
20 Oktober 2020
Hei, ini aku Levi, jika kau Ava dan sedang membaca ini, aku ingin kau mengingat sesuatu. Ingat-ingat ya.. Baiklah-baiklah aku akan memberimu petunjuk, petunjuk yang pertama adalah dia, pria yang bernama Hegard itu. Petunjuk kedua, adalah cinta. Kau pasti paham maksudku kan? Setelah memahami Ini, aku ingin kau berusaha mengerti posisiku, dalam sebuah kasus yang dengan begitu mudahnya kau selesaikan itu, kau mengatakan padaku “Untuk berhasil menemukan pelakunya, tanpa menyakiti hati siapapun, tanpa menyakiti fisik siapapun, tanpa adanya pemaksaan pengakuan.. “Levi, kau harus mencoba merasakan berada dalam posisi korban, maupun pelaku. Dengan berusaha untuk merasakan sudut pandang keduanya, kau akan tahu siapa yang bersalah di antara keduanya. Kau akan melihat dunia dalam pikiran dan melihat dari arah sudut pandang yang berbeda. Menalarnya, mengeluarkan segala hipotesis dan kemungkinan yang ada menurutmu, lalu pada akhirnya akan muncul deduksi yang meyakinkan.” Itu katamu padaku"
Aku yang mulai mengerti tentang bagaimana cara melatih penalaran, membuat hipotesis, hingga berujung pada kesimpulan dan deduksi yang baik, itu karenamu. Namun, tetap saja dalam kasusku kali ini berbeda, di sini kau bukan lagi seorang detektif, dan posisiku bukan lagi adalah seorang kolega. Aku hanya merasa, aku adalah korban, dan tentu saja kau adalah pelakunya. Aku merasa kau telah menikam dadaku, aku merasa semua perasaan yang ada dalam diriku meluap lalu mengambang. Namun, tampaknya si pelaku tak pernah menyadari perbuatannya, karena sekarang pelaku malah bercanda-canda denganku. Kasus percintaan nyatanya jauh lebih rumit ya?! Dan jalan satu-satunya untuk menyelesaikan kasus ini tanpa bantuan detektif adalah menjadi detektif. Perasaannya ada padaku, sifat tak pekanya ada padamu. Mari menjadi detektif bersama, untuk pecahkan kasus percintaan kita pribadi. Setelah menulis banyak, aku ingin seorang detektif Ava menalar bagaimana perasaanku padanya. Penalaran yang selalu tepat sasaran itu, apakah berlaku dan akan berhasil dalam kasus kali ini? Mungkin tidak, tapi toh kita bisa memecahkan kasus ini bersama, seperti sepasang detektif.
Nah Ava, mari selesaikan pembicaraan tadi jika kau setuju pada pendapatku tentang memecahkan kasus percintaan ini, meski pada akhirnya harus mundur karena terlalu banyak tarik ulur, meski akhirnya harus berpura-pura bahagia, demi melihatnya bahagia sungguhan walaupun bukan denganku tetapi dengan orang lain.
Mari lanjut pada ingatanku dan kamu, ingat hari ini hari apa? Jika kau lupa, maka aku merasa senang, namun jika kau tak lupa aku juga tetap bahagia. Hari ini, jelas sekali aku sangat ingat. Bagaimana dengan suara nya yang keras menggelegar Ava meneleponku lalu dengan penuh semangat memintaku datang ke atap kampus sepulang kelas usai. Seperti biasanya aku yang enggan tetap saja berusaha melawan rasa malas demi menuruti kemauannya. Sesampainya di lantai paling atas, aku mencari keberadaan Ava. Meski begitu sesampainya di sana aku tak melihat Ava.
“Dia gadisku Levi!!” Tiba-tiba ada orang di belakangku dan aku benar-benar mengenal suaranya. Aku langsung berbalik, kemudian menemukan Hegard dengan Ava di belakangnya.
“Kau..?!” Aku bingung mengapa Hegard ada di sini, padahal Ava tak mengatakan apapun tentangnya.
“Aku menyuruhnya memanggilmu, aku ingin kau menjadi saksi kisah cinta kami, kami telah bersama lagi setelah sekian lama” Hegard menoleh ke sampingnya, menatap dalam ke arah mata Ava.
“Owh, baiklah” Balasku pendek, lalu duduk di lantai.
“Tak cemburu?” tanyanya
“Untuk apa? Perihal apa? Lagi pula aku cuma kolega.. Yhahahaha” Aku tertawa, di mulai dari tawa itu, aku tak ingin mengingat hal itu lagi, saat di mana Hegard menyatakan cintanya pada Ava. Kukira saat itu Ava akan langsung menerimanya, perkiraanku itu ternyata salah, Ava menatap ke arahku sebentar, lalu tersenyum. Kemudian baru menjawab
“Untuk perasaan, ini bukan hanya tentang hati antara aku dan kamu, beri aku waktu karena perasaan ini bukan hanya tentang bagaimana jawabanku dan kau saja, tetapi aku juga punya teman baik, aku ingin bicara pada Levi..” Ava menarik lengan ku, kemudian berbalik ke arah Hegard lagi.
“Saat aku berhasil mengalahkan perasaan egois ini, aku akan memberikan jawabannya” Setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya, ia berlari. Tubuhku terpaksa harus ikut berlari juga, menyetarakan posisi kami. Kami melewati banyak anak tangga, berlari ke luar kampus,
__ADS_1
Ava masih tetap serius, ia berlari tanpa menoleh ke arahku, tanpa memikirkan perasaanku, tanpa rasa ingin tahu bagaimana wajahku yang begitu kecapekan karena hal itu.
Aku yang tak kuasa menahan banyak pertanyaan dalam batin memilih melepaskan diri dari genggaman tangannya. Aku menepis tangannya yang berada di pergelangan tanganku. Entah ini kebetulan atau tidak, namun saat aku melakukan itu bertepatan saat kami sudah berlari sangat jauh hingga ke taman.
“OI! KAU INI GADIS GILA KAU TAHU?? APA MAKSUD SEMUA INI? KAU INI TERLALU BANYAK DRAMA!! KAU MENGATAKAN PADAKU BAHWA KAU ME-NYU-KA-I-NYA!! TAPI KENAPA TAK LANGSUNG JAWAB I..” Saat omonganku belum selesai ia menyelaku dengan menamparku keras. Aku yang begitu terkejut hanya bisa memegangi pipiku yang sakit akibat bekas tamparannya.
Aku menunduk, lalu kembali mengangkat kepalaku lagi, kemudian pandanganku menuju matanya. Gadis itu menangis, aku yakin air mata itu baru saja keluar dari kelopak matanya yang manis itu.
“KARENA KAMU LEVI!!” Teriaknya, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Aku tersentak, kemudian berusaha memeluknya, namun ia mengelak. Ia berjalan beberapa langkah di hadapanku, semakin menjauh. Dan saat jarak antara kami mungkin sekitar tiga meter ia berhenti dan bicara padaku tanpa membalikkan tubuhnya.
“K-kau.. alasan keraguanku, ia bilang padaku tak ingin ada orang lain diantara aku dan dia! Terutama kau! Hegard mengatakan padaku bahwa ia akan menyingkirkan mereka yang berada di tengah kami, dan aku… tidak bisa menerima untuk jauh darimu, kau tahu pasti bagaimana sulitnya perjuanganku untuk membuatmu menerima kehadiranku di hidupmu..” Ava membuang muka dan sepertinya ia menyeka air matanya. Aku hanya diam membeku, ada rasa sakit seperti ada suatu benda sangat besar dan berat menghantam dadaku. Ada rasa sesak, yang begitu dalam karena melihat gadis yang sepertinya aku cintai ini menangis. Iya, rasa sakit ini seperti menyadarkan aku, bahwa aku tak hanya tertarik padanya, tak hanya kagum padanya, tak hanya sekedar menyayanginya, tak hanya menganggapnya kolega, bahwa aku tak hanya menyukainya. Tapi, aku mencintainya.
“Oi.. gadis gorila, gadis gajahku!! Kau pernah mengatakan padaku kau gadis yang pantang menyerah bukan, kau kuat. Dan aku, pria kodok ini.. entah mengapa sangat percaya pada perkataanmu, hahaha. Rasanya gila percaya pada gadis kurang waras sepertimu, tapi gadis yang kuat adalah tipeku loh! Maka dari itu, kuatlah.. kembalilah pada Hegard, katakan jujur bahwa kau juga mencintainya.. Kembalilah pada sahabat kecil mu yang kau rindukan keberadaannya itu.” Aku membalikkan tubuhnya yang membelakangiku. Lalu tersenyum lebar memandang wajah dan kedua belah matanya yang sembab. Ia menjawab senyumanku dengan tersenyum simpul. Lalu aku berjalan ke arah belakangnya, memegang kedua pundaknya dari belakang, dan terakhir mendorongnya pelan ke depan.
“Majulah! Kau gadis gorila siap tarung. Aku yakin, kau akan bahagia bersama Hegard, jadilah dirimu sendiri dan penuhi apa-apa yang kau harapkan sejak dulu.. tidak, bukan demi aku.. kau yang sangat menanti-nantikan hal ini kan sejak dulu, bahkan sejak kita belum saling mengenal. Sudahlah, tenang.. aku masih di belakangmu, jika gagal aku akan mendorongmu lebih kuat. Dan jika benar-benar tak bisa di harapkan, kau bisa berbalik ke arahku, dan berjalan maju. Pergilah, temui ia” Ava menoleh ke belakang, memandangku, kemudian tersenyum lebar. Lalu ia memelukku sangat erat, hingga tubuhnya terangkat.
Hei,, aku Levi.
Pria suram, peraih gelar manusia terdingin di
kampus. Manusia, yang tak pernah berharap
banyak pada hidup yang tampak seperti
tidak hidup.
__ADS_1
Pada suatu hari, tuhan mengirimkan seorang
Gadis padaku. Gadis yang terlalu hangat,
hingga aku benar-benar mencair dibuatnya.
Gadis yang sekarang, sedang duduk bersama
pria bernama Hegard. Tanpa tahu, aku sedang melihatnya
dan berniat menceritakan kisah tentangnya ini
pada kalian.
Dan aku berpesan pada kalian, jika kau tahu
dimana ia, katakan padanya bahwa Levi Ackerly
mencintainya. Dan jika kau benar-benar tahu dia,
katakan padanya juga, perasaan Levi tak palsu, hanya saja terlalu banyak terbuang oleh waktu.
Harapanku sih, jika tulisan ini benar-benar sampai ke tangan kalian, adalah aku telah hidup bahagia bersama gadis gorilak**u. Bersama gadis yang aku cintai.
Salam dingin
__ADS_1
Pria kodok, Levi Ackerly