
_________________________________________
Kampus, 12 oktober
11:50
Aku duduk di bangku taman kampus, membuka bekal yang ku buat pagi tadi, tuna sandwich yang mengingatkanku pada gadis yang sedang aku tunggu kedatangannya sekarang, meski begitu daripada menunggu lebih lama dan membiarkan perutku berbunyi karena lapar, aku akhirnya memakan sandwich itu lebih dulu.
“Oi! Levi! Kau Levi ackerly teman Ava bukan?” sahut seseorang menyentuh pundakku dan duduk di sampingku. Pria itu tampak seperti berusaha sok akrab denganku.
“Iya, ada apa?”
Jawabku seadanya, tak peduli dengan keberadaannya, aku memilih melanjutkan menikmati makananku.
“Ava tak akan kemari, sebelum ke sini dan menemukanmu, aku melihat Ava sedang berbincang dengan seorang pria, sepertinya senior kita” Pria ini mengusap bahuku. Kata-katanya mencoba menyulut kemarahanku.
“Lebih baik bagimu untuk tak mencampuri urusan orang lain bocah” jawabku ketus
“Kukira kau itu pacarnya!”
“Bukan, dia budakku!” aku tersenyum kecut, mendengar jawabanku sendiri.
“Tentu saja, kau lah yang budaknya, aku pikir selama ini kau tampil dan hidup dengan bebas, seperti tak kan ada seorang pun yang bisa menguasai dirimu, namun hanya karena seorang gadis.. kau merusak citra dan jati dirimu yang sebenarnya! Ku kira kau berbeda, namun ternyata sama saja, pria sepertimu sama-sama penggila wanita” Pria itu membentakku sambil memukul bangku taman yang kami duduki.
“Gadis ini berbeda, seharusnya kau sadar, aku si a cold man ini bisa berubah sampai seperti ini karena gadis itu. Ia gadis yang unik, suatu saat kau akan berada di posisiku, kau menemukan seorang gadis yang unik menurut sudut pandangmu” Aku tersenyum miring, karena sebenarnya tak yakin pada hal itu.
Aku tak pernah percaya pada hal yang barusan aku katakan, mungkin hanya tak benar-benar percaya, karena setengah dari hatiku ada yang berharap hal itu menjadi kenyataan.
“Aku benci gadis” pria itu bangkit lalu meninggalkanku.
®®®®®®
Akhirnya jam pun berakhir, aku membereskan dengan asal apa yang ada di atas mejaku, lalu keluar dari kelas pada urutan terakhir.
__ADS_1
“Levi! Ikut saya ke ruang guru!” ucap nyonya Shelly dosen bahasaku.
“Hah?” jawabku pendek, pura-pura tak mendengar.
“Seperti biasa, kau ini inginnya apa sih? Nilai-nilaimu jelek sekali, menurut ku kau ini terlalu bodoh untuk di terima di kampus ini” Nyonya Shelly dosen kami itu, terus mengomel di sepanjang jalan menuju ruangan guru.
“Aku sebenarnya juga tak berminat pada kampus menjijikan ini” sahutku sambil membuang muka.
“Sungguh anak tak tahu malu, tak punya sopan santun, tak tahu di untung! Semua ini, kau dapat dengan mudah tanpa harus berusaha seperti mereka anak-anak lain! Jika tak ada orang tua mu.. kau pasti tak kan pernah bisa menjalani kuliah di sini! Bayangkan para anak-anak lain, mereka berusaha keras untuk mendapat beasiswa kuliah di sini, aahh.. tak perlu jauh-jauh mencari contoh, Ava teman gadismu itu meraih beasiswa dengan bersungguh-sungguh, nilai-nilainya di sekolahnya dulu membuktikan semua Itu, nilainya selalu saja yang terbaik, meski gadis itu memang buruk dalam bidang olahraga dan menyanyi, tapi bisakah kau sekali saja menjadikannya panutan? Menjadikan dirimu merasa ingin menjadi seperti dirinya!” Nyonya Shelly sedikit membentakku, dosen itu memukul dinding lalu menangis, mungkin lelah akan sikapku yang tak banyak peduli pada usahanya, mengusahakan aku supaya tetap bertahan dan tidak di keluarkan dari universitas.
“Selalu, aku selalu menjadikan gadis itu panutan, keinginan, tujuan.. gadis itu terlalu luar biasa untuk tidak di jadikan panutan oleh orang-orang, meski mulutnya senang sekali mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya tak penting di katakan, sering mengoceh tak karuan,
namun gadis itu tetap gadis yang paling menawan dan dermawan yang pernah aku temukan” ucapku lembut, aku hanya ingin menunjukkan pada Nyonya Shelly, agar ia tahu bahwa tak hanya dirinya aku juga sebenarnya tahu banyak tentang Ava. Wanita itu pun sedikit terkejut mendengar ucapanku.
Aku di sini, di ruangan kepala Rektor sekarang, di ruangan itu berdiri tuan Anderson dosen psikologi di kelas Ava. Dan aku begitu di kejutkaan dengan keberadaan Ava di sampingnya.
“Oi Levi!” Seru gadis itu bersemangat, wajahnya berseri-seri senyum yang lebar ia tunjukan. sempat-sempatnya ia menyapaku?!. Batinku.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman terpaksa.
“Tentu saja, ia terkenal di seluruh penjuru sekolah” jawabku pendek.
“Jangan berlebihan!” Sahut gadis itu tiba-tiba.
Mulutnya berkata begitu tapi tubuhnya menunjukan bahwa dirinya senang sekali di puji. Batinku.
“Iya, gadis pintar dan baik hati ini akan menjadi pembimbing belajarmu mulai sekarang, belajarlah dengan baik dirumah bersamanya” sahut tuan Anderson, lalu mengelus kepala Ava, dan Ava tersenyum.
“Pem-pem-pembimbing? Apa maksudnya?” Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Mungkin otakku masih tertinggal di kelas, karena tertidur tadi.
“Ava! Jelaskan padanya!” Sahut nyonya Shelly
“Sebenarnya aku juga tak paham, heheh” Ava menggaruk tengkuknya yang sepertinya tidak benar-benar gatal. Pak Rektor yang mendengar itu, menatap sedikit aneh pada gadis itu.
__ADS_1
“E-eh.. maaf pak, siswi saya emang begini, kadang dia sedikit lama mikir, hehehe” Tuan Anderson menyikut pelan lengan Ava. Seperti memberi isyarat, apa yang harus Ava katakan dan lakukan.
“Eeehh.. Baiklah pak kepala, begini Levi.. karena nilaimu yang sedikit hancur tak keruan itu, pak kepala akhirnya memintaku untuk membantumu, dengan menambah waktu belajarmu di rumah, karena kita begitu dekat, sudah semestinya kan, pak kepala memilihku menjadi pembimbingmu?! Ehe” Gadis itu terus menggaruk tengkuknya lagi, lalu tuan Anderson terkekeh sambil memukul bahuku. Nyonya Shelly juga tersenyum kecut, menahan tawa. Dan aku hanya diam, bingung bagaimana harus bersikap.
“Jadi? Kau setuju kan Levi?” tanya pak Rektor, yang berganti memandang ke arahku.
“E-eh..” Aku bingung harus mengatakan apa.
“Setuju ataupun tidak, kau tetap harus setuju, dan mengikuti apa yang telah menjadi keputusan kami para guru” ucap pak Rektor yang kemudian berdiri dan berlalu keluar.
“Anda ingin kemana pak?” sahut tuan Anderson
“Ke kantin, istriku lupa membawakan bekal makan siang” Kepala Rektor tersenyum, membungkuk pendek pada satu persatu dari kami.
“Kalau begitu, Ava dan Levi, kalian kembalilah ke ruangan masing-masing” ucap tuan Anderson. Pria itu mendorong punggungku pelan, lalu ganti dengan mendorong punggung Ava pelan ke pintu keluar.
“Lalu kalian berdua?” sahut Ava sebelum keluar, sedangkan aku hanya bisa menarik-narik lengan bajunya, bermaksud agar ia tak mengatakan hal-hal yang tak perlu dikatakan, namun sudah terlanjur keluar dari mulutnya.
“Oi! Sudah berani bicara tak sopan dengan dosen hah?! Sudah sana, ini ruangan para dosen dan staff pengajar, jadi wajar jika kami di sini” ucap tuan Anderson dengan nada suara di tinggikan tanda bahwa ia kesal.
“Baiklah, selamat tinggal” jawab Ava, melambai beberapa saat dan kemudian ku tarik ia keluar.
***Bersambung***
\*Jangan lupa like, komen,share, beri rate 5 bintang, vote, follow author, bisa jg memberi gift atau tip jika suka.
__ADS_1
Semoga harimu menyenangkan\*')