CRUSH

CRUSH
Lima


__ADS_3

Jadi ceritanya, pagi itu gue lagi pengen ngegelibet-gelibet kayak uler, korbannya tentu saja mas ganteng yang lagi ngerjain tugas didepan laptop, daripada gitu kan mending gue aja yang dikerjain.


"Geser dikit." Kian tadinya mau nurunin gue, tapi gue ogah.


"Ngak mau." Gue makin gelendotan. Kenapa, sih, pundak mas ganteng satu ini nyaman banget buat senderan. Kasur aja kalah empuk, loh. Enak gitu boboan disini.


Kian menghela nafas terus lanjut ngetik dengan gue dipangkuannya, hihi gue terkungkung, tolongin.


Mana bisa, sih, dia nolak pesona gue yang bikin mata kelilipan ini. Malah kadang gue kalau lagi ngaca gitu suka ngebatin, gila sih beruntung banget Kian bisa dapetin cewek cakep kayak gue gini. "Kiaan..."


Gue panggil-panggil sampai colekin pipi, tapi mas-nya masih diem bae, sok sibuk browsing bahan buat bikin laporan.


"Marah, ya? Aku kan gak tahu kamu lagi nugas. Abisnya kamu gak bales chat aku, sih. Kirain gak punya paketan, eh tahunya karena gak ada perasaan." Gue sekalian curhat.


"Itu tahu."


"Kian, mesti gitu!" Gue merajuk kesel. Awas ya, gue gangguin biar lo tegangan tinggi. "Aku tuh gak suka ya, kalau kamu gak suka aku."


"Hm."


"Pacaran aja, yuk? Gak pa-pa biar enak."


Kian cuma senyum dikit tapi baper gue sampai seabad.


"Dicoba dulu, kakak, siapa tahu cocok." Gue macam SPG emol. "Mampir kakak, incip-incip dulu, boleh."


Tai, gak diwaro mulu daritadi, kacang, kacang. "Ayo dong kita pacaran. Ya, ya, ya?"


"Gak." Jawaban mamas begitu singkat dan menyakitkan.


"Kenapa gak? Apa aku kurang cantik buat kamu?"


Kian cuma ketawa denger kesimpulan absurd gue.


"Aku tuh orangnya penakut, loh, apalagi kalau kehilangan kamu." Gue gombalin.


Lagi-lagi gak ditanggepin, heu berasa jatuh cinta sama tembok.


"Kian, Kian tahu, gak?" Gue majuin bibir. "Liat nih, bibir aku kering pecah-pecah, kirain tuh panas dalam, eh tahunya aku belum kamu cium seharian."


"Biasanya nyosor, gak disuruh."


Gue cemberut. "Tapi maunya kamu duluan yang cium aku."


Kian menggeleng, anying gue ditolak untuk keseratus empat puluh tiga juta enam ratus ribu delapan puluh dua kali, wih rekor.


"Cium, gak?" Gue maksa plus ngancem. "Kalau gak mau, aku kirim foto kita waktu bobok bareng ke Tatia, loh."


Kian mengangkat alis, belum selesai gue cengengesan, bibir diraup sama dia. Ulalala kita cipokan gaes, baiklah, gue gak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


Gue ajak Kian tarung lidah, dan ditanggepin dengan gak kalah buas, hng enak banget lumat-lumatan bibir sama dia, tuh, asli gue gak boong. Bibir tebalnya enak banget dikenyotin, gak percuma hari ini gue pake lipstik merah moronyoi kayak kunti habis makan orok.


"Hngg hmm." Gue mendesah keenakan, Kian mulai merambah leher dan area sensitif gue di belakang telinga. Kok dia tahu hotspot gue, sih? Gue suka gak tahan kalau daerah situ diinvasi, aww pinter banget Mas Ganteng bikin cupang disana-sini.


Sambil emut-emutan, sengaja gue gesek-gesekin pantat ditonjolan celananya. Eh ada yang berdiri tegak tapi bukan keadilan.


Anjer si Jojon, gede amat, yak?


Gue makin tuman, gue busungin sampai nempel ke dadanya. Karena gak segera ditanggepin, gue ambil aja tangan kirinya terus gue tangkupin diatas cup beha gue. Ukuran gue biasa aja, sih, tapi pas gitu setelapak tangan Kian lebih dikit. "Remesin..."


Mas ganteng emang kudu dibimbing, dia baru menjalankan amanah setelah dikasih tuntunan lengkap. Susah emang musuh perjaka, ngebokep aja banter tapi prakteknya zonk.


Eh, ya ampun, **** gue bukannya diremesin tapi malah diulenin, emang adonan donat.


"Pelan-pelan, sayang." Gue bisikin gitu. "Nete aja, yuu?"


"Gimana?" Mas ganteng mukanya uwu banget, jadi pengen menyantap dia hidup-hidup.


"Mau?" Gue angkat tepian kaos gue hingga tersingkap diatas dada, sampai memperlihatkan bulatan payudara gue yang terbungkus ketat dengan bra warna hitam. Kian sudah hampir maju, tapi bangsat, tahu-tahu ceweknya ngevideo-call.


Ponsel Kian bunyi mulu gak nyante, terkutuk kau ughtea taitea, ganggu aja bisanya!!


"Kamu keluar dulu, ya?" Njirr, gue diusir. Kamu jahat, zeyeng.


"Gak mau." Gue enggan bergerak, kadung posisi enak nemplokin mas ganteng


"Ngungsi dulu ke kamar Satya." Kian mulai gelisah, daritadi ngelirik ke layar ponselnya mulu. "Sebentar aja."


"Enggak!" Gue masih ngeyel.


"Kiran please, urgent. Nanti Tatia marah kalau teleponnya gak diangkat." Untung Kian bukan cowok kasar, mungkin kalau orang lain sudah habis kesabaran ngadepin gue yang keras kepala ini.


"Aku juga urgent, kok, pengen netein kamu." Gue kembali majuin ****, kali aja bisa mancing Kian lagi


"Mampus, 5 panggilan gak terjawab, duh kacau, nih." Gak ngaruh, Kian stres sendiri waktu mantengin list misscall yang berasal dari nomor ceweknya.

__ADS_1


"Jadi kamu lebih suka ngobrol sama Tatia, nih, daripada sama aku?"


Seakan-akan bukan pertanyaan yang sulit, enteng aja gitu Kian jawabnya. "Kalau sama kamu gak ngobrol, tapi berbuat yang enggak-enggak."


"Lama gak?" Gue turun juga akhirnya, sekalian memastikan seberapa lama gue harus ngungsi.


"Sejaman." Kian tanpa menunggu gue nyinggir, langsung mendial nomor Tatia. "Assalamualaikum, ummah. Sorry, ya, tadi masih dijalan. Gak, kok, ini udah nyampe kos. Kamu dimana?"


Iya, mereka punya panggilan kesayangan Abi dan Ummah, geli kuping gue dengernya.


"Aku video call, ya?" Kian melirik gue, kode alus nyuruh segera keluar dari kamarnya. Oke, fine!


Sakit, diri ini seolah tidak penting baginya. Ya, tapi gue juga musti sabar, sih, tahu sendiri mas ganteng masih bersertifikat hak milik.


Saking kesalnya, gue jalan sambil langkah gue hentak-hentakan ke lantai. Terus terhenti didepan pintu kamar Satya yang tumben-tumbenan kekunci rapet. "Eh masa gak ada, sih? Tapi mobilnya diluar ada."


"Sat, Satya!" Gue gedor-gedor pintunya sampai beberapa kali, tapi tetep gak dibukain. Ya udahlah, gue gelosotan didepan pintu aja sambil nunggu Kian selesai teleponan sama Mak Lampir, melas banget gue duduk cuma beralasakan keset welcome.


Gue buka-buka ponsel untuk membunuh kebetean, sampai kemudian, terdengar sayup-sayup suara desahan ah uh ah uh dari balik pintu kamar Satya, gilak pagi-pagi udah kelonan.


Gue curiga, Satya didalam lagi hohihe sama cewek. Gak cuma curiga tapi yakin 100%, karena gue nemu sepatu Vans cewek warna pink.


Berhubung gedor-gedor pintu gak direspon, gue beralih ke hal lain, yaitu matiin sekering listrik, biar mampus lo kepanasan didalam. Gak lihat temennya lagi menderita gini, eh Satya malah enak-enakan sendiri.


Gak berapa lama, Satya keluar dari kamarnya dengan kondisi bertelanjang dada, tapi bukan itu yang bikin gue shock.


Tatapan gue tertuju pada sosok cewek dibelakangnya, masih pake seragam SMA dan gue kenal banget siapa.


Jihan, anak bokap gue dari bini keduanya. Jadi bisa dibilang cewek ondel-ondel ini adik tiri gue. Percayalah, bokap gue definisi sejati dari pejabat korup di Indonesia. Selain doyan duit, dia juga doyan kawin.


Ya gue bukan ngatain tanpa alasan, tapi memang begitulah adanya. Kita udah kebal dengan kelakuan bokap diluaran sana, at least demi pencitraan keluarga kita masih 'utuh' sampai detik ini.


"HEH, NGAPAIN LO DISINI?" Gue pelototin cewek gak guna itu. Udah sok polos, manjanya ketulungan, bisanya cuma morotin duit bokap gue doang. Eh bokap dia juga sih, tapi berhubung gue anak sah jadi gue berhak semena-mena sama dia. "Kecil-kecil udah pinter bolos, ya, lo!"


"Sekolah, kok."


"Tai apa sekolah? Ini masih jam berapa, bego!"


"Kayak kakak sendiri gak pernah bolos aja, jangan norak-norak, kak." Cabelita pinter banget ngelesnya, mentang-mentang deket sama bokap.


"Mending gue lah, bolos tapi sekolah rangking 1 terus, pinter cari duit sendiri lagi, lah elo? Udah gak bisa ngapa-ngapain, muka kayak selangkangan biawak, lo bisa apasi anjiing, otak tuh dipake jangan cuman dipajang!!"


"Apasih, kak? Dateng-dateng berisik, apa gak malu?" Ini cabe emang kalau ngomong sok dimanis-manisin gitu biar orang-orang pada gemes sama dia.


Pantes aja dia jadi anak kesayangan bokap gue, pinter carmuk, sih. Muak gue kalau udah dibanding-bandingin sama dia. Katanya Jihan kalau dibilangin nurut, gak kayak gue si tukang bantah disetiap kesempatan. Lah emang gue pikirin?


"Kakak sendiri ngapain disini?" Jihan cantik, sih, tapi mukanya boros. Casingnya gak seperti anak SMA, tapi lebih mirip biduan yang suka manggung di Pantura, turunan emaknya yang dulunya juga berprofesi penyanyi dangdut.


"Gue nanya sama elo!" Kesel gue, pengen garuk ginjalnya. Meski kita udah saling tahu dari dulu, tapi gue gak pernah anggep dia ada.


Bokap sering maksa anak-anaknya termasuk gue untuk nerima kehadiran Jihan dan menghormati tante hebring, emaknya Jihan. Alasannya karena kita sodara sedarah, jadi kita kudu akur dan saling menyayangi, akur-akur palalu pitak!


Ya, ya, gue tahu. Kebencian gue ke tante hebring gak seharusnya gue lampiaskan ke Jihan, tapi gimana, gue kadung kecewa sama bokap yang setega itu mengkhianati kepercayaan kita.


Okelah, mungkin nyokap berusaha gak peduli demi mempertahankan nama baik dan citra keluarga dihadapan publik. Bang Rio dan Kak Jessy juga bisa menyikapi dengan lebih dewasa, mereka trying a deal dengan apapun situasinya. Tapi gue gak bisa, gara-gara siapa gue gagal jadi anak bontot kesayangan karena bokap gue punya anak lain yang musti diurus. Sakit tauk jadi, gue.


"Udah-udah, Ki. Gue jelasin--" Oh, gue lupa biang keroknya, Satya lupa kali sedang berhadapan sama siapa.


Satya temen deket gue dari TK, ibarat dia tahu gue sampai ke busuk-busuknya. Dia juga paham benar problem di keluarga gue dan siapa itu Jihan. "Anjing lo, sat!"


Gue merasa terkhianati, Satya satu-satunya sahabat cowok yang gue punya dan sekarang, dia pacaran sama adik tiri gue, anak bokap gue dengan perempuan sundal itu? What the hell.


"Sorry, Ki. Tapi gue dan Jihan emang pacaran." Satya pikir dengan ngomong gitu, persoalan bakal beres.


Well main-main sama Kiran is the real cara mudah mempersulit hidup. Gue kenal baik mamanya Satya karena kebetulan teman nyokap, jangan harap hubungan kalian bakal mudah, ya.


"Iya, kak. Kita pacaran." Si Cabe ikut-ikutan lagi. Ini anak sama aja kek emaknya, ada bakat jadi cewek gak bener. Masih kelas sepuluh aja mainnya udah di kamar kosan, gimana nanti gedenya?


"Denger ya dedek, lepas dulu ari-ari lo baru ngomongin pacar-pacaran sama gue." Gue potong tajem.


"Yee sewot." Katanya. Pantes gak malu, urat malunya ketutupan popok.


"Anak haram gosah bacot, sadar diri lo itu kuman." Gue skak.


"Kontrol dikit omongan lo, Ki. Lo ngatain adik lo berarti lo juga ngatain diri lo sendiri." Satya bilang gitu.


"Udah yuk, Kak. Lanjutin aja yang tadi aja, biarin Kak Kiran, kalau lagi kumat emang gitu dia, ngamuk-ngamuk gak jelas." Si Cabe narik-narik lengan Satya, yieks, emang kolor melar ditarik-tarik.


"Mau kemana lo, gue belum selesai ngomong!" Tapi tangan Satya satunya gue tahan, jadilah kita tarik-tarikan kayak betina rebutan ayam jago, aduh najis kalau dibayangin.


"Kak Kiran kenapa, sih? Kak Satya kan cowok aku..." Menye-menye kemendel gitu.


"Lah bodo, Satya temen gue dari jaman tuker-tukeran binder, apa lo?"


"Jomblo, sih, Kak. Bisanya nyinyir doang!" Mulut Jihan minta digeprek. Pinter banget sekarang ngejawab, dulu mana berani, gue bully paling bisanya cuma nangis. "Makanya cari pacar biar gak ngenes!"

__ADS_1


"Heh anakonda, sebelum sama lo, gue udah nyicipin ***** Satya keles!" Jadi rada-rada nyesel pernah nolak Satya, sekarang begitu dia jalan sama adik tiri gue, timbul perasaan-perasaan insecure gitu.


"Aduh!" Gue ditoyor Satya, pelan sih tapi gue tetap gak terima. "Ngapa sih, ah!"


"Semprul, kalau ngomong dijaga!"


"Lah kan iya, waktu kecil kita pernah mandi bareng terus gak sengaja gue pites burung lo terus lo nangis ngadu ke bunda, lupa lo?" Sembur gue galak.


Gara-gara Jihan, nih. Bego masa gue kalah sama dia? Gak, gak. Gue juga bisa dapetin cowok yang melebihi Satya, liat aja!!


"Aww!" Ups, gak sengaja. Rambut Jihan gue tarik sampai anaknya jatuh sempoyongan.


Masih kurang puas, gue jambakin aja sekalian. "Bilang sama emak lo, tinggalin bokap gue! Gak usah ngarep kecipratan harta bokap, dikeluarga gue yang kaya itu nyokap, dasar orang miskin!!" Gue auto barbar demi meluapkan kemarahan gue selama ini.


Mampus gak anjing, makanya sebelum ngelawan gue itu dipikir dulu. Bocil, kudu ngerti siapa yang lebih berkuasa disini, selama ada uang urusan pasti lancar, cangkem dia juga bisa gue beli pake uang.


Mungkin nanti, gue terpaksa melakukan hal yang sama pada tante hebring atau siapapun yang berani mengusik ketenangan hidup gue. Anggap aja Jihan sebagai uji coba sebelum gue berhadapan dengan lawan yang sebenarnya.


"Apa-apaan, sih, lo?" Satya mencoba ngelepasin cengkeraman tangan gue dari rambut Jihan, yah gak seru, baru juga mulai gelut. "Lo ada masalah apa, sih? Kenapa lo jambak Jihan?"


"Lo tahu apa masalah gue, pake nanya lagi!!" Mulut gue kenceng kayak water cannon.


"Tapi gak gini caranya, gue beneran gak ngerti sama lo? Bisa gak sih lo gak kasar sama Jihan? Kalau emang kalian ada masalah keluarga, ngomong baik-baik, jangan kayak gini!" Satya narik Jihan berdiri dan melindungi cewek itu dibalik punggungnya. Mengantisipasi aja, kali aja gue nekat nyerang ceweknya lagi.


"Aku salah apa sama kakak?" Adik tiri gue mulai drama. "Aku udah nyoba deket sama kakak seperti yang papi suruh, tapi kakak jahat terus sama aku!"


"Diem lo jelek, bacot doang bisanya. Miskin gak usah belagu." Gue nuding hidungnya, ayoklah ribut secara betina, kita baku hantam face to face.


"Aku bilangin papi." Tukang ngadu gak tahu malu ya, udah numpang idup masih gak tahu diri, malu coba malu.


"Bilang aja, emang gue takut!" Sambil gue ngancem. "Tapi lo liat, kalau sampai bokap marahin gue...., berarti urusan lo sama gue makin panjang."


"Aku gak mau urusan lagi sama kakak, enggak mau!" Teriaknya kayak anak kecil.


"Makanya gak usah cepu!"


"Udah, yuk masuk." Satya menghentikan perdebatan kita sebelum terjadi keributan lagi.


"Kak Satya jangan temenan lagi sama nenek sihir ini, tinggal pilih aku atau Kiran?" Jihan terang-terangan. Dih, gak suka sama orang kok ngajak-ngajak, kocak amat.


"Heh kimak, congor kau bisa diam gak? Masih nyari masalah aja kau ini." Gue tantangin beneran kalau emang berani.


"Kakak, masa aku dikatain kimak...." Ngadu lagi si cabe, untung Satya tahu musti ngapain.


Gak, kali ini dia gak mencoba ngebelain Jihan karena tahu bakal percuma, jadi dia ngajak ceweknya itu masuk kamar dan nutup pintu tepat didepan muka gue.


Ambil aja semua, bokap gue, sahabat gue, kebahagiaan gue, ambil sana gue gak butuh!!


*****


Rasa insecure dan ketidakbecusan gue sebagai human, membuat gue terpuruk. Emang kelihatannya aja gue punya kehidupan sempurna, cantik, pinter, anak orang kaya, tapi kenyataannya banyak sekali kekosongan dalam hidup gue. Bokap yang egois, nyokap yang selalu sibuk, dan saudara kandung yang lebih mementingkan kebahagiaan sendiri.


Gue udah biasa terabaikan, still i don't know how i even survive.


"Kenapa?" Kian datengin gue dengan telepon yang masih menyala. Dia terpaksa keluar dari kamar karena dengar suara ribut-ribut yang gak berkesudahan. Tatapannya berubah heran waktu nemuin gue jongkok sambil nangis sesunggukan didepan kamar Satya.


"Kiran ya itu?" Gue bisa denger suara Tatiana yang masih on call dengan Kian.


"Iya." Jawab Kian.


"Kenapa dia, bi? Nangis?" Hal yang paling gue hindari, mempelihatkan kelemahan pada musuh. Tapi lihat gue sekarang?


"Gak tahu." Kian ikutan jongkok disebelah gue. "Mungkin ada masalah sama Satya."


"Oh." Yeu, kadal bacot belagak sok prihatin. Gue liat muke lo aja merinding udah kea apaan tauk.


"Ya udah, bi. Kiran ditenangin dulu, nanti aku telepon lagi." Nadanya terdengar khawatir, tapi sorry, gue gak butuh.


"Oke, yank. Tutup aja."


"Kasian, loh." Ucap Tatia sebelum mengakhiri panggilannya.


That 'kasian' dan kemesraan mereka bikin gue makin nangis. Ya ampun, gini banget ya hidup gue.


Setelah mengantongi ponselnya, Kian bantu gue berdiri. "Kamu kenapa nangis?"


Gue menggeleng, gak usah nanya-nanya, sih. Mending langsung dipeluk aja.


Dan memang seperti itu yang Kian lakukan sekarang, gue dirangkul dan dibiarkan nangis tersedu-sedu sampai basah semua kaosnya.


"I am completely stuck in life and don't know where to go." Gue terisak pelan.


"Masih ada aku, udah jangan nangis." Kian mengecup kening gue dengan lembut.


Mau gak baper tapi susah, meski udah sering tetap aja gak siap kalau dikasihnya dadakan gini.

__ADS_1


****


__ADS_2