Cute Spy Detective

Cute Spy Detective
Eps.2


__ADS_3

Keesokan harinya, di pagi buta aku dan tuan jakob pergi melapor ke kantor polisi. Akhirnya para polisi dikerahkan untuk ikut turun dalam pencarian maria, bersama para warga desa, bahkan warga desa tetangga juga ikut membantu mencari maria ke manapun di kota kecil itu. Namun, meski sudah ratusan orang yang dikerahkan dalam pencarian itu, hasilnya tetap saja nihil, maria sulit ditemukan.


Aku yang menangisi maria masih tetap disibukkan dengan kedatangan pak direktur untuk meminta maaf padaku, ia sangat merasa bersalah, ia merasa ini semua salahnya.


"Maafkan aku Levi... seandainya malam itu aku tidak menyuruhmu lembur, seandainya aku tidak melakukannya, ini pasti tidak akan terjadi. Maria tidak akan hilang.. ini semua salahku Levi.. kumohon maafkan aku, bahkan mungkin seharusnya kau menuntutku saja" pak direktur bersimpuh dilantai, dan memegangi kakiku, dia menangis.


Aku? aku tentu saja menangis. Bahkan ucapan pak direktur pun aku tak berniat mengindahkannya, rasanya mudah untuk mengatakan seandainya, tapi waktu benar-benar tidak bisa diulang, aku hanya membuang muka pelan dari pak direktur. Bukannya aku tidak bisa memaafkannya, hanya saja aku rasanya kesal untuk mengingat hal itu lagi.


Hari sudah berlalu empat hari dari semenjak Maria dinyatakan hilang, para warga banyak yang sudah menyerah membantu melakukan pencarian, tentu saja aku mengerti, mereka pasti berpikir bahwa hampir tidak mungkin istriku itu masih hidup, sedangkan kasus penculikan, pemerkosaan, dan pembunuhan para wanita sedang marak di kota kecil itu. Banyak warga yang tidak ingin melanjutkan pencarian dengan alasan kalau mereka khawatir kepada istri atau anak-anak perempuan mereka, tentu aku hanya mengiyakan, aku tidak setega itu memaksa mereka.


Namun, dibandingkan para warga, yang paling membuatku sedih adalah Harry, anak itu masih mengira bahwa ibunya pergi ke rumah bibinya di luar kota. Kami semua sama sekali tidak menutup-nutupi tentang Maria, kami bahkan membicarakan masalah hilangnya Maria dihadapannya, tapi mungkin karena Harry masih terlalu dini jadi ia tidak bisa menangkap obrolan kami, lagipula salah satu dari kami pun tidak ada yang mau mengatakannya dan menjelaskan langsung pada Harry.


"Aku merasa kasihan pada bocah itu, meskipun masih terbata dalam berbicara, setip malam ia menanyakan 'kapan ibu pulang dari rumah bibi?' aku jadi bertambah sedih" Ibu duduk diteras, sambil mengusap-usap wajahnya sesekali dengan tangan karena menangis.


"Dimana sih anak itu? aku yakin dia masih hidup! Maria anak perempuan yang kuat'' Ayah ikut menangis, sudah beberapa hari ini kami bertiga seperti ini, kami bingung harus bagaimana lagi.

__ADS_1


Hari sudah berlalu satu minggu semenjak Maria dinyatakan menghilang. Pagi itu saat aku sedang bersiap untuk pergi bekerja, banyak sekali orang yang berjalan terburu-buru. Akhirnya aku menyapa salah satu dari mereka


"Tuan! Ada apa ini? mengapa ada banyak sekali orang yang pergi ke arah sana?" Aku menepuk bahu salah seorang dari mereka untuk berhenti.


"Apa tuan tidak tahu? tadi di pagi-pagi buta sekali, istri kepala desa menemukan mayat seseorang. Ia jadi menjerit histeris sekali.. ia ketakutan." jelas pemuda itu.


"Mayat? Dimana? Tapi keluargaku tidak tahu akan hal itu" aku masih bingung, namun tentu saja rasanya sebagian dari diriku takut sekali kalau ternyata mayat itu adalah mayatnya.


"Iya tuan, sepertinya sih mayat yang ditemukan adalah korban penculikan yang memang sedang marak di kota ini. Soalnya dia seorang wanita, kasihan istri kepala desa, ia pasti trauma, karena dirinya sendiri pun adalah seorang wanita" Pemuda itu menceritakannya dengan tatapan mata sendu.


"Ok tuan, saya akan kesana apa tuan mau ikut?"


"Ahh.. i-iya. Aku ikut" Aku terbata karena takut.


Akhirnya kami berdua berjalan bersama menuju tempat ditemukannya mayat itu.

__ADS_1


"Dimana tepatnya mayat itu ditemukan?" Tanyaku penasaran, lagipula tidak enak rasanya diam saja, itu malah semakin membuatku tegang.


"Ahh, emm dimana ya? dengar-dengar sih mayat itu ditemukan di jalan menuju jalan besar"


"Menuju halte?"


"Ah iya, iya. Jika digambarkan.. kalau kita ingin pergi ke halte kita harus melewati jalan yang bersampingan dengan kuburan kan? Nahh, mayat itu kiranya ditemukan di pinggir jalan itu" Jelas si pemuda.


Aku merasa bingung, jika itu benar adalah mayat Maria, dimana sebelumnya ia disembunyikan? padahal kita sudah mencarinya berulang-ulang kali di jalan itu. Atau sebenarnya, sebelum hal itu terjadi, maria masih hidup dan disembunyikan di salah satu rumah penduduk? Ahhh sialan rasanya kepalaku akan pecah. Mengapa aku harus memikirkan itu mayatnya, seharusnya aku meyakini dia masih hidup. Apa mungkin ini terjadi karena aku lelah mencarinya? apa pikiran-pikiran ini muncul karena aku ingin kepastian tentangnya, apakah dia sebenarnya masih hidup ataukah sudah mati. Aissshh tapi tetap saja seharusnya aku percaya dan memantapkan diriku bahwa maria masih hidup. Sialan lama-lama aku bisa gila.


Aku mengacak-acak rambutku, rasanya kepalaku akan meledak.


Saat kami berdua sampai di tempat itu, Orang-orang yang berkumpul disana menatapku dengan tatapan aneh yang tak kumengerti, sebenernya kenapa? aku jadi semakin takut menghadapi kenyataan apa yang akan terjadi padaku.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2