
“Tuan ini pesananmu” sahutnya, saat pikiranku sedang jauh berkelana karena kesal padanya.
“Baiklah terimakasih” jawabku, aku sampai lupa memberinya uang tip, hingga ia masih berdiri mematung di tempatnya. Iya budaya kami, orang Amerika adalah memberi uang tip pada pegawai restaurant, sebenarnya tidak harus namun karena sudah menjadi kebiasaan, akhirnya memberi uang tip pada pegawai sedikit menjadi tradisi.
Setelah mengambil secup coffee itu, akhirnya aku menaruh uang tip di meja itu kemudian buru-buru membangunkan Ava untuk naik ke punggungku lalu pulang. Pria muda itu memandang kami berdua, aku melihatnya dari pantulan kaca jendela kaffe itu. Aku menggendong Ava di punggungku dengan secup coffe ditangan. Aku terus berjalan menyusuri trotoar yang sedikit gelap, namun masih ada sedikit lampu remang-remang.
“Levi…”Tiba-tiba ia sedikit mengerang. Aku bingung, dan seketika itu juga aku sadar kalau aku tak mengetahui dimana rumahnya, akhirnya aku bertanya.
“Dimana rumahmu?”Sebenarnya aku tak ingin mengganggu tidurnya, namun aku lebih memilih membangunkannya daripada tersesat.
“Lurus saja terus mengikuti jalan panjang ini,” suaranya jadi sangat kecil, berbeda dengan saat ia baik-baik saja.
__ADS_1
“Kau menghadiri acara kembang api di lincoln park juga, kau datang ke sana menggunakan apa?” Aku berusaha mencari topik, dan lagi-lagi aku teringat pada sesuatu, yakni sepedaku yang aku tinggalkan begitu saja di taman itu. Apakah lebih baik kembali ke taman itu? Tapi, sebenarnya rumahku di sekitar sini. Tapi ahh sudahlah, lebih baik aku mengantar gadis pincang ini lebih dulu, lagian besok aku masih dapat mengambilnya kan. Batinku. Akhirnya aku memilih mengantar Ava, dengan arahan darinya yang sebenarnya aku tak yakin benar atau tidak, karena kondisinya yang memprihatinkan.
“Belok kanan di pertigaan, lurus lagi, kemudian akan ada tanjakan karena rumahku berada di daerah perbukitan, lalu setelah melewati tanjakan kau akan menemukan rumah makan” ia memberi arahan dengan suaranya yang lemas, tangannya terulur ke depan dan menunujuk-nunjuk jalanan yang harus kami lewati. Saat berbelok lagi-lagi aku tersadar akan sesuatu. Bukankah ini arah jalan pulang menuju rumahku? Bagaimana Ava bisa tahu? Apa gadis ini seorang penguntit? Aarrkkhh. Aku merasakan pergolakan batin. Namun akhirnya memilih terus mengikuti instruksinya.
Akhirnya setelah melewati jalan menanjak, dan sampai di depan sebuah rumah makan yang sudah tutup aku kembali bertanya.
“Lalu? Setelah itu kita harus ke mana?” Aku menoleh ke kanan, dan melihat wajah gadis itu yang setengah tak sadar, karena pusing dan mengantuk. Dan aku terkejut melihat cairan yang keluar dari mulutnya, gadis itu sedikit tertidur dengan air liur mengalir keluar dari mulutnya, dan pindah ke kemejaku. “Aissshh, kau ngiler saat tidur?! Haaaahhh kenapa tak mengatakannya? Aahh kemejaku.. aaarrgghh” Aku kesal sekali, gadis ini seperti terus membuatku susah. Namun Ava yang mendengar itu hanya sedikit mengerang
“Hei Levi… Kenapa kau sangat bereaksi berlebihan seperti ini? Sudahlah jangan di pikirkan, ayo lanjut berjalan..” Gadis itu tersenyum lalu terkekeh, sepertinya ia sangat senang dan ahli dalam membuatku kesal. Tangannya yang berada di atas dadaku menepuk dadaku pelan, seperti seorang pengendara kuda memacu kudanya. Akhirnya tak ada pilihan lain.
“Sudah-sudah, kita sudah sampai..” Ava memukul-mukul kepalaku pelan. Aku yang masih tak percaya hanya diam di tempat. Sialan, gadis ini benar-benar membawaku ke rumahku? Tapi, darimana ia tahu?. Batinku. Aku mulai berjalan ke arah pintu rumahku, namun tiba-tiba Ava memukul kepalaku dengan keras.
__ADS_1
“Kau gila hah? Itu bukan rumahku, itu rumah orang lain, kalau kau ingin cari masalah jangan di saat seperti ini!” Ava mengoceh tak karuan. Benar juga, mana mungkin Ava bercanda, pasti memang benar rumahnya di sekitar sini, tapi yang mana?. Batinku. Akhirnya aku berjalan sedikit lagi, karena aku yakin rumahnya di sekitar sana.
“Hei, hei.. kalau tak tahu tak perlu sok tahu! Itu rumahku, kenapa kamu terus berjalan?! Jangan membuatku marah, aku sedang lemas!” Jari telunjuknya mengarah pada sebuah rumah berpintu merah maroon. Mana mungkin! Rumahnya… berhadapan dengan rumahku?!. Aku benar-benar mengumpat dalam batin. Lalu dengan sangat berat, aku berjalan menuju pintu rumahnya. Lalu Ava menekan bel pintu beberapa kali, kemudian keluar seorang wanita dan pria paruh baya, mereka berdua membukakan pintu dengan raut wajah yang begitu khawatir, dan itu membuatku yakin, karena saat mereka melihat Ava kemudian saling berpandangan dan mereka tertawa tak jelas.
Aku menurunkan Ava lalu kedua orang tuanya memapahnya masuk. Aku yakin ini orang tuanya, mereka berdua nampak sama-sama kurang waras seperti putrinya. Batinku.
Mungkin untuk hari ini sampai disini kesialanku, namun mengetahui aku dan gadis ini bertetangga, aku malah semakin yakin kesialanku tak akan berhenti sampai di sini. Sepertinya dirimu harus lebih banyak bersabar mulai sekarang Levi.. gadis gila, ugh. Batinku. Itulah kisah, bagaimana aku bisa sampai kenal dengan gadis cerewet namun misterius itu.
***Bersambung***~
__ADS_1
*Jangan lupa like, follow author, beri rate 5 bintang, komen, kritik, pendapat dan saran, share, dan bisa juga memberi gift loh'v*