Cinta Tabu

Cinta Tabu
Bab 11. Bertemu Erlan


__ADS_3

Terik mentari terasa menghangat, membuat si pemilik ranjang menggeliat manja. Kemudian, perlahan kelopak matanya terbuka lebar. Sesaat setelah mengedarkan pandangan, ia segera duduk sembari menahan kejut.


Tampaknya, Melia lupa jika ia kini sudah menikah. Ya. Ia melihat Fahri masih terlelap di sofa sudut ruangan kamar, tanpa mengenakan bantal, dan juga selimut untuk menutupi tubuhnya.


Melihatnya seperti itu, ada rasa tak tega yang seketika muncul di benak Melia.


Tanpa pikir panjang, ia melangkah mendekati suaminya yang masih terlelap. Dengan selimut, dan bantal dalam pelukannya.


Tepat di depan Fahri, tubuhnya terasa gemetar. Ingin rasanya gadis itu mengurungkan niatnya. Tapi, melihat kondisi Fahri yang tidur dalam keadaan mehanan gigil seperti itu ia merasa iba.


Kemudian, diletakkannya bantal di atas meja lengkap dengan selimut yang baru saja ia dekap, lalu perlahan ia mengangkat kepala Fahri untuk memasangkan bantal agar suaminya terasa nyaman.


Ditatapnya pemuda itu lekat-lekat.


"Kalau sedang tidur gini, Pak Fahri tampan juga. Jangan garang lagi, ya Pak. Biar bagaimana pun aku juga istrimu," keluh Melia dengan suara lirih.


Namun, pemuda itu masih tetap memejamkan matanya. Tidak ada tanda pergerakan sedikitpun yang tampak. Membuat Melia memberanikan diri menutupi tubuh suaminya dengan selimut.


Entah sejatinya Fahri sadar atau tidak. Entahlah.


Setelah itu, barulah gadis itu memulai rutinitas kesibukan pagi sebagaimana mestinya.


*****


Suara gaduh dan aroma masakan, membuat Fahri menghampiri dapur minimalis yang terletak di lantai dasar.


"Masak apa?" Fahri melenggang sambil membuka pintu kulkas ketika bertanya.


"Nasi goreng ala saya, kebetulan ada si bos tidur di sini. Ya, jadinya sok-sok'an maksain masak deh. Mau gimana lagi." Melia mengoceh sambil melemparkan ember kosong ke dalam wastafel.


Fahri yang baru saja menuang susu segar ke dalam gelas kaca langsung melangkah menghampiri, sambil memeriksa masakan istrinya.


Tanpa diminta, ia langsung menggapai sendok lalu mencicipi masakan istrinya.


"Huuuek!"


Fahri memuntahkan makanan yang baru saja ia cicipi. Membuat mata Melia membola karena jengah.


"Kalau gak suka ya biasa aja, Pak ekspresinya. Gak usah berlebihan gitu. Atau minimal, kalau pandai mencela masakan orang ya masakin lah, kasi contoh kek," gerutu Melia merasa kesal.


"Beneran, mau aku contohin? Tapi setelah ini kamu harus masak yang bener!"


"Ya, kalau masih dianggap gak bener kenapa mesti ribet. Beli saja ngapain susah," cerocos Melia yang tak terima selalu disalahkan.

__ADS_1


Fahri tersenyum simpul.


Ia langsung membuka dan memeriksa isi kulkas.


Ia keluarkan sebungkus daging ayam, serta sayuran pendukung untuk memasak. Dengan cekatan, tangan kekarnya menggapai apron yang langsung ia ikat sendiri. Dan yang mengagetkan Melia, pemuda itu pun memasangkan apron untuknya. Mungkin ia sengaja.


Entah mengapa, setiap kali harus berhadapan dengan jarak yang luar biasa sedekat ini Melia merasa canggung. Tubuhnya bahkan gemetar, napasnya mulai memburu tak karuan.


Fahri yang sadar akan hal itu bahkan harus menahan senyumnya. Pemuda itu tak berhenti menatap istrinya yang bahkan mulai salah tingkah.


"Saya bisa pasang sendiri, Pak. Maaf, saya sedang terburu-buru. Bos saya galak. Bisa dipecat kalau nanti datang terlambat," kilah Melia.


Naasnya, ketika gadis itu hendak beranjak menghindar. Kedua tangan kekar Fahri langsung mengungkung tubuh mungilnya. Tidak bersentuhan, memang. Kedua telapak tangannya justru tertumpu di meja berbahan marmer. Tapi dengan begitu, Melia jelas-jelas tak bisa bergerak.


"Bosnya galak, ya! Saya 'kan bos kamu. Kita berangkat bareng hari ini," terang Fahri membuat Melia reflek menepuk jidatnya sendiri.


"Astaga, Pak. Saya gak mau teman sekantor tahu kalau Bapak suami saja," kilah Melia berusaha melepaskan diri dari kungkungan Fahri.


Dengan sekuat tenaga, gadis cantik itu memberanikan diri berontak sambil setengah mendorong tubuh kekar Fahri mati-matian. Sementara Fahri, pemuda itu terlihat menikmati dengan tatapan mata elangnya yang tajam.


"Loh, memangnya kenapa? Saya gak cacat, Melia. Apa yang bikin kamu malu mengakui saya sebagai suami?" tanya Fahri sengaja memancing emosi Melia.


Gadis itu tak sekedar mendengkus kesal, tapi bahkan kedua kakinya ia sengaja hentakkan ke lantai ubin, menciptakan suasana gaduh di heningnya pagi.


"Bapak suka ya bikin skandal," geram Melia.


Bahkan, kali ini Melia tak sanggup menghindar. Buku jemari Fahri bahkan dengan sengaja menggenggam jemari lentik istrinya. Perlahan, pemuda itu menuntun mengarahkan pisau untuk memotong.


"Pak, Bapak masak saja sendiri. Saya 'kan bisa lihat saja. Enggak perlu seperti ini," gerutu Melia dengan kening berkerut.


Mungkin merasa tak nyaman.


"Turuti saya kalau mau lekas selesai," sahut Fahri, terdengar egois dan pemaksa, memang.


Pagi itu Melia kembali menjalani hari-hari penuh tekanan yang membuatnya kesal.


*****


Mentari semakin tinggi, saat sepasang suami istri yang baru saja menikah akhirnya sampai di pelataran sebuah kantor yang bergerak di bidang properti.


Seorang sekretaris Fahri mengabarkan jika ia akan ada meeting mendesak pagi itu. Kabarnya, salah seorang investor baru, datang untuk meninjau lokasi bangunan baru.


Mengingat Fahri adalah seorang perfeksionis,tentu saja ia marah karena mendapatkan kabar mendadak.

__ADS_1


Ia tak mau investor yang baru bergabung dengan perusahaannya kecewa tanpa persiapan yang memadai.


Fahri baru saja membanting pintu mobilnya dengan keras, tak lama kemudian disusul dengan Melia yang turut serta turun mengekor tepat di belakangnya.


"Melia, ayo!" ajak Fahri sembari mengulurkan sebelah tangannya.


Melia menggeleng cepat. "Bapak mau bikin skandal di kantor ini? Sana cepat masuk, kita sudah terlambat. Melia akan lekas menyusul."


Fahri hanya bisa menatap sambil menghela napas berat, tak lama setelahnya ia kembali mengayunkan kaki dengan langkah lebar.


Beberapa karyawan yang berpapasan langsung menyapa, ada juga yang sok sibuk sibuk karena ingin menghindari tatapan Fahri.


Beberapa di antara mereka riuh dengan gerutunya setiap pagi. Samar-samar Fahri bisa mendengarkan ocehan beberapa di antara mereka.


"Pak Fahri datang!" teriak salah seorang karyawan yang langsung memasang wajah sibuk setelah berlari dan bersiap menuju cubicle miliknya.


"Bos galak! Bos galak. Tumben terlambat," bisik karyawan lainnya.


Fahri tak peduli, ia tetap melenggang menuju ruangannya. Meski sesekali ia harus mengangguk ketika beberapa karyawannya mengucapkan sapaan selamat pagi padanya.


Di ruangannya, sudah menunggu beberapa staf yang hendak konsultasi menjelang meeting. Meski seperti itu, Fahri sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Lima menit setelahnya, Fahri meminta semua orang yang berhubungan dengan bangunan baru ikut serta terlibat dalam meeting.


Situasi menegangkan tak biasa yang terjadi di ruang meeting pagi itu. Tak lama berselang, semua penghuni ruangan dikagetkan oleh suara ketukan pintu yang terdengar keras.


Tak lama kemudian seorang wanita lembah lembut dengan rambut yang sengaja dibiarkan terurai hingga sepinggang melenggang memasuki ruangan.


"Hust. Melia, cari mati kamu!" desis Windy sedikit berbisik saat tahu anak didiknya terlambat.


Meli hanya membalas dengan senyuman saja sambil terus melenggang.


Tak seperti biasanya, Fahri langsung melambaikan tangannya ke arah Melia dengan lembut. Tak ada ekspresi marah seperti sebelumnya yang ia tampakkan.


"Permisi, semua! Selamat pagi. Maaf saya datang terlambat," sapa Melia sambil setengah mengendap melewati peserta meeting di ruangan itu.


Dengan tatapan sungkan dan ragu, akhirnya ia telah berdiri di sebelah Fahri.


Namun ini situasi tak biasa, pemuda itu langsung sigap berdiri mengambil sebuah kursi untuk Melia.


"Duduk!" perintah Fahri.


Terangnya melihat sikap perhatian Fahri kepada Melia, beberapa karyawan merasa aneh.


Melia menuruti perintahnya sembari mengedarkan pandangan ke beberapa orang. Tatapannya terhenti pada pemilik wajah yang tak asing baginya.

__ADS_1


"Erlan," cetusnya.


Membuat Fahri yang terkejut langsung menatap Melia, lalu berpindah menatap seorang pemuda tampan yang kini duduk berhadapan dengannya di ujung meja.


__ADS_2