Cute Spy Detective

Cute Spy Detective
Eps.5


__ADS_3

_________________________________________


“Hegard, Ia sahabat kecilku, usianya tiga tahun lebih tua dibanding aku, ia anak lelaki yang paling baik, yang pernah aku temui seumur hidupku..” Setelah itu mengalirlah cerita panjang mengenai pria itu, pria yang ia anggap menjadi sahabat kecilnya, namun membuatnya menangis.


“Aku dan ia seperti adik dan kakak, dulu saat aku tinggal di brooklyn aku tinggal bertetangga dengannya, kami sering bermain bersama, saling melindungi satu sama lain. Teringat, saat kecil tubuhku lebih besar dan lebih tinggi darinya, anak lelaki itu tampak lemah, namun aku ada di sana untuk membelanya, kami bermain bersama teman sebaya kami, namun waktu yang kami habiskan bermain berdua jauh lebih banyak.


Pernah suatu hari saat kami bermain hujan di taman, ia terpeleset, aku yang memilih berteduh langsung datang untuk menolongnya, namun sialnya tanah licin itu membuat ku terpeleset juga, meski begitu aku bangkit dan membantunya, ternyata anak itu terluka, kedua lututnya berdarah, dahinya juga karena terkena batu. Aku pun menawarkan untuk menggendongnya di punggungku, sebenarnya ia menolak, karena melihat betisku yang berdarah dan pipiku yang berdarah juga akibat tergores aspal. Namun karena ia masih menangis, aku pun memaksanya naik ke punggungku, ku bilang padanya “Daripada kita berdua di sini kesakitan, akan lebih baik aku membawaku pada ibumu” setelah beberapa paksaan, akhirnya ia naik ke atas punggungku, kami pulang sedikit sore saat matahari mulai terbenam. Di punggungku, ia menceritakan banyak hal, aku tak ingat itu karena yang teringat selalu kenangan bersamanya dan wajahnya” Aku melihat gadis itu menceritakan kisahnya sambil menatap langit, lalu terdengar suara yang menunjukan bahwa ia menangis.


“Ava, kamu menganggap dia sahabat masa kecil bukan? Kalau begitu, siaplah kamu ditinggalnya saat kamu dewasa, dia sahabat masa kecil mu, menemanimu saat kecil dan ketika kau dewasa, ia akan pergi.” Mataku mulai berair, terbawa perasaan yang sebenarnya malam ini meluap-luap terbakar cemburu, cemburu karena orang yang diceritakannya bukan aku. Namun, mengesampingkan perasaanku yang memang tak penting, aku malah di sini mendengarkan semua ini.


Ava ganti memandang lurus ke depan, menatapku. Gadis itu tersenyum, lalu terkekeh sambil membuang muka, mungkin tak ingin ketahuan bahwa ia tertawa. Aku yang berada di seberang sini ikut tertawa juga mendengar nya tertawa.


“Aku sampai lupa..” katanya sambil terkekeh pelan


“Hah? Lupa apa?” aku heran


“Lupa kalo aku punya seorang Levi, yang sekarang setia banget nungguin aku selesai cerita, makasih loh! Hehe” Ia tersenyum sambil menganggukan kepalanya.

__ADS_1


Perkataannya benar-benar membuatku seperti tersetrum, rasanya sangat senang aku merasa ia pasti bisa menghargai perasaanku, aku merasa ini kesempatanku mengambil hatinya. Namun di pikir lagi, Ava bukan barang yang bisa di perlakukan seperti itu. Lagi-lagi perasaanku untuk merebut hatinya karena ada kesempatan harus terkubur dalam-dalam karena harus mementingkan perasaanya.


“Aku bukan sahabat kecil kamu va..” kataku


“Aku tau, kamu sahabat dewasaku.. hahaha” Ava terkekeh, sampai memegangi perutnya, sakit.


“Seandainya iya, berarti aku akan hilang juga” kataku pelan.


“Kok gitu?” ia memberi isyarat kenapa, dengan bahu dan tangannya diangkat ke atas.


“Kau bilang aku sahabat dewasamu, itu menunjukkan aku akan hilang saat kita menua.”


“Aku tak mau memiliki peran, mungkin aku hanya seseorang yang mengikutimu, di belakangmu, dan berusaha melindungimu, berusaha menjadi seseorang yang selalu ada saat kau butuh seseorang di sampingmu” Aku tertawa setelah mengucapkan itu, agar perasaan yang tersirat di dalam perkataanku tadi itu, sulit untuk di ketahui olehnya.


Saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 01:30, kami pun berniat mengakhiri percakapan yang menguras emosi ini.


“Kalau begitu Levi kau harus membantuku merebut perhatiannya!!” ucapnya dengan semangatnya yang sepertinya sudah kembali.

__ADS_1


“Hah?” aku heran, bagaimana tidak heran, perasannya bisa berganti secepat itu.


“Karenaaaa... dia ternyata senior di kampus kita!!” teriaknya, ia tampak sangat senang, berbeda dengan dirinya yang di awal tadi.


“O-oo..wwhh.. baiklah-baiklah!” Balasku dengan tegas meski ragu.


“Sampai bertemu besok Levi, semoga mimpimu malam ini sangat indah, terimakasih sudah mau dengar banyak cerita dariku, selamat malam” ucapnya lembut, dadaku berdesir mendengar suaranya, ia melambai sambil sedikit berjinjit dan melompat, mungkin tanda bahwa ia senang hari ini bisa mencurahkan apa yang berada dalam hatinya padaku. Atau mungkin karena besok adalah hari dimana ia bangkit dan akan berusaha lagi merebut perhatiannya, semua perkataan-perkataanku, saran-saran dariku, memang tampak seperti menyuruhnya untuk terus memperjuangkan pria itu, tapi hatiku berkata lain, apa Ava tak pernah sadar selama ini sikapku berbeda padanya, itu karena aku tertarik padanya, namun mau bagaimana lagi, perasaan pribadiku harus aku kesampingkan lagi demi perasaan gadis ini, aku tak tahu sampai kapan ini berakhir.




***Bersambung***~



***Jangan lupa like, vote, komen, share, favoritkan,follow author, beri rate 5, vote, dan bisa juga memberi gift atau tip. Semoga kau suka.

__ADS_1



Semoga harimu menyenangkan***')


__ADS_2