
Malam itu, setelah makan malam, cuaca tampak mendung disertai petir yang menyambar. Tak ada satupun bintang maupun bulan yang terlihat, kecuali angin kencang yang mulai menampar-nampar wajah Fahri dan Melia yang sedang berjalan menuju area parkir untuk pulang.
Jantung Melia berdebar hebat, merasa takut dan tidak nyaman. Kini dirinya menjadi tertuduh, dan itu membuatnya semakin cemas.
Sorot mata tajam Fahri, yang sebelumnya selalu Melia rindukan, sekarang berubah menjadi tatapan kebencian setelah ulah Erlan. Entah apa yang direncanakan oleh Fahri, dan apa yang membuatnya menikahi Melia. Kini gadis itu mulai mencari tahu alasan itu.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Fahri sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Hanya penasaran, bagaimana bisa kau tidak percaya dengan istrimu sendiri," sahut Melia dengan senyum getir, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah luar.
Tak lama kemudian, gerimis turun, rintiknya terasa sendu dan membangkitkan kenangan tentang semua kebersamaannya bersama Pak Haris, ayah kandungnya semasa hidup dulu. Tanpa terasa, bulir bening mulai jatuh bercucuran. Ia sangat kesal pada Fahri yang tak pernah memberikan jawaban yang pasti setiap kali ia mempertanyakan tentang alasan pemuda itu menikahi Melia.
Bahkan, selama perjalanan pulang ke rumah, keduanya tak saling bicara satu sama lain. Suasana hening, seolah cinta tanpa nyawa.
Setelah dua puluh menit berlalu, mobil mewah bercat hitam yang dikendarai oleh Fahri telah terparkir sempurna di halaman villa keluarga Pak Bimo. Terlihat juga Erlan sedang duduk sendirian di teras villa. Dari air mukanya, pemuda itu tampak murung.
Lalu, tiba-tiba saja ia melangkah gesit menghampiri Fahri yang sedang berjalan tergesa-gesa sambil menggandeng tangan Melia. Dengan cekatan, pria itu merentangkan kedua tangannya berusaha untuk menghadang.
"Katamu, nama baik keluarga itu penting! Jika memang penting, ceraikan istrimu sekarang! Biar aku bisa bertanggung jawab menikahinya," desak Erlan tanpa rasa malu. Padahal, jika memang ada yang harus dipersalahkan dia-lah orangnya, mengingat Erlan adalah pemuda yang secara kejam memaksa Melia meneguk minuman yang membuatnya tak sadarkan diri di malam itu.
__ADS_1
PLAK! Telapak tangan Fahri mendarat cepat di sebelah pipi kiri Erlan yang mengakibatkan tubuhnya yang kalah kekar dengan Fahri akhirnya terpental lalu tersungkur di lantai.
Kening Erlan berkerut, tak lama kemudian ia menatap tajam ke arah Fahri.
"Kamu berbuat seolah-olah korban! Kamu itu pelakunya, Erlan! Seorang pria kejam yang memalukan dan bertopeng penuh koreng! Cepat atau lambat, aku pasti bisa membuktikan semua keburukanmu itu!" desis Fahri dengan nada tinggi, membuat Melia bersembunyi di belakangnya.
"Fahri, aku tidak lagi menganggapmu kakak! Lagi pula aku sudah muak dipandang sebelah mata selama ini. Ayah sakit, kamu tidak peduli. Hanya sibuk mempertahankan wanita yang sudah jelas ku kotori! Sepertinya kamu lupa, jika aku telah mengambil alih kekuasaan perusahaan," ancam Erlan.
Fahri tersenyum getir.
"Singkirkan dia dari hadapanku, sebelum hal menakutkan lainnya kembali terjadi!" perintah Fahri pada beberapa orang penjaga villa.
Kini keduanya telah berada di dalam kamar, entah apa yang dipikirkan Fahri, yang jelas ia selalu menutup rapat pintu kamar setiap kali masuk bersama dengan istrinya.
Dengan tubuh yang masih gemetar, Melia berusaha melangkah lambat menuju kamar mandi untuk mencuci kaki dan tangan usai bepergian. Namun, belum sempat ia melakukan hal itu, Fahri justru menangkap tubuh rampingnya lalu mendesaknya hingga tersudut di tembok ruangan.
"Kau masih berani menaruh hati pada Erlan? Sudah tahu bagaimana kelakuannya? Hah! Katakan, sejauh apa hubungan kalian berdua!" desak Fahri dengan nada tinggi.
Melia semakin ketakutan dibuatnya, bahkan untuk mengangkat wajahnya saja ia harus mengumpulkan segudang keberanian.
__ADS_1
"Tidak lagi, aku tidak mencintai siapapun sejak semua terjadi. Sejak Erlan menodai kepercayaan yang kuberi, dan sejak kamu mulai meragukan aku sebagai istri. Terlebih, katamu pernikahan kita tak lebih dari sekedar status. Maka aku akan melakukan tugasku, memainkan peranku sebagai inginmu. Tak lebih dari sekedar istri pura-pura," sahut Melia kemudian berlari dan mengunci rapat pintu kamar mandi.
Dari balik pintu, Fahri bisa mendengar bagaimana suara isakan itu semakin keras terdengar. Ya. Perempuan itu kini menumpahkan segala resahnya dalam tangisnya.
Sementara Fahri, hanya bisa merutuk dirinya sendiri sambil memejamkan mata.
Sepuluh menit lebih telah berlalu. Melia telah keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk berbentuk kimono, rambutnya basah kuyup, matanya terlihat sembab, bekas menangis tentu saja. Ia memilih duduk dan diam di sofa. Lalu Fahri berganti pakaian usai membersihkan diri. Melia bahkan terhenyak setelah menyadari suaminya kembali dari kamar mandi, dan ia bahkan refleks berdiri seakan ingin berlari. Mungkin saja, sisa trauma itu masih ada. Membuatnya takut setiap kali Fahri ingin mendekatinya.
"Ayo kita pergi tidur!" ajak Fahri.
"Sebaiknya kita tidur terpisah mulai sekarang," sergah Melia yang terlihat ketakutan.
"Sepasang suami istri manapun akan tidur bersama usai menikah, Melia!"
"Itu jika pernikahan mereka adalah pernikahan impian, pernikahan yang kondisinya baik-baik saja, tidak dipaksakan, tidak terjadi mala petaka di dalamnya. Tapi berbeda dengan kondisi kita."
Melia langsung mengambil selimut dan menata bantal di sofa. Pelupuk matanya kini telah banjir oleh airmata, meski begitu, ia berusaha terlihat baik-baik saja.
Meskipun begitu, dia sengaja menyumbat kedua telinganya dengan headset, kemudian menyalakan musik dari ponselnya dengan keras, dan memejamkan matanya sambil mengabaikan Fahri. Namun, kesedihan Melia tampaknya tidak dapat dia sembunyikan. Air mata terus mengalir dari sudut matanya tanpa henti, membuat Fahri semakin gelisah dan merasa bersalah ketika dia duduk dan bersandar di ranjang empuknya sambil menatap Melia.
__ADS_1