
Berhubung aib keluarga gue terlanjur kebuka dan gak ada lagi yang bisa gue lakuin, jadi gue memutuskan menggunakannya sebagai senjata.
Terutama demi mendapatkan belas kasihan dari mas ganteng, kalau gue semakib ngedrama, semakin gue nangis-nangis bombay, otomatis Kian gak tega ngebiarin gue sendirian.
Soalnya dia udah janji, dan lelaki sejati gak akan mengingkari janji yang dibuatnya sendiri. Betul apa betul?
Pokok gue berusaha mencari excuse biar dia tetap disisi gue, gak mau tahu. Gue mau Kian yang nemenin disaat gue berada dititik terbawah, atau dimulai dari nol kayak meteran SPBU.
Btw, gue mainnya cantik banget, loh. Selain saling follow di sosmed, gue juga sering chatingan sama Tatia. Seru gak, bre? Berteman dengan musuh.
But Kiran do that, pfft. Tapi khusus buat ahlinya saja, yang mentalnya Qtela udah gak usah ukutan kalian gak akan sanggup.
Berawal dari Tatia nge-dm gue duluan, sebagai bentuk keprihatinannya lihat gue nangis kapan hari itu, terus gue ladenin aja dengan ramah dan berlanjut chattingan sampai sekarang. Lumayan, gue jadi bisa mengenal Tatia lebih dalam, masa sih dia emang sesempurna itu? Gue penasaran, apa yang bikin Kian cinta banget sama ini cewek?
Mas ganteng gak tahu kalau gue menjalin komunikasi sama ceweknya, karena gue disini memposisikan sebagai mata-mata yang melaporkan aktifitas Kian sebanyak yang gue tahu. Untung sejauh ini Tatia masih percaya kalau gue dan Kian temenan, gak tahu aja dia kalau musuh yang sebenarnya justru sedekat urat nadi.
Gue jahat, ya? Enggak, soalnya gue tokoh utama disini, sementara Tatia cuma peran pembantu.
"Hmm sayang pelan-pelan..." Gue remes-remes rambut Kian waktu dia ngemutin **** gue, sumpah, enak banget dikenyotin pacar orang.
Kita sama-sama topless, tapi gue masih pake rok bawahan sementara Kian tinggal boxer doang. Itupun gue pelorotin separuh biar gue lebih gampang ngocoknya. Si Jojon udah tegang banget di tangan gue, hm tapi gue gak berani kenceng-kenceng, sih, takut crot duluan.
Inget, gue lagi godain perjaka asli. Kesenggol dikit langsung KO ntar gue sendiri yang rugi.
Sayangnya, Kian baru berani nyentuh gue sebatas puser ke atas terutama bagian ****, leher, dan bibir. Alhasil, cupang merah ada dimana-mana.
Sadis si mamas, gak ngebiarin ada sepetak kulitpun yang terlewat dan sekarang bibirnya nempel lagi di **** gue, kayak gak ada bosen-bosennya nangkring disitu.
"Mas..." Sepanjang Kian ngemutin , gue terus mendesah-desah, untuk ukuran amatiran mas ganteng cukup jago, yah, minimal ** gue diperlakukan dengan lembut.
"Aah Kian." Gue suka, Kian tahu kapan saat bibir dan lidahnya harus bermain. Lumayanlah, ilmu perbokepannya kepakai. "Ganti sini...gatel..." Gue sodorin kiri yang langsung dilahap Kian tanpa banyak omong.
"Kamu gak pulang?" Dia nanya dengan bibir masih nempel digundukan kembar gue.
"Gak mau pulang, nanti aku nangis lagi gimana?" Gue nyebik-nyebik.
"Udah malam ini."
"Biarin orang aku maunya disini." Gue maunya netein dia...eh ditemenin dia terus.
"Besok aja nginepnya jangan sekarang, aku lagi banyak tugas."
"Kerjain aja, aku gak ganggu, kok." Boong banget, ujung-ujungnya pasti gue apa-apain sampai dia hilang konsentrasi.
"Besok aja." Kian ambil beha dan kaos gue yang tercecer dilantai, terus dikasih ke gue. "Nih, habis ini aku anter balik."
Gue buang lagi ke lantai dan balik badan dengan sewot, biar lebih dramatis gue balik badan sambil sesenggukan kenceng dan pundak gue gerakin naik turun. "Kan kamu juga ngusir aku....huhuu gak ada yang mau deket sama... aku...aku...aku..."
Terus gak lama gitu, Kian meluk gue dari belakang. "Nangis lagi."
"Biarin, abis kamu jahat sama aku..." Suara gue bikin sengau biar makin dikasihani.
"Jahat gimana? Kan tiap hari udah ditemenin."
"Aku tidur disini sama kamu!" Gue masih mode ngeyel.
"Tidur sini ya tidur sini, gak usah pake nangis." Kian ngepuk-puk kepala gue, asyik gue menang.
"Beneran?" Gue noleh dengan bibir manyun.
"Iya—" Belum selesai dia ngomong, bibirnya udah gue tubruk terus lanjut cipokan sampai pegel.
Bokis ah, bilang mau ngerjain tugas, tapi apaan waktu gue ngemut si Jojon, dia merem keenakan. Hihi, sepongan gue emang yahut.
Gak ada yang luput dari perhatian gue, mulai dari pangkal ke ujung gue jilatin sampai basah. Waktu gue hisep-hisep pelan sampai masuk semua kedalam mulut, Kian menggeram dengan suaranya yang jantan itu.
Gue suka banget ekpresinya, ganteng-ganteng ***** gimana gitu waktu ngeliatin gue mamam tititnya yang segede rudal itu. Uh syuka.
"Aduh, Ki." Entah karena Kian belum ekspert atau emang gue yang terlalu ahli, sebentar saja mulut gue udah penuh dengan bibitannya mas ganteng, dan sayang kalau dibuang, mending gue telan aja semua, slrruup.
Mas ganteng cuma terbengong-bengong menyaksikan gue dengan getolnya bersihin cairannya sampai habis gak bersisa. "Udah, nih. Masih mau lagi gak?" Gue oke-oke aja meski semalam suntuk ngelayanin dia.
Apa? Mau ngatain gue murahan, emang. So what gitu? Hujat saja hujat, kalian sok sucih dan aku penuh desah, eh dosa maksudnya.
Kian tersenyum kecil, terus narik gue kembali ke pelukannya. Dia ngeliatin muka gue lama dengan ekspresi yang gak terbaca.
"Apa, sih?"
"Kamu beneran suka aku, ya?" Kian nanya serius.
"Suka banget." Yakali, gue sampai rela ditelanjangin gini, masa gak suka, sih.
"Alasannya?"
"Uhm, banyak." Gue sampai gak bisa menyebutkan spesifik apa yang gue suka dari sosok mas ganteng, mungkin karena Kian adalah Kian, simple. "Aku suka semua yang ada pada diri kamu, mau itu fisik atau personaliti kamu, dimataku kamu itu gak ada cacatnya...eh ada deng, status kamu tuh bikin aku potek."
Kian mengabaikan kalimat terakhir gue, dia justru ngebahas hal lain. "Tapi aku bukan orang kaya, kamu gak akan dapat apa-apa kalau jalan sama orang miskin kayak aku."
"Kamu pikir aku ini cewek matre?" Gue ngernyit, please deh, gue mending Kian dengan motor beat dan hape xiaominya dibanding cowok tajir diluaran sana, mereka ngedekat dikit aja langsung gue hempas dengan semena-mena.
"Lebih tepatnya, kamu itu cewek high class, dan biasanya cewek seperti kamu gini kalau nyari mainan minimal yang selevel, bukan cowok kampungan kayak aku."
"High class? Mainan" Gue mendengus ketawa. "Jadi gitu penilaian kamu ke aku?"
"Ya...kurang lebih seperti itu." Kian jujur kalau selama ini dia mengira gue ini cewek matre dengan pergaulannya yang bebas. Playgirl, liar, suka clubbing dan lain sebagainya.
Emang, sih. Tapi gak semuanya bener, bagian playgirl musti di-cut. Fyi, gue jomblo akut sejak semester kemarin, itu juga gara-gara gue kenal Kian.
"Kamu salah," Kalau didepan Kian, gue pasti mengeluarkan segala macam jurus sok syantik, kadang benerin rambut, mainin kuku, ngebasahin bibir, duck face dan kecaperan alay lainnya. "Pertama aku gak ada niatan main-main sama kamu, aku tuh beneran suka kamu, loh. Sumpah gak boong. Kedua, aku gak high class samasekali, cuma cewek biasa aja yang insecure dengan dunia. Nothing special dan gak sepintar Tatiana."
"Tapi kamu cantik."
Emberan, karena cuma satu hal yang bisa gue banggakan didepan dia. "Sama Chelsea Islan cantik mana?"
"Cantik kamu."
"Sama Tjatana Shapira?"
"Kamu." Iyalah cantikan gue, soalnya gue versi premium dari mereka berdua.
"Sama Tatia?"
"Kamu cantik. Kalau Tatia manis." Jujur banget, sih. Jadi gemes.
"Sini, aku ceritain sesuatu." Gue mainin hidungnya, sambil gue sun pipi kanannya. "Biar kamu gak asal ngejudge aku."
"Gimana?"
Gue mulai dengan alasan kenapa gue insecure, karena gue sering dikhianati orang terdekat termasuk keluarga dan circle terdekat gue. Teman-teman deket gue juga sama aja, suka memanfaatkan previlege gue dan gue yakin kalau gue miskin mereka bakal mikir panjang buat temenan sama gue.
Gue emang terkesan jutek, sombong, suka jual mahal. Tapi aslinya gue ramah dan gampang membaur dengan siapapun. Cuma masalahnya, kita gak bisa bikin semua orang suka sama kita, sulit.
Jadi gue memutuskan untuk mengesampingkan urusan gak penting, termasuk berbagai cercaan dan nyinyiran orang, gue gak peduli karena hidup gue bukan urusan mereka.
Gue pernah depresi, tapi untung gue segera aware dan mencari pertolongan sebelum terlambat. Gue melakukan beberapa preventif ways seperti konsultasi dengan psikolog dan mensugesti pikiran kalau semua pasti akan baik-baik aja. Yeah, i have to manage my emotion, control my fearness and emphasizing the fact that securities mindset really is in my hands.
Meski gue sering tertekan dan merasa diperlakukan dengan tidak adil, tapi gue selalu berusaha menanamkan possitive vibe dalam diri gue, seperti dealing with my self, finding my own happyness no matter what happen, and powerfull motivate to reach my goals. Itu semua gue lakukan demi kesehatan mental gue sendiri, kalau bukan gue siapa lagi yang mau peduli?
Gue jadi curhat panjang lebar sama Kian. Gue juga cerita, meski gue dulu suka mabok tapi gue gak pernah pake narkoba. Gue gak serusak itu, kok, buktinya gue masih virgin sampai detik ini. Menurut gue, status keperawanan itu gak penting tapi sakral, jadi gue gak akan lepas segel pada sembarang cowok.
Mas ganteng menatap gue dengan skeptis. "Kok bisa masih perawan?"
"Karena belum kamu masukin, sih, jadinya masih segelan." Jawab gue asal nyablak. "Mau perawanin aku sekarang, gak? Ayo aja aku, mah."
__ADS_1
"Ngawur." Kian sok-sokan nolak.
"Aku minggu depan ultah loh, kamu gak pengen kasih aku sesuatu gitu?"
"Minta apa?"
"Minta diperawanin." Pepet terus adalah jalan ninjaku.
"Kamu pengen dikado apa?" Mas ganteng gak merespon. "Ini aku nanya serius, jangan bercanda mulu."
"Jangan kado, bosen."
"Terus apa?"
"Uhm yang surprise-surprise gitu, dong, biar akunya kaget."
"Aku gak pernah bikin surprise, Tatia gak suka."
Gue auto cemberut, orang ini lagi ngomongin gue, kenapa jadi Tatia mulu, sih. "Tapi aku suka, gak mau tahu pokoknya kamu kudu ngasih aku surprise."
"Gampang, masih minggu depan, kan."
"Asik, eh aku boleh request gak?" Gue cengingisan, seneng dong mau dikasih something special sama mas ganteng.
"Katanya surprise kok request?"
"Boleh ya?" Gue kedip-kedip genit.
Kian hela nafas. "Mau minta apa?"
"Culik aku dong. Bawa aku pergi jauh, kemana aja terserah kamu."
"Culik?"
"Iya. Aku pengen kabur tapi berdua sama kamu." Liat ekspresi muka Kian, buru-buru gue nambahin. "Gak kabur beneran, cuma sehari itu doang."
"Kabur kemana?"
"Nah kalau itu, surprise me, dong. Kamu aja yang ngeplan mau bawa aku kemana."
"Aku gak tahu jalanan di Jakarta."
"Kan ada google map, nanya temen juga bisa. Banyak kok destination yang bisa dituju, mentok-mentok nyari kamar di hotel juga gak apa-apa. Pokok, kamu usaha dulu buat nyenengin aku." Gue kasih mas ganteng pencerahan.
"Oke." Kian ngeiyain meski masih bingung.
"Gitu dong, nanti aku sedih kalau ultah gak ada kamu, keluargaku kan..." Gue udah mulai nyebik-nyebik. "Boro-boro kasih surprise, inget ultahku aja enggak. Mereka sibuk terus sampai-sampai tiap tahun aku ngerayain sendirian, kamu gak kasian sama aku?"
"Iya, nanti kan sama aku." Posisi gue lagi enak, nih, bobok berhimputan dikasur sempit dengan lengannya sebagai bantal gue.
Kian mutusin nunda bikin tugas, jelas, karena ada gue jadi gak mungkin dia bisa fokus.
"Kamu gak pengen ngajak aku jadian? Nanti kalo aku udah jadi pacar orang kamu nyesel loh." Sini mas, jadi temen rebahan halalku aja.
Mas ganteng cuma ketawa, dia lebih gemes sama bibir gue, katanya kalau manyun gitu persis bebek.
"Kamu gak suka, ya, sama aku?" Gue majuin bibir sekalian.
"Suka, kok."
"Beneran?"
"Bener." Jawaban Kian bikin gue sumringah.
"Sumpah?"
Jari Kian membentuk V sign yang artinya berani sumpah.
"Bilang i love you Kiran berani gak?" Tantang gue.
Kian menggeleng, yah, gak seru.
"Udah biasa."
"Serius, kalian gak pernah pegangan tangan? Cium pipi juga gak pernah?"
"Pernah lah."
"Cium bibir?"
"Kepo." Kian narik-narik bibir gue.
"Ihh kan nanya." Gue makin nyeksrek suara gue bikin sexy manja-manja basah gitu. "Siapa yang lebih jago nyium, aku atau Tatia?"
"Siapa, ya?" Kian jawab pake lumatan di bibir, aw berarti gue, dong. Duh disini senang, disana senang, tapi hatinya udah di miliki orang, ouch sad gurl.
Gak apa-apa. Slowmosyen aja, cepat atau lambat Kian pasti jadi milik gue seutuhnya, so watch out Uma Tatia your Abi will be mine, soon.
Tahu kan kalau pacaran itu dilarang agama, makanya gue mau ngehancurin hubungan mereka biar gue dapat pahala.
"Jadi kamu tetap gak mau putus sama Tatia, even demi aku?"
"Aku sama Tatia gak ada masalah apa-apa, masa iya putus?" Alasan Kian.
"Aku gimana, dong?"
"Sebelum kita seperti sekarang, kamu kan tahu banget kalau aku udah punya pacar. Aku nolak kamu berkali-kali gak mempan, kamu sendiri yang ngeyel mau sama aku, terus aku mesti gimana?"
"Kamu cinta banget, sih, sama Tatia. Sampai gak ruang buat aku..." Gue mulai mellow.
"Aku gak bisa janjiin apapun sama kamu, selain...." Kian gak bisa menyebutkan secara spesifik bentuk hubungan kita.
"TTM-an?" Gue yang lanjutin.
Kian mengkoreksi. "Jadi yang kedua."
Lah, apa bedanya gue sama emaknya Jihan?
****
Habis kelar kuliah gue curhat sama teman-teman laknat gue, tapi bukannya ditenangin malah kenyang gue diledekin.
"Jadikan aku yang kedua, buatlah diriku bahagia, walau engkau takkan pernah kumiliki selamanya..." Nana nyanyi kenceng banget, dih berasa pengen nabok.
Susan ikut ngetawain, emang kurap punya teman tapi gak guna. "Selamat, Kiran sayang! Kamu viral dengan kebucinan."
"Bego, kayak gak laku aja sih, lo?" Naina muter mata, dibilang gak ada satupun genk gue yang support. Heran, mereka masih saja menentang hubungan gue dengan Kian.
"Menye menye menye, itu ngomong apa boker!" Gue nyinyirin balik.
"Sampai kapan kalau boleh gue tahu?" Gita gak ikutan ketawa tapi galakin gue.
"Maksudnya?"
"Terus lo mau-mau aja dijadiin selingkuhan?"
Gue angkat bahu.
"Lo bisa mikir gak?" Maki Gita. "Itu sama aja lo rela dimainin cowok? Gue gak ngerti sama kinerja otak lo, deh, Ki."
"Tauk tuh, Kiran. Bebal banget dibilangin, iya kalau modelan Chris Hemsworth, mah, gak apa-apa dimadu, lah ini? Titisan Dodit Mulyanto aja belagu." Congor Nana sama aja kayak gitu, pedes-pedes tai.
"Pernah liat muka dodit jaman predebut, sih, mayan loh dia." Kebiasaan, Naina suka out of topik.
__ADS_1
"Gue cuma membuka kesempatan Kian, buat memilih. Orang mereka masih pacaran gitu, masih bisa lah kebolak-balik hatinya." Gue sok tahu.
"Thread basic, lo sendiri kalau punya pacar di embat, terima kagak?"
"Dalam hidup itu, anything can be happen, Nana sayang. Selama belum jadi apa-apa, mau gue pepet juga sah-sah aja, kok. Yakan siapa tahu Kian emang jodoh gue. Ketahuilah, nikung pacar orang adalah koentji." Gue ngebales, pokok intinya gue bener gak mau salah.
"Ingat karma mengintai. Denger nih, ya, gue orang yang pertama kali ketawa kalau emang terjadi apa-apa sama lo." Gita nyumpahin gue. "Gue syukur-syukurin lo, liat aja!"
Eh suer, deh. Daripada disidang keroyokan gini, gue mending tenggelam ke palung yang terdalam dan bersahabat dengan Spongebob-Pattrick, aslik, temen-temen gue disini gak ada yang seasyik mereka.
"**** yall no exceptions, serah lo ngomong apa, yang penting status percintaan gue dan Kian terpantau lancar tanpa ada pengalihan arus dan dilarang puter balik." Gue penuh percaya diri.
"Hedeh, apa coba yang lo liat dari Kian? Udah miskin, muka juga gak ganteng-ganteng amat, bisanya cuma gantungin cewek, cowok gak jelas gitu aja lo bangga-banggain di depan kita." Gita makin julid.
"Jomblo kalo iri mah bilang aja, nyerocos mulu gak berguna cocot lo!" Gue nyindir kejombloan Gita yang menahun.
"Hei jangan besar kepala dulu wahai anak muda, gue lagi nunggu kabar lo dicampakin Kian." Gita nantangin gue.
"Mau taruhan?" Gue jadiin sekalian.
"Oke." Gita ngajak gue salaman. "Tiga bulan dari sekarang? Siapin aja jam tangan Balenciaga buat gue."
***, gak nanggung-nanggung taruhannya seharga 20 juta. "Deal! Sebaliknya kalau Kian mutusin Tatia demi gue, lo kudu dandan kayak badut sambil ngamen di perempatan."
"Enak, aja! Gak, gak, gue gak apa-apa ngamen tapi ogah badut-badutan." Gita mencak-mencak.
"Gue team Gita aja deh." Nana nyeletuk tanpa ditanya.
"Gue juga."
"Gue team yang pasti-pasti aja, deh. Teamnya Jeng Gita Maharani." Susan sok yakin.
"Lo team siapa?" Gue pelototin Naina yang cengengsan mulu daritadi.
"Sorry, gue gak suka pelakor, jadi gue team Tatia." Katanya enteng.
Okey, fine. Gue bakal buktiin omongan gue. "Siap-siap aja lo semua ngebadut di lampu merah!"
Gue gak butuh team-team-an. YA'LL STAN KIRAN STAN SULTAN.
Suka-suka gue sombong gini. Toh, gue berguna buat umat.
"Eh kapan nih jenguk Sheila?" Susan nanya ke kita-kita, soalnya Sheila udah dua mingguan ini gak ngampus tanpa alasan yang jelas.
Dia gak keliatan sakit atau lagi menyimpan masalah, beda sama gue yang suka mood swing, Sheila anaknya ceria banget dan selalu tersenyum apapun keadaannya. Kadang masih suka nimbrung di grub chat, sih, ikutan bercanda dan ketawa kalau kita lagi ledek-ledekan. Jadi bingung kan, dia ini sebenarnya kenapa?
"Nanti sore aja gimana?"
"Gak bisa, gue mau nonton sama Kian." Gue nolak dengan alasan tersebut.
"Gue juga ada acara nanti malam, nyokap bikin pengajian dirumah." Sahut Gita.
"Besok siang, deh. Kelar matkul manajemen bisnis, kita langsung cabut ke rumah Sheila. Gue bawa buah, Nana yang beli kue, sisanya bawa duit diamplopin bareng." Instruksi gue.
"Oke, bos." Nana mengangguk.
"Siap aja gue, mah." Susan juga setuju.
"Gue ngikut aja, dah. Eh laki gue udah dateng. Bye gengs, gue duluan ya!" Naina udah kayak ibu-ibu nyela antrian nasi uduk pake alesan anak saya mau sekolah be like. "Minggir elah, Ki. Gue udah ditunggu, nih."
Belagu lo tapir bedakan, emang lo doang yang dijemput mas pacar, gue juga keles. Soalnya gak lama gitu, Kian datengin gue. Tuh, dia lagi jalan kesini setelah markir motor gak jauh dari situ.
Tatapan mata Gita dan Nana auto sinis, disenyumin Kian pun gak ada yang bales, cuma Susan yang masih bisa basa-basi busuk. "Jemput Kiran, ya?"
"Iya." Jawab mas ganteng singkat.
"Balik sekarang aja, yuk?" Gue tarik tangan Kian, mending segera dijauhin dari Gita dan Nana sebelum mereka mulai bacot ala emak-emak protektif.
"Sekarang? Gak liat mendungnya?" Kian nunjuk ke langit, oh iya, awannya pekat banget pasti sebentar lagi hujan deres.
"Kalau ngebut masih sempat gak sih?"
Kian menggeleng gak yakin, bener aja, soalnya hujan udah mulai turun rintik-rintik dan dibarengin angin yang lumayan kenceng.
"Nunggu aja, ya? Aku lupa gak bawa jas hujan."
"Ya udah " Akhirnya kita sepakat nunggu hujan reda. "Duduk situ, yuk, mas."
Gue ajak Kian duduk dibangku beton yang banyak ditanam dibasement kampus gue, tempatnya lumayan mojok dan tidak menarik atensi orang lewat.
"Kasian kalo ujan-ujan nanti kamunya sakit," Gue mulai lenjeh-lenjeh didada Kiam. Sementara diseberang sana, Gita dan Nana pura-pura muntah ngeliatin kemenelan gue, dih bilang aja ngiri.
"Sayang..." Gue mainin poni Kian, sengaja biar mereka makin kesel. "Kamu udah makan belum?"
"Belum, kamu udah?"
Gue menggeleng. "Gak sempat dari tadi kuliahku full, makanya sekarang lapar banget."
"Ayo cari makan." Kian hampir beranjak berdiri tapi gue tahan.
"Nanti aja." Lagian lokasi kantin lumayan jauh dari sini, ditambah hujan makin deres.
"Jangan suka nahan lapar, nanti masuk angin."
"Aw suka deh, kalau kamu perhatian gini sama aku." Gue cubit-cubit bahunya dengan genit.
Sambil nunggu hujan reda, kita lanjut ngobrol seru. Sejak sering jalan sama dia, gue jadi jarang bawa mobil. Sudah jadi komitmen kita, selama dia gak ada kuliah wajib antar jemput gue ke kampus.
Kian oke aja asal gue gak ngambek, dia pusing kalau gue bete nanti gak ada yang nge-blow job si Jojon.
Ngomongin Jojon, tangan gue lagi iseng merayap di selakangan Kian untuk sekedar menyapa. Duh makin gede dia, efek sering gue belai pasti, nih.
"Ups ketahuan." Gue nyengir waktu Kian menyadari perbuatan gue.
Tapi bukannya nyuruh berhenti, dia malah nengok ke sekeliling, memantau aman gak dari pandangan orang dan cctv. Dalam hati gue bilang yes mas ganteng gak keberatan uji nyali di kampus.
Tanpa nunggu kode dari Kian, gue langsung buka kancing dan retsleting celananya, susah anjir. "Bantuin..."
Sialan, Kian malah ketawa liat gue ngerajuk.
"Dikit aja." Kian ambilin buat gue.
Gue udah kesenengan waktu disodorin separuh, langsung gue emutin dengan senang hati. Gak lama gitu, ganti Kian ngebales dengan nyedotin **** gue secara bergantian, kapalanya yang terbenam di dada, sengaja gue tutupin sweater biar gak terlalu nyolok.
Gila ya kita, padahal ini tempat umum loh. Untung hujan deres banget, dan gak ada satupun orang yang repot-repot berteduh di area sini. Bersyukur temen-temen gue langsung nyingkir, mereka lama-lama gak tahan liat gue gelendotan dilengan Kian dengan gak tahu malu.
"Aah Kian..." Karena gue pakai rok, jadi gampang gitu Kian ngobel-ngobel meki gue, jempolnya ngegesek-gesek disana sampai bikin gue lemes dan merem melek.
Gak tahu kenapa, cuaca hari itu sangat mendukung kita untuk berbuat mesum.
****
Hujannya lama banget, hampir sejam lebih gak reda-reda. Gue kedinginan karena pakaian gue lumayan tipis, karena itu pula mas ganteng nekat ngajakin balik.
Tapi sebelum itu, Kian ngelepas jaketnya buat gue pakai, uwu such a gentleman. "Nih, biar gak kena angin."
Kegedean jaketnya tapi gue suka karena selain anget, aroma Kian nempel disana. Mas ganteng juga nitipin dompet dan ponsel sekalian, biar gak kena hujan.
Setelah pake helm dan duduk nyaman di boncengan, gue lalu meluk pinggang Kian dari belakang. Dibawah derasnya hujan, meluncurlah kita dengan motor beat putih itu, nekat menerobos guyuran air yang .
Sepanjang jalan, perasaan gue campur aduk, antara seneng dan hati kebat-kebit karena dibonceng cowok ganteng yang udah gue suka dari lama.
Gue duduknya sengaja nempel sambil meluk Kian kenceng banget, sampai dia ngerasain gumpalan ***** gue yang nempel-nempel di punggungnya. Pasti dia ngerasa anget dan kenyal-kenyal gitu, deh.
Terus gitu, gue juga dibikin baper sama dia, sambil pegang setir motor, sesekali tangan gue dielus-elus dan diciumin, ya lord jantung gue bergejolak kawula muda.
__ADS_1
Gue lama gak hujan-hujanan, apalagi dengan someone special. Gue gak masalah sepanjang jalan diguyur air hingga basah kuyup, gue gak keberatan badan gue menggigil kedinginan sampai gigi gemeletukan, its oke as long as im with him, im happy.
****