
Karena kemarin Andro marah padanya Lova memutuskan untuk mengunjungi kantor Andro sepulang sekolah. Ia berjalan masuk dan menemui resepsionis, karena resepsionis sudah mengetahui jika Lova adalah tamu spesial maka dari itu ia langsung mempersilahkan Lova untuk masuk ke ruangan Andro.
Lova juga bertemu dengan Sella yang sedang bekerja seperti biasanya, "Kak Sella, kak Andro ada di dalam?"
"Ada, kayaknya lagi gak mood dari tadi pagi marah-marah mulu"
Pasti karena dirinya pikir Lova.
Lova beberapa kali mengetuk pintu. Tak berapa lama suara Andro mempersilahkannya masuk. Ia bisa melihat Andro sedang sibuk dengan laptopnya. Lova sebenarnya takut jika dilihat Andro nampak seram kalau sedang marah tapi ia harus tetap mendekat ke arah Andro.
"Kak" sapanya yang jujur nyalinya sudah hempas terbawa angin.
Tak ada sahutan membuat Lova gemetar di tempatnya, "Kak Andro marah sama aku"
Andro masih bergeming membuat Lova ingin menangis, "Kalau kakak marah aku minta maaf tapi aku kemarin itu pergi rame-rame kok tapi-"
"Tapi akhirnya kencan juga sama cowok"
Lova menelan ludahnya dengan kasar, "Dia cuma temen aku kak, aku gak bohong"
"Mana saya tahu kamu bohong atau gak" ucapnya Dingin.
"Aku mau lakuin apapun biar kakak bisa percaya sama aku, kakak mau bukti apa?" ucap Lova memberikan penawaran.
"Kamu cinta sama saya?" pertanyaan itu lolos diucapkan Andro. Sederhana namun berat bagi Lova.
Lova hanya diam ia tak tahu harus jawab apa.
Andro hanya menatap Lova yang tertunduk di depannya sambil meremas roknya, "Kamu gak bisa jawab berarti memang benar yang kemarin sama kamu itu pacar kamu"
"Enggak kak" bantah Lova menatap lurus ke arah Andro.
"Saya hanya memberikan pertanyaan yang sederhana tapi kamu tak bisa menjawabnya"
"I-itu.."
Andro masih tetap memperhatikannya. Tatapannya tajam dan dingin sampai Lova menundukkan pandangannya kembali tak berani menatap ke arah mata Andro secara langsung.
"A-aku gak tau" ucap Lova. Memang benar kalau Lova bingung dengan perasaannya sendiri tapi dia berani sumpah kalau ia sangat gelisah saat Andro marah padanya. Ia tak menyukainya.
"Baiklah kalau seperti itu pergilah" Andro berucap dan kembali menatap laptopnya.
__ADS_1
"Kak please!! Jangan marah sama aku" suara Lova terdengar memohon.
"Kamu mau saya gak marah sama kamu?" tanya Andro dan Lova hanya mengangguk.
"Turuti apa yang saya minta"
Lova menatap bingung ke arah Andro setelah mendengarkan ucapannya tapi Lova tetap memberikan anggukan walaupun tak yakin.
"Kemari" pinta Andro.
Lova menurut walaupun jantungnya benar-benar mau copot. Saat sudah di samping Andro, Lova memberanikan diri untuk memandang wajah Andro yang kini juga melihatnya.
"Duduk di pangkuan saya"
Lova terkejut sampai tak sadar kakinya mundur selangkah.
"Tapi Kak-" ucap Lova hendak protes tapi tak ia teruskan sebab Andro memandanginya dengan pandangan tak bersahabat.
Lova pun melepas tasnya dan menaruhnya di atas meja kerja setelah itu ia memberanikan diri untuk duduk di pangkuannya Andro walaupun tangannya sudah berkeringat dan sedikit ada rasa takut Lova berusaha untuk tetap tenang.
Satu tangan Andro meraih pinggang Lova dan tangan yang satunya lagi meraih belakang kepala Lova agar wajahnya bisa mendekat. Seketika Andro mencium Lova tepat di bibirnya yang membuat Lova terkejut, ia pun berusaha untuk memberontak tapi ternyata tak semudah itu.
Dapat Lova rasakan kalau ciuman Andro semakin lama semakin kasar dan memaksanya untuk membuka mulut. Walaupun sekuat tenaga untuk Lova menutup mulutnya rapat-rapat namun Andro berhasil melesatkan lidahnya ke dalam dan bermain-main dengan lidahnya. Sekuat tenaga juga Lova berusaha menyingkirkan tangan Andro yang semakin menekan kepalanya serta meremas kasar pinggangnya, rasanya sangat panas.
"Kakak mau ngapain kak, aku gak mau" ucap Lova panik berusaha menepis tangan Andro walaupun ia tahu usahanya bakal sia-sia.
Andro dapat melihat dada bagian atas Lova yang tidak tertutup bra, tangannya pun segera meremas pelan bagian bawahnya agar dadanya sedikit menyembul keluar. Satu gigitan berhasil diberikan oleh Andro. Lova yang merasa kesakitan refleks menjambak rambut Andro untuk menyalurkan rasa sakitnya.
"Stop kak" pintanya namun Andro tak menggubrisnya malah menambah satu gigitan lain yang letaknya tak jauh dari gigitan pertama.
Lova berusaha untuk menyingkirkan kepala Andro harap-harap Andro mau melepaskan gigitannya tapi Andro malah mencekal tangannya dengan kuat dan menjauhkan tangannya agar tidak bisa menjangkau kepala Andro lagi.
"Udah kak sakit" Lova memohon dengan isakan yang memilukan ia benar-benar tak menduga hal ini akan terjadi. Air matanya seketika turun dengan deras.
Dalam hati Andro pun sebenarnya juga gak tega melakukan hal tersebut tapi entah kenapa dirinya berani melakukannya dengan alasan ingin meluapkan rasa kekesalannya pada akhirnya ia mau melepaskan gigitannya ketika beberapa kali mendengar ringisan dari Lova dan bisa ia lihat dua tanda berwarna keunguan tercetak jelas di dada Lova karena ulahnya.
Terlihat raut ketakutan di wajah Lova dan tak hentinya air mata itu keluar membasahi pipinya. Andro mengusap pelan pipi Lova yang basah dan dapat ia rasakan kalau Lova benar-benar ketakutan. Andro juga membantu mengancingkan kemeja dan memasangkan dasi serta membenahi keadaan Lova yang acak-acakan.
"Maafkan saya" ucap Andro namun Lova masih tertunduk dengan isakan yang masih terdengar jelas.
Andro memeluk Lova dengan hangat serta mengelus punggung Lova dengan pelan. "Saya cemburu, jangan buat saya marah kamu mengerti kalau tidak saya bisa memberikan sesuatu yang lebih dari pada hari ini"
__ADS_1
Apakah Andro sedang mengancamnya setelah meminta maaf? Pikir Lova.
"Maafkan saya" ucap Andro lagi lalu mencium punggung tangan Lova.
Lova jadi tahu kalau Andro bisa berubah menjadi Iblis yang sangat mengerikan ketika sedang marah.
Andro mengurai pelukannya ia meminta Lova untuk menatap wajahnya, dapat ia lihat mata Lova yang memerah akibat menangis hidungnya pun sama memerahnya dan bibirnya yang sedikit bengkak.
"Kamu takut sama saya?"
Lova tak menjawab malah melirik ke arah lain. Satu kecupan berhasil mendarat di pipi Lova kali ini dengan cara yang lembut.
"Saya hanya terbawa suasana, saya melihatmu kemarin di toko aksesoris dan saya kesal karena kamu datang bersama seorang lelaki"
"Apa kakak masih marah, aku udah bilang dia hanya teman"
"Saya sedang kacau dan tak bisa berpikir jernih, saya hanya takut kamu ninggalin saya karena kamu tak pernah mengatakan kalau kamu mencintai saya"
Lova memandang wajah Andro lamat. Apa dia bisa bersama dengan pria ini, "Aku cinta sama kakak"
Kalimat tersebut berhasil membuat Andro diam.
"Percayalah aku tidak akan berbuat sesuatu yang akan membuat hati kakak terluka"
"Maaf" ucap Andro tertunduk.
"Aku juga minta maaf karena tidak mau terbuka sama kakak, kalau kakak mau aku bisa perkenalkan kakak kepada teman-temanku"
"Kau yakin?"
Lova mengangguk. Ia berpikir apakah ini balasan karena sudah menyembunyikan kedekatannya dengan Andro dihadapan teman-temannya seolah Andro orang yang memalukan jika ditunjukkan keberadaannya padahal Andro adalah tipe cowok yang di idamkan banyak wanita termasuk temannya sendiri yaitu Indy.
"Baiklah kalau kamu yang menawarkan saya mau"
"Akan aku carikan hari yang cocok. Secepatnya. Kalau begitu sekarang aku mau pulang tadi waktu kesini aku tak mengabari orang rumah, aku takut mereka cemas" ucap Lova lirih, sekarang ia sudah tak menangis lagi. Sudah cukup tenang.
"Biar saya antar"
"Tidak perlu aku diantar supir tadi"
"Kalau gitu saya antar ke depan, jangan menolak"
__ADS_1
Lova pun mengiyakan dan berjalan ke luar kantor bersama Andro.