Cinta Tabu

Cinta Tabu
Bab 19. Ketika Cinta Menjadi Dendam


__ADS_3

Fahri kemudian memutuskan untuk mempertemukan Melia dengan Erlan dan membantunya menyelesaikan masalah ini. Ia pun melakukan pencarian dan berangkat ke daerah terpencil tempat Erlan tinggal.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, Fahri akhirnya berhasil menemukan Erlan. Ia memberikan kesempatan pada Melia dan Erlan untuk berbicara dan menyelesaikan masalah di antara mereka.


Hari itu, cuaca sangat terik. Mobil yang dikendarai oleh Fahri dan Melia terhenti Di sebuah desa dekat pegunungan.


Meski cuaca panas, tapi hawa dingin masih terasa mendominasi. Dengan sepasang kaki gemetar, akhirnya Melia memberanikan diri turun dari mobil.


Tampak di sebuah rumah sederhana, Erlan sedang sibuk berbincang dengan beberapa masyarakat desa sekitar.


Seketika keberanian Melia lesap. Melihat langkah kaki istrinya terhenti, Fahri berusaha mengambil alih. Ia yang tak sabar bahkan menahan gusar melangkah lebar mendahului Melia, mendekati Erlan.


"Erlan," sapanya.


Membuat pria polos yang kini berubah menjadi keras kepala itu reflek menoleh karena kaget.


"Apa lagi?" Pemuda itu mencoba bersikap tak acuh.


Fahri semakin dekat, bahkan keberadaannya mampu mencuri perhatian penduduk desa. Beberapa pasang mata tertuju padanya, seolah ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi?


Fahri menghela napas sesaat, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengawali pembicaraan.


"Aku bersama Melia, dia ingin bicara. Tolong luangkan waktu, tak perlu lama. Dan setelahnya kami akan pergi."


Fahri langsung berbalik dan melenggang begitu saja usai menerangkan maksud kedatangannya ke tempat itu, tanpa menunggu jawaban Erlan terlebih dahulu.


Ada guratan amarah, dendam dan kecewa yang tertahan di wajahnya.

__ADS_1


Sementara itu, Erlan langsung meminta izin kepada masyarakat sekitar untuk memberi waktu sejenak karena ada tamu yang sedang menunggunya.


Erlan tersenyum getir ketika jaraknya tak jauh dari Melia. Sedangkan perempuan berparas cantik di depannya itu, justru melangkah meski terkesan ragu.


"Ikuti aku!" perintah Erlan.


Pemuda itu melangkah dengan kedua tangan yang sengaja ia sembunyikan di kedua sisi saku celananya. Gaya baru, seolah sedang ingin meniru gestur dingin yang kerap ditampakkan kakaknya.


Erlan berjalan cepat, menjauhi perkumpulan penduduk desa dan juga Fahri. Tepat di belakangnya, Melia melangkah cepat, mengekor berusaha mengimbangi.


Keduanya terlihat berjalan menaiki sebuah bukit. Tepat di bawah pohon rindang dan juga rerumputan yang menghijau Keduanya berhenti. Seonggok batang kayu kering berukuran besar yang letaknya tepat di bawah pohon rindang itulah yang sengaja mereka pilih sebagai tempat duduk untuk berbicara serius.


Raut wajah Melia terlihat kaku. Seolah memberikan kesan tak nyaman di hadapan Erlan. Tersirat pesan bahwa ia ingin mengatakan hal penting.


"Melia, aku tak banyak waktu untuk berbasa-basi. Aku sedang memiliki project baru milikku sendiri di tempat ini. Membangun hunian yang lebih layak untuk masyarakat sekitar. Mungkin, akan membuatku lebih berguna ketimbang berharap yang tak pasti," ucap Erlan mengawali pembicaraan.


"Bagus kalau begitu. Sekarang aku jadi tahu, jika sejak awal kamu hanya main-main dengan hubungan kita."


Melia berbicara dengan nada tinggi penuh penekanan.


"Kenapa Fahri, kenapa kakakku yang kamu jadikan pilihan," tuduh Erlan dengan raut benci bercampur amarah.


"Aku tidak tahu, Erlan. Bahkan Fahri pun tidak tahu jika kita saling kenal," terang Melia.


Meski ia adalah orang yang paling merasa dikecewakan, tapi ia berusaha memperbaiki keadaan.


"Apa kamu tidak merasa aneh menikah dengan kakakku? Apa kamu tidak merasa bersalah padaku? Sok lugu! Katamu dia bos menyebalkan, lalu kenapa mau menikahinya? Kurang cukup ya, semua yang kulakukan selama ini," tegas Erlan.

__ADS_1


Melia menangis tanpa suara mendengar semua tuduhan Erlan.


"Mungkin kita bukan jodoh, Erlan. Mulai sekarang, aku ingin kita berpisah baik-baik tanpa beban. Aku jatuh cinta kepadanya, jadi lupakan aku mulai saat ini. Dan aku pun akan melupakan kamu. Maaf ...."


Melia langsung melangkah pergi, tapi dengan cekatan Erlan menahan sebelah lengannya. Buku jemari pemuda itu mencengkeram kuat. Membuat Melia terhenyak akibat perilakunya.


"Aku tidak terima dengan semua ini. Seandainya pria yang kamu nikahi bukan Fahri ... tapi sayangnya kamu membuat pilihan yang salah Melia," seloroh Erlan.


Entah apa artinya itu.


"Apa yang membuat kamu marah, Erlan? Aku dan Fahri saling mencintai, kenapa kamu sakit hati? Bukankah kamu menghendaki ini terjadi? Kau bahkan mengabaikan permohonanku untuk menemui ayah ketika aku mengharapkanmu," jawab Melia dengan nada sedikit tinggi.


"Jangan pura-pura tidak tahu, Mel. Aku tahu kamu pernah dekat dengan aku, dan sekarang kamu menikah dengan kakakku, jadi begini caramu membalas dendam," jawab Erlan dengan suara yang semakin meninggi.


"Erlan, aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan. Kamu tidak bisa menghalangi cinta kami, aku terlanjur jatuh hati padanya sekarang," kata Melia dengan nada yang marah.


"Erlan, tenanglah. Ini tidak ada hubungannya dengan kamu," kata Fahri yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.


"Aku tahu kamu bohong, Mel. Kamu berdua telah merusak hidupku!" ujar Erlan dengan penuh amarah.


Melia dan Fahri terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Mereka merasa sedih dan kecewa melihat reaksi Erlan yang begitu meledak-ledak. Fahri hanya bisa menggelengkan kepala saja saat mengetahui reaksi adiknya.


"Melia, kita pergi. Kita telah membuat kesalahan dengan datang ke tempat ini. Mungkin seharusnya biarkan dia selamanya berteman sepi. Sejak lama dia memang begitu. Anak tidak tahu diuntung!"


Kini giliran Fahri yang menatap Erlan penuh emosi. Ia langsung menggandeng tangan Melia dan mengajaknya meninggalkan tempat itu.


'Kamu akan menyesal telah merusak kehidupan, Melia,' gumam Erlan dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2