CRUSH

CRUSH
Chapter 36


__ADS_3

Suara peluit terdengar tanda waktu memasak sudah habis. Para peserta menghembuskan nafasnya lega karena perjuangannya sudah selesai kali ini tinggal menunggu hasil pengumuman saja. Satu persatu kue tampah mereka ditata rapi di meja depan yang sudah disiapkan untuk penilaian.


"Terima kasih atas usaha kalian semua, kalian hebat" puji Chef. Mereka semua bertepuk tangan bahagia.


"Baiklah saya mulai untuk penilaiannya ya"


"Baik Chef"


Chef pembimbing mulai berjalan dari meja yang paling ujung lalu mengamati setiap detail dan rasa pada kue tampah. Berjalan terus sampai pada kue tampah ke delapan yang berada paling ujung yang lain. Para pendukung juga merasa deg-degan dengan hasil keputusan terakhir.


Setelah memberikan penilaian Chef kembali berdiri pada posisi awal yang berhadapan langsung dengan para muridnya, ia melihat satu persatu wajah mereka yang kelihatan tegang.


"Kue tampah dari ke delapan peserta mempunyai rasa yang unik tersendiri dan juga ada beberapa kekurangan tentunya berbeda-beda di setiap kue tampah, ada yang kurang bumbu, tingkat kematangan dan dari tampilannya tapi semua tampak lebih banyak bagusnya dari pada cacatnya" ucap Chef. Kedelapan peserta mendengarkan namun tetap diam karena masih dalam keadaan tegang dan para pendukung juga gelisah di tempatnya.


"Karena memang harus di pilih satu orang saja maka dari itu Chef memilih hidangan yang lebih unggul dari pada yang lain bukan berarti yang gak kepilih itu gagal, tidak. Hanya saja perlu diperbaiki lebih baik lagi. Jadi Chef akan menyebutkan satu nama tersebut yang beruntung dan dia adalah... RANIA!! Selamat untuk Rania karena terpilih menjadi perwakilan kelas kita untuk menjadi penyaji hidangan tujuh belasan nanti"


Gadis bernama Rania tersebut tampak senang dan teman-teman yang datang mendukungnya menghampiri dan mengucapkan selamat padanya.


Indy dan teman-temannya juga bertepuk tangan atas keberhasilan Rania walaupun sedikit kecewa namun dirinya bisa menerima dengan lapang dada. Lova, Noval, Aldo dan juga Anjeli langsung menghampiri Indy untuk menghiburnya walaupun tidak terpilih Indy tetap juara di hati mereka.


"Gakpapa In menang kalah itu udah biasa lain kali pasti ada kesempatan yang datang" ucap Lova.


"Makasih ya Va"


"Udah In galau itu bukan kau banget mending Indy yang petakilan deh aku suka yang gitu" ucap Aldo.


"Bener ya awas kalau kau protes karena aku tak bisa diam" ancam Indy.


"Yang itu sih gak bisa pasti ya" ucap Aldo mengundang gelak tawa dari teman-temannya.


"Tapi sayang banget In, kau gak jadi ke pasar malam sama Noval" ucap Anjeli tiba-tiba membuat semua orang menoleh kearahnya.


"Kenapa apa aku salah bicara?" tanya Anjeli polos melihat tatapan aneh dari teman-teman Noval.


"Gakpapa kok" ucap Indy berusaha untuk memberikan senyuman.


Suasana nampak canggung karena ucapan yang dilontarkan oleh Anjeli.


"Um-"


"Va aku mau ganti baju dulu ya sebelum pulang, bau asap" ucap Indy menyela Lova yang akan berbicara.


Lova menganggukinya. Namun belum jauh melangkah Noval buru-buru mendekat dan meraih tangan Indy. Karena tubuhnya yang tak seimbang Noval pun hampir jatuh tapi untungnya Indy berusaha memberikan badannya sebagai tumpuan.


Ketiga orang yang menyaksikan mereka dari belakang seketika diam karena kalau dilihat dari belakang Indy dan Noval seperti orang yang sedang berpelukan.


"Noval kau gakpapa?" tanya Indy sambil membantu Noval berdiri dengan benar.


"Gakpapa, maaf udah bikin kau kaget" ucap Noval.


"Kau gak hati-hati sih" ucap Indy.


"Aku pengen ngomong dulu sama kau" ucap Noval.


"Mau ngomong apa sampai kau mengejarku?" tanya Indy heran.


"Malam minggu ayo kita pergi ke pasar malam bersama"


Indy terdiam di tempatnya. Apa dia tidak salah dengar. "Kau mengajakku pergi ke pasar malam tapi kan aku gak menang" ucap Indy tertunduk lesu.


"Menang atau kalah aku akan tetap pergi ke pasar malam denganmu"


"Tapi-"


"Udah sekarang kau ganti baju ayo pulang satu mobil denganku aku akan mengantarmu sampai rumah"

__ADS_1


Indy mengangguk faham, ia bergegas menuju toilet untuk ganti baju. Di dalam ia bercermin melihat wajahnya yang merah padam. 'Kenapa Noval melakukan itu' pikirnya.


"Aku gak boleh terlalu baper"


Indy pun segera mengganti pakaiannya dan menyusul teman-temannya yang sudah menunggu di halaman parkiran. Namun di sana ia tak melihat sosok Anjeli bersama mereka.


"Mana Anjeli?" tanya Indy.


"Anjeli ada keperluan makanya dia pamit pulang dulu" jawab Lova.


"Mari kita pulang sekarang hari udah mau gelap" ajak Noval.


Indy segera beranjak dari tempatnya dan masuk ke dalam mobil menyusul Noval yang sudah masuk terlebih dahulu.


"Val titip Indy ya dianter sampai rumah" ucap Lova.


"Iya beres"


"Loh Va kau gak ikut?" tanya Indy bingung.


"Aku masih ada perlu sama Aldo kau duluan saja sama Noval" ucap Lova sambil mengerlingkan matanya.


"Mari pak kita antar Indy dulu ya" ucap Aldo kepada pak Darto.


"Baik, Den" Pak Darto pun segera melajukan mobilnya dan masuk ke jalan raya bersama mobil-mobil lainnya.


Aldo dan Lova juga bergegas pergi dari parkiran untuk menuju ke toko aksesoris. Lova meminta tolong Aldo untuk mengantarnya untung-untung agar Noval bisa berduaan sama Indy.


"Kak idemu sangat bagus" puji Aldo.


"Iya kan Lova gitu loh" ucap Lova bangga.


"Tapi kak kita beneran ke toko aksesoris atau cuma alasan kakak aja?" tanya Aldo memastikan.


"Jadi kok emang aku mau beli aksesoris rambut buat koleksi tambahan karena waktu yang pas dan ada kau yang bisa antar kenapa enggak"


"Dih maunya" ucap Lova sambil menoyor helm Aldo membuat kepalanya terhuyung ke depan.


"Bercanda" ucap Aldo meringis. Lucu kali jahilin Lova.


Sampai di toko aksesoris Lova segera memilih beberapa jepit rambut, pita dan juga bando. Ia pun mencobanya dan melihat ke cermin untuk menilai apakah pilihannya cocok di pakai di rambutnya.


"Yang mana aja cocok kok kak" ucap Aldo ikut pening melihat Lova yang bolak-balik mencoba berbagai aksesoris.


"Bingung nih Al mau beli yang mana semua cantik terus bling-bling gitu" Lova mengedarkan pandangan ke semua pernak-pernik rambut yang tertata di etalase.


"Emang kakak mau pakai kemana?"


"Pokoknya yang bisa di pakai ke mana-mana"


"Aku bantu pilihin ya" tawar Aldo.


"Boleh"


Aldo pun memilih beberapa yang menurutnya bagus dan lucu lalu meminta agar Lova mencobanya ia juga sesekali membantu Lova untuk memasangkannya.


"Itu bagus kak" ucap Aldo saat melihat dua pasang jepit rambut yang terpasang di rambut Lova.


"Beneran?" tanya Lova sambil melihat ke arah cermin.


"Iya kak beli aja yang itu"


"Oke deh"


"Sama yang mana lagi ya masa cuma beli sepasang"

__ADS_1


"Sama ini dan itu" ucap Aldo sambil menunjuk aksesoris pilihannya.


"Yaudah mbak jadi saya beli lima aksesoris ini ya" putus Lova sambil memberikan dua pasang jepit rambut, satu rol pita dan dua bando kepada penjual.


"Baik mbak saya bungkuskan dulu ya"


Lova mengangguk sambil tersenyum ramah.


"Kak habis ini mau kemana lagi?"


"Pulang aja udah malam juga"


Aldo hanya menanggapi dengan anggukan kepala.


Lova mengambil ponselnya yang berada di dalam tas saat ia mendengar notif yang masuk. Ternyata ada pesan masuk dari Andro. Lova pun segera membuka pesan tersebut.


Andromeda : Sudah malam. Pulang. Jangan kelayapan.


Lova pun bingung saat membaca pesannya. Apa maksud dari Andro?


"Kenapa kak?" tanya Aldo heran saat melihat ekspresi dari Lova.


Lova hanya menggeleng, "Gakpapa"


"Ini mbak sudah dibungkus kan totalnya jadi seratus lima puluh ya mbak"


Lova memberikan uang pas kepada penjual lalu meninggal toko aksesoris dengan membawa paper bag yang isinya aksesoris pilihan Aldo perlu di garis bawahi semuanya adalah pilihan Aldo.


Sampai di rumah ia tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Aldo karena sudah mengantarnya pulang. Lova bisa melihat mobilnya sudah terparkir di halaman tentunya Noval sudah berada di rumah. Saat melangkah masuk ke dalam rumah ia berpapasan dengan Pak Darto.


"Non, Pak Darto pamit pulang ya"


"Iya pak makasih ya udah anterin kita"


"Gak perlu bilang makasih Non, itu udah tugasnya Pak Darto kalau begitu Pak Darto pamit ya Non"


"Baik pak hati-hati"


Entah kenapa tiba-tiba perasaannya gak enak.


"Baru pulang Va?" tanya Noval saat keluar dari kamarnya.


"Iya aku ke atas dulu ya"


Noval hanya mengangguk.


Di dalam kamar ia langsung menghubungi Andro hatinya janggal setelah mendapat pesan tersebut. Ternyata tak butuh waktu lama untuk menunggu Andro mengangkat panggilannya.


" Halo Kak, aku-"


"Tadi pergi sama siapa?" tanya Andro yang terdengar dingin.


"Sama temen-temen kok kak aku tadi itu-"


"Tadi saya lihat kamu sama cowok di toko aksesoris"


Lova bisa mendengar nada kesal di setiap ucapan yang dilontarkan Andro. "Oh itu temen aku kak temennya Noval juga"


"Benarkah?" tanya Andro tak percaya.


"Iya kak, Kakak marah ya"


"Sudah ya Va saya sibuk"


Andro memutuskan panggilannya. Lova merasa sedih. Andro salah paham padanya Panggilan Andro untuknya juga diubah.

__ADS_1


"Bagaimana ini?" ucap Lova dengan wajah yang bingung.


__ADS_2