
Suara gemericik minyak goreng, ulekan yang timbul dari batu cobek serta bau bumbu yang menguar dari penjuru rumah membuat dapur hidup dan penuh dengan berbagai macam suara.
Satu jam yang lalu Noval baru selesai belajar dengan guru privatnya setelah itu ia pergi ke kamar untuk mengembalikan buku pelajarannya. Di rumah cuma ada Noval dan Bu Marsih, ingin rasanya Noval menemui Bu Marsih tapi dia bingung harus memulainya karena merasa tak terlalu dekat dengan Bu Marsih tapi kalau berada di dalam kamar terus juga suntuk. Akhirnya Noval memutuskan untuk pergi ke dapur.
Noval melihat Bu Marsih sangat sibuk dengan bumbu dan peralatan dapurnya. Bu Marsih yang merasa diperhatikan menolehkan kepalanya ke arah Noval.
"Eh, Den Noval" sapa Bu Marsih sambil tersenyum manis.
Noval menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Um, Bu Marsih masak apa hari ini?" tanyanya sedikit canggung.
"Anu Den, Bu Marsih masak ayam teriyaki sama sayur rebus"
Noval memberanikan diri untuk mendekati Bu Marsih, "Terus sekarang Bu Marsih lagi bikin apa?"
"Bumbu kacang Den, Tuan Marco suka banget makan sayur rebus sama bumbu kacang"
Noval manggut-manggut, sekarang ia tahu makanan kesukaan papanya.
"Den Noval mau cicip?" tawar Bu Marsih.
"Boleh Bu tapi dikit aja ya" ucap Noval sambil menunjukkan takaran sedikit lewat jarinya.
Bu Marsih mengerti lalu mengambil mangkuk dan menaruh sayuran rebus tersebut ke dalam mangkuk, ada kentang, brokoli, kacang panjang, kubis, wortel, kecambah, kangkung dan Bu Marsih juga menambahkan setengah telur rebus lalu di guyur dengan bumbu kacang.
Mata Noval bersinar, mulutnya penuh dengan air liur, "Mantap kali ini" ucapnya.
"Ayo Den ke meja makan biar saya yang bantu bawakan" ucap Bu Marsih.
Noval bergegas duduk lalu Bu Marsih menaruh mangkuk tersebut di depan Noval tak lupa dengan sendok dan garpunya.
"Di makan ya Den, Bu Marsih kembali lagi ke dapur"
"Iya Bu, makasih ya"
"Sama-sama, Den"
Noval menikmati makanannya dengan nikmat. Getaran ponsel yang ia letakkan di atas meja membuatnya langsung menatap ponsel miliknya, ia melihat nama Anjeli yang tertera di atas layar.
"Halo" sapa Noval setelah mengangkat panggilannya.
"Halo Val" jawab Anjeli senang.
"Lagi istirahat ya?" tanya Noval.
"Iya nih, kangen gak ada kau di kelas" jawabnya sambil berjalan keluar kantin.
"Ya gimana aku belum dibolehin pergi ke sekolah" ucap Noval sambil menyuapkan telur rebus ke mulutnya.
"Cepet sembuh ya biar bisa belajar bareng di sekolah"
"Iya, doain biar cepat sembuh"
"Oh iya Val nanti sore sibuk gak? Aku ada rencana mau main ke rumah kamu"
"Waduh, nanti sore aku mau ke tempat kursus masak sama Lova"
"Lova ikut kursus masak?"
"Bukan Lova tapi Indy, kami datang mau menyemangati Indy karena dia ikut tes buat acara tujuh belasan nanti"
"Aku boleh ikut enggak?"
"Boleh, nanti aku kirim alamatnya"
"Oke, aku tunggu ya"
Panggilan pun berakhir. Noval melanjutkan makannya yang sempat tertunda.
__ADS_1
Sekitar Pukul dua lebih Lova baru sampai di rumah, ia berjalan masuk dengan lunglai. Noval yang berada di ruang tamu memperhatikan jalannya Lova yang seperti zombi langsung berceletuk, "Va capek banget kelihatannya"
Lova mengangguk, "Tadi jam terakhir diisi pelajaran olahraga, seru banget tapi capek"
"Yaudah sekarang bersih-bersih nanti jam tiga kita ke tempat kursusnya Indy kan"
Lova mengacungkan kedua jempolnya.
"Mau aku siapin makan?"
"Boleh minta tolong Bu Marsih ya porsinya dikit aja"
"Oke"
Lova menaiki tangga menuju kamarnya. Badannya sudah lengket karena dipenuhi oleh keringat ia tak sabar untuk segera mandi.
"Oh ya Va nanti Anjeli bilang mau ikut" ucap Noval sedikit berteriak membuat Lova memberhentikan langkahnya di tengah tangga. Lova sangat terkejut sampai bengong untuk beberapa detik, "Anjeli"
"Iya, gakpapa kan?"
"Um, ya gakpapa" Lova berucap sambil memaksakan senyuman. Lova langsung bergegas ke kamar dan menghubungi Aldo.
Lova mengambil ponsel dari sakunya langsung mencari kontak Aldo ini adalah berita besar sampai membuatnya gugup ditempat.
"Halo kak ada apa?" tanya Aldo sambil mengambil air dari dalam kulkas. Ia masih memakai baju seragamnya. Sama seperti Lova Aldo pun juga baru sampai di rumah.
"Kau tau Anjeli kan?" tanya Lova langsung.
"Iya tau, emang ada apa kak?"
"Dia mau ikut ke tempat kursusnya Indy" ucap Lova histeris.
Aldo hampir tersedak minumannya, "Serius Kak, kok bisa?"
"Aku tadi dikasih tau Noval"
"Ya gak tau kalau aku ngelarang terus alasannya apa"
"Udah gakpapa biarin dia ikut kita awasi dulu saja, oke"
"Oke tapi kau datang kan ke tempat kursus"
"Iya aku datang"
Setelah percakapannya dengan Aldo berakhir Lova langsung membersihkan tubuhnya, mandi dengan air dingin sangat menyejukkan di siang hari yang panas ini. Untuk urusan Anjeli dia akan mengawasinya dulu seperti yang dikatakan oleh Aldo.
..._...
Indy sudah siap dengan celemeknya. Teman kursusnya juga sudah siap di tempatnya masing-masing. Chef mereka memberikan waktu dua jam untuk mempersiapkan kue tampah. Indy mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan, ia hanya menemukan sosok Aldo yang meringis di pojokan sambil membawa sebuah kertas bertuliskan namanya serta kalimat penyemangat.
'Lova dan Noval kok telat apa ada urusan mendadak' batinnya.
"Baik guys, tanpa mengulur waktu lagi waktu memasak kalian dimulai dari sekarang" ucap Chef mereka membuat para muridnya langsung gerak cepat mengambil peralatan dan bahan yang dibutuhkan seketika ruangan dipenuhi dengan orang-orang yang sibuk.
Di lain tempat Lova merasa cemas karena baru bisa berangkat lantaran Anjeli yang datang ke rumahnya tidak tepat waktu sesuai yang sudah dibicarakannya dengan Noval. Ia cemas karena memikirkan perasaannya Indy.
"Udah gakpapa Indy pasti ngerti kenapa kita telat dia kan hatinya baik" ucap Noval sambil memegang pundak Lova.
Lova hanya memandang Noval sekilas, ia mendadak kesal dengan tingkah Noval yang biasa saja tak tahukah kalau sekarang Lova sedang memikirkan bagaimana Indy kalau tau Anjeli ikut bersama mereka dan bagaimana reaksinya jika tau kalau mereka terlambat gara-gara menunggu Anjeli.
"Maaf ya Va tadi adik aku susah untuk ditinggal" ucap Anjeli merasa tidak enak.
"Iya aku ngerti" Lova berusaha untuk tersenyum kepada Anjeli. Ini semua bukan sepenuhnya salah Anjeli tapi entah kenapa perasaannya tidak enak.
"Indy gak akan marah dia anaknya baik kok" ucap Noval kepada Anjeli.
Jujur Lova ingin memukul mulutnya Noval. Tau dari mana kalau Indy gak akan marah, 'Kau sendiri gak tau gimana perasaan Indy yang sebenarnya' batin Lova jengkel.
__ADS_1
Sesampainya di tempat kursus Lova bergegas masuk ke dalam kelasnya sambil memapah Noval dan diikuti oleh Anjeli. Ia mengedarkan pandangannya sebentar dan menemukan keberadaan Aldo, Lova pun langsung menghampirinya.
"Kalian kok telat sih?" tanya Aldo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ada kendala dikit" ucap Lova, "Indy masak di sebelah mana?" tanya Lova selanjutnya.
"Tuh, baris kedua dia ada di tengah" ucap Aldo sambil menunjukkan tempat Indy.
"SEMANGAT IN!!" teriak Noval.
Mendengar teriakan dari suara milik seseorang yang ditunggunya, Indy segera menolehkan pandangannya. Indy merasa sangat senang senyumannya mengembang dengan sempurna akhirnya Noval datang juga namun saat pandangannya teralih melihat sosok perempuan yang berada di samping Noval yang sedang melambaikan tangan kearahnya membuat senyumnya sedikit pudar keterkejutan yang ia alami membuat fokusnya mendadak buyar dan tak sadar membuat tangannya menempel pada panci panas di sampingnya. Indy meringis sambil memegangi tangannya yang memerah. Ia segera beranjak ke arah wastafel untuk mengalirkan air pada tangannya.
"Ya ampun Indy" ucap Lova kaget.
Chef yang mengetahui hal tersebut langsung menghampiri Indy, "Indy kamu gakpapa?"
"Gak Chef hanya ada rasa sedikit terbakar" jawab Indy.
"Bagaimana kalau diobati dulu" tawar Chef.
"Gak Chef aku bisa menahannya" tolak Indy, ia tak mau kehabisan waktu.
"Kamu yakin?" tanya Chef meyakinkan.
"Yakin Chef" jawab Indy mantap.
"Yasudah kalau begitu"
Indy melanjutkan kembali memasaknya. Ia menghela nafasnya dengan kasar. Indy mencoba untuk tetap fokus.
Di tempatnya Lova sangat cemas melihat hal itu Aldo langsung berdiri di samping Lova sambil beberapa kali menepuk bahu Lova.
"AYO IN SEMANGAT!!" teriak Aldo sambil mengangkat kertas yang ia bawa.
Lova juga begitu memberikan tepukan yang kencang sambil memberikan kalimat penyemangat kepada Indy.
"Kenapa dengan Indy apa dia baik-baik saja" ucap Anjeli yang merasa cemas.
"Aku juga tidak tahu tapi aku yakin dia pasti bisa" ucap Noval yang percaya dengan kemampuan Indy.
Saat memasak Indy sering melihat ke arah Noval dan Anjeli yang berdiri berdampingan. Ia melihat Noval dan Anjeli yang sering berbicara. Indy merasa tak suka ia cemburu padahal awalnya Indy ingin diperhatikan oleh Noval ingin disemangati. Indy mengerjapkan matanya beberapa kali. Apakah ia akan menangis?
Indy terus memaksakan agar terus fokus pada kegiatan memasaknya namun hatinya sedang tidak baik, moodnya turun dan pikirannya terbang kemana-mana sampai peralatan masak yang ia pakai tak sengaja melukainya beberapa kali.
Lova menoleh ke arah Noval yang malah asik mengobrol dengan Anjeli, "NOVAL!!" teriak Lova marah.
"Ada apa Va?" tanya Noval dengan wajah polosnya.
"Kau jangan mengobrol saja perhatikan Indy" jawab Lova dengan nada kesal.
Noval lalu meluruskan pandangannya ke arah Indy. Ia bisa merasakan kalau Indy memasak tak karuan, peralatan masak yang berserakan, mejanya yang kotor serta Indy yang terlihat kacau di tempatnya.
"Ada yang gak beres sama Indy" ucap Noval.
Noval melangkahkan kakinya sedikit ke depan, "INDY, LIHAT AKU IN" teriak Noval.
Indy segera menoleh ke arah Noval.
"SEMANGAT IN NANTI KALAU MENANG AYO KITA PERGI KE PASAR MALAM"
Mendengar hal tersebut Indy tercengang, otaknya mencerna ulang perkataan dari Noval. Tiba-tiba air matanya turun, Noval pun dapat melihatnya dari kejauhan. Aldo dan Lova melihat ke arah Noval dengan pandangan tak percaya.
"JANJI YA" ucap Indy.
"IYA JANJI"
Mari kesampingkan dulu keberadaan Anjeli, fokus untuk memberikan hasil yang terbaik. Entah dari mana rasa semangat itu muncul tapi Indy rasa itu berkat Noval.
__ADS_1
"Terima kasih" gumam Indy tersenyum bahagia.