
Setelah bersiap, kami berdua bergegas pergi. Kami berdua berjalan-jalan, lalu memutuskan untuk jogging di lincoln park. Pagi itu lumayan ramai, banyak orang yang mengajak hewan peliharaan milik mereka untuk berjalan-jalan. Ava menghampiri seorang nenek yang membawa seekor anjing dan kucing bersamanya. Ava duduk di sebelahnya, lalu mengobrol panjang, aku tak tahu apa yang menjadi bahan obrolan mereka, karena aku berdiri sedikit jauh dari mereka. Tiba-tiba Ava melambaikan tangan ke arahku, memberi kode agar aku menghampiri mereka.
“Perkenalkan bibi, ini Levi, teman sekaligus kolegaku. Levi, perkenalkan ini klien kita, bibi Margareth.” Ava memperkenalkan aku dengan wanita tua itu, sebenarnya aku sedikit bingung dengan ini. Klien? Hah? Apa-apaan gadis ini? Apa ia sudah tidak waras?. Banyak pertanyaan berseliweran dalam batinku. Namun aku memilih berlagak tahu apa maksud semua ini.
Ava mengatakan wanita itu memiliki masalah, dan ingin kami berdua membantunya menyelesaikannya.
“Ngomong-ngomong masalah apa?” tanyaku, jelas aku heran, karena Ava tak mengabariku sama sekali tentang ini.
“Peristiwa ini baru pertama kali terjadi di sekitarku, aku pikir ini adalah kasus pembunuhan teraneh yang pernah aku ketahui. Aku adalah seorang pemilik rumah, yang menyewakan beberapa rumahku, namun hari ini.. tuan Ethan William datang padaku, tuan william adalah salah seorang penyewa rumahku, ia menyuruhku mengantar makanan pada kakak dan adiknya, tuan Justin William dan nyonya Emma William, mereka berdua sedang berada di New york karena ayah mereka yang tinggal selama ini bersama tuan Ethan meninggal dunia dikarenakan sebuah kecelakan. Akhirnya kakak laki-laki dan adik perempuan tuan Ethan pun tinggal juga di salah satu rumah sewaku, mereka membayar uang sewa dengan harta yang ditinggalkan oleh ayah mereka, tuan Justin dan nyonya Emma tinggal serumah. Mereka bertiga sempat tergelincir masalah pembagian warisan, yang sebenarnya nyonya Emma juga tak mementingkan warisan-warisan itu. Dan setahun kemudian terdengar kabar, mereka telah berbaikan. Sampai sekarang pun, masalah warisan sudah tak terdengar lagi dari pembicaraan mereka. Akhirnya, setelah beberapa bulan tinggal, mereka bisa lebih akrab satu sama lain. Dan hari ini aku di mintai tolong oleh tuan Ethan untuk mengantarkan sarapan pada kedua bersaudara william itu. Namun, saat aku masuk ke dalam ruangan itu aku menemukan hal yang paling membuatku terkejut, tuan Justin yang terlihat seperti tak mengetahui apapun, sepertinya ia hilang ingatan, bahkan ia lupa pada namanya sendiri. Sedangkan nyonya Emma, ia ditemukan dalam keadaan sudah tak bernyawa. Padahal jelas malamnya mereka bertiga baru saja minum bersama, namun untuk lebih jelasnya mungkin tuan Ethan William sendiri yang dapat menjelaskan lebih lanjut” Wanita tua itu bangkit, menggendong kucingnya, dan menarik tali pengikat anjingnya, agar tidak kabur.
Namun, Ava menawarkan diri untuk menuntun anjing itu. Dari raut wajahnya, wanita tua itu kelihatan sangat senang bertemu dengan Ava. Kami berdua pun berjalan bersama mengikutinya. Aku dan Ava berjalan pelan di belakangnya, lalu aku mengambil kesempatan untuk menanyakan apa maksud semua ini pada gadis tidak waras itu.
“Apa maksud semua ini?!” aku menggenggam pergelangan tangannya, agar ia tak mengelak.
“Nanti sesudah menyelesaikan kasus ini aku akan menjelaskannya.. tenang dan santailah kolegaku” Ava tersenyum lebar, ia mengedipkan sebelah matanya, nampak berusaha membuat ku penasaran.
__ADS_1
“Kau berhutang penjelasan padaku!” Sahutku ketus, lalu melepas genggamanku di pergelangan tangannya dengan kasar.
“Oi.. oi.. sakit tahu! kasar sekali kau ini?!” ia sedikit meringis, namun aku tak mempedulikannya. Aku malah berjalan lebih cepat, dan membuatnya tertinggal di belakang. Dan seperti biasa, gadis itu mengomel tak karuan.
Setelah itu sampailah kami di rumah kakak beradik william itu, ia pun mempersilakan kami masuk. Kami berada di ruang tamu sekaligus ruang makan, lalu ia mengambil beberapa biskuit, dan dua gelas minuman dingin dan diletakkannya di atas meja.
“Bibi margareth.. di mana tuan Ethan?” Ava memandang sekeliling ruangan itu.
“Pria itu tak tinggal bersama dengan kedua saudaranya Ava..” wanita yang Ava panggil bibi Margareth itu tersenyum tipis.
“Baiklah, bisa kau memerintahkan pria itu untuk datang?” Ava berdiri, memasukan tangannya ke dalam saku celananya. Lalu ia jalan mondar-mandir tak jelas.
“Baiklah, aku berangkat sekarang” Bibi margareth tersenyum lagi. Lalu meninggalkan kami berdua di rumah itu.
“Ngomong-ngomong Ava.. apa kau telah memikirkan sesuatu? Sebuah hipotesis? atau mungkin Deduksi?” aku terus melihatnya memandang ke arah luar jendela.
__ADS_1
“Tidak, maksudku belum”
“Berarti kita harus apa sekarang?” aku berjalan mendekati kursi, berniat untuk duduk. Namun Ava menghentikanku.
“Lebih baik bagi kita untuk tak menyentuh apapun Levi, biarkan barang bukti tetap pada tempatnya..” Belum selesai Ava bicara, ia tiba-tiba terdiam seperti ingat sesuatu. Lalu berpikir, dengan menggigit jari kelingkingnya, ia mondar-mandir di dalam ruangan itu, kebiasaanya muncul.
***Bersambung***~
*Jangan lupa Like, follow author, vote jika kau suka, komentar atas saran, pendapat, dan kritik kalian. Share ke teman-teman juga ya') Beri rate 5 bintang jika menurutmu cerita ini keren, dan bisa juga memberi gift atau tip untuk menyemangati. Terimakasih banyak')
__ADS_1
Semoga harimu menyenangkan*')