
Erlan POV
Anak haram! Kalimat itu sering kudengar di saat masa kecil dulu. Aku tidak ingat benar, tapi bu Widiya yang juga merupakan ibu kandung bang Fahri, sering sekali melontarkan kalimat itu jika sedang kesal padaku.
Ayah kandungku, juga pria yang sama dengan ayah bang Fahri. Dari desas-desus yang kudengar, aku merupakan anak dari istri kedua pak Bimo.
Sejak ayahku mengajakku tinggal bersama keluarga aslinya, hidupku tak lagi seceria sebelumnya. Suara-suara teriakan, hinaan, barang-barang yang dibanding hingga menimbulkan suara keras yang kerap membuatku takut, menjadikanku seorang pria pendiam.
Bahkan saking pendiamnya, aku nyaris tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain. Dalam keseharianku, kuhabiskan waktu untuk membaca dan melukis dalam kesendirian.
Aku juga sering diejek karena memakai kacamata yang lumayan tebal. Mirip orang culun kata teman-temanku dulu.
Hingga suatu ketika, aku bertemu gadis cantik yang ceria. Aku bahkan tidak menduga jika ia adalah satu-satunya yang mau berteman dan juga berbicara denganku. Namanya, Melia. Ya. Melia Anastasya.
Sejak mengenalnya hidupku berubah. Perlahan aku berubah, dari pria penakut menjadi pemberani. Ia bahkan mengubah penampilanku kala dewasa. Aku tidak lagi berkacamata tebal itu juga karenanya.
Dia adalah segalanya bagiku. Gadis manis, yang tidak sombong meski terlahir dari kalangan berada. Aku bahkan tahu jika ia adalah gadis manja, tapi di depanku ia seolah nyaris sempurna.
Entah sejak kapan, setelah sekian lama kami berteman. Perasaan aneh dalam diriku tiba-tiba saja muncul. Ada getaran aneh ketika kami saling bertemu pandang. Ada rindu yang menggebu di saat kami terpisah. Dan ... aku selalu tersenyum sendirian setiap mengingat wajahnya.
Namun, Badai datang tiba-tiba. Ayahku dan juga paman mengatur perjalanan bisnis untukku, setelah sekian lama aku memimpikannya.
__ADS_1
Aku sedih karena tidak bisa bertemu Melia, tapi aku juga merasa senang karena pada akhirnya aku diberikan kesempatan. Mimpi yang kutunggu, bukan tanpa alasan. Rasa kesal, benci dan kecewa mulai muncul setiap kali aku dibandingkan dengan bang Fahri.
Ingin rasanya aku membuktikan jika diri ini juga layak dipuji. Meski diri ini dicapai anak haram.
Keinginanku semakin menggebu, tapi aku juga semakin merindukan Melia. Jarak kami semakin jauh. Bahkan suatu ketika, tiba-tiba saja gadis itu menelponku. Ia mengatakan bahwa hendak dijodohkan oleh keluarganya jika aku tidak meminangnya.
Suatu hal yang tidak mungkin kulakukan, apa lagi aku sedang giat dan bersemangat mengejar mimpiku sebagai pebisnis muda ternama.
Naasnya, tak lama berselang aku dipaksa pulang untuk menghadiri pernikahan kakakku. Terkejut, luka dan kecewa kembali kurasakan. Rasa berbeda dalam pedihku.
Untuk pertama kalinya, akhirnya aku merasakan patah hati juga. Rindu yang menggebu berganti kecewa bercampur luka.
Emosiku membuncah, meledak tanpa terasa. Kulontarkan kalimat pedas. Ia tetap mengelak, berdalih aku yang bersalahkarena mengabaikannya.
jika saja pria itu bukan Fahri. Mungil aku tidak akan sedendam ini. Usai puas bertengkar, aku memutuskan pergi begitu saja dari pesta pernikahan mereka.
*****
Singkat cerita, aku memilih meredam emosiku di sebuah kafe pinggir jalan yang kerap kusambangi. Memesan kopi panas dengan kudapan manis sengaja kulakukan. Meski nyatanya, kedua pesananku itu hanya bisa kupandangi saja.
Namun, seorang teman masa sekolah, Rangga, melihat betapa sedihnya aku di sana.
__ADS_1
"Erlan, apa yang terjadi?" tanya Rangga.
Aku terdiam sesaat sebelum akhirnya mengungkapkan semua rasa sakitku. "Melia menikah dengan orang lain. Aku merasa hancur."
Nyaris semua yang mengenal kami tahu, jika hubungan kami sejak lama sangat dekat.
"Mungkin kamu perlu berbicara dengannya," saran Rangga.
"Bagaimana aku bisa berbicara dengannya? Dia bahkan sudah menikah sekarang," jawabku dengan nada kesal.
Aku bahkan tanpa sengaja mengutarakan niat burukku untuk menjebak Melia. Agar semua seolah terkesan, sebuah perselingkuhan.
Takdir rupanya berpihak padaku. Entah apa yang ayahku pikirkan, hingga mereka memberiku peluang mengakuisisi perusahaan yang dipegang oleh Fahri.
Sehingga akhirnya, kuatur senatural mungkin agar dia jauh dari Melia dalam rentang waktu lumayan lama.
Mungkin. Semua tidak akan terjadi jika saja cinta Fahri dan Melia tidak pernah tumbuh.
Namun, saat aku bertandang di rumah orang tua Melia dengan niat ingin jujur, kejadian naas mendera. Pria bernama Haris yang memisahkan aku dengan Melia meninggal dunia. Di saat itulah, Fahri membuat pengakuan yang menyesakkan dada.
Aku dendam, aku benci. Akan kubuktikan dan kulakukan segala cara untuk merebut cintaku kembali.
__ADS_1