CRUSH

CRUSH
Empat


__ADS_3

Mas ganteng dua hari ini turun kejalan ikutan demo di Senayan, karena khawatir akhirnya gue mutusin nyusul dan bawa amunisi yang gue tampung dalam ransel Reebok Noir warna hitem, gak lupa bawa almamater dan powerbank, cus gue berangkat.


Sendirian, siang-siang naik gojek, rela kepanasan dari ujung ke ujung demi nyusulin mamas yang lagi berjuang menyampaikan aspirasinya, huhu, emang keren dia tuh. Pantas aja gue cinta.


"Makasih, ya, pak." Sesampainya ditempat kejadian, gue serahin helm dan ongkos, sambil mikir-mikir ini gue mau kemana dulu.


"Hati-hati, ya, Neng. Bapak doain semoga demonya sukses, hidup mahasiswa!" Pesen bapak Gojek sebelum pergi.


Gue iyain aja, meski dalam hati gue ngikik, ya, misi gue kesini gak 100% buat demo, tapi mensupport dan mendampingi perjuangan Mas Kian tercinta dengan mekap anti badai dan kecantikan gue yang paripurna ini.


"Terus kemana ini?" Gue sempat kesulitan mendeteksi lokasi keberadaan  Kian saat itu. Gila aja diantara lautan mahasiswa segini banyaknya, gimana gue nyarinya.


Tapi tenang, tenang. Bukan Kiran namanya kalau gak menemukan cara praktis dan cepat. Pertama, gue tinggal  nyari kerumunan yang memakai almamater Universitas gue. Kedua, nanya Satya yang paling gercep kalau balesin chat gue.  Gak usah ngarep Mas Ganteng, sampai detik ini doi masih hobi mengabaikan message gue, sebel.


"Sat, gue udah di deket patung-patung, lo dimana, sih?" Gue celingukan ke kanan dan ke kiri, berusaha nyari sosok yang gue kenal. Parah, gue harus jalan jauh mulai dari titik turun Gojek tadi sampai kesini, jalan kaki pula.


Sumpah ramai banget, sejalan-jalan dipenuhi dengan aksi mahasiswa, ada yang berorasi, ada yang mengibarkan sejumlah bendera, bawa spanduk penolakan dan banner-banner yang bertuliskan ungkapan kekecewaan pada pemerintah.


Sempat, ketemu sama beberapa temen kampus, cuma sapaan mereka gue bales dengan lambaian tangan, keburu sibuk nyariin si Satya buaya buntung.


"Kiran!" Gue nengok kebelakang dan tersenyum lega, itu Satya gengs.


Gak cuma Satya, sih, karena Kian juga nyusul dibelakangnya. Duh, repot-repot nyamperin gue, jadi ena.


"Ngerepotin!" Satya dateng-dateng jitak pala gue. "Kenapa gak join sama fakultas lo sendiri aja, sih?"


"Males ah," Orang gue kesini niatnya gak cuma demo, tapi juga menjemput jodoh.


"Gak salah lo ikutan? Kan Bapak lo anggota DPR?" Satya sekalian nyindir.


Nah itu, sebenarnya gue sudah diwanti-diwanti bokap-nyokap gak boleh ikutan. Kalau sampai ketahuan mungkin hukumannya, gue bakal disekolahin diluar negeri. Tapi gue gak peduli, emang tahu apa mereka tentang hati nurani gue? Gue rela ikut turun kejalan dan gabung demonstrasi besar-besaran ini karena tahu negara gue sedang dalam kondisi darurat.


Apalagi kalau baca hasil rancangan UU gajetot mereka, aduh miris gue. Ya, pantes aja didemo ribuan mahasiswa yang berperan sebagai penyambung suara rakyat.


Seumur-umur gua paling lempeng sama yang namanya urusan politik, tapi saat ini jiwa 'mahasiswa' gua terpanggil. Apalagi Mas Ganteng juga disini, seneng aja bisa menyamakan persepsi satu hati dan satu mimpi, asique.


"Sama siapa kesini?" Kian yang nanya.


"Sendirian."


"Bawa mobil?"


"Enggaklah, naik gojek, kan nanti pulangnya sama kamu." Gue memang penuh persiapan.


"Aku sampai malam disini, atau malah gak pulang."


"Gak apa-apa aku tungguin." Gue cuek, sambil ngaduk-ngaduk tas perbekalam gue untuk ambil tumblr dan segepok tissue. "Minum dulu, sayang."


"Anjing, gue dikacangin. Udah, ya, gue balik dulu." Berhubung Satya menjadi koordinator aksi, jadi dia gak bisa ninggalin posnya lama-lama, apalagi Massa mulai bergerak menuju gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.


Mas ganteng juga pentolan penting sebenarnya, tapi alih-alih kembali bergabung dengan rekan-rekannya yang lain, dia malah stay disini untuk gue.


Selama Kian nenggak air dari botol, gue elapin keringetnya pake tissue, gak tahan ngeliat doi basah kena keringet gitu. "Uh kasian amat, capek ya daritadi berdiri teyus."


"Em." Mas Ganteng udah selesai minum, dan sekarang lagi gue suapin roti yang gue bawa dari rumah, kan beneran dia laper. "Aku makan sendiri aja."


"Enggak, aku aja." Mulutnya gue jejelin lagi sepotong. "Aku suka tauk ngeladenin kamu kayak gini, itung-itung latihan jadi istri kamu."


Kian muter mata. Hihi, malu dia, tuh.


"Kalo cape istirahat dulu ya cayang, cayang aku....cemangat!" Gue bilang gitu.


"Jalan, yuk, panas disini." Kian ngajak gue maju ke barisan depan. Wah kesempatan minta digandeng, nih.


Tapi Kian gak mau karena posisi kita ditengah-tengah massa demonstrasi, jadinya gue cuma dibolehin megang lengannya aja, lumayan deh daripada lumanyun.


Selama berada ditengah-tengah aksi, gue kedesek-desek sampai gak bisa gerak, untung Kian megangin gue terus biar gak kepisah.


"Aduh."


"Kenapa?"


"Gak apa-apa." Gue meringis. Gak boleh lemah, Ki. Lo sendiri yang mutusin datang disini, masa baru segini doang udah keok.


Tahan, Ki, tahan.


Tapi panas banget, sesak dan pengap, aduh kayaknya gue sanggup bertahan lebih lama lagi. Mana kepala gue udah kliyengan, kayaknya anemia gue kambuh, deh. Aslinya gue emang gak bisa kalau melibatkan urusan fisik seperti ini, badan gue gak didesain militan soalnya, duh gimana kalau tahu-tahu gue kolaps disini.


Gue mepet kayak anak kucing dengan lengan Kian sebagai tumpuan. Kepala gue senderin dibahunya, bodo amat dilihatin orang-orang.


"Gandengan mulu, niat demo apa pacaran?" Candra ngatain kita, sialan, Mas ganteng sempat terpengaruh omongannya, hampir saja tangannya dilepasin, tapi gue gerak lebih cepat.


"Gak mau, nanti aku ilang gimana?" Gue merengek, pokok gue gak mau beranjak sedikitpun dari sisinya, biarin aja puyeng kepanasan yang penting gue bisa ngeliat rahang Mas Ganteng yang bergerak-gerak tegas saat berorasi dengan lantang.


"Mas bisa mundur sedikit gak? Gantengnya, tuh, kelewatan." Bisik gue pelan dan cuma bisa didengar sama dia, eh Kian sampai terbatuk-batuk kecil, salting gitu mukanya waktu ngelirik gue.


"Kurang-kurangin ngedumolid, Pak! Biar gak goblok2 banget jadi orang!" Jodi teriak kenceng banget di dekat kuping gue, anjing, pusing gue jadi nambah, dah.

__ADS_1


"DPR PEKOK, UTEKE NING SILET." Bayu jamet ikut-ikutan lagi.


"Kesel banget gue liat muka DPR bangsat. Awas ya kalo sampai tuntutan kita gak ditanggepin. Gue sumpahin lubang pantat lo rapet, mampus lo gak bisa boker jangan salahin gue!!" Gue juga gak mau kalah. Tapi malu, Mas Kian ngeliatin gue dengan kerutan alis yang dalam, hihi maap, Mas, saya emosi.


"Cukup siskaeee aja yang di lucuti kebebasan kami jangan!" Anjer, Satya emang otak bokep.


"Bener, Pak. Cukup gue aja yang ditelanjangin Mas pacar, hukum kita jangan!" Gue nyamber aja sekalian.


Kian kaget sepersekian detik setelah dengar orasi ngocol gue. Terus gue kedipin genit. "Mas pacar aku itu kamu, sayang. Jangan cemburu gitu, dong?"


Mas ganteng gedeg-gedeg sambil nutup mukanya pake sebelah tangan, pasti lagi ngebayangin gue telanjang beneran, tuh.


Tapi percuma kita teriak-teriak tapi gak digubris. Jangankan didengar, ungkapkan aspirasi tetap saja gak digubris, sebenarnya ada masalah apa dalam hidup wakil rakyat kita ini? Ayolah, pak, dengar tuntutan kami, biar gue bisa pulang dan lanjut kencan sama Mas Ganteng.


Kita juga pengen berduaan, loh, pak. Mojok, kek, gelap-gelapan di bioskop, atau, esek-esek di kosan, eh malah digantungkan gak jelas sama kalian. Gue udah capek tauk, kalau si Mas mah semangatnya berkobar-kobar demi nasa depan Indonesia yang lebih baik.


Btw, urat malunya bapak-bapak yang menjabat wakil rakyat ini dikemanakan, sih. Didemo ribuan orang masih aja anteng, masih aja senyum-senyum kalau gue lihat di tayangan tivi. Ya kali gue gak tahu kelakuan mereka diluar gedung DPR. Fyi, gue salah satu anak dari mereka, jadi justru gue yang paling gak bisa diboongin.


"Gemes pisan gusti gemes." Gue gregetan, makin ikutan aksi kemarahan gue makin kesulut. Mana kepala berat banget kayak ketiban tronton, bacot gue daritadi juga gak bisa diem, nyumpahin itu orang-orang yang ngakunya dewan terhormat biar cepet mampus.


"Kok pucet?" Kian ngeliatin raut wajah gue degan seksama.


Aw, kalau dilihatin begini, kan, gue jadi ambyar. "Kamu manis, sih, Mas."


Kian berdecak, tahu-tahu tangannya megang kening gue. Aduh gusti, gak kuat hamba. "Sakit?"


"Gak, kok." Gue bohong karena gak pengen menghalangi pergerakannya. Sayangku lagi semangat-semangatnya ngedemo, masa gue gagalkan, gak, lah, jangan.


Tapi Mas ganteng gak percaya. Setelah kening, dia ngecek pipi dan leher gue, mastiin gue kenapa-kenapa? Jujur, nih, ya. Gue gak baik-baik aja sejak ada lo dalam hidup gue, Mas.


Ih, gue seneng karena Kian perhatian banget sama gue, duhai, Mas Kian, pesonamu benar-benar mengalihkan duniaku, mengguncang hidupku, dan meninabobokan perasaanku.


"Istirahat dulu, yuk." Kali ini, Kian gak segan-segan gandeng tangan gue. Dia ngajak gue melipir sampai ke nemu tukang es cendol.


Gue digandeng gaes, digandeng. Ya, gimana hati gue gak lompat-lompat koprol.


"Muka kamu pucat." Kian baik banget, gue diambilin kursi dan mesenin gue teh manis.


Setelah ngaso dan minum beberapa teguk air manis itu, gue merasa jauh lebih baik, roman muka gue kembali bewarna dan berseri-seri, apalagi daritadi Mas ganteng disini terus nemenin gue.


"Tuntutannya udah sampai mana?" Kita ngobrolin topik panas hari ini, dan tumben, Mas Ganteng menanggapi dengan panjang kali lebar.


Pinter lagi kalau ngejelasin, tertata dan dibahas poin per poinnya. Udah ganteng, pinter lagi, sungguh hati ini makin melumer.


Intinya dia kecewa berat dengan pemerintah apalagi DPR, sama Mas, aku juga kecewa ini. Eh, kok kita sama, sih? Jangan-jangan emang jodoh beneran?


Karena gue rada-rada terbawa suasana, sambil dengerin doi cerita, gue berlagak pusing lagi biar bisa boboan si lengannya. Dasar gue, pinter banget cari celah kesempatan dalam kesempitan.


"Kok gitu?"


Mas ganteng lagi ngadep ponselnya, sepertinya dia baru dapat info terbaru. Katanya disana lagi rusuh, selain mengkhawatirkan keselamatan teman-temannya dan gak mau gue juga kena dampaknya. "Pulang, aja. Aku pesenin Gojek sekarang."


"Kamu gak pulang?" Gue melow, dong. Rasanya udah kayak melepaskan suami ke medan perang.


"Pulang, tapi nanti, nunggu anak-anak yang lain." Kian solidaritasnya tinggi, berangkat bareng pulang juga harus bareng.


"Aku nunggu kamu aja." Sebenarnya gue udah nyuruh dia balik ke pos-nya lagi tanpa gue, cuma sepertinya dia gak tega ninggalin gue sendirian disini.


"Gak, kamu pulang sekarang." Udah itu, gak bisa dibantah. Kian kadang bisa setegas itu, apalagi kalau kondisinya gak memungkinkan untuk gue terus stay disini.


"Ya udah." Gue terpaksa nurut, takut kualat kalau ngebantah calon imam.


"Yuk," Kian berdiri sambil bawain tas gue.


"Sebentar." Buru-buru ambil kotak P3K mini dan gue masukan ke kantong almamater Kian. "Disitu ada odol, buat jaga-jaga kalau nanti kena lemparan gas air mata."


"Thanks." Kian senyum kecil yang bikin ketampanannya meningkat berkali-kali lipat.


"Janji, ya, kamu gak boleh kenapa-napa." Soalnya feeling gue gak enak, takut aksi damai hari ini berujung rusuh.


"Ya."


"Semangat, Mas gantengku, lelahmu akan bermanfaat buat bangsa ini. Mahasiswa perlu didengar, jangan mau diintimidasi ketika terjadi kontra, ini kan negara demokrasi." Pesen gue yang dibalas anggukan sama Kian.


"Nanti kalau udah sampai rumah kasih kabar." Denger Kian ngomong gitu, hati gue langsung cihui-cihui.


"Ogah ah, paling nanti kamu read doang." Gue gituin aja, sebel kan chat gue dikacangin mulu.


"Kalau sempat aku bales."


"Ya udah. Tapi aku balik ke kosan ini. Kamu pulang ketempatku aja, Mas. Nanti boboknya aku pijitin." Sambil ngomong gini, gue elus-elus rambutnya yang sedikit berantakan.


"Liat nanti aja." Kian bilang gitu sebelum ngelepas gue dibonceng bapak Gojek, ih sedih, rasanya gak mau pisah.


"Mas, aku bangga ikut sama, kamu." Tangan dia masih gue pegangin. "Jangan terprovokasi jaga emosi, ingat ada aku yang nunggu kamu pulang."


"Wish everything will be ok ya... kamu juga hati-hati." Dia ngelepas tangannya lalu ngacak-ngacak poni gue.

__ADS_1


"Daah Mamas, selamat berjuang, ya!" Gue melambaikan tangan diatas motor yang melaju meninggalkan Kian dibelakang.


Gue sempat ngeliat dia membalas lambaian gue, setelah agak jauh dan sosoknya menghilang, gue memejamkan mata sambil berdoa. "Ya Tuhan, tolong lindungi calon suami gue."


"Aamiin." Pak Gojek ikut mendoakan.


"Hehe makasih ya, Pak."


"Saya merinding liat temen-temen mahasiswa yang tadi turun ke jalan. Salut lah ngelihat perjuangan kalian." Lanjut beliau ditengah hiruk pikuk kemacetan.


"Iya, pak, saya juga bangga bisa bergabung sama mereka." Gue gak nyesel datang kesini, yah, meski gue gak berperan banyak tapi paling gak gue bisa menyaksikan dengan mata kepala langsung perjuangan mahasiswa dan menjadi bagian dari sejarah pergerakan bangsa.


Extremely proud all of you guys, Indonesian college students who had protesting today thanks for gotta be willing to take risk it all, Indonesian peoples would so proud of you. So does your parents. Semoga kita selalu diberi kesehatan, ya!


"Semoga pacarnya mbak gak kenapa-napa, bisa balik ke rumah dengan selamat." Pak Gojek bilang begitu, makin khawatirlah gue. "Mending suruh pulang aja, Mbak, soalnya saya dengar di Palmerah lagi rusuh..."


"Udah, Pak, udah. Jangan diterusin nanti gue nangis beneran, huhu udah nangis ini, pak." Sejalan-jalan gue sesunggukan, apalagi kalau inget Kian yang entah bagaimana kabarnya sekarang.


****


Situasi mencekam ketika para mahasiswa yang meredam aksi dan mobilisasi pulang, tiba-tiba dibubarkan paksa dengan ditembaki gas air mata dan didorong-dorong oleh aparat.


Gak ada otak emang nih, mahasiswa datang dengan damai dibalas dengan gas air mata, mana kadaluarsa lagi. Tai.


Baru mahasiswa itu, belum buruh, belum lagi Ormas, anak STM, geng motor, slankers, OI, suporter sepak bola, vianisti, nella lovers, kpopers, fans   Atta hallintar kalau bersatu padu demo di depan gedung DPR, apa gak nyahok tuh, dijamin aparat yang berjaga auto resign semua.


Emang aparatnya bege banget. Area masjid disweeping, stasiun ditembakin gas air mata. Mahasiswa lagi ngaso, diem, makan, ngobrol, malah ditembakin. Mana banyak mahasiswinya lagi. Apalagi banyak warga yang tinggal disekitaran situ, penumpang kereta yang baru pulang kerja, dan pedagang kaki lima yang gak salah apa-apa.


Nasib baik, warga yang bersimpati pada nolongin mahasiswa yang lari kocar-kocir. Ada yang kasih air, ada yang kasih odol, ada yang bukain rumahnya buat pengungsian sementara. Terima kasih banget buat warga sekitar. Juga buat para ojol yang rela tarik orderan meskipun jalanan macet dan situasi lagi gak aman. Gak lupa kita berdoa, semoga beliau-beliau yang terhormat dan lagi bobok nyenyak segera dapat karma serta azab yang pedih.


Tapi gue khawatir sama Kian yamg gak ada kabarnya sampai sekarang, sampai tengah malam gue cariin lewat teman-temannya tapi mereka juga gak tahu keberadaannya. Hp-nya pun gak aktif, tadi sempat aktif tapi telepon gue gak diangkat, terus gak lama kemudian kembali sulit dihubungi. Ya Tuhan, Kian kemana?


"Kita tadi terpecah dua, sebagian di jalan Semanggi dan sebagian di belakang gedung DPR, gue kepisah sama Kian." Kata Satya dari seberang sambungan.


Kabar dari Satya dan berita kerusuhan yang beredar di sosmed bikin gue tambah takut, jangan sampai Kian jadi korban, jangan sampai...


Awas saja kalau mereka berani nyentuh laki gue, mau dia lebam dikit aja pasti gue cari lo sampai penjuru bumi. Kalau Kian disakiti pasti gue juga ikutan sakit, lupa ya kalau doa orang yang disakiti itu lebih cepat diijabah? Lebih cepat sampai ke langit ketujuh? TIATI AJA YA, GUE DOAIN KENA SANTET TUMBUH JAMUR SHITAKE DIUDEL.


Sumpah, gue gak bisa tidur, meski ngantuk tapi mata gue tetap terbuka dan tangan gak lepas dari ponsel. Berharap Kian segera ngabarin gue dalam kondisi gak kurang suatu apapun.


Doa gue terjawab setengah jam kemudian, waktu ada notif chat masuk dari Mas Ganteng yang memberitahukan kalau saat ini dia udah didepan. Hah didepan mana? Depan kosan gue? Oh eem jie.


Beneran dia, gaes. Gue langsung menjerit lihat penampakan sosoknya di balik pagar. Masih pake helm, almamater yang digulung sampai siku dan muka penuh cemongan odol.


"Kamu gak apa-apa, kan?" Gue langsung meluk dia, bersyukur banget Kian udah balik ke gue lagi.


"Gak."


"Ada yang luka?" Gue periksa wajah dan tangannya, duh lega karena gak ada luka, lecet, atau bekas pentungan ditubuhnya.


Gue mengamati Kian lekat-lekat, untuk memastikan dia beneran baik-baik saja. Yes, he's fine, dia cuma lelah, uh tayang.


"Kian capek, ya?"


"Sedikit." Aduh, Mas, tolong ya itu, auranya dikondisikan, gue yang gak kuku gak nana ini.


Tapi gue seneng banget, begitu nyampe dia langsung nyariin gue dulu alih-alih langsung balik ke kosannya.


"Udah, ya. Aku balik dulu." Kian udah pamitan aja. Jadi niatnya kesini cuma mau setor muka biar gue-nya gak khawatir, mau ge er boleh gak, siy?


"Sebentar, dong, kan aku masih kangen." Gue peluk dia lagi. "Aku takut kamu diapa-apain tadi, sampai gak bisa tidur nungguin kabar dari kamu. Besok


-besok jangan gini lagi, ya, kalau kamu sampai kenapa-napa aku nanti gimana?"


"Bawel."


Gue cemberut. "Bawel gini kan buat kamu juga."


Cup.


Gak tahu gue sendiri aja bingung, tapi Kian tahu-tahu cium kening gue. "Udah, tidur sana, besok kuliah."


Gue cengengesan, dicium dijidat doang tapi efeknya sampai sekujur tubuh.


"Cium yang disini mana?" Gue nunjuk bibirnya.


Kian mengamati gue beberapa saat, sampai kemudian dia memajukan bibir untuk menyapa bibir gue sekilas.


"Kok cuma dikit?" Gue merengek manja. "Mau yang banyak, dong. Biar bobok aku nyenyak."


Mas ganteng cuma angkat alis dengar protes gue, dih. "Takut khilaf, ya?" Tebak gue sok tahu.


"Takut ngelunjak." Kian nyalain motornya, sebelum gue bisa menahannya, dia sudah meluncur pergi dari hadapan gue.


Yah, yah, baru minta cium belum minta tanggung jawab, udah main kabur aja. Berarti perjuangan gue masih panjang, gak apa-apa, kalau kata kupon gosok ale-ale, silahkan coba lagi, semangat!


Semangat juga buat negeriku, semoga cepat membaik, ya. Segera bebas dari kuman-kuman politik yang menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi.

__ADS_1


****


Micca 🐾


__ADS_2