Cute Spy Detective

Cute Spy Detective
Eps.6


__ADS_3

Aku dan Ava sudah berada di bandara, menunggu sambil mengecek gate keberangkatan. Setelah sekitar satu jam kami menunggu akhirnya kami pun terbang menuju Sidney. Di penerbangan ketigaku ini, memang tampak tak ada yang special, tapi gadis yang berada di sampingku membuat penerbanganku kali ini beribu-ribu kali lebih spesial. Gadis itu benar-benar tak bisa diam, ia melihat-lihat semua yang ada di sekitarnya, banyak mengoceh tentang perbedaan rasa penerbangan yang ia alami sekarang dengan yang di ceritakan orang-orang.


Namun, tiba-tiba,


“Aku mencintaimu Levi” Sahutnya pelan. Aku terkejut, namun saat aku menoleh padanya dengan wajahku yang masih terkejut, ia menampar pipiku agak keras dan segera memalingkan wajahnya.


“Ulangi” kataku.


“Tak ada apapun” jawabnya ketus.


“Cinta?” kataku dengan nada meledek, sedikit menggodanya dengan terus mengatakan kata itu.


“Aku kesal padamu” Ia cemberut.


Setelah menempuh waktu selama 19 jam 16 menit berada di udara kami pun sampai di Bandara Sidney, pada pukul 7:45 pagi, waktu setempat. Seorang pria menjemput kami, dan membawa pergi kami dengan mobil hitam yang aku tak yakin itu adalah miliknya. Mobil Mercedes Benz AMG GLS63 yang termasuk mobil yang sangat mahal bukan?.


“Kita akan ke mana tuan?” tanya Ava penasaran.


“Bertemu orang tua kandung nona” Pria itu tersenyum ramah namun tampak tetap menunjukan sisi tegasnya.


“Mengapa tak orang tua ku yang menjemput kami berdua di bandara?” Ava tampak sangat kecewa.


“Mereka sedang sibuk nona” mendengar itu Ava semakin kecewa.


“Sudah kubilang kan Levi..” Aku hanya mengangguk setuju atas perkataannya.


Aku dan Ava duduk di jok belakang mobil, Ava banyak bicara tentang Sidney dari buku-buku yang pernah ia baca, dan aku ikut berbicara tentang Sidney dan bilang bahwa itu dari buku-buku yang pernah aku baca juga, namun tentu saja itu hanya sesuatu kebohongan, aku sama sekali tak tertarik membaca buku, dan pengetahuan ku tentang Sidney itu berasal dari semua pengalaman ku berkunjung ke salah satu kota terbesar di Australia ini.

__ADS_1


“Kita sudah sampai” sahut pria itu. Aku dan Ava sedikit terkejut, namun langsung menetralisirnya.


“Silahkan turun nona” Setelah pria itu mempersilahkan kami turun, ia masuk kembali kedalam mobil dan meninggalkan kami di depan gedung itu.


“Masuk?” tanyaku tidak yakin.


“Emm.. tentu saja” jawab Ava. Ia langsung menarik lenganku dan menarikku berlari masuk ke gedung itu.


“Oi jangan membuat malu aaaa…!!” Gadis itu tetap pergi masuk kedalam dengan berlari. Otomatis aku ikut tertarik olehnya.


Sesampainya di resepsionis,


“Permisi nyonya, aku ingin bertanya ruangan..” Belum selesai Ava bicara, tiba-tiba ada seorang wanita menghampiri nya.


“Nona Ava Raynee?’’ tanya wanita itu. Ava mengangguk pelan, tampak bingung.


Akhirnya kami sampai di depan sebuah ruangan yang terletak di lantai 5 di gedung itu. Pintu besar, mengingatkan aku akan pintu yang ada dalam film-film hantu. Pintu perlahan terbuka, lalu setelah itu kami masuk ke dalam, dan wanita tadi meninggalkan kami. Sekarang, di hadapan kami hanya ada meja kerja yang kursinya menghadap ke kaca jendela besar di belakang nya.


“T-tuan..” ucap Ava gugup.


Seketika itu, kursi itu berputar 360° menghadap ke arah kami, dan menampakkan wajah seorang pria.


“KAU?!” Sahutku dan pria itu bersamaan.


“Levi?” Ucap pria itu dengan nada terkejut.


“Ayah?” kataku dengan nada berlipat-lipat ganda terkejutnya.

__ADS_1


“Kalian?” ucap Ava mengikuti, lalu ia tertawa keras.


“Kalian berdua ayah dan anak? Wah wah.. Hahahaha” Ava tertawa keras sekali, sambil memegangi perutnya.


“Ava.. kau membawa bocah yang benar,,” kata pria paruh baya itu. Yang ternyata ia ayahku, namanya Robert.


“Hah?” kataku dan Ava berbarengan.


“Levi adalah anakku, ia adalah anak yang tertukar denganmu” katanya pelan.


“A-ap-pa?” sahut aku dan Ava bersamaan, tak percaya pada ucapannya.


“Iya, kalian anak tertukar itu, dan aku tak tahu jika Ava bisa membawamu ke sini levi, sungguh benar-benar hebat putriku ini” ucap pria itu bangga.


“Aku tidak tahu jika levi.. ternyata benar-benar.. a-aa..” Ava menutup mulutnya, merasa tak percaya pada kenyataan ini.


“Apalagi aku.. aku tak pernah menyangka, kita tertukar hahaha” Aku tertawa, berusaha menetralisir keadaan, meski aku masih benar-benar terkejut.


“Jadi, anak yang kita bicarakan kemarin itu ternyata kau Levi...” Ava menepuk pundakku pelan dan lembut, seperti menunjukan rasa iba dan kasihan, sekaligus meledek.


“Yayaya, itu ternyata aku, sudah kuduga sih”


“Suram” Ava meledekku lagi.


“Memang, dan sekarang mungkin giliranmu” ucapku pelan tepat di telinganya. Lalu Ava tertawa kecil.


Dan setelah obrolan berisi beberapa penjelasan panjang dan pernyataan ini berakhir, aku dan Ava pun di bawa untuk sementara tinggal di sebuah hotel milik tuan Robert.

__ADS_1


__ADS_2