Cinta Tabu

Cinta Tabu
Bab 26. Emosi Berbalas Keji


__ADS_3

Erlan murka setelah tahu Melia benar-benar tak ingin dekat dengannya lagi. Hatinya bukan saja luka, tapi kekecewaan besar kkji berubah menjadi dendam.


Malam itu hujan deras membasahi tubuhnya yang kian kurus. Ia melihat Melia baru saja tiba di kediamannya. Alih-alih masuk dan menyelinap, Erlan hanya mengamati dari kejauhan.


Senyuman bercampur pilu, kini mengembang menghiasi wajahnya.


'Ini sudah saatnya, Melia. Maaf, jika kamu akhirnya kupilih sebagai jembatan pembalasan sakit hatiku pada Fahri.'


Beberapa saat kemudian, akhirnya Erlan pergi setelah menghubungi ayahnya. Ya. Pak Bimo, adalah satu-satunya orang yang peduli kepadanya sejak membawanya pulang ke tengah-tengah keluarga.


*****


Lima hari berlalu cepat, Melia masih bekerja sebagai staf biasa di perusahaan yang dipimpin oleh Erlan. Mungkin ini adalah pilihan yang tepat baginya, karena ia tak mau menyakiti hati suaminya.


Sementara Windy, seorang sekretaris kepercayaan Fahri, harus menghadapi nasib buruk karena dipecat oleh Erlan. Pemuda itu menggantinya dengan wanita yang ia pilih sendiri.


Mungkin, ia tak ingin ada jejak sedikitpun tentang Fahri. Sudah tujuh puluh persen karyawan perusahaan itu ia ganti dengan orang-orang baru.


Tatapannya tertuju pada Melia, ketika perempuan berparas cantik itu akhirnya nekat menyodorkan surat resign.


"Erlan, maaf. Aku sudah tidak sanggup lagi terus bertahan. Tolong jangan pernah ganggu aku lagi," pungkas Melia.


Selanjutnya, Melia memutar tubuh lalu pergi meninggalkan ruangan Erlan. Sementara pemuda itu masih menatapnya dengan ekspresi marah.


"Kamu yakin, Lia? Aku masih memberikan waktu jika kamu berubah pikiran," sahutnya dengan rahang yang mulai mengeras dan kedua telapak tangannya mulai mengepal.


Langkah kaki Melia yang nyaris sampai di ambang pintu, akhirnya terhenti seketika.


"Sangat yakin, Erlan," sahut Melia dengan suara parau yang terdengar mendayu namun menyakitkan di telinga pendengarnya.


"Jangan membuatku marah, dan kecewa untuk yang kesekian kalinya, Lia! Atau kau akan menyesalinya," ancam Erlan.


Melia tetap diam, ia memilih mengabaikan apapun yang dilakukan dan diucapkan oleh Erlan setelah semua perilaku buruknya yang berubah.


Di cubicle miliknya, suasana hati Melia tidaklah cukup membaik. Ia justru gelisah memikirkan bagaimana caranya menyampaikan bahwa ia tidak lagi bekerja dengan Erlan kepada suaminya.

__ADS_1


Bahkan tangan Melia gemetar saat mengumpulkan barang pribadinya dan memasukkan ke dalam kardus untuk dibawa pulang. Alasannya sederhana, ia tak mau meninggalkan kenangan indah bersama Fahri di tempat yang kini bagai disulap menjadi neraka oleh Erlan.


Namun saat ia sedang sibuk mengumpulkan barang miliknya, tiba-tiba saja Erlan datang bersama beberapa orang yang dia sebut sebagai koleganya.


"Melia, ini mungkin untuk yang terakhir kalinya. Sekalian ingin membuat pesta kecil sebagai ucapan selamat tinggal. Bagaimana jika kamu ikut serta dalam acara makan malam bersama rekan bisnisku?"


"Tidak perlu, Erlan. Aku terburu-buru," tolak Melia lugas.


Namun, seorang pemuda bernama Rangga langsung menghampiri Melia.


"Hey, Melia. Masih ingat denganku? Rangga," sapa pemuda itu sambil menjabat tangan Melia.


Gadis cantik itu terlihat mulai berkerut keningnya, seolah sedang berusaha mengingat-ingat.


"Hmmm ... ya, aku ingat," sahut Melia sambil sedikit tersenyum.


"Bergabunglah dengan pesta yang dibuat Erlan untukmu. Ini tidak akan berlangsung lama. Begini saja, kamu datang dan jika tidak nyaman bisa langsung pergi," bisik Rangga membujuk Melia.


Entah apa yang membuatnya setuju, Melia pada akhirnya ikut serta dalam pesta yang diadakan di kantor tersebut.


Beberapa macam makanan sudah terhidang di sana. Mungkin saja Erlan menyewa jasa ahli memasak. Bukan itu saja, ia bahkan sudah menyiapkan beragam minuman ya tak biasa.


Bagi Melia, ia melihat Erlan berubah menjadi sosok baru dalam sekejap. Bagaimana mungkin Erlan mampu mengubah dirinya hingga Melia nyaris tak mengenali jati diri pemuda itu?


Melia benar-benar sedih, sebab ia tak menemukan Erlan yang dulu ia kenal. Padahal bisa dibilang, pemuda itu nyaris tak mampu berkomunikasi dengan orang lain tanpa bantuan Melia. Tapi itu dulu.


Erlan yang sekarang, adalah pria yang mudah dekat dengan teman baru, dan dikelilingi oleh perempuan seksi. Sebut saja Maya, ia adalah wanita yang ditunjuk Erlan sebagai pengganti Windy. Dandanannya begitu seksi, dengan rok minim serta area dada sedikit terbuka.


Sungguh. Bagi Melia suasana kantornya mendadak aneh dan asing. Bahkan bisa dibilang semuanya tak lazim.


Beberapa tamu undangan merupakan rekan bisnis Erlan. Mereka tampak menikmati hidangan yang disajikan, begitu pun minuman beralkohol yang tak seharusnya ada di ruangan yang biasa digunakan untuk rapat itu.


Nyaris tak ada senyum di bibir mungil Melia. Sepanjang pesta yang diadakan oleh Erlan, ekspresinya kaku. Bak manekin yang hanya melengkapi suasana.


"Melia, ayo minum!" ajak Erlan, pemuda itu tampak antusias menyodorkan gelas berisi minuman yang entah di genggaman tangannya.

__ADS_1


Melia menatap tertegun. Kemudian ia reflek menggeleng sebagai isyarat penolakan dan segera mengakhiri dengan pamit.


"Eit, pesta ini kubuat untukmu! Jangan membuatku malu, membiarkan alasanku membuat pesta dan membiarkanmu pergi begitu saja dengan perut kosong! Ayo, setidaknya minum satu teguk saja!" seru Erlan dengan nada meninggi.


Tak lama kemudian, seolah memberikan perintah ke beberapa pengunjung dengan kedipan mata Erlan, yang tak dikenal oleh Melia. Tiba-tiba saja mereka langsung berkerumun memegangi tubuh Melia.


Gadis itu berontak. Matanya terus mengedar, mencari-cari keberadaan Rangga yang langsung hilang bagai ditelan bumi.


"Tidak! Erlan, kau akan menerima akibatnya! Fahri akan menghukummu lebih kejam!" teriak Melia sambil terus meracau tak karuan.


Namun, Erlan yang terlanjur dendam, dan kecewa, ia langsung membuka paksa bibir Melia, dan memasukkan minuman yang sebelumnya telah ia persiapkan di dal gelas.


Gadis itu tak lagi mampu melakukan penolakan. Entah berapa banyak minuman yang Erlan paksakan masuk ke dalam tenggorokannya. Tapi yang jelas Melia kini telah ambruk tak sadarkan diri.


Seringai menakutkan, akhirnya kembali terpampang di wajah Erlan.


"Angkat tubuhnya ke mobil milikku. Lalu bersihkan tempat ini!" perintah Erlan pada salah seorang sekuritinya.


Bahkan sekuriti di tempat itu pun telah ia ganti dengan pegawai baru. Benar-benar Erlan telah mengambil semua di dalam kendalinya.


****


Mentari pagi telah menampakkan sinarnya. Melia bahkan belum membuka matanya dengan sempurna. Tapi ia dikejutkan dengan keberadaan seluruh keluarga Fahri lengkap dengan keberadaan Fahri di sana.


"Sayang, kapan kau kembali?" tanya Melia terdengar bersemangat.


Namun, ketika ia nyaris mengangkat tubuhnya, ia dikejutkan dengan kondisi memalukan. Tubuhnya terasa berat karena tertindih tangan kekar Erlan.


Matanya bahkan nyaris mencelos saat melihat kondisi tubuhnya sendiri, terlebih ia menyadari Erlan sedang terlelap di sampingnya.


"Apa ini? Kalian berselingkuh saat Fahri tak ada di rumah? Wanita ******," tuduh pak Bimo.


Bagaikan mendengar gemuruh petir di siang hari, yang mampu memacu jantungnya dua kali lebih cepat dari biasanya.


"Tidak, pasti ini hanya kesalahpahaman." Melia menangis sambil menatap Fahri.

__ADS_1


__ADS_2