
Persidangan dimulai kembali pukul 15.00 sesuai yang dikatakan oleh pak Hakim. Mereka yang ada di dalam ruangan seketika berdiri ketika pak Hakim masuk ke ruang persidangan. Pak Hakim berdiri di tempatnya memandang sekeliling sebelum beliau duduk dan diikuti oleh semua orang.
Pak Hakim memasang kacamatanya lalu melihat kertas-kertas yang ada di atas mejanya. Dibacanya sekilas sebelum ia mengatakan hasil keputusan sidang.
"Setelah mendengar argumen dari pengacara kedua belah pihak, serta bukti medis kecelakaan Noval yang di berikan oleh pihak pak Marco serta alasan dari Ananda Noval, Kami memutuskan hak asuh Novalio Danurdara berganti alih kepada ayah kandungnya yaitu Tuan Marco Danurdara"
Betapa senangnya Noval mendengar keputusan sidang ia tak sanggup menahan air mata kebahagiaannya serta memeluk sang papa dengan sangat erat.
Mamanya merasa tak terima dengan keputusan Pak Hakim, ia berdiri lalu melangkah ke depan menghampiri pak Hakim mencoba melukai serta mencaci pak Hakim. Keributan terjadi, pak penjaga tak tinggal diam, mereka menyeret paksa mama Noval disusul suaminya dan ketiga anak tirinya untuk keluar dari ruangan.
"Akhirnya kamu sekarang tinggal sama papa, Son" ucap Pak Marco sambil mengelus puncak kepala anaknya.
"Iya pa, makasih ya"
"Gak perlu bilang terima kasih, papa senang sekarang kamu ikut papa"
"Ayo pa kita pulang sekarang" ajak Noval, Pak Marco mengangguk lalu membantu Noval berdiri dari duduknya.
Pak Marco menganggukkan kepala kepada Pak Hakim, sekilas Pak Hakim juga membalas anggukan tersebut sebelum mereka semua keluar dari ruang sidang.
..._...
Di kediaman pak Marco, Lova terlihat mondar-mandir di ruang tamu bersama Indy dan juga Aldo, ia cemas dengan hasil persidangannya. Apakah Noval akan tinggal bersamanya?
Deru mobil terdengar, Lova tahu betul kalau itu mobil papanya. Segera ia membukakan pintu ia melihat papa dan Noval berjalan masuk ke dalam rumah.
"Mulai hari ini Noval resmi tinggal bersama kita" ucap papanya.
Mata Lova berkaca-kaca saat menatap Noval, ia merasa tenggorokannya tiba-tiba sakit, isakan dari Lova terdengar di telinga. Lova berlari memeluk Noval dengan tangis yang begitu bahagia, "Syukurlah kau sekarang tinggal bersama kami"
"Iya, terima kasih sudah menjadi saudari terbaikku" ucap Noval sambil memeluk Lova dengan erat.
"Selamat ya Val, akhirnya kau bisa tinggal bareng terus sama Kak Lova" ucap Aldo.
"Makasih ya, Al"
Di samping Aldo, Indy juga meneteskan air matanya terharu.
Sekitar pukul 19.00 setelah makan malam bersama mereka berempat yaitu Lova, Noval, Aldo serta Indy berada di ruang bebas menonton film bersama. Sementara Pak Marco seperti biasa ia akan berada di ruang kerjanya.
__ADS_1
"Kalian beneran mau nginep?" tanya Noval.
"Iyalah, kak Lova yang nawarin" jawab Aldo.
"Kenapa Va?" tanya Noval bingung.
"Kenapa apanya, gakpapa dong mereka nginep lagian ini kali pertama aku punya temen yang nginep di rumah" jawab Lova santai.
"Emang si Dilan gak pernah nginep di rumahmu kan dia besti mu" tutur Indy.
"Gak pernah dia nginep di rumahku padahal rumah kita satu blok"
"Ngomong-ngomong gimana ya kabarnya Dilan?" tanya Aldo.
"Gak tau tanya aja sama yang satu sekolah" ucap Lova melirik ke arah Noval.
"Aku juga gak tau, aku udah gak deketin Dilan lagi kalau pengen tau kabarnya Dilan tanya aja sama Kiano si Dilan kan suka nempel terus sama Kiano" jawab Noval.
"Aku sekarang juga udah jarang main sama Kiano semenjak kita beda sekolah" ucap Aldo.
Tiba-tiba Noval teringat sesuatu, "Indy aku mau tanya sesuatu sama kau?"
"Waktu kita liburan ke rumahnya Pak Darto aku sempet lihat Kiano lagi debat sama Dilan terus aku denger nama kau disebut-sebut waktu kau hilang itu"
"Masa sih" ucap Lova tak percaya.
"Iya swear gak bohong aku, emang hubungan kalian bertiga itu apa sih?" tanya Noval penasaran.
Indy menelan ludahnya, apakah dia akan menceritakan kisah lama antara dia, Dilan dan Kiano waktu kecil. Terlihat Indy nampak gelisah di tempatnya.
"Ayo In gakpapa cerita aja" ucap Lova.
Indy pun menghela nafasnya, "Jadi gini waktu kecil Kiano itu suka sama aku"
"Seriusan" kini nampak Aldo tertarik dengan pembahasan mereka saat ini.
Indy mengangguk, "Aku, Indy sama Kiano waktu kecil kita dulu satu SD, nah disitu Kiano bilang kalau dia suka sama aku tapi aku juga bilang kalau aku gak suka sama dia dan aku bilang kalau kecil-kecil gak boleh pacaran" ucap Indy sambil mengingat masa itu.
"Terus gak lama yang tadinya aku sama Dilan gak begitu dekat tiba-tiba si Dilan menghampiriku dan bilang kalau dia suka sama Kiano dan nyuruh aku buat menjauhi Kiano, aku sih gak masalah toh aku juga menganggap Kiano hanya sebatas teman" lanjut Indy.
__ADS_1
"Terus gimana?" tanya Noval.
"Waktu itu akhir pertengahan semester, kita udah selesai ujian tiba-tiba Daddy aku dipindah tugaskan sementara ke kota lain dan akhirnya kami pindah. Hari terakhir sebelum pindah ke sekolah baru aku ingat banget di sekolah pas istirahat aku menghampiri Dilan dan bilang kalau aku mau pindah sekolah disitu Dilan kelihatan seneng banget dan aku juga bilang kalau aku gak suka sama Kiano tapi waktu pendaftaran masuk SMP ternyata kami pindah lagi kesini jadi aku juga gak ada rencana untuk masuk ke SMP yang sama dengan mereka, ya namanya juga takdir mau bagaimana lagi"
"Huh, sekarang aku tahu kenapa Dilan sensi banget sama kau" ucap Aldo.
"Tapi kan itu waktu kalian masih kecil gak tau tentang perasaan kalian yang sesungguhnya apalagi kau" ucap Noval kepada Indy.
"Maksudnya?" tanya Indy tak mengerti.
"Ya maksudku tentang perasaanmu ke Kiano sekarang, setelah kau sudah remaja pasti kan gak sama waktu kalian masih kecil"
"Enggak kok, aku biasa aja sama Kiano" ucap Indy.
"Ya mana tahu kau sebenarnya juga suka sama Kiano tapi gak merasa aja"
"Gak Val, aku gak suka sama Kiano aku tuh suka sama orang lain" ucap Indy gugup.
"Siapa?" tanya Noval.
Lova dan Aldo saling tatap.
"Adalah pokoknya" ucap Indy memalingkan wajahnya.
"Kasih tahu dong In kami juga pengen tahu, iya kan" ucap Noval meminta persetujuan Lova dan Aldo.
Yang dimintai persetujuan hanya tersenyum sambil manggut-manggut.
"Ciri-cirinya aja deh" ucap Noval memaksa.
"Hum, dia itu seperti matahari dan bulan, dia selalu ceria di setiap langkahnya. Aku suka kepribadiannya yang baik dan lembut" ucap Indy tersipu malu. Tak tahukah mereka kalau sekarang jantungnya berdegup dengan kencang.
"Beruntung banget cowok itu bisa dapetin hatinya Indy, aku jadi penasaran dengan laki-laki itu" ucap Noval sambil memicingkan matanya, "terus kau sudah pernah deketin dia?"
"Baru mau diusahain, tapi sepertinya dia sedang dekat dengan teman satu kelasnya" ucap Indy lesu.
"Coba ungkapin saja perasaanmu ke dia"
"Aku terlalu takut"
__ADS_1
Indy menghela nafas, 'Seandainya kamu tau orang yang sedang aku bicarakan itu kamu, Val' batin Indy.