
Percakapan serius antara Fahri dan Melia masih berlangsung. Gadis itu mulai menerka-neraka, mungkinkah suaminya kini telah membencinya? Ada banyak pertanyaan di benaknya tanpa jawab.
Keduanya tampak canggung.
"Fahri, apa yang akan kau lakukan pada Erlan setelah semua ini?"
"Kau mencemaskan dia? Masih punya perasaan padanya, rupanya? Bodohnya aku, kupikir selama ini kau benar-benar menerimaku," tuduh Fahri tak ingin memberi cela pada Melia.
Kening perempuan berparas cantik itu kini berkerut. Rasa kesal, campur aduk.
"Kau pikir aku ****** yang sengaja membiarkan dia masuk ke rumah? Aku sudah mencoba berlari untuk yang ke sekian kalinya dari dia. Bahkan beberapa hari sebelum kejadian, aku ingin mengadukan segalanya kepadamu!" desis Melia dengan nada tinggi.
Bahkan ia bicara dengan raut tegang bercampur gelisah.
"Lalu, kenapa kamu memilih diam?"
Fahri menumpahkan kekesalannya pada istrinya yang dianggapnya ceroboh.
"Karena kamu lebih dulu mengeluhkan tentang perusahaan. Karena kupikir bebanmu itu sudah sangat berat," sahut Melia sambil menangis.
"Perempuan bodoh!"
Fahri langsung menarik kepala istrinya, lalu menenggelamkannya ke dalam dada bidangnya.
Namun, Melia meronta dan terus menolak. Meski begitu, lengan kekar Fahri mengalahkan kekuatan Melia hingga berhasil merengkuh lalu mendekapnya.
"Diam, jangan menangis." Fahri berbicara dengan lirih sembari mengusap rambut Melia.
Gadis itu terus terisak tanpa henti. Ia merasa jika Erlan sudah menghancurkan pekerjaan, nama baik, serta rumah tangganya bersama Fahri yang baru saja ia mulai.
"Aku sudah kotor!" teriak Melia dalam tangisnya.
"Sssst ...."
Fahri kembali menenggelamkan Melia dalam dekapannya.
"Mari kita cari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan kita. Tentang ayahku yang tiba-tiba memberikan hakku kepada Erlan, dan memindahkanku ke cabang. Tentang skenario yang telah dia buat mengenai hubungan kalian, mungkin!"
"Bagaimana jika aku benar-benar kotor?" tanya Melia yang masih tidak terima dengan keadaannya saat ini.
"Maka aku akan menuruti apapun yang kamu inginkan," jawab Fahri dengan kepala tertunduk.
Hingga akhirnya kedua pasang mata mereka kembali bertemu pandang.
__ADS_1
"Fahri, aku benar-benar tidak ingat apapun. Satu hal yang kuingat adalah, Erlan meminta anak buahnya memegangiku lalu memaksaku minum," ungkap Melia mencoba mengingat.
Namun, belum sempat pria tampan itu membalas, suara dering ponsel membuatnya terpaksa membuat percakapan serius itu kembali terjeda.
"Halo, ya ... ini aku. Kapan? Oke, bisa kau mulai hari ini? Baik. Besok kita ketemu di tempat biasa kita bertemu," ucap Fahri terdengar jelas pada seseorang di seberang telepon yang entah siapa.
"Siapa?" tanya Melia penasaran.
"Seorang teman lama," sahut Fahri yang kembali terkesan dingin meski ia menunjukkan perhatian pada Melia.
"Fahri, kau mempercayai Erlan?"
Melia terus bertanya, seolah ia takut jika sang suami akan menceraikannya dalam waktu dekat.
"Kenyataannya, kalian tidur di ranjang yang sama, Melia. Aku tidak tahu," jawabnya dengan tatapan kosong ke arah sekitar.
"Bagaimana caraku memberitahumu, aku tidak selingkuh, Fahri. Aku sudah membuang jauh perasaanku kepadanya," cetus Melia mencoba untuk meyakinkan suaminya yang mulai hilang kepercayaan.
"Maka lakukan yang kupinta!" seru Fahri seolah terdengar memberikan perintah.
"Katakan!"
"Mainkan peranmu sesuai mauku," pinta Fahri.
Ya. Pemuda itu memang kembali menunjukkan sikap dinginnya seperti dirinya di masa lalu. Hanya saja, saat ini ia masih mencintai Melia. Hingga ia tidak sanggup berpura-pura tidak memberikan perhatian kepadanya.
"Baik, pintaku ... ceraikan aku setelah kau tahu kebenarannya!" pinta Melia.
Entah ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya atau tidak. Tapi dari air mukanya, ia terlihat serius. Membuat Fahri bingung dengan keputusan itu.
"Kenapa? Kau menginginkan itu? Ya. Aku tahu jika di antara kita memang tidak ada cinta."
"Pernikahan kita ini, hanyalah permainan bukan? Kau sendiri yang bilang jika kau menikahiku atas dasar balas budi terhadap ayahku," pungkas Melia mengakhiri perdebatan panjang itu.
Membuat Fahri menghela napas panjang.
"Kamu tidak mengerti apapun, Melia! Jadi jangan asal bicara," kilah Fahri yang tak mau disalahkan ataupun dituduh.
"Bukankah aku mengatakan apa yang kau katakan padaku dulu?"
"Ya. Tapi itu bukan kebenaran sepenuhnya!" teriak Fahri.
Entah mengapa ia terdorong emosi setiap kali mengingat bagaimana saat ia harus menepati janjinya pada pak Haris, mendiang ayah Melia.
__ADS_1
*****
Keesokan paginya, Fahri tampak sibik berkemas. Ia bahkan memaksa Melia yang masih ingin tinggal ikut berkemas juga.
Mulanya Melia menolak, tapi ancaman Fahri yang akan memberikan kabar tak menyenangkan ini pada bu Laras lumayan mancur untuk membuat Melia menuruti maunya.
Hari itu, Fahri membelikan Melia banyak pakaian dengan mode berkelas keluaran terbaru.
Di sebuah butik ternama yang berada di tengah kota S, Melia bertemu dengan Rama. Seorang teman lama yang ternyata telah sukses menjadi perancang pakaian ternama.
"Melia, kau boleh datang ke sini kapanpun kamu ingin," tawar pria bertubuh gemulai itu.
Tentu saja Melia merasa memiliki dukungan baru. "Aku akan datang, secepatnya."
Pertemuan singkat itu akhirnya berakhir setelah Melia disulap oleh Rama dengan tatanan yang lebih modis. Gadis itu semakin terlihat berkelas dengan polesan makeup tipis sentuhan tangan Rama.
Fahri terlihat puas dengan hasil kerja Rama di hari itu. Sejujurnya, Melia sangat bingung. Entah apa yang berada di pikiran Fahri, hingga ia berniat mengubah penampilan Melia lebih dulu sebelum membawanya pulang ke tengah-tengah keluarganya.
Tak butuh waktu lama, dua jam berselang usai dari butik milik Rama, akhirnya mereka berhasil sampai di villa kediaman pak Bimo. Tempat itu adalah tempat seluruh keluarga Fahri tinggal. Kecuali kakek dan neneknya yang tinggal terpisah.
Hari itu, Erlan, Pak Bimo dan istrinya sedang makan siang bersama. Sedangkan Fahri, justru nyelonong masuk sambil menggandeng tangan Melia melewati semua orang.
Bahkan Erlan yang kebetulan sedang mengunyah makanan hingga tersedak melihat Melia dan Fahri kembali akur setelah siasat busuknya itu.
"Melia ...." Erlan tercengang melihatnya.
Bidadari yang ia incar semakin cantik.
"Anak tidak tahu malu, bagaimana bisa kaku berani membawanya pulang ke rumah kita? Dia bahkan tidak pantas menjadi anggota keluarga kita, Fahri!" teriak pak Bimo terdengar menggelegar.
Fahri berhenti sejenak ketika ia dan melia nyaris saja menapakkan kaki di anak tangga pertama.
"Dia istriku, meski bagaimanapun keadaannya sekarang. Ini lebih baik, dari pada seorang pria yang berani membawa pulang anak haramnya ke tengah-tengah keluarganya," cetus Fahri.
"Fahri, jaga ucapan kamu!" teriak pak Bimo yang kemudian memegangi sebelah dadanya yang mungkin saja mulai sesak.
Tak lama kemudian, pak Bimo jatuh tersungkur di lantai. Membuat Melia reflek mendekat dan berusaha menolong.
Namun, Fahri langsung menarik lengan Melia dan mencegahnya.
"Melia, dia sedang akting. Jadi tidak perlu mencemaskan," ucap Fahri sambil menyeret Melia agar mengikutinya masuk ke kamarnya.
"Bang, ayah kita sakit. Kita harus telepon ambulans," ujar Erlan.
__ADS_1
Fahri tersenyum getir.
"Urus dia. Bukannya kamu merampas segalanya dariku. Pria itu harus bertanggung jawab, Erlan!" seru Fahri tak peduli dan terus berlalu.