Cinta Tabu

Cinta Tabu
Bab 25. Menyimpan Cerita


__ADS_3

Kedatangan Erlan yang secara tiba-tiba, membuat Melia menjadi ketakutan. Ia bahkan langsung masuk begitu saja ke dalam mobilnya yang sengaja ditinggalkan oleh Fahri sebagai alat transportasi.


Dengan perasaan kacau, Melia segera menyalakan mesin mobilnya. Suaranya terdengar berderu kencang. Tak lama kemudian, kendaraan tersebut melesat begitu saja, melewati jalanan sepi menjelang malam yang masih basah.


Melia menangis sesenggukan sambil mengemudikan mobilnya. Bagaimana tidak? Ia sangat terkejut dengan kehadiran Erlan yang dirasanya kurang sopan.


'Aku bahkan belum mengunci rumah saat pergi,' batinnya meratapi kepergiannya yang tiba-tiba.


*****


Hari semakin gelap, setelah berkendara sekitar empat jam lamanya, akhirnya Melia sampai juga di kota tujuan, tempat suaminya pindah bekerja untuk sementara waktu.


Fahri adalah pria yang tangguh dan juga cerdas, sangat mustahil ia akan diam saja dengan semua ulah Erlan belakangan terakhir.


Perut gadis berparas cantik itu terus bergemuruh tanpa henti, hingga akhirnya ia memutuskan untuk berhenti di sebuah minimarket yang letaknya tak jauh dengan tempat tinggal sementara suaminya.


Wajahnya murung, tapi ia adalah gadis periang yang belakangan terakhir ia mencoba mencari uang tambahan dari konten yang ia unggah di media sosial.


Melia menoleh ke arah jok belakang sebelum memutuskan untuk turun. Senyumnya seketika mengembang setelah melihat kamera mahal miliknya berada di sana.


"Halo semua, selamat malam. Tahukah kalian, di perjalananku kali ini aku sedang mencari tempat tinggal baru suamiku. Tidak mudah untuk sampai di sini, aku baru saja melewati serangkaian kejadian menyeramkan. Tapi, itu tidak penting lagi, karena pada akhirnya aku selamat dan di sini sekarang," ujar Melia yang berbicara di depan kamera merekam dirinya sendiri.


"Oke, semua ... mari kita cari beberapa bahan makanan. Sebab jika aku tidak bisa menemukan suamiku, mungkin saja aku akan berkemah di perkemahan terdekat," sambung Melia, seolah menyapa para fans-nya.


Tak lama kemudian, kaki jenjang pemilik tubuh tinggi semampai itu akhirnya menjejakkan kaki di sebuah minimarket. Ia tetap mengarahkan kamera dan memamerkan setiap barang yang dibelinya.


BRUK!


Tiba-tiba saja, karena tidak memperhatikan sekitar dan asyik merekam, tubuh rampingnya ditubruk oleh seorang pria bertubuh tinggi, kekar.


"Fahri!" teriak Melia dengan raut sumringah.


Segera ia mematikan kamera miliknya.

__ADS_1


"Melia, kau menguntitku? Apa yang kau lakukan di sini, Sayang? Kenapa tidak mengabariku jika mau datang?" Fahri mencecar Melia dengan serentet pertanyaan hingga bibir mungil gadis itu hanya bisa ternganga dibuatnya.


"Tidak, Sayang. Aku memang sengaja datang untukmu. Tapi, bukankah kau tahu, jika aku tidak akan mau menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja. Itu sebabnya aku sambil merekamnya untuk konten milikku," terang Melia.


Fahri tersenyum. Kemudian keduanya membeli beberapa bahan makanan.


"Sejak kapan kau mulai suka memasak?" tanya Fahri sambil memilih beberapa kotak daging.


"Sebenarnya, aku memiliki sebuah konten yang selalu menayangkan kegemaranku berkemah. Aku tidak pandai memasak, kau pun tahu itu. Aku hanya membeli makanan siap saji yang bisa kumakan di malam hari, dan juga persediaan untuk sarapan pagi. Setelah itu, aku langsung mengemasi tenda lalu pergi."


Keduanya mengobrol begitu lama. Tanpa terasa, akhirnya mereka selesai juga berbelanja.


Hubungan keduanya semakin menghangat, meski mereka berdua masih belum memutuskan untuk tidur di ranjang yang sama.


"Jadi, apakah kita akan bermalam di kamar yang kesehatan?" tanya Fahri memberikan tawaran.


"Sayang, aku sudah datang sejauh ini. Lagi pula, aku telah membeli begitu banyak bahan makanan untuk dimasak. Bagaimana jika kita datang di perkemahan mobil terdekat? Kita dirikan tenda dan habiskan malam bersama," ungkap Melia.


Tentu saja ia terlihat bersemangat ingin melakukan aktivitas yang begitu ia gemari. Apalagi keduanya seolah mulai membuka hati masing-masing.


*****


Singkat cerita, keduanya telah sampai di bumi perkemahan. Lahan yang begitu luas, dengan pemandangan indah. Pengelola tempat menyediakan kamar mandi, lengkap dengan tempat mencuci peralatan memasak.


Tepat di bawah pepohonan yang rindang, Melia lincah memasang tendanya sendiri, sedangkan Fahri ikut sibuk merakit tempat tidur di dekat mobil mereka yang sengaja bersebelahan dengan tenda.


Usai kelelahan memasang tenda, Melia dengan gesit merakit meja yang biasa ia bawa, di mana perlengkapan tersebut begitu mudah dibongkar dan juga dipasang. Hingga hanya dalam waktu lima menit saja meja sudah bisa digunakan.


Sambil menyalakan kompor kecil, dan mendidihkan air, gadis itu mendengarkan keluh kesah suaminya.


"Tahukah kamu, Melia. Ini tidak akan lama, sebab aku sudah tahu siapa dalang di balik semua ini," cetus Fahri.


Melia ternganga mendengarnya. Ia hampir saja menceritakan, jika sebenarnya ia sedang lari dari Erlan yang nyaris menghancurkan nama baiknya.

__ADS_1


Namun, mendengar masalah suaminya lebih serius. Perempuan berpara cantik itu memilih untuk mengurungkan niatnya.


Ia lebih suka menjadi seorang pendengar yang baik bagi lawan bicaranya. Mungkin saja ia berusaha mengerti Fahri.


"Siapa dia?" tanya Melia yang sudah tidak tahan lagi menunggu.


"Bimo, ayahku. Tentu saja ia melakukan ini demi anak haramnya!" desis Fahri dengan raut wajahnya yang terlihat dingin.


"Anak haram," kata Melia mengulang ucapan suaminya.


"Erlan, dia ingin mengambil semua yang menjadi milikku. Sok berdalih, ingin menjadi sepertiku dan mengidolakan diriku! Hmmm ... aku lelah dengan bocah itu, apakah dia membuatmu kerepotan?"


Keduanya saling menatap satu sama lain. Entah berapa menit lamanya. Jantung Melia seakan terpacu begitu cepat. Ia bingung harus bagaimana.


Di satu sisi, ia ingin sekali mengatakan segala sesuatu yang dilakukan oleh Erlan kepada suaminya, tapi di sisi lainnya ia gak mau Fahri terbakar emosi.


"Dia bilang akan menemui seorang desainer interior ternama dalam waktu dekat, mungkin saja bisa merasak reputasimu dan dengan mudah juga akan merebut semua perusahaan yang semula di bawah kendalimu!"


Fahri yang biasanya arogan pun, malam itu terlihat begitu manis dengan sikap diamnya. Ia lebih memilih melanjutkan menyiapkan santap malam untuk istrinya.


'Fahri, aku ingin sekali mengadukan bagaimana sikap Erlan kepadamu. Tapi, mengetahui bebanmu sebanyak ini, aku ragu,' batin Melia.


"Hey, kau melamun? Begitu tampannya aku, hingga selalu membuatmu terpana," ucap Fahri saat menggoda istrinya.


"Enak saja, bukankah kau yang mengejarku! Jika tidak, bagaimana mungkin kau bisa menikahi orang asing sepertiku," ejek Melia seketika.


"Aku sudah bilang, Melia. Itu sebagai balas budi terhadap pak Haris—ayahmu."


Melia seketika murung. Fahri paham, jika gadis itu selalu sedih setiap kali diingatkan dengan kenangan ayahnya.


Ia segera mengajak istrinya masuk ke dalam tenda, karena hari telah larut malam. Ditambah, kabut pekat pertanda cuaca dingin semakin menutupi area sekitar.


"Melia, jika saja kita tidur di sebuah ruangan. Bukan di alam terbuka seperti ini, mungkin aku tidak akan melepaskan kamu."

__ADS_1


Hening.


Tiba-tiba saja kedua bibir mereka saling bersentuhan. Tentu saja Melia meronta, napasnya seolah sesak. Tangannya berusaha memukul-mukul kecil dada bidang suaminya.


__ADS_2