
Wanita itu mengangkat kepalanya, melihatku, di situlah aku benar-benar terkejut.
"Ava.." Gumamku sangat pelan.
Wanita itu hanya memandangku lama, lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia tampak benar-benat terkejut.
"Apa kau benar-benar Levi...?" Mata wanita ini berkaca-kaca, menahan tangis. Aku mengangguk pelan. Lalu melihat jawabanku tangisnya pecah.
"Levi.. Levi.. aku.." Ia berusaha bicara, tapi seperti tak mampu mengeluarkan kata-kata, seperti perasaannya saat ini tak mampu dia ucapkan dengan kata.
"Ibu? Ada apa?'' Tanya Cali, gadis kecil itu menarik ujung lengan baju Ava.
Gadis kecil ini memanggilnya ibu, pantas saja aku merasa sangat akrab dengannya, sedikit familiar dengan sikapnya, mungkin benar karena ini, karena ia darah dagingnya, darah Ava mengalir di tubuh gadis kecil ini.
"Aduh, mata ibu benar-benar perih, bisakah kalian pergi ke sana? Di sana ada paman Aaron, katakan padanya ibu akan menyusul kalian sebentar lagi setelah mata ibu sedikit baikan, ibu akan membeli obat tetes mata di toko itu. Cepat-cepat.. kalian akan telat ke sekolah.." Ava mendorong pelan kedua gadis kecil itu.
"Baiklah.. Oh iya paman super hero, jangan lupa berjanjilah, bahwa kita akan bertemu lagi!'' Ucap Cali sebelum meninggalkan kami berdua.
"Aku juga, jangan lupakan aku loh paman!'' Sahut Brielle tak mau kalah. Aku yang mendengarnya hanya tersenyum pada mereka lalu mengangguk.
Setelah dua bocah itu menghilang dari pandangan, aku melihat ke arah Ava.
"Jadi?" Tanyaku.
"Atas nama kedua orang tuaku dan suamiku aku benar-benar minta maaf kepadamu Levi.. Tolong maafkan aku" Ava menatapku, air matanya tak berhenti keluar.
Maria, bagaimana aku menghadapi wanita ini, demi tuhan aku sudah tak memiliki hubungan apapun dengannya, jangan salah paham Maria, mohon percayalah pada suamimu ini. Batinku.
"Aku tak merasa jika kalian bersalah, mungkin seharusnya aku yang mundur sejak awal, mungkin jika aku tahu diri dan kita tak berpacaran, saat seperti ini tak akan terlalu menyakitkan kan?" Ucapku pelan.
__ADS_1
"Tapi.. tapi Anthony.." Ia berusaha mengatakan sesuatu tapi tertahan.
"Lupakan, lagipula hal itu sudah terjadi 10 tahun yang lalu, dan lagi pula aku merasa bahwa itu tak sepenuhnya salah Anthony, ia mencintaimu, karenanya ia berbuat seperti itu padaku" Ucapku, berusaha kuat, aku sendiri sangat merasa sakit hati, bagaimana aku yang masih berstatus pacarnya, tak tahu bahwa Ava telah di jodohkan tanpa sepengetahuanku, aku sangat ingat, bagaimana orang-orang suruhan ayahnya menjebakku, dan mengurungku di tempat yang aku sendiri tak tahu dimana, butuh dua minggu aku keluar dari sana, dan mencari Ava.
Parahnya aku malah mendengar, bahwa Ava dan pria itu akan menikah besok, tanpa aku tahu, tanpa mengundangku, aku tak berniat mendapat undangan, hanya saja aku merasa terkhianati, bagaimana bisa seorang pria yang pernah menjadi ayahku tega melakukan ini padaku.
Saat aku datang ke acara pernikahan itu, bahkan orang tua itu sama sekali tak memiliki niat untuk sekedar melihatku, ia malah melaporkanku pada polisi, dan aku di tahan, hanya seminggu memang, tapi dari situ banyak luka yang aku dapatkan, tak hanya fisik, tapi juga jiwaku.
"Aku mencarimu Levi, 10 tahun aku mencarimu..." Ava menenggelamkan kepalanya ke tangannya yang di lipat di atas meja.
"Aku tahu, aku tahu pasti kau mencariku.." Ucapku lembut, gadis itu benar-benar menangis.
Aku tahu kau mencariku Ava, aku tahu benar sifatmu, kau pasti akan mencari dan mengejar apa yang kau inginkan, tapi bukannya aku tak ingin mencarimu lagi saat itu, hanya saja aku sudah menyerah, menyerah atas dirimu. Ucap batinku yang rasanya benar-benar meleleh saat ini.
"Lalu? tak pernahkah kau mencariku? Sedikit saja, katakan bahwa kau mencariku Levi.." Ia menangis.
"Tidak, tidak pernah sama sekali." Mendengar jawabanku ia menangis. Tangisannya terdengar lebih keras.
"Hhhh. Aku tahu, kau pasti benar-benar kacau saat itu, tapi aku malah tidak berada di sampingmu, jadi aku tak menyalahkanmu, aku hanya ingin meminta maaf atas nama suamiku dan kedua orang tuaku, bahkan mungkin atas nama diriku sendiri yang tak pernah membuatmu merasa bahagia saat bersamaku. Sejak awal dekay denganmu pun aku tahu, sama seperti apa yang sering kau katakan padaku, aku hanya membawa kesialan, aku hanya membuatmu pusing, aku hanya merepotkanmu.. aku tahu, jadi sekarang aku, Ava Raynee, meminta maf dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati pada pria cinta pertamaku, yang duduk di hadapanku, bahwa aku telah terlalu banyak menyakitimu. Maafkan aku" Ia berdiri, lalu membungkukkan tubuhnya, aku tahu ia menangis.
"Aku memaafkanmu." Aku menariknya meninggalkan tempat itu.
"Pulanglah, aku yakin suamimu mencarimu'' Kataku, lalu mendorong punggungnya pelan.
"Tidak, aku dan dia sudah resmi bercerai 7 tahun lalu, setelah aku melahirkan Cali." Ia tersenyum tegar, tertunduk. Sedangkan aku sedikit terkejut.
"Bagaimana denganmu Levi? Siapa wanita yang berhasil mencairkan es yang ada di hatimu?" Tanyanya sambil terkekeh.
"Namanya Maria, mungkin aku akan menceritakannya padamu kapan-kapan" Jawabku sambil tersenyum hambar.
__ADS_1
"Owh iya tadi itu anakku, namanya Cali, maaaf telah merepotkanmu'' Katanya
"Ahh tidak apa, orang dewasa memang harus di repotkan oleh anak-anak kan, kalau bukan kita siapa lagi'' Balasku sambil terkekeh.
"Kau sudah punya anak?" Tanyanya lagi.
"Iya, namanya Harry, kapan-kapan aku juga akan memperkenalkannya padamu." Aku tersenyum.
"Baiklah, semoga kita bisa bertemu lagi.. sampaikan salamku pada Maria dan Harry!" Katanya dengan senyuman lebar.
Maaf, tapi istriku sudah meninggal" Sahutku, lalu menunduk dalam
"Apa?"
"Iya, ia di bunuh oleh seseorang, kasus itu sudah lama sekali mungkin sekitar 5 tahun lalu. Pembunuhnya belum tertangkap, tapi polisi sudah menutup kasusnya" Ucapku pelan
"Bagaimana mungkin.." Ucap Ava sedikit terkejut.
"kau tak perlu terkejut seperti itu, sudah kubilang aku pasti akan menceritakannya padamu suatu hari nanti. Lebih baik kau pergi, aku sudah sangat terlambat untuk bekerja" aku bangkit hendak pergi meninggalkannya.
"Bagaimana caranya aku menemukanmu? kau tidak akan menghilang lagi kan? aku tidak bisa membiarkan itu" ucapnya dengan nada suara yang terdengar cemas.
"Feura Bush 12067 albany, no 39"
"Alamat rumahmu?" Ia menatapku dengan wajah berseri.
"Kau bisa datang kesana, akhir pekan ini" Aku langsung bergegas keluar dari sana. Ia mengikutiku.
"Terimakasih Levi! aku pasti akan datang! aku janji!" Ia berteriak riang, sepertinya ia sangat senang mendapat alamat rumahku.
__ADS_1
Aku baru merasa sedikit menyesal saat aku sudah sampai kantor, aku pikir tak seharusnya aku memberikan alamat rumahku pada orang lain begitu saja. Meskipun Ava pernah menjadi orang yang sangat aku percayai, tapi sekarang seharusnya bagiku ia hanyalah orang asing.
Bersambung...