
Seisi ruangan tampak tegang. Mereka bisa melihat raut kesal sekaligus terkejut yang Fahri tampakkan.
Pemuda itu langsung berdiri, ia tersenyum getir sembari bertepuk tangan bersorak-sorai atas kehadiran adiknya.
"Wah, kejutan banget ini ya! Tepuk tangan dong, buat investor baru kita. Erlan. Kok saya baru tahu, kalau dia investor baru di perusahaan kita? Siapa yang bertanggung jawab?" Mata elang Fahri menatap seluruh anak buahnya satu persatu.
Semua diam, tak ada seorangpun yang berani menjawab. Siapa yang tak kenal Fahri. Ia selalu tegas dan kasar. Bisa dibilang, ia tidak pernah kenal ampun pada siapapun yang melakukan kesalahan.
Dari cara Fahri menyambut adiknya, dari sorot tajam yang sengaja ia tunjukkan di seluruh anggota meeting. Semua bisa menerka jika memang ada perselisihan dan juga persaingan di antara keduanya.
"Sa-saya, Pak," aku Windy yang merupakan sekretaris Fahri dengan suara terbata.
"Kamu tahu di mana salah kamu?" tanya Fahri dengan kedua alis tebalnya yang saling bertautan.
"Ya, Pak. Tapi sayangnya terlambat. Maaf, Pak. Saya menerima Pak Erlan, karena beliau mengaku sebagai adik Bapak," terang Windy berusaha membela diri.
"Seharusnya, siapapun itu kamu tetap hubungi saya!" hardik Fahri, membuat Windy ketakutan.
"Sudah, Pak. Saya mencoba menelpon berulang kali tapi tidak ada jawaban. Saya bahkan sempat mengabari lewat pesan singkat," sahut Windy.
Perempuan itu tentu saja tidak mau jika pekerjaannya menjadi taruhan. Tentu saja, bukan hal mustahil membuat Fahri memecatnya tiba-tiba dalam kondisi yang seperti ini.
"Ya, sudah. Silahkan dilanjutkan. Presentasi dulu," ucap Fahri kepada anak buahnya.
Melia sigap mengeluarkan desain rumah megah yang dalam proses penggarapan. Fahri pun langsung memeriksa kembali gambar yang telah didesain olehnya bersama Melia itu.
Erlan untuk semula diam, bahkan ia sempat duduk dengan posisi kaki menyilang seolah bersikap wibawa, tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya.
"Halo, perkenalkan. Nama saya Erlan. Adik dari Mas Fahri, pimpinan perusahaan ini. Tapi kedatangan saya di sini sebagai investor. Jadi saya harap kalian profesional. Dan saya butuh tahu seberapa jauh progres properti saya dikerjakan. Jadi ... ya, saya mau Melia mendampingi saya untuk meninjau lokasi."
Fahri tersenyum getir. "Kenapa harus Melia, 'kan ada saya! Melia boleh pergi jika saya juga pergi! Karena kamu sudah terlanjur menerobos, ya kamu akan mendapatkan hak kamu."
Fahri duduk dengan bahu tegap. Entah mengapa, kalo ini ia bahkan tidak menunjukkan betapa gampang tersulutnya dia. Bahkan, Melia seolah bisa membaca suasana ketegangan yang terjadi.
__ADS_1
Dengan cekatan, jemari lentiknya menyambar gelas kaca yang sudah disediakan dan berisi air mineral. Ia sodorkan air minum itu untuk Fahri.
Untuk pertama kalinya, Melia memasang wajah marah, kebencian kepada Erlan.
Seakan ia telah kecewa dengan penghianatan yang dilakukan pemuda itu terhadap kakaknya. Bukan saja karena urusan pekerjaan, Melia sangat kecewa karena Erlan telah membuatnya menikah dengan Fahri.
Seandainya, ketika gadis itu memberikan kabar dan Erlan mau meluangkan sedikit waktu untuk diperkenalkan dengan kedua orangtuanya, mungkin ia tidak perlu repot-repot berbohong kepada banyak orang seperti saat ini. Kebohongan tentang pernikahannya dengan bosnya. Yang entah, membuatnya takut luar biasa jika suatu hari bisa terbongkar.
Fahri menyesap air mineral yang disodorkan oleh istrinya, hingga isinya tinggal separuh saja. Kemudian, dengan suara lantang ia memberikan perintah.
"Kita berangkat setengah jam selesai meeting. Persiapkan diri kalian. Buat investor kita puas! Meetingnya silahkan dilanjutkan. Saya ada kepentingan mendadak," pamit Fahri.
Tak mau memberikan kesan buruk. Ia tetap berpamitan. Ada senyum penuh kemenangan yang terpampang di wajah Erlan.
*****
Hari ini, memanglah hari pertama Fahri kembali bekerja. Akan tetapi, seketika suasana hatinya memburuk saat tahu adiknya ikut serta terjun ke dunia bisnis yang sama persis ia geluti.
Usai meeting. Masih ada sisa waktu setengah jam untuk bersiap. Kala itu, Melia sedang duduk seorang diri di pantry.
Siapa sangka jika ternyata diam-diam Erlan menyusulnya lalu duduk di dekatnya.
"Hei, Lia." Panggilan akrab Erlan kepada Melia.
Melia mendelik menatap pria itu. "Lan, kamu jangan bikin aku dalam masalah! Pergi! Hubungan kita sudah usai, Lan. Aku sudah menikah!"
"Mengapa kamu menikah dengan kakakku? Apa tidak merasa aneh?" tanya Erlan dengan nada kesal.
“Maksudmu?” tanya Melia bingung.
"Apa kamu tidak merasa aneh menikah dengan kakakku? Apa kamu tidak merasa bersalah padaku?" tegas Erlan.
Melia kesal. Bahkan kedua tangannya mengepal.
__ADS_1
"Ini 'kan yang kamu mau, Erlan? Aku menikah dengannya karena kamu tidak datang." Bulir bening di pelupuk mata Melia mengalir deras seketika.
"Justru itu, Lia. Aku minta maaf karena tidak datang waktu itu. Aku sedang ada pelatihan bisnis keluarga!" seru Erlan.
Keduanya kini terlibat cek cok.
"Maaf kamu bilang! Kamu pikir aku bisa kembali lajang dengan maaf kamu itu, Lan? Kaku pikir sepotong kata maaf bisa membuat hubungan kita membaik, tidak, Lan. Tidak bisa." Melia menangis tersedu-sedu.
"Aku menyesali semuanya, Melia. Aku tidak tahu jika ternyata kamu akan dinikahkan dengan abangku sendiri, seandainya saja aku tahu," kilah Erlan berusaha membujuk Melia yang masih menangis.
Pemuda itu terus berusaha membujuk, sampai-sampai ia hendak meraih kepala Melia dan berusaha menenggelamkannya ke dada bidangnya.
Naasnya, gadis itu bisa membaca pergerakan lawan bicaranya sehingga ia langsung bisa mengelak.
"Melia, ayolah ... ini belum terlambat. Kamu masih bisa minta cerai, dan kita tata kembali hubungan kita," cetus Erlan dengan percaya diri.
"Mudah ya kamu ngomong! Kamu gak ngerasain apa yang aku rasain. Aku menangis semalaman waktu itu. Kamu sudah hancurkan hati dan hidup aku, Erlan. Dengar ini, Mas Fahri tidak tahu tentang hubungan kita. Awas saja kalau sampai dia tahu, aku gak akan pernah maafin kamu lagi!" ancam Melia sambil menunjuk dengan jari telunjuknya bergetar.
Ekspresi wajah sedih, terluka sekaligus penuh benci yang bahkan belum pernah Erlan lihat sebelumnya.
Setelah selesai memperingati Erlan, gadis itu langsung berjalan melewatinya dan pergi meninggalkan Erlan yang masih mematung memikirkan kalimat yang diucapkan Melia.
"Melia Anastasya, kita sudah berteman selama bertahun-tahun. Aku bahagia ketika kita saling mengutarakan rasa beberapa waktu lalu. Dan aku tidak menyangka jika akhirnya seperti ini. Aku berjanji, akan merebutmu kembali dari pelukan kakaku! Bagaimanapun caranya." Kedua tangan Erlan mengepal, kemudian ia melayangkan tinju begitu saja ke tembok ruangan.
Kini Erlan yang dulu lugu telah berubah. Perubahan besar yang bahkan dianggap Fahri tidak mungkin sebelumnya.
Tak ada yang tahu, jika di masa lalu Erlan dikenal sebagai pemuda kutu buku yang cupu dan juga kerap menggunakan kacamata dengan lensa yang lumayan tebal.
Penampilan aneh, bagi orang normal kebanyakan. Ia bahkan tidak memiliki keberanian untuk sekedar berbicara dan memiliki banyak teman.
Karena kurang pandai bergaul membuatnya menghabiskan waktu nyaris setiap hari bersama Melia. Seorang gadis satu-satunya yang ia jadikan teman, sekaligus kekasih.
Entah apa yang mendorong perubahan besar dalam diri pemuda itu. Tapi yang jelas, ia menunjukkan rasa ketidaksukaannya kepada sang kakak dengan gamblang.
__ADS_1