Cute Spy Detective

Cute Spy Detective
Chatty Girl on My Back


__ADS_3

“Aku membenci seseorang yang banyak bicara. Kataku suatu hari. Namun setelah menemukannya , aku berpikir ulang, karena sebanyak apapun ia bicara, aku menyukainya”


_Rivaille River


“Kalau begitu? Kasus ini selesai, berdasarkan hukum undang-undang federal yang membentuk yurisdiksi, berarti Tuan Chris mendapatkan hukuman penjara seumur hidup, atas hasil pengakuan pembunuhan tingkat satu. Pengadilannya akan dilaksanakan nanti” Ucap tuan Baker dengan santainya. Ia memakan beberapa potong pizza yang dibelinya saat keluar tadi. Ava duduk di samping tuan Baker lalu langsung mengambil pizza yang ada di tangannya dan langsung melahapnya.


“Tak sopan sekali gadis ini,,” Tuan Baker tertawa, ia mengusap-usap kepala bagian belakang Ava, Ava memajukan bibirnya cemberut, jelas sekali ia tak menyukai hal itu. Pandanganku kembali ke petugas polisi yang menangani tuan Chris, tuan Chris di perintah membuat surat pengakuan dan menjelaskan kronologis nya dengan jujur.


“Oi oi, kau yang membuatku tertarik dengan kasus ini, sekarang aku lelah dan kau tidak bilang ingin keluar tadi, padahal aku ingin menitip beberapa makanan. Menyebalkan sekali..” Ava membuang muka sambil sedikit bergumam, tuan Baker semakin tertawa dibuatnya. Wajah gadis itu sangat lucu saat sedang marah. Aku masih berdiri, aku tak tahu apa yang membuatku masih disini, padahal jelas aku baru mengenal gadis itu malam ini, namun seperti ada sesuatu yang membuatku dengan senang hati menunggu.

__ADS_1


“Duduk di sini levi.. Aku tidak ingin kolegaku kelelahan malam ini karena terlalu banyak berdiri” Ava menepuk tempat duduk di sofa itu yang masih tersisa. Namun, aku menggeleng, aku tak mau duduk diantara mereka berdua, lebih baik bagiku berdiri dan memperhatikan mereka berdua juga memperhatikan tingkah lucu Ava.


“Kau benar-benar lebih menyebalkan dari yang kuduga ternyata ya.. Kau ingin aku menyeretmu untuk duduk hah?!” Matanya melotot suara yang ia keluarkan pun volumenya tinggi sekali.


Aku paling tak menyukai seseorang yang banyak bicara dan berteriak saat bicara dengan orang lain, dan gadis itu memiliki kedua hal yang tak kusukai ini. Benar-benar gadis tak punya rasa malu. Umpatku dalam hati. Lalu akhirnya aku duduk, namun aku memilih duduk di bawah, di atas karpet yang lumayan nyaman juga, sepertinya karpet mahal. Ava yang melihatku mungkin sedikit kesal, aku sudah bersiap-siap jika ia benar-benar akan menembakku dengan begitu banyak ocehannya, namun sebelum itu terjadi tuan Baker angkat bicara, dan menanyakan perihal kasus itu.


“Menurutmu? Bagaimana pria itu membunuhnya?” Dari sorot mata tuan Baker, ia nampak sudah mengetahui segalanya, dan ingin mengetes kemampuan penalaran dan analisis milik Ava.


“Lalu? Mengapa dari awal kau benar-benar yakin bahwa yang membunuh wanita itu adalah suaminya sendiri? Hmm..?” Tuan Baker terus melempar banyak pertanyaan pada gadis itu, ia sampai kewalahan menjawabnya, ia terus bicara sambil mengunyah makanan di mulutnya.

__ADS_1


“Aku sangat yakin, karena dari keadaan mayat wanita itu jelas sekali ia tak memberi perlawanan pada saat pelaku menyerangnya, dan aku yakin pelaku sebenarnya tak berniat membunuh korban dengan cara menikamnya, sebagai buktinya aku menemukan sedikit bekas muntahan korban di bantalnya yang menurutku digunakan pelaku untuk membunuhnya dengan cara menutup area jalur pernapasannya. Ya… agar itu semua berhasil pelaku harus membuat korban tertidur nyenyak dulu bukan? Akhirnya pagi-pagi sekali pelaku memberi minuman yang telah diberi obat tidur kepada korban, lalu korban dan pelaku pergi ke tempat makan dan minum-minum disana, itu semua pasti membuat korban sangat pusing, namun untuk lebih memastikan bahwa rencananya akan berhasil si pelaku memberi obat tidur lagi pada minuman korban, itu pada saat korban berbincang sebentar di rumahnya sesaat sebelum si teman pulang. Itu sih hanya pemikiran dan opiniku hehe..” Lagi-lagi Ava menjelaskan panjang lebar, namun aku masih sulit mencernanya. Aku lebih memilih memperhatikan obrolan keduanya.


“Kau memikirkan begitu hanya dengan mencium bantalnya?” Tuan Baker sedikit membelalakan mata setelah mendengar nya.


“Memang benar kebanyakan obat tidur tak memiliki bau, tapi yang pelaku gunakan ini berbeda… aku mencium bau aneh.. seperti.. apa ya.. ahh, aku tak peduli baunya seperti apa, tapi aku yakin dari baunya jenis obat yang pelaku itu gunakan adalah paraldehida, obat ini merupakan polimer dari asetaldehida, yang mempunyai bau dan rasa yang sangat tidak enak, tetapi termasuk obat tidur yang sangat kuat dan cepat bekerjanya yakni sekitar 10-15 menit, mungkin ini alasannya pelaku memilih obat ini. Ditambah lagi Obat ini sekarang sudah tidak banyak digunakan lagi karena dapat menimbulkan penyakit pada saluran pernapasan dan saluran lambung usus. Mungkin pelaku memilih obat ini, agar ia tak terlalu lama dalam membunuhnya dengan menutup saluran pernapasan korban, karena obat ini juga akan merusak saluran pernapasan orang yang meminumnya. Dan mengenai anak nya, mungkin saat ia tengah asyik tidur siang, ia mendengar suara dari kamar ibunya, lalu pergi ke kamarnya dan melihat ayahnya melakukan pembunuhan pada ibunya, aku sih yakin si anak ini tak mengerti apa yang sedang di lakukan ayahnya terhadap ibunya karena usianya saja masih 2 tahun. Namun mungkin berbeda, mungkin di dalam pemikiran pelaku, anak ini saat besar nanti akan mengingat kejadian ini dan membongkarnya pada kepolisian, maka ia memutuskan membunuhnya juga, padahal menurutku yang mana aku sendiri seorang mahasiswi psikologis, seseorang sangat sulit dan sangat besar kemungkinan akan melupakan masa lalunya, yaitu masa lalu ketika ia mulai dilahirkan dan sampai masuk ke sekolah pendidikan usia dini, dan jelas anak ini pun jika di biarkan hidup sebenarnya tak jadi masalah…” Air muka Ava berubah, seperti ada rasa sesal di wajahnya. Ava tertunduk, kelopak matanya berkedip lebih cepat dari biasanya.


“Ada apa?” tanyaku, ia yang terkejut menoleh dengan wajah kaget. Aku tersenyum kecut, menahan tawa. Lalu mengulang pertanyaan “Mengapa kau tampak, menyesali sesuatu?” Aku memandang lurus ke arah matanya, lalu matanya bergerak ke kiri menjauhi pandanganku, ia nampak berpikir. Lalu menunduk lagi. Aku menoleh ke arah tuan Baker, pria setengah baya itu tersenyum. Apa-apaan senyumnya itu, aku menengok ke arahnya untuk mencari jawaban, mengapa ia malah tersenyum! Menyebalkan. Umpatku dalam hati. Lalu, tanganku bergerak ke atas kepala Ava dan menepuk kepalanya lembut, namun aku memilih membuang muka, tak ingin aku melihatku melakukan itu padanya. Aku tak bisa membayangkan seperti apa wajahnya sekarang, apa wajahnya akan memerah sama seperti di anime, tapi aku hanya membayangkan, aku sungguh tak berani menoleh dan mengubah arah pandangku ke arahnya.


Namun tiba-tiba

__ADS_1


“Bodoh!” Gadis itu memukul kepalaku keras, langsung saja aku menggosok-gosok kepalaku yang rasanya sakit sekali. Dasar, gadis sialan, aku kira wajahya akan memerah, ternyata tetap saja ia seperti hewan buas. Ahh, sialan ini benar-benar sakit sekali… Batinku. Akhirnya aku menoleh ke arahnya, sekarang nampak Ava yang melotot ke arahku, nyaliku ciut. Aku memilih lanjut memakan pizza sambil menggosok-gosok kepalaku yang masih sedikit sakit.


Bersambung~


__ADS_2