
Lova menuruni anak tangga dengan senyum yang merekah lalu berjalan menuju ke arah meja makan menyusul Noval dan papanya yang sudah terlebih dulu sarapan. Lova duduk di kursi biasanya lalu menuangkan satu centong nasi goreng untuk mengisi perutnya di pagi hari yang penuh dengan kegembiraan ini.
"Kenapa kau?" tanya Noval heran.
"Gakpapa" jawab Lova sambil menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Habis diajak kencan kemarin tuh makanya hari ini gembira banget" goda papanya membuat Lova mendelik tak suka.
"Udah pa jangan mulai menggoda aku deh" protes Lova.
"Iya nih" kini giliran Noval yang mulai jail, satu siulan yang lolos dari bibir Noval membuat Lova malu sekaligus kesal.
"Kalian berdua itu ya jangan buat aku malu dong"
"Aduh, mbak Lova shay shay cat nih" ucap Noval diiringi gelak tawa.
"Ya ampun Noval udah dong"
Tak henti-hentinya Noval menggoda Lova yang mukanya saat ini sudah merah padam.
Papanya juga hanya tertawa melihatnya.
"Papa belain aku dong"
"Sudah Noval jangan buat Lova kesal lihat tuh mukanya udah merah, semerah cabe dan tomat"
Lova mendengus kesal ternyata papanya sama aja mencoba mengganggunya.
Melihat wajah cemberut putrinya membuat pak Marco geleng-geleng kepala, "Sudah ya maafin papa sama Noval, kami hanya senang saja melihat kamu"
"Iya pa aku gak marah hanya malu saja"
"Oh iya pa nanti kita jadi ke pengadilan?" tanya Noval.
"Jadi dong" jawab papanya.
"Jam berapa pa nanti sidangnya?" kini Lova yang bertanya.
"Sekitar jam sepuluh"
Lova menunjukkan wajah kecewa, "Aku gak bisa ikut dong.
"Jangan sedih gitu dong pokoknya kau doain ya biar persidangan lancar dan hasilnya sesuai seperti apa yang kita harapkan" ucap Noval.
"Aamiin, aku pasti doain buat kau"
Pak Marco menenggak minumannya sampai tandas, "Papa udah selesai sarapannya sekarang papa pamit berangkat ke kantor dulu ya dan buat Noval nanti berangkat ke pengadilan di antar sama supir pribadi kamu sendiri namanya pak Agus hari ini beliau udah masuk kerja papa sudah siapkan mobilnya"
"Iya pa"
..._...
"Noval aku berangkat ya" pamit Lova ketika melihat Noval berada di rumah bebas sedang main game.
__ADS_1
"Iya hati-hati"
"Jangan main game mulu ini udah jam setengah sembilan loh kau gak siap-siap"
"Iya habis ini"
Lova melangkah keluar rumah dan langsung berangkat ke sekolah. Perjalanan ke sekolah lancar seperti biasanya, sampai di sekolah ia langsung masuk ke kelas dan di sambut oleh Indy dan Aldo.
"Pagi Lova" sapa cetar Indy.
"Pagi Indy" Lova balik menyapa dan duduk di bangkunya.
"Hai kak Va" kini giliran Aldo yang menyapa.
"Hai juga Al" balas Lova dengan senyum merekahnya.
"Oh iya hari ini sidangnya Noval ya?" tanya Indy.
"Iya, doain persidangannya lancar dan papa dapat hak asuh Noval"
"Pasti kak kita doain"
"Nanti sore rencananya aku sama Aldo mau main ke rumahmu sekalian mau tau juga keadaan Noval sekarang, iya kan Al" ucap Indy sambil menyikut lengan Aldo.
"Iya kak boleh kan?"
"Boleh lah seperti biasa rumahku selalu terbuka buat kalian tapi tumben kalian datangnya sore, mau nginep?"
"Boleh lah siapa yang ngelarang aku malah seneng tau" ucap Lova semangat.
"Kalau gitu udah diputuskan kalau aku sama Aldo bakal nginep malam ini" ucap Indy antusias.
Gak nyangka yang awal rencananya dia dan Aldo hanya sekedar mampir untuk menjenguk Noval malah dapat bonus nginep di rumah Lova, mimpi apa Indy semalam pikiran modusnya untuk Noval tiba-tiba muncul di otaknya. Begitupun juga Aldo, ia merasa senang tapi arah pikirannya adalah main game sampai puas bersama Noval pasti seru.
Jam sekolah berbunyi tanda kelas akan di mulai, guru yang mengajar di kelasnya juga sudah masuk ke dalam kelas. Hari ini kelas mereka akan belajar mengenai pengiklanan.
Jadi mereka harus fokus untuk mengikuti pelajarannya.
..._...
Pukul 10.45 sidang di mulai, Noval sedikit gugup namun melihat senyum teduh papanya membuat Noval jadi tenang. Di sana juga ada mama dan papa tirinya serta ketiga saudara tirinya.
Sidang di mulai oleh pengacara pak Marco selaku papa Noval dengan melontarkan argumen yang di sertai barang bukti.
Tak mau kalah pengacara dari pihak mamanya juga memberikan sanggahan yang sedikit menyulitkan pihak pak Marco namun pengacara pak Marco tak segampang itu untuk dilumpuhkan. Beliau termasuk pengacara senior yang terpandang melawan pengacara muda yang baru terjun di dunia hukum pasti sangatlah mudah baginya tapi beliau juga tak meremehkan dan cukup terkesan dengan pengacara muda yang sekarang menjadi lawannya.
Hingga terjadi perdebatan sengit antara kedua pengacara tersebut, mereka terlihat saling menjatuhkan satu samal lain sampai pada akhirnya Pak Hakim meminta kesaksian kepada Noval.
Noval diminta untuk maju, sekilas ia melihat wajah ke arah papanya yang mengangguk mantap ke arahnya, Noval pun menepiskan rasa ketakutan yang hinggap dalam dirinya.
Dengan berjalan tertatih menggunakan tongkatnya ia melewati mamanya yang menatapnya penuh ancaman. Dalam keadaan seperti ini pun mamanya masih terlihat kasar padanya secara tidak langsung apalagi kalau dirinya akan kembali ke rumah, Noval tak bisa membayangkan tinggal di rumah yang ibarat kata dibanjiri oleh lava panas setiap harinya, Noval tak akan mau hal tersebut terjadi.
Noval duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Pak Hakim. Rasanya jantungnya mau copot dari tempatnya karena terlalu berdebar.
__ADS_1
"Nak Noval saya akan menanyakan beberapa hal kepadamu tolong dijawab sejujurnya dan tidak usah takut kepada siapapun karena ini menyangkut kebaikan hidupmu" ucap Pak Hakim.
Noval mengangguk pelan. Mulutnya serasa kaku untuk berbicara. Di hatinya Noval terus berdoa yang terbaik untuk dirinya.
"Nak Noval, Bagaimana mama kamu memperlakukanmu saat di rumah?"
Noval menelan ludahnya sekedar membasahi tenggorokannya yang kering sebelum ia menjawab soalan dari Pak Hakim, "Mama.. mama saya sering membedakan saya dengan saudara tiri saya"
"Contohnya?"
"Saya sering di tinggal berpergian sendiri di rumah"
"Itu karena kamu sekolah Noval jadi mama gak bisa ajak kamu" sahut mamanya tiba-tiba.
Pak Hakim mengetukkan palunya untuk menenangkan keadaan, "Ibu jangan bicara terlebih dahulu"
Mamanya sangat kesal dan marah mengetahui Noval mempermalukannya di hadapan pak Hakim dan mantan suaminya.
"Teruskan, Nak" pinta Pak Hakim kepada Noval.
"Mama saya juga sering memarahi kesalahan kecil yang saya lakukan"
"Kesalahan apa yang pernah kamu buat?"
"Pulang terlambat atau tak sengaja merusak benda yang ada di rumah"
"Bukankah hal tersebut lumrah di lakukan seorang ibu ketika anaknya membuat kesalahan?"
"Benar Pak Hakim tapi mama saya tidak hanya memarahi saya tapi juga memukul saya"
"Apakah kamu ingin tinggal bersama papamu?"
"Benar, Pak Hakim"
"Apa alasan terkuat mu saat ini memilih untuk tinggal bersama papamu, Nak?"
Noval diam sejenak, "Saya mempunyai saudara kembar yang sangat menyayangi saya namanya Lova, dia selalu menerangi hari-hari saya tapi ketika mama selalu meminta agar saya menjauh dari Lova saya tidak menyukainya dan sangat membantah. Mama juga akan marah ketika saya menghabiskan waktu bersama Lova, sekedar bertemu saja mama saya juga marah Pak Hakim padahal Lova selalu ada di setiap keadaan yang saya alami sementara itu hubungan saya dan papa juga dibilang dekat pun tidak tapi beliau dengan cepat meminta hak asuh saya ketika mengetahui apa yang sudah saya alami membuat hati saya terenyuh maka dari itu saya menginginkan untuk tinggal bersama mereka berdua" ucap Noval dengan suara yang sedikit bergetar.
Pak hakim terlihat menggoreskan tinta di atas kertas miliknya, "Baiklah Nak Noval kamu di persilahkan kembali ke tempat duduk mu"
Noval mengangguk lalu berdiri dari duduknya dan berjalan ke tempatnya semula.
"Sidang akan di lanjut nanti sore, diakan pukul tiga. Di harap kalian berada di ruangan tepat pada waktunya karena hasil sidang akan langsung dibacakan" setelah berucap Pak Hakim memukul palunya beberapa kali dan persidangan di hentikan sementara.
Pak Marco menepuk-nepuk bahu Noval memberi kekuatan, "Mau ke kantin? Kita akan makan siang di sana"
Noval pun mengangguk.
Ketika Pak Marco dan Noval berjalan ke luar ruangan terlihat mamanya berniat untuk menghampiri namun mata tajam Pak Marco langsung mengintimidasi keberadaan mamanya membuat mamanya mengurungkan niatnya.
Noval jadi tahu jika selain memiliki kelembutan papanya juga memiliki sikap tegas yang membuat orang bisa ketakutan.
Dengan begini ia merasa dilindungi dan berharap agar hasil sidang yang akan dikeluarkan nanti sore sesuai dengan apa yang dia harapkan.
__ADS_1