
Aku bersiap untuk pergi, kali ini bukan ke kampus, lagipula ini hari libur. Pagi ini aku akan pergi main ke rumah Ryuga, teman sekampus yang sebenarnya aku tak tahu ia siapa dan bagaimana wajahnya. Yang aku tahu ia teman Michael, dan Michael memintaku datang untuk memperkenalkan aku pada Ryuga, ia bilang aku harus memiliki banyak teman, agar bisa bangkit dari bayang-bayang gadis itu.
Aku sudah siap, aku pergi ke dapur, mengambil roti sandwich yang sudah ku siapkan sebelum pergi mandi. Aku memakannya sambil berjalan keluar rumah, setelah keluar, Aku mengunci pintu. Saat aku berbalik, aku terkejut melihat Ava.
“K-kau?” tanyaku masih dengan ekspresi kaget, sebenarnya meski kami sudah tak berkomunikasi, kami masih sering menyapa hai dan berpapasan saat sedang ingin pergi kuliah.
“E-eh, kau benar-benar tampak terkejut ya?! Apa kau sibuk? Ingin pergi kah?” Ia berkata dengan ucapan yang sedikit kaku, tentu saja, sudah lebih dari seminggu aku dan dia tak saling bicara.
“Eh iya, ini, aku ingin.. ingin.. ini.. aku akan pergi ke rumah Ryuga untuk main. Memangnya ada apa?” Aku kesal, mengapa bicaraku juga ikut kaku, padahal aku berusaha tampak biasa-biasa saja di hadapannya.
“Aa-ah.. tak penting, pergilah.. tadi ibuku hanya memintaku untuk meminta kau untuk membantunya membuat kue, karena aku ingin pergi bersama Hegard. Tapi, karena kau sibuk, pergilah, Aku akan mengatakan pada ibuku bahwa kau tak bisa datang” Ava tersenyum, lalu membungkukkan tubuhnya tanda permisi. Ia lalu berbalik akan pergi.
“Bagaimana kabarmu?” sahutku cepat.
“Baik” ia kembali berbalik menghadap ke arahku, menjawab pertanyaanku dengan tersenyum kaku.
“Kau sendiri bagaimana?” tanyanya pelan.
“Jujur saja, aku merasa kosong dan sepi, tapi itu biasa bagi pria suram bukan?! Hahaha” Aku tertawa, sebuah tawa yang di paksakan.
“Mengapa? Kulihat temanmu malah bertambah banyak loh” Ia tersenyum simpul.
“Karenamu, sekarang hariku jauh lebih sepi” Aku menunduk, terasa lega yang dalam di hati, setelah mengucapkannya.
Ia hanya diam, berbalik, dan langsung berlari.
“Hegard.. kalian.. jalan-jalan ya?” Aku bicara sendiri pada diriku, yang sebenarnya pertanyaan itu untuk orang lain.
“Selamat jalan, Ava!” ucapku pelan.
○○○
Hari ini, aku akan pergi ke taman bermain bersama Michael dan Ryuga. Ide ini muncul untuk membantu Ryuga melakukan pendekatan dengan Misha, teman sekampus kami jurusan Humaniora. Setelah siap, aku keluar rumah, dan secara kebetulan melihat Ava yang keluar dari rumahnya.
“Ingin pergi?” tanyaku basa-basi.
“He eh” Gadis itu mengangguk pelan.
“Sama, Hahaha” Aku tertawa hambar, menertawakan ketidaklucuan dan kekuan semua ini.
“Kemana?” tanyanya
“Taman hiburan, kau?”
“Wah, kebetulan sekali..” jawabannya membuat kami saling terkekeh.
“Mau bareng?” Ajakku.
“Baiklah” jawabnya enteng
“Hegard? Dimana pria itu?” Aku memandang sekeliling mencari pria itu.
__ADS_1
“Aku tak janjian dengan Hegard, hahaha” Gadis itu tertawa sambil memegangi perutnya, masih sama seperti dimana saat kita pertama bertemu.
“Senang kalau begitu,,” jawabku, lalu ia tampak terkejut.
“Hah?” ucapnya terkejut.
“Tidak, hanya saja, jika seperti ini kita bisa berangkat bersama-sama, hehe” Aku sumringah.
“Kau tampak senang?!” katanya. Gawat, aku masuk ke jebakan ini. Batinku.
“Aahh.. mana mungkin, aku biasa saja kok” Aku terkekeh sambil memalingkan wajah, agar ia tak melihat ekspresi senang di wajahku.
“Baiklah.. ayo” balasnya pendek. Dia yang setelah memiliki pacar sangat berbeda sekali dengan dia yang dulu, sekarang tak ada lagi ia yang menarik lengan ku untuk segera mengikutinya, tak ada lagi suara bisingnya. Semua itu terganti dengan Ava yang lebih banyak diam.
Akhirnya aku dan Ava sampai di taman hiburan, kami langsung menyerahkan tiket kami dan masuk ke sana. Di dalam, Ava memandang ke sekeliling, sepertinya ia mencari seseorang.
“Kau mencari temanmu?” tanyaku basa-basi
“Iya, dia bilang ia sudah sampai sekitar 15 menit lalu” jawab nya, dengan pandangan masih tetap mengelilingi sekitar taman.
“Itukah?” tanyaku, ketika melihat seorang wanita melambai ke arah kami.
“Iya…” Ava langsung berlari menghampiri wanita itu. Mereka berpelukan sebentar, dan saling mengecup pipi.
“Dia siapa?” tanya wanita itu.
“Oh iya, Kay.. ini Levi temanku, dan Levi.. ini Kayshifa, teman baik ku di kampus” Ava memperkenalkan kami.
Gadis yang di panggil Kay itu berkacamata, ia tampak bijaksana dan terlihat pintar, dengan pakaian kemeja panjang dan rok panjang, ia tampak sopan sekali. Terbersit di pikiranku, jika seandainya dulu aku tak bertemu gadis seperti Ava, dan membuatku jatuh cinta. Aku pasti bisa saja akan jatuh cinta pada gadis bernama Kay ini.
Aku yang sedang menunggu tiba-tiba di kejutkan sesuatu, ada seseorang menepuk pundakku.
“Oi! Sudah di sini sejak kapan?” Orang itu ternyata Ryuga, ia langsung duduk di sebelahku.
“Tak lama, sekitar 15 menit mungkin” Mendengar jawabanku ia terkekeh.
“Dan sekarang kita akan menunggu lagi.. hahaha” Katanya.
“Iya, lagian mengapa kau tak bersama Michael?” Aku melihatnya tak datang dengan gadis itu, atau pun dengan Michael, ia sendirian.
“Dia bersiap agak lama, apalagi dia tak pernah mau meninggalkan asrama tanpa membersihkannya dulu” Lagi-lagi Ryuga tertawa. Akhirnya kami berdua memilih membeli minuman sambil menunggu.
“Oh iya Ryu, dimana Misha?” Aku memandang sekeliling, mencari-cari keberadaan gadis bernama Misha itu. Aku sungguh penasaran dengan perawakannya.
“Entahlah, padahal ia bilang sudah ada di sini” Ryuga mengangkat bahu tanda dia juga bingung.
Setelah menunggu sangat lama, akhirnya Michael tampak batang hidungnya juga. Kali ini ia tampak berbeda, ia mengenakan kaos hitam dan celana panjang hitam, ia tambah berbeda, karena ia menambahkan vest. Ia tampak sangat casual, sepatu slip on yang ia kenakan sangat pas dengan gaya pakaiannya yang sekarang, apalagi ditambah dengan kaus kaki panjang berwarna putih yang ia kenakan, gayanya tampak klasik namun tetap mempertahankan sisi casualnya. Yang paling berbeda darinya adalah, ia datang ke sini membawa seorang gadis yang sebenarnya tak terlalu cantik, tapi mata dan senyumnya terlihat manis, gadis itu tampak pas berjalan dan berdiri berdampingan dengan Michael.
“Oh my god!! Ini benar-benar kau Michael? Atau aku salah lihat?!” Ryuga sok terkejut lalu tertawa.
“Jangan menghina, bajingan!!” Sahut Michael kesal.
__ADS_1
“Tumben sekali pakaian mu ini.. ku tampak
jadi.... ehmm.. apa ya?” Aku memperhatikannya dari ujung kaki sampai kepala.
“Ini semua karena Emily!! Ia menyuruhku mengganti gaya berpakaian, ia bilang gaya pakaianku seperti gembel di jalanan! Ya tuhan, salahku apa hingga di anugerahi pacar seperti dirinya?!” Ia berbisik keras di telinga kami, kami yang mendengarnya otomatis tertawa.
“Kau memang sedikit dekil sih.. s-s-sss..” sahut Ryuga sambil menahan tawa.
“Dasar bedebah ini!!” Michael kesal, ia memukul punggung kami. Kami kesakitan dan hanya bisa mengumpat sambil berbisik.
Setelah mengalami sedikit permasalahan tentang gaya pakaian, akhirnya kami sadar, bahwa niat kami kemari adalah menemani Ryuga mendekati Misha.
“Dimana gadis itu?” Emily memperhatikan sekitar, mencari-cari gadis yang bernama Misha itu.
“Dari tadi udah di cari tapi tetap tak kelihatan” sahutku.
“Kau punya nomor ponselnya kan Ryu? Mengapa tak kau hubungi saja ia?” Tanya Michael.
“Entahlah, aku hanya.. sedikit malu” Ryuga tertunduk, ia menggerak-gerakan kakinya, tanda gugup.
“Manis sekali… aku selalu berharap mendapat pacar yang malu-malu.. tapi malah begini..” seru Emily, ia mengarahkan pandangan pada Michael. Michael langsung melotot karena terkejut.
“A-aku? Kenapa hanya aku yang salah? Padahal aku juga menginginkan gadis yang malu-malu!! Tapi begini jadinya.. malah dapat yang membuat malu, huh aku harus banyak bersabar” Akhirnya setalah Michael mengatakan itu, terjadilah perang mulut sepasang kekasih.
Yakni Michael dan Emily, mereka berdua menjadi perhatian banyak orang. Aku dan Ryuga hanya bisa berusaha sekuat mungkin untuk melerai pertikaian ini. Namun, tetap ada saja orang-orang yang malah senang melihat ini, mereka malah menyemangati Michael dan Emily, sampai-sampai membuat kubu dadakan.
Aku yakin orang-orang seperti mereka itu berasal dari kaum jones, jomblo ngenes.
Setelah ini semua reda, aku memilih mengalihkan pembicaraan ke arah lain, yakni menyuruh Ryuga menelepon Misha.
“Kalau malu-malu terus, bagaimana usaha pendekatannya Bisa terjadi?!” Emily mengomel, aku merasa sepertinya mengomel sudah menjadi kebiasaan perempuan yang sepertinya kebiasaan itu sudah mendarah daging.
“Sabar dong ly” sahut Michael menengahi.
“Ini aku telepon” Akhirnya, setelah melewati banyak bujukan akhirnya Ryuga memberanikan diri.
“Kalau Ryuga tak berani menghubungi Misha.. lalu siapa yang mengajak Misha kemari?” tanyaku heran
“Emily, meski mereka tak saling kenal, tapi Emily bilang pada gadis itu, bahwa Ryuga menyukai Misha, dan ingin Misha mengenalnya lebih jauh untuk memutuskan” jelas Michael, dengan sedikit nada bangga pada ucapannya, bangga pada pacarnya yang hebat itu.
Setelah beberapa menit, tiba-tiba ada gadis yang melambai pada gerombolan kami. Yang paling membuatku terkejut adalah salah satu gadis itu adalah Ava.
“Oi? K-kau?” ucap Ava ketika melihat aku.
“E-eh.. bukannya ini pria tadi?” tanya gadis yang aku yakini ia Misha.
***bersambung~
__ADS_1
Jangan lupa like jika suka, komen atas saran, pendapat, dan kritik. Share, vote jika menurutmu novel ini pantas mendapatkannya, rate 5 bintang untung menyemangati author, follow author untuk berdiskusi tentang novel, dan bisa juga memberi gift atau tip***')