
“Aku… merasa menyesali diriku, karena tak sanggup menghentikan si pelaku membunuh anaknya dan istrinya. Bocah itu tak bersalah, ia hanya seorang anak kecil polos yang tak tahu apa-apa, tapi ia malah harus mengalami nasib naas ini” Ava meneteskan air mata, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menunduk dalam-dalam. Aku yang melihat itu semua hanya bisa diam membisu, tak tahu lagi harus bagaimana, tapi aku mengira gadis sepertinya tak bisa menangis. Dari sini aku sadar bagaimanapun Ava adalah seorang gadis, menangis adalah caranya mengungkapkan rasa emosionalnya.
“Bukan salahmu sih, kalau kamu tahu itu akan terjadi, aku yakin kau akan menghentikannya” Tuan Baker menepuk pelan bahu Ava, lalu tersenyum meyakinkan. Di hadapanku mereka nampak seperti sepasang ayah dan putrinya. Ava mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk, gadis itu tersenyum tipis agak lama, lalu tiba-tiba
“Bodoh! Kalian tertipu dengan ini?? Hahaha..” Gadis itu menendang punggungku dengan kakinya, aku yang duduk di bawah sambil bersandar ke sofa pun sedikit terkejut. Gadis ini gila, beberapa detik lalu ia baru saja menangis, dan di detik kemudian ia tertawa begitu lebarnya. Dia bukan seorang gadis, ternyata aku salah. Batinku. Gadis itu masih saja memukul dan menendangku sambil tertawa, ditambah lagi ia menarik rambutku yang sedikit panjang. Namun tuan Baker malah tersenyum, mungkin ia senang Ava bisa tertawa lagi.
“Baguslah! Kau pandai sekali berbohong ya Ava.. Dari wajahmu kau nampak telah banyak berbohong tentang perasaanmu” Tuan Baker ikut terkekeh, Ava malah terlihat malu dan menggaruk-garuk belakang kepalanya.
“Kalau begitu? Ayo pulang?!” Tuan Baker bangkit, dan mempersilahkan aku dan Ava pulang duluan.
“Baiklah tuan Baker, aku dan Levi akan pulang lebih dulu, jaga dirimu baik-baik” Ava tersenyum lebar, lalu menarikku untuk segera keluar dari ruangan, aku yang belum sempat berpamitan pada tuan Baker pun hanya bisa menganggukan kepala sebagai tanda permisi, tuan Baker malah tertawa, namun aku tidak punya waktu membalas tawanya. Di lorong gedung kepolisian ini sangat gelap, aku melirik Ava yang ada di sebelahku, Ava sedikit menempelkan bahunya ke lenganku, ia berjalan menempel denganku. Aku tersenyum kecut di buatnya, aku yakin gadis ini selain bawel, ia juga penakut.
“Oi, oi.. Ada apa ini? Kau berjalan begitu dekat denganku tahu.. bergeserlah sedikit!” Aku mendorong tubuhnya pelan, agar ia menjauh sedikit dariku.
“Oh my god.. kau kira aku takut hah? Lorong ini sempit makanya aku berjalan sedikit menempel dengan lenganmu. Lagi pula gadis mana yang tertarik pada pria sepertimu! Kalaupun aku takut lebih baik aku kembali dan pulang dengan tuan Baker!” Ava melotot, ia membuang muka dan melipat lengannya didada, seperti biasa saat marah ia merengut. Dan yang paling membuatku menahan tawa adalah, ketika aku mengeluarkan beberapa kata pada nya, ia akan membalasku dengan banyak bahkan mungkin seribu kata-kata.
__ADS_1
Akhirnya aku memilih meninggalkan ia di belakang, aku berjalan mendahuluinya dan berusaha untuk pura-pura tidak tahu kalau ia tertinggal jauh di belakang.
“LEVI!! Aaaahh…” Gadis itu merengek, ia langsung berlari ketakutan dan melingkarkan tangannya di lenganku, kemudian berjalan cepat sambil menarikku. Haha, rasanya aku ingin tertawa keras di hadapannya sekarang. Tawaku dalam hati. Akhirnya kita sampai di pintu keluar, Ava pun cepat-cepat menarikku untuk menyebrang. Saat itu aku teringat tuan Baker, aku berpikir apakah tuan Baker tak takut berada sendirian di dalam ruangan itu, sedang apa ia?. Namun aku terpaksa mengikuti Ava yang menarikku untuk cepat menyebrang. Tiba-tiba dari kanan ada sebuah sepeda motor yang melaju dengan cepat, dan kami berdua telat menyadari itu, akhirnya
“Aaaaa..” Sepeda motor itu menabrak Ava, gadis itu terjatuh dan tergeletak di aspal. Buru-buru aku menghampiri gadis itu, aku melihat si penabrak melarikan diri.
“Leviii.. sakit..” Gadis itu merengek, akhirnya aku yang berniat mengejar penabrak itu berbalik untuk membantunya. Sebenarnya aku tahu kalau aku tak kan bisa mengejar pria tadi, tapi tetap saja aku kesal dan ingin mengejarnya.
Aku menghampiri gadis itu, padahal jalanan itu lengang dan sepi, tapi pria tadi mengebut, itu membuatku heran di buatnya.
“Tabrak lari?” seru seseorang di belakang kami, saat menoleh ke arah nya, terlihat wajah tuan Baker yang tersenyum.
“Aku akan mengantarmu pulang” seru tuan Baker tiba-tiba membuatku dan Ava terkejut.
“Aahh tidak perlu tuan, aku bisa pulang sendiri, lagi pula rumahku di sekitar sini kok” Ava terkekeh, aku dan tuan Baker pun membantunya dan menyandarkannya ke tiang rambu penyebrangan.
__ADS_1
“Yakin?” Tuan Baker nampak tak yakin melihat kondisi gadis itu. Tentu saja, itu karena Ava banyak terluka, lututnya berdarah kakinya juga keseleo, pipinya berdarah akibat tergores aspal, lengan dan siku nya juga tergores.
“Hahaha, tuan ini, masa tuan tak percaya akan kekuatan yang aku miliki.. jelas sekali aku setara dengan kekuatan sepuluh ekor kuda” Ava terkekeh, dan tuan Baker hanya mengangguk.
“Baiklah Levi, aku menitipkan Ava padamu ya!” Tuan Baker menepuk pundakku lalu tersenyum kecut.
“Eeh… baiklah-baiklah!” Aku berjongkok di sebelahnya, tuan Baker membantunya naik ke atas punggungku. Ava sedikit mengerang kesakitan, namun setelahnya ia tertawa, aku yang memang sudah tak paham jalan pikiran gadis ini semakin tak paham dibuatnya. Namun, akhirnya aku bangkit dengan gadis pincang cerewet berada di punggungku.
Akhirnya aku berjalan menyusuri jalan trotoar yang remang-remang karena pada malam hari yang saat ini lebih tepatnya di sebut tengah malam, orang-orang sekitar pasti sudah tertidur nyenyak di kasurnya yang empuk.
Setelah itu aku berbelok di pertigaan, dan berjalan lagi, ada satu tempat makanan kecil yang belum tutup malam itu, aku melihat papan yang tertera di atas bangunan putih kecil itu “Coffee shop restaurant” ejaku pelan. Tempat itu terletak di S Pearl.st tidak jauh dari kantor polisi. Aku berhenti di depan pintunya, aku berniat menurunkan Ava, namun gadis itu ternyata sedang tertidur. Aku bingung, sebenarnya aku merasa haus, namun enggan membangunkan Ava dari tidurnya. Tiba-tiba seorang pria keluar menghampiriku dan mempersilahkan aku masuk ke tempat makannya.
“Duduklah tuan, silahkan turunkan dan baringkan gadis itu di sofa agar kau bisa sedikit beristirahat, sepertinya kau sangat lelah?!” Pria muda itu membantuku menurunkan Ava ke sofa, gadis itu tetap tak terbangun.
Aku duduk di kursi pelanggan dan langsung memesan, malam itu tak terlalu dingin, tapi aku memilih cokelat panas. Aku memperhatikan pria muda itu, ia menyiapkan pesananku dengan sangat lihai. Lalu aku di kejutkan olehnya, bola matanya memandang sekilas ke arah seseorang yang berada di sofa, siapa lagi kalau bukan gadis cerewet bernama Ava. Pria itu meliriknya sesekali, dan entah mengapa aku kesal dibuatnya.
__ADS_1
Bersambung~
Jangan lupa like, vote, rate 5 bintang, share, follow author, dan bisa juga memberi gift loh. Kalau kamu suka')