Cute Spy Detective

Cute Spy Detective
Eps.4


__ADS_3

Jarum jam menunjukkan pukul 10 pagi. Entahlah, mengapa bagiku saat libur, pukul 11 pun masih tetap di anggap pagi. Aku memilih terus berbaring di ranjang, meski perut merasa lapar, namun ***** tak mendukung untuk makan. Aku memilih tidur lagi, namun tetap saja terus terbangun. Sekarang jam menunjukkan pukul 2 siang, aku tak memilih untuk kembali pergi tidur. Aku memilih mandi, lalu pergi ke dapur untuk sarapan, ya meski sudah siang aku masih menamainya sarapan. Namun, sarapanku yang damai, tiba-tiba terganggu karena suara pintu rumahku yang di gedor-gedor seseorang.


“Oi! Siapa?!! Seenaknya sekali menggedor-gedor pintu rumah orang lain, orang seperti ini pasti tak akan mau dan tidak terima jika di mintai pertanggung jawaban.” Aku mendengus kesal. Kemudian mengomel. Namun aku tetap membukakan pintu. Aku sungguh terkejut, saat melihat siapa dibalik kelakuan menyebalkan ini.


“K-kau?” ucapku terbata, tak percaya.


“I-iya, ini aku Ava” ia nyengir.


“Ingin apa kemari?” tanyaku yang sebenarnya merasa heran bercampur senang.


“Aku ingin menunjukkan sesuatu” Gadis itu mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya.


“Apa itu?”


“Lihatlah sendiri” Ia menampakkan giginya karena senyumnya hari ini begitu lebar. Aku melihat apa yang ia berikan, ternyata itu adalah sebuah tiket pesawat. Aku ternganga.

__ADS_1


“Kau mau?” tanyanya dengan nada manis, tanda memohon.


“Untukku?” tanyaku, ia mengangguk.


“Kau?” tanyaku lagi. Lalu ia mengeluarkan satu buah tiket dari saku lain mantelnya.


“Tentu saja kau tak pergi sendirian, jadi?” katanya.


“B-bagaimana dengan Hegard?” Aku terbata, sulit berkata-kata karena aku merasa terkejut sekaligus senang.


“Untuk apa ini? Kau membelinya?” Aku masih tidak percaya dengan penglihatanku.


“Tentu saja bukan aku yang membelinya, membayar uang kuliah saja aku masih belum lunas, mana mungkin aku membeli ini, keluargaku yang miskin tak akan sanggup. Hahaha” ia tertawa.


“Lalu?”

__ADS_1


“Job! Seseorang melihat iklanku, yang aku buat di situs webku bulan lalu, dan sepertinya ia tertarik. Ia ingin kita pergi ke sidney, maka dari itu ia membelikan kita tiket ini” Ava tampak sangat senang.


“Kau percaya?” Aku benar-benar khawatir.


“Tentu, mereka sepasang suami istri, anaknya tertukar dengan anak orang tuaku, ia meminta aku kembali pada mereka, dan anaknya kembali pada orang tuaku. Ibuku sempat sedih, aku juga sih… tapi mau bagaimana lagi, kami tak memiliki hubungan darah. Rumah sakit di Brooklyn, tempat ibuku dan ibu asliku melahirkan meminta maaf atas ketidak sengajaan ini. Mereka bahkan menulis surat permohonan maaf secara resmi, mereka bilang aku dan anak ibuku lahir di hari yang sama dan jam yang nyaris sama, mereka jadi salah menaruh kami berdua di kasur yang telah di sediakan. Sebuah kesalahan, yang baru di sadari ketika aku sudah dewasa. Orang tua asliku menungguku untuk membantu melacak lokasi anaknya. Mereka bilang anaknya tinggal di New york, tapi mereka lupa ia tinggal dimana. Mereka sudah menghubungi anak mereka, tapi anak itu tak ingin memberitahu orang tuanya dimana dirinya berada sekarang. Orang tua asliku ini, selalu mentransfer uang ke rekeningnya. Mereka melacak tempat anaknya mencairkan uang, dan ternyata itu di.. di… yups, di Albany!! Gila kan.. dekat dong, seandainya kita tahu anaknya seperti apa, kita tak perlu pergi jauh-jauh ke sidney, kita berdua tinggal mencarinya di sini. Namun, mereka bilang anaknya itu tertutup sekali, mereka sampai lupa wajah anaknya versi dewasa, ia sangat jarang bahkan hampir disebut tak pernah menghubungi mereka. Dan juga anak itu jarang mengambil uang yang di berikan oleh mereka, maka dari itu saldo dalam rekeningnya menumpuk banyak, aisshh aku sangat iri” Ava menjelaskan panjang lebar, meski begitu aku tak begitu mendengarkan apa yang ia bicarakan, kata-kata yang ia katakan terlalu cepat keluar masuk dalam telingaku, hingga pada akhirnya aku simpulkan semua itu dengan satu kata, tertukar.


Kau pasti mengerti, aku seorang pria pemalas, irit bicara, dan sebenarnya sangat benci dengan orang yang banyak bicara, jika harus mendengar ucapan dengan begitu banyak kata-kata, aku akan mati rasa, bercanda. Dan mengenai kalian para gadis, aku beritahu kalian sesuatu ya, kami para pria memiliki sifat bawaan yang benar-benar bisa mengelabui kalian. Kalian gadis-gadis berkata bahwa, kalian sangat senang dan nyaman bercerita tentang curahan hati kalian pada golongan kami. Tapi kalian tahu? Karena sifat bawaan itu, kami sebenarnya sungguh-sunguh tak peduli dengan apa yang kalian ceritakan, semua tentang kalian, dan mengapa kalian bisa begitu percaya dan nyaman bercerita pada kami. Namun, karena sifat bawaan itu pula, kami bisa dengan mudah berpura-pura perhatian tentang kalian, siap mendengarkan kalian, memberi solusi, dan hal-hal manis lainnya, tanpa kalian sadar, karena memang terkadang kami sendiri juga tak menyadarinya, bahwa semua hal manis yang di lakukan untuk kalian itu hanya pura-pura.


Namun, tentang Ava, ini sungguhan, ini benar-benar bukan pura-pura, aku mencintainya, sepertinya.


“Mengapa aku? Mengapa tak Hegard, meski kau beralasan karena kita kolega.. tetap saja, Hegard adalah seseorang yang pantas dan paling baik untuk kau pilih” Aku menepuk bahunya pelan, berbalik hendak masuk kembali ke dalam rumah.


“Ia sudah mengizinkan!! Lagipula kita ini kolega! Mengapa kau tak bisa mengerti aku?! Mengapa selalu menghindar? Mengapa kau berusaha untuk terus menjauh? Mengapa kau tak pernah berusaha mengerti hal-hal tentangku? Padahal, aku.. selalu berusaha mengerti semua hal tentang kamu! Kamu yang tak suka aku karena banyak bicara, kamu yang tak suka aku yang terlalu pemarah, kau yang tak suka aku yang kekanak-kanakan. Semua hal dalam diriku tak pernah kau sukai, kau terlalu banyak berbohong!! Jujurlah pada diriku sekarang.. bahwa kau benar-benar TAK MENYUKAIKU, KAU INGIN AKU PERGI BUKAN?! K-kau sangat jahat levi..” Ava berteriak, ia memukul-mukul punggungku. Lalu ia jatuh terduduk, dalam keadaan menangis. Sedangkan aku? Tentu hanya diam.


__ADS_1


***Bersambung***~


__ADS_2