CRUSH

CRUSH
Chapter 43


__ADS_3

Malam hari yang terasa melelahkan Andro memutuskan untuk pulang ke apartemen dari pada ke rumah karena jarak apartemen yang lebih dekat dan Andro bisa lebih cepat istirahat.


Sampai di apartemennya Andro bersih-bersih, rapih-rapih dan pergi ke dapur untuk membuat secangkir kopi. Ketika kopi sudah siap ia duduk di kursi sofa sambil menyalakan televisi.


Teringat siang tadi saat dirinya menelepon Lova sepertinya ada yang tidak beres. Suara Lova terdengar malas untuk bicara kepadanya. Apa mungkin dirinya membuat kesalahan yang dia gak tahu.


Dari pada menebak-nebak Andro pun memutuskan untuk menelpon Lova. Panggilan pertama tidak di angkat, panggilan kedua juga tidak di angkat. Andro merasa cemas. Ia pun memutuskan untuk mengirim pesan singkat.


Andro : Lov apa kau sibuk?


Lima menit berlalu, sepuluh menit berlalu sampai tak terasa sudah hampir satu jam Lova tidak menjawab pesannya membuat Andro semakin cemas.


Andro berusaha kembali menelpon Lova berharap panggilannya kali ini mendapat jawaban. Terdengar nada sambung beberapa kali untungnya panggilan kali ini di angkat oleh Lova. Andro pun bisa bernafas dengan lega.


"Hai Lov kamu kok susah dihubungi kenapa? Ada sesuatu?"


"Maaf kak aku gak denger ada telfon"


Andro menghela nafasnya, "Saya cemas takut kalau terjadi sesuatu sama kamu"


"*Aku baik-baik saja kok kak*"


Entah kenapa namun Andro mendengar suara Lova terdengar berbeda dari biasanya.


"Lova apa kamu ada masalah?"


Hening seketika walaupun begitu Andro tetap sabar menunggu jawaban dari Lova.


"Kak" panggil Lova.


"Iya, kamu mau cerita, cerita aja gakpapa"


"Aku.."


Hening kembali membuat Andro bingung. Kenapa dengan Lova sampai ragu-ragu bilang sesuatu kepadanya. Apa mungkin masalah besar sedang menimpa Lova?


"Aku cinta sama kakak"


Seketika Andro mematung. Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba saja Lova menyatakan cinta padanya tanpa disuruh. Bukannya tak senang tapi Andro merasa ada yang aneh.


"Saya juga cinta kamu"


"Kakak serius kan" ucap Lova dengan nada khawatir.


"Serius Lova, kenapa kamu jadi aneh begini pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan" ucap Andro curiga.


"Aku hanya ingin menyatakan perasaanku saja, kakak senang kan dengan pernyataanku tadi?"


"Iya saya senang akhirnya kamu mau mengucapkan kalimat itu" ucap Andro tersenyum.


"Hum, kak.."


"Iya"

__ADS_1


"Malam ini indah ya, aku lagi memandang langit lewat jendela kamarku, bintangnya banyak banget yang terlihat"


Sontak Andro menolehkan kepala ke arah jendela apartemennya.


"Kak, kita gak akan berpisahkan?" suara Lova terdengar serak.


Andro termenung bukan karena apa tapi malam ini Lova benar-benar aneh.


"Aku gak mau kehilangan kakak, kakak jangan pergi, kakak jangan tinggalin aku ya"


"Saya gak akan tinggalin kamu, saya sayang sama kamu"


"..."


"Lov"


"..."


"Lova"


Andro melihat layar ponselnya dan panggilan masih aktif tapi mengapa Lova tidak menjawab. Tak lama Andro seperti mendengar kalau ada suara seseorang yang sedang mendekat.


"Halo kak Andro ini aku Noval"


Andro pun dibuat bingung. Kenapa sekarang Noval mengambil alih ponsel Lova?


"Iya Noval, Lova kenapa ya dari tadi dia terus berbicara yang tidak jelas?"


"Lova demam kak, dari tadi juga ngracau gak jelas"


"Tadi sore sih masih seperti biasanya tapi sehabis makan malam tadi Lova ngeluh gak enak badan"


"Terus sekarang gimana keadaannya?" Andro tak lagi tenang sekarang.


"Gakpapa kok kak tadi udah diperiksa sama dokter terus sekarang Lova lagi sama papa, Kak Andro gak usah khawatir"


"Besok saya mau datang ke rumah kamu"


"Iya kak"


"Kalau gitu saya tutup telfonnya"


Ternyata kejanggalan yang dirasakan Andro karena Lova sedang demam. Sebegitu takutkah jika Andro akan meninggalkannya. Pasti ada yang gak beres. Andro akan mencari tahunya besok.


Keesokan paginya ketika sedang berada di kantor baru saja datang sekretarisnya menghampirinya dan berkata jika sudah ada Lidya yang menunggu di ruangannya.


"Sepagi ini dia sudah ada disini?" tanya Andro.


"Iya pak"


Andro pun bergegas masuk ke dalam. Lidya yang sedang melihat buku-buku di rak langsung menghampiri Andro tatkala dia melihat Andro masuk ke dalam ruangan.


"Hai An" sapa Lidya.

__ADS_1


"Lidya, ada perlu apa kamu datang kesini?"


"Aku bawain sarapan buat kamu, pasti kamu belum sarapan kan. Leo kasih tau aku kalau kamu jarang sarapan itu gak baik loh An buat kesehatan maka dari itu hari ini aku buatin kamu sarapan"


"Dalam rangka apa?" tanya Andro.


"Hum, hanya ingin saja" jawab Lidya.


"Tak perlu lah kau repot-repot" ucap Andro ingin hati mau menolak tapi tak enak.


"Enggak kok ayo duduk sini aku siapin sarapannya" ucap Lidya sambil menggandeng tangan Andro dan berjalan ke arah sofa.


"Lidya saya lagi sibuk"


"Jangan gitu aku udah capek-capek bikinin kamu sarapan tapi malah kau tolak gak baik itu udah ayo duduk"


Dengan terpaksa Andro menuruti keinginan Lidya. Dikala Lidya hendak menyuapi Andro langsung menolak.


"Saya bisa makan sendiri"


Dengan berat hati Lidya memberikan bekal buatannya.


Disaat Andro tengah menyantap sarapannya Leo datang membawa beberapa berkas dan agak sedikit terkejut melihat keberadaannya Lidya seperti deja vu si Leo melihat ke arah mereka berdua.


"Sarapan nih" ucap Leo menghampiri Andro dan duduk di kursi sebelah Andro.


"Aku yang bawain loh khusus buat Andro" ucap Lidya.


"Aku gak dibawain sekalian" ucap Leo.


"Enggak, sorry ya"


Leo menghela nafasnya lalu menatap ke arah Andro, "Enak An masakannya"


Andro hanya mengangguk.


"Enak mana masakan Lidya atau dedek gemes?" tanya Leo sambil tersenyum miring.


"Lova juga pernah masakin kamu An?" tanya Lidya.


"Pernah lah malah Andro yang minta, disuapin lagi beh romantis betul pas aku lihat waktu itu terus ya gak Andro aja yang dibuatin aku juga ikut kecipratan beh masakannya enak banget ngalahin makanan yang ada di hotel bintang lima" ucap Leo meledak-ledak. Tak tahu kenapa rasanya Leo tak suka dengan keberadaan Lidya seolah mengancam posisinya Lova.


Leo teringat waktu kemarin bertemu Lova, ia mendengar sepenggal ucapan Lidya yang menyuruh Lova untuk menjauhi Andro. Walaupun Leo mengakui bahwa dirinya termasuk cowok brengsek tapi menurutnya lebih brengsek lagi ketika seorang cowok mempermainkan hati cewek yang begitu lembut tipikal cewek seperti Lova. Udah baik, pinter, gak neko-neko masa disia-siain kalau hal itu terjadi pada Lova dia tak segan menghajar Andro walaupun Andro sahabatnya dari kecil.


Tiba-tiba Lidya berdiri dari duduknya dan pamit untuk pergi ke toilet sebentar.


Sepeninggal Lidya, Leo menatap fokus ke arah Andro, "An gue ingetin sama lo buat jauhin Lidya"


"Kenapa sih lo emang kapan gue deket sama Lidya" protes Leo.


"Siapa tahu khilaf kasihan dedek gemes kalau lo gak bisa jaga perasaannya buat gue aja biar gue yang jagain"


"Ngawur lo kalau ngomong" ucap Andro sambil meletakkan bekal yang dibuat Lidya masih tersisa banyak.

__ADS_1


"Makan tuh kalau mau gue udah kenyang"


Dengan senang hati Leo menerimanya. Ini dia yang ditunggu-tunggu pas banget dirinya juga belum sarapan.


__ADS_2