CRUSH

CRUSH
Chapter 34


__ADS_3

Sinar bulan yang masuk ke dalam kamar menerangi wajah seseorang yang sedang tidur dengan nyenyak, dia adalah Noval. Wajahnya tampan, tegas dan juga teduh sangat indah. Jendela kamarnya yang tidak tertutup membuat angin bebas masuk ke dalam kamarnya membuat tirai kelambu terombang-ambing tak tentu arah, ia terbangun dari tidurnya merasakan dingin yang menyerang kulitnya lalu ia turun dari ranjangnya dan berjalan menutup jendela.


Dilihatnya Aldo yang tertidur lelap di atas kasur lantai yang sudah Lova siapkan, "Dasar kebo"


Noval berjalan ke luar kamar mendadak ia merasa haus dan berjalan ke arah dapur. Ia heran melihat lampu dapur yang menyala, "Siapa yang terbangun tengah malam, apa Lova ya" gumamnya.


Noval berjalan mendekat dan ia melihat sosok Indy yang sedang menuangkan air ke dalam gelas, "Indy" panggil Noval.


Indy yang terkejut hampir menjatuhkan wadah air yang ia pegang, "Ya ampun Noval ngagetin aja" ucap Indy sambil mengelus dadanya.


Noval terkekeh, "Maaf" ucapnya sambil mengambil satu gelas yang ia berikan kepada Indy.


"Kau juga haus?"


"Iya, makanya aku terbangun"


"Sama" Indy menuangkan air ke dalam gelas yang Noval berikan lalu memberikannya.


"Oh iya In, bukannya besok kau ada tes terakhir di kelas memasakmu?" tanya Noval.


"Iya, aku deg-degan banget lagi" ucap Indy sambil mencuci gelas miliknya.


"Semangat dong, apa orang lain bisa melihat tes tersebut?"


"Emangnya kenapa?"


"Aku pengen dateng ke tempat kursusmu"


"Boleh kok" ucap Indy sambil mengambil gelas Noval yang sudah kosong untuk dicuci, "Lagian temen kursus aku juga banyak kok temennya yang dari luar datang untuk mendukung secara langsung"


"Kalau gitu aku besok datang ya, aku di rumah suntuk"


"Iya baiklah"


"Hum, abis ini kau mau kemana?"


"Mau balik ke kamar Lova lagi, aku masih ngantuk"


"Aku juga mau balik ke kamar kalau gitu bareng yuk"


Indy mengangguk tak lupa ia mematikan lampu dapur sebelum balik ke kamar masing-masing. Indy merasa gugup berada di dekat Noval.

__ADS_1


Noval berjalan pelan dengan bantuan tongkatnya tiba-tiba tersandung karena keadaan yang gelap. Indy juga berteriak pelan karena kakinya kesandung tongkatnya Noval yang mengakibatkan ia jatuh tepat di atas tubuh Noval. Indy seketika menutup mulutnya takut kelepasan yang ada nanti membangunkan seisi rumah karena ulahnya.


"Kau gakpapa?" tanya Noval khawatir.


Indy hanya mengangguk ia bisa merasakan kalau tangan Noval sedang memeluk pinggangnya.


Indy melihat ke arah Noval. Mereka berdua sama-sama terdiam untuk sementara waktu. Noval merasa heran kenapa jantungnya tiba-tiba berdegup dengan kencang. Ia melihat wajah Indy yang memerah, matanya yang indah, hidungnya yang mancung serta pipi tembemnya membuat Noval gemas. Baru pertama kali ini dia bisa melihat wajah Indy dengan sangat detail.


Semakin diperhatikan wajah Indy semakin memerah sampai ke telinga apakah Indy marah? Pikir Noval, "Indy" panggilnya.


Indy dengan cepat berdiri dari tubuh Noval ia merasa malu setengah mati sekarang. Indy melihat Noval kesusahan berdiri ia pun bergegas membantunya namun ia tak sanggup untuk melihat wajah Noval terlalu malu bisa-bisa ia pingsan di tempatnya.


"Indy kau marah, maaf ya kau juga ikutan jatuh" ucap Noval tidak enak.


Indy menggeleng, "Enggak kok gakpapa aku duluan ya ke kamar, selamat malam" Indy berjalan tergesa menaiki tangga dan langsung masuk ke dalam kamar Lova, merebahkan tubuhnya di atas kasur lantainya. Indy menggigit selimut yang ia pakai agar tidak berteriak sambil berguling-guling ke kanan dan ke kiri.


Lova yang terusik karena Indy yang grusak-grusuk di tempatnya menundukkan wajahnya ke arah Indy dengan mata yang separuh terpejam. Lova masih bisa melihat wajah Indy yang bersemu merah, "Kau kenapa?" tanya Lova dengan nada serak.


Indy menolehkan wajahnya ke arah lain, ia tak mau Lova melihat wajahnya sekarang. "Gakpapa habis mimpi Indah"


"Mimpi apa?" tanya Lova sambil menggaruk lengannya yang gatal.


"Mimpi Ji Chang Wook" jawab Indy asal.


"Iya, udah kau balik tidur sana"


"Hum, iya.. iya" tak menunggu lama untuk Lova kembali tidur dengan nyenyak.


Indy mendekat dan mengayunkan tangannya di depan wajah Lova. Tak ada respon membuat Indy bernafas dengan lega. "Untung" ucapnya lirih.


Sementara di kamar lain, Noval masih belum kembali untuk tidur ia masih bisa merasakan jantungnya yang berdetak tidak stabil membuatnya sulit untuk memejamkan mata, "Kenapa ini, apa jantungku bermasalah" ucap Noval sambil memegang dadanya.


Ia memandang ke arah langit-langit kamarnya. Tiba-tiba teringat waktu ia memandangi wajah Indy, "Cantik juga si Indy"


Noval memiringkan badannya menatap ke arah jendela, "Kok aku baru tau kalau Indy secantik itu ya"


Tiba-tiba ia tersenyum lalu dengan cepat menggeleng-gelengkan kepalanya, "Gak boleh"


Noval memutar tubuhnya menghadap ke arah lain, "Indy itu gadis yang baik aku gak bisa macam-macam sama dia" Noval memutuskan untuk memejamkan matanya dan berusaha untuk kembali tidur.


Keesokan paginya mereka sarapan bareng bersama Pak Marco hari ini Bu Marsih diminta Pak Marco datang lebih awal untuk membuatkan sarapan. Karena kalau hanya Lova yang memaksa untuk teman-temannya juga pasti kewalahan.

__ADS_1


"Aku nanti mau hadir di tes nya Indy mau dukung dia langsung, kau mau ikut Va?" tanya Noval.


"Ikut dong" jawab Lova antusias.


"Aku juga" sahut Aldo.


"Ini nih yang papa suka sama kalian kompak, semoga pertemanan kalian langgeng ya" ucap Pak Marco.


"Aamiin" ucap mereka serempak.


"Pa, nanti malam papa lembur" tanya Lova.


"Sepertinya iya memang ada apa Va, kamu ada perlu sama papa nanti malam?"


"Enggak kok pa" ucap Lova lalu melanjutkan sarapannya.


"Ngomong aja Va, ada apa?" tanya Pak Marco yang tidak puas mendengar jawaban anaknya.


"Sebenarnya nanti malam aku ada rencana ajak papa ke rumah nenek, aku mau ngambil barang aku yang ada disana"


"Bagaimana ya, papa harus lembur nanti malam"


"Gakpapa pa lain kali aja" ucap Lova sambil tersenyum. Ia tahu kalau ke rumah neneknya bisa dilain hari.


"Gimana kalau aku yang temenin" usul Noval.


"Gak, kakimu itu masih sakit kau gak boleh kelayapan terlalu jauh"


"Gimana kalau sama aku Va" kali ini Indy yang mengajukan dirinya.


"Aku juga bersedia Kak kalau diajak juga" tambah Aldo.


Lova menggeleng, "Aku gak enak sama kalian rumah nenek aku lumayan jauh"


"Kenapa kamu gak ngajak Pak An-"


"PA!!" teriak Lova sambil menggebrak mejanya secara spontan. Ia takut kalau papanya menyebutkan nama itu di depan teman-temannya.


"Kenapa?" ucap Pak Marco yang mendadak linglung.


"Anu, mu-mungkin dia si-sibuk jadi aku gak berani buat ganggu dia" ucap Lova gugup apalagi sekarang Indy dan Aldo memandanginya dengan wajah heran campur penasaran.

__ADS_1


"Ya apa salahnya untuk coba menghubunginya" ucap papanya santai.


Indy dan Aldo saling pandang merasa ada sesuatu yang ditutupi oleh Lova. Sementara Lova tak mau melanjutkan obrolan dan memilih untuk menghabiskan sarapannya.


__ADS_2