalu mengikat tangkainya dengan pita berwarna putih yang ia temukan di lagi kamar.


Aksinya tak berhenti di sana, Fahri pun melangkah menuju sebuah gudang yang terletak di salah satu sudut ruangan belakang rumah. Bulir keringat pun bercucuran saat ia berusaha mencari-cari benda entah apa yang ia inginkan.


"Ketemu!" serunya. Ketika menemukan satu kotak penuh balon yang belum ditiup.


Tak lama setelahnya, senyuman indah akhirnya mengembang menghiasi bibirnya yang ranum.


Ya. Fahri mengambil beberapa balon berbentuk hati, lalu membawanya kembali berserta seikat bunga mawar yang tadi sempat ia temukan.


Ia memang sengaja menutup pintunya, meski tidak ia kunci untuk mengetahui reaksi istrinya jika tidak menemukannya di dapur.


Dan benar saja, beberapa saat setelahnya, ketika Fahri sedang sibuk meniup balon satu demi satu ia mendengar suara teriakan Melia.


"Pak Fahri," panggil melia.


Disusul suara lantang kaki menapaki anak tangga hingga suaranya berdentum keras ketika menyentuh ubin lantai.


"Pak Fahri, di mana? Kenapa masakannya ditinggalin? Gosong tuh barusan! Aku matikan kompornya. Ayo masak lagi, aku bantu," cerocos Melia sambil berteriak tanpa henti.


Hingga kemudian ia berhasil memutar kenop kamar. Di saat yang sama Fahri menyembunyikan seikat bunga mawar di punggungnya dan juga sebuah balon berwarna merah muda berbentuk hati dengan detak jantung yang seakan terpacu dua kali lipat biasanya.

__ADS_1


Bahkan, airmukanya pun berubah tegang. Ketika menyambut kedatangan sang istri.


"Melia ...."


Kalimatnya terhenti, keduanya saling bertatapan mata. Membuat degup jantung Melia tak kalah berdebarnya dengan Fahri.


"Ya, Pak," sahutnya sambil melangkah pelan menghampiri suaminya yang dalam keadaan berlutut menyambutnya.


"Aku, ingin memberikan sesuatu yang mungkin, selama ini belum pernah kuberikan untuk wanita manapun. Meski ia adalah ibuku," ucap Fahri yang terpatah-patah.


Tatapan mata Melia meredup. Perempuan berambut lurus setahun itu mengangkat kedua sisi bahu suaminya. Entah merasa tak enak hati, atau karena alasan lainnya.


"Bapak kenapa? Kenapa tiba-tiba aneh begini? Berdiri, Pak. Jangan membuat saya merasa bersalah sama Bapak." Melia terus berusaha, meski Fahri tak mau bergerak sedikitpun.


Menit setelahnya, pemuda itu menyodorkan balon berbentuk hati dan seikat bunga yang sebelumnya berhasil ia sembunyikan di balik tubuh kekarnya.


Mata Melia membelalak seketika. Bahkan ia langsung memundurkan langkah hingga telapak tangannya berusaha menutupi bibir mungilnya yang sempat ternganga akibat terkesiap.


"Terima, ini hadiah dari suamimu. Ya, meski aku suami yang tidak kamu inginkan. Tapi aku masih suami sah secara hukum dan agama. Tidak seperti pria-pria yang berkeliaran tanpa status di luar sana, Melia."


Fahri masih tetap dalam posisi berlutut. Ia melihat sepasang mata istrinya yang lebar namun dihiasi buku-bulu tebal nan lentik itu mengeluarkan bulir bening yang alirannya semakin deras membasahi pipi mulusnya.


Melia menggeleng cepat. "Ini tidak seperti yang Pak Fahri lihat."


"Lalu mengapa kamu menangis, Melia. Dan mengapa kamu tidak menerima pemberian suamimu? Apa karena kurang pantas?" Kedua alis Fahri saling bertautan.


Membuat Melia langsung mengusap air matanya dan langsung berhambur menghampiri Fahri. Tangannya bergerak cepat menyambar seikat bunga mawar pemberian Fahri, dan juga balon berbentuk hati.


Lalu, perempuan berparas cantik itu meletakkan keduanya di atas meja, lalu menjatuhkan diri ke dalam pelukan Fahri.


"Bangun, Pak. Bapak gak pantas melakukan ini untuk saya. Bukankah Pak Fahri sudah terpaksa menikahi saya karena hutang budi terhadap ayah saya?" Melia menangis sambil memeluk erat suaminya.

__ADS_1


Entah apa yang dirasakan Fahri saat itu. Tapi yang jelas, pemuda angkuh itu segera bangkit lalu memejamkan matanya beberapa saat, dan membalas dekapan hangat istrinya.


"Jika aku tidak pantas melakukan ini, maka yang dilakukan seorang istri menemui pria lain secara diam-diam itu pun juga jauh lebih tidak pantas, Melia." Fahri semakin mengeratkan pelukannya.


__ADS_2