Cute Spy Detective

Cute Spy Detective
Bonus chapter.


__ADS_3

"Ibu, ayah.. aku berangkat! Tolong antarkan putraku ke sekolah, sepedaku aku tinggalkan di taman kemarin, jadi Harry ku serahkan pada kalian! Mohon bantuannya!" Sahutku sambil mengikat tali sepatuku dengan terburu-buru.


"Tentu saja, Harry selalu menjadi anak berani jika bersama kakek nya! Benar kan nak? Ayo, ayo kemarilah.. kita harus segera bersiap ke sekolah" Ucap ayah, pria tua renta ini sangat pandai merayu anak kecil.


''Hei! lagi-lagi kau ingin meninggalkan bekal mu ya?!" Teriak ibu dari arah dapur, namun aku hanya tersenyum kecut tak menjawabnya, aku langsung keluar dari rumah, menutup pintu, kemudian pergi, berlari meninggalkan rumah.


"Ahh, ibu selalu saja begitu, padahal aku sudah katakan aku tak memerlukan bekal, aku ini sudah dewasa, aku ini pria yang sudah memiliki anak'' Gumamku, sambil sesekali menendang kerikil-kerikil yang berada di tengah jalan. Aku berjalan kaki menuju taman, kemarin aku meninggalkan sepedaku di sana, saat ingin pergi ke bar bersama Ryuga dan teman-teman kantor lainnya.


Ahh bicara tentang kemarin malam, aku benar-benar mabuk sampai lupa banyak hal, lupa apa yang terjadi padaku semalam. Tapi saat aku sedang pergi mandi, aku berusaha mengingat apa yang terjadi padaku, rasanya aku benar-benar harus mengingatnya, seperti ada sesuatu yang penting telah terjadi kemarin.


"Kau tahu Brielle, aku baru saja bertemu paman super hero.. Paman itu menangkapku ketika aku akan terjatuh dari atas pagar saat ingin kabur untuk pergi ke rumahmu.. Ia benar-benar hebat, bahkan ia kuat menggendongku, di punggungnya!" Sayup-sayup terdengar suara gadis kecil dari arah belakang, aku kurang jelas mendengar apa yang ia katakan.


"Benarkah? Jangan berani berbohong padaku Cali, ibuku bilang jika kau berani berbohong hidungmu akan semakin panjang!" Terdengar suara gadis kecil lain.


"Aku sungguh-sungguh, ahh sialnya aku tak menanyakan namanya pada paman itu! Tapi sebelum pulang, aku sudah bilang padanya agar kita bertemu lagi.."


"Baiklah seperti apa paman itu? apa dia memakai pakaian manusia super?!''


"Tunggu sebentar Brielle.."


"Paman! Paman!'' Teriak gadis kecil di belakangku. Ia seperti memanggil seseorang, meski tak yakin aku lah yang di panggilnya, aku pun berbalik.


"Huuwaaa benar, Brielle ini paman Super hero itu!!" Salah satu gadis kecil itu menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua tangannya.


"Benarkah?! Cali, apa aku bisa bicara padanya?!'' Sahut gadis kecil lainnya, ia tampak berbinar kagum memandangiku.


"Permisi, apa yang kalian bicarakan gadis kecil?" Tanyaku heran, pada keduanya.


"Huwaaa dia bicara.. dia benar-benar bicara kan Brielle?! Cubit aku, cubit aku!!" Teriak salah satu dari mereka, lalu gadis yang bernama Brielle itu mencubitnya.


"Waaahh, ini sakit.. Aku sampai ingin menangis, tapi berarti ini benar-benar nyata bukan mimpi" Ucap gadis itu, ekspresi mereka berdua masih sangat kagum, tatapannya penuh dengan binar.


"Paman.. Paman ingin kemana?" Tanya gadis yang bernama Brielle itu.


"Aku baru saja ingin berangkat ke kantor untuk pergi bekerja" Jawabku.


"Huwaaa dia bekerja Cali!! Dia manusia!!'' Ucap gadis bernama Brielle itu.


"Paman, apa paman ingat aku?" Tanya gadis kecil yang di panggil Cali itu.


"Aku tak mengenalmu gadis manis'' Ucapku pelan, di selingi senyuman, aku tahu anak-anak kecil seumuran mereka ini, benar-benar penakut.


"Apa?! Paman, kemarin malam paman baru saja menolongku yang akan jatuh dari atas pagar, apa paman benar-benar tidak ingat?" Tanyanya lagi, nada bertanyanya berubah jadi agak sedikit memaksa. Akhirnya aku berusaha mengingatnya.


"Ahh, kau gadis kecil itu ya? Hahaha, lain kali jangan lakukan hal seperti itu lagi, itu benar-benar berbahaya" Aku berusaha bersikap ramah.


"Wah ini benar-benar sungguhan Cali, kalau begitu paman, apa kami boleh ikut berjalan dengan paman ke taman, arah tujuan kami juga kesana" Ucap Brielle.


"Tak perlu kau tanyakan, paman ini pasti tidak akan menolak, ayo paman, kita ke taman bersama" Sahut Cali, gadis kecil ini tak membiarkanku menjawab sepatah katapun.


Aku jadi ingat, sepertinya aku juga dulu mengenal seseorang yang sifatnya sama dengan gadis ini. Tapi sudah berlalu 10 tahun sih, aku jadi sedikit lupa.

__ADS_1


"Hahaha, baiklah'' balasku, masih tetap ramah.


Keduanya menggandeng tanganku, karena tubuh keduanya jauh lebih pendek, aku jadi sedikit menunduk hanya untuk menggandeng mereka.


"Apa paman benar-benar sekuat itu?" Tanya Briell


"Hmm.. tidak juga hanya saja Cali masih kecil, jadi dia ringan, kalau tidak paman pasti.."


"Cali!! Brielle!!" Seru seseorang tiba-tiba, aku langsung melihat ke arahnya, seorang wanita.


Wanita itu berjalan menghampiri kami bertiga, atau lebih tepatnya Cali dan Brielle. Wanita itu langsung menarik kedua bocah ini.


"Bibi?" Sahut Brielle, heran.


"Apa kalian tahu? Aku sampai ingin menangis karena kesulitan mencari kalian berdua, nyonya Sheryl mengatakan padaku bahwa kalian belum sampai di sekolah" Wanita itu mengusap matanya yang berkaca-kaca hendak menangis. Aku yang heran apa yang terjadi hanya bisa memperhatikan drama ini. Aku malah khawatir bahwa wanita ini akan mengira aku menculik kedua bocah ini.


"Maaf ibu, kami berjalan sangat pelan menuju halte, karena kami sedang asyik berbincang dengan paman ini.." Jawab Cali, menunjuk ke arahku.


Wanita itu mengangkat kepalanya, melihatku, di situlah aku benar-benar terkejut.


"Ava.." Gumamku sangat pelan.


Wanita itu hanya memandangku lama, lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia tampak benar-benat terkejut.


"Apa kau benar-benar Levi...?" Mata wanita ini berkaca-kaca, menahan tangis. Aku mengangguk pelan. Lalu melihat jawabanku tangisnya pecah.


"Levi.. Levi.. aku.." Ia berusaha bicara, tapi seperti tak mampu mengeluarkan kata-kata, seperti perasaannya saat ini tak mampu dia ucapkan dengan kata.


Gadis kecil ini memanggilnya ibu, pantas saja aku merasa sangat akrab dengannya, sedikit familiar dengan sikapnya, mungkin benar karena ini, karena ia darah dagingnya, darah Ava mengalir di tubuh gadis kecil ini.


"Aduh, mata ibu benar-benar perih, bisakah kalian pergi ke sana? Di sana ada paman Aaron, katakan padanya ibu akan menyusul kalian sebentar lagi setelah mata ibu sedikit baikan, ibu akan membeli obat tetes mata di toko itu. Cepat-cepat.. kalian akan telat ke sekolah.." Ava mendorong pelan kedua gadis kecil itu.


"Baiklah.. Oh iya paman super hero, jangan lupa berjanjilah, bahwa kita akan bertemu lagi!'' Ucap Cali sebelum meninggalkan kami berdua.


"Aku juga, jangan lupakan aku loh paman!'' Sahut Brielle tak mau kalah. Aku yang mendengarnya hanya tersenyum pada mereka lalu mengangguk.


Setelah dua bocah itu menghilang dari pandangan, aku melihat ke arah Ava.


"Jadi?" Tanyaku.


"Atas nama kedua orang tuaku dan suamiku aku benar-benar minta maaf kepadamu Levi.. Tolong maafkan aku" Ava menatapku, air matanya tak berhenti keluar.


Maria, bagaimana aku menghadapi wanita ini, demi tuhan aku sudah tak memiliki hubungan apapun dengannya, jangan salah paham Maria, mohon percayalah pada suamimu ini. Batinku.


"Aku tak merasa jika kalian bersalah, mungkin seharusnya aku yang mundur sejak awal, mungkin jika aku tahu diri dan kita tak berpacaran, saat seperti ini tak akan terlalu menyakitkan kan?" Ucapku pelan.


"Tapi.. tapi Anthony.." Ia berusaha mengatakan sesuatu tapi tertahan.


"Lupakan, lagipula hal itu sudah terjadi 10 tahun yang lalu, dan lagi pula aku merasa bahwa itu tak sepenuhnya salah Anthony, ia mencintaimu, karenanya ia berbuat seperti itu padaku" Ucapku, berusaha kuat, aku sendiri sangat merasa sakit hati, bagaimana aku yang masih berstatus pacarnya, tak tahu bahwa Ava telah di jodohkan tanpa sepengetahuanku, aku sangat ingat, bagaimana orang-orang suruhan ayahnya menjebakku, dan mengurungku di tempat yang aku sendiri tak tahu dimana, butuh dua minggu aku keluar dari sana, dan mencari Ava.


Parahnya aku malah mendengar, bahwa Ava dan pria itu akan menikah besok, tanpa aku tahu, tanpa mengundangku, aku tak berniat mendapat undangan, hanya saja aku merasa terkhianati, bagaimana bisa seorang pria yang pernah menjadi ayahku tega melakukan ini padaku.

__ADS_1


Saat aku datang ke acara pernikahan itu, bahkan orang tua itu sama sekali tak memiliki niat untuk sekedar melihatku, ia malah melaporkanku pada polisi, dan aku di tahan, hanya seminggu memang, tapi dari situ banyak luka yang aku dapatkan, tak hanya fisik, tapi juga jiwaku.


"Aku mencarimu Levi, 10 tahun aku mencarimu..." Ava menenggelamkan kepalanya ke tangannya yang di lipat di atas meja.


"Aku tahu, aku tahu pasti kau mencariku.." Ucapku lembut, gadis itu benar-benar menangis.


Aku tahu kau mencariku Ava, aku tahu benar sifatmu, kau pasti akan mencari dan mengejar apa yang kau inginkan, tapi bukannya aku tak ingin mencarimu lagi saat itu, hanya saja aku sudah menyerah, menyerah atas dirimu. Ucap batinku yang rasanya benar-benar meleleh saat ini.


"Lalu? tak pernahkah kau mencariku? Sedikit saja, katakan bahwa kau mencariku Levi.." Ia menangis.


"Tidak, tidak pernah sama sekali." Mendengar jawabanku ia menangis. Tangisannya terdengar lebih keras.


Lalu ava mengangkat kepalanya, melihat jelas ke arahku. Ia menghembuskan nafas kasar.


"Hhhh. Aku tahu, kau pasti benar-benar kacau saat itu, tapi aku malah tidak berada di sampingmu, jadi aku tak menyalahkanmu, aku hanya ingin meminta maaf atas nama suamiku dan kedua orang tuaku, bahkan mungkin atas nama diriku sendiri yang tak pernah membuatmu merasa bahagia saat bersamaku. Sejak awal dekay denganmu pun aku tahu, sama seperti apa yang sering kau katakan padaku, aku hanya membawa kesialan, aku hanya membuatmu pusing, aku hanya merepotkanmu.. aku tahu, jadi sekarang aku, Ava Raynee, meminta maf dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati pada pria cinta pertamaku, yang duduk di hadapanku, bahwa aku telah terlalu banyak menyakitimu. Maafkan aku" Ia berdiri, lalu membungkukkan tubuhnya, aku tahu ia menangis.


"Aku memaafkanmu." Aku menariknya meninggalkan tempat itu.


"Pulanglah, aku yakin suamimu mencarimu'' Kataku, lalu mendorong punggungnya pelan.


"Tidak, aku dan dia sudah resmi bercerai 7 tahun lalu, setelah aku melahirkan Cali." Ia tersenyum tegar, tertunduk. Sedangkan aku sedikit terkejut.


"Bagaimana denganmu Levi? Siapa wanita yang berhasil mencairkan es yang ada di hatimu?" Tanyanya sambil terkekeh.


"Namanya Maria, mungkin aku akan menceritakannya padamu kapan-kapan" Jawabku sambil tersenyum hambar.


"Owh iya tadi itu anakku, namanya Cali, maaaf telah merepotkanmu'' Katanya


"Ahh tidak apa, orang dewasa memang harus di repotkan oleh anak-anak kan, kalau bukan kita siapa lagi'' Balasku sambil terkekeh.


"Kau sudah punya anak?" Tanyanya lagi.


"Iya, namanya Harry, kapan-kapan aku juga akan memperkenalkannya padamu." Aku tersenyum.


"Baiklah, semoga kita bisa bertemu lagi.. sampaikan salamku pada Maria dan Harry!" Katanya dengan senyuman lebar.


"Maaf, tapi istriku sudah meninggal" Sahutku, lalu menunduk dalam


"Apa?"


"Iya, ia di bunuh oleh seseorang, kasus itu sudah lama sekali mungkin sekitar 5 tahun lalu. Pembunuhnya belum tertangkap, tapi polisi sudah menutup kasusnya" Ucapku pelan


"Bagaimana mungkin.." Ucap Ava sedikit terkejut.




**Sekian bonus chapter ini, terimakasih banyak telah membaca. Tunggu season 2**!


**Terimakasih banyak, semoga harimu menyenangkan**.

__ADS_1


__ADS_2