
_______________________________________________
Aku bangkit dari ranjang, duduk sebentar lalu berjalan menuju balkon. Malam ini, untuk kesekian kali aku mengalami insomnia lagi, hal itu terlalu biasa di alami orang seperti diriku, aku terlalu sering mengalami insomnia hingga itu telah menjadi bagian dalam keseharianku.
Aku turun ke dapur, membuat secangkir cokelat panas, kemudian kembali ke kamar dan kemudian berdiri di balkon untuk sekadar menatap langit.
Rasanya ada yang aneh, rasanya seperti kembali pada kehidupanku sebelumnya, kehidupan di mana gadis yang kamarnya terletak di depan balkonku dan berhadapan denganku belum masuk dan membuat kehidupanku terkontaminasi. Kehidupan yang monoton, kehidupan yang tak hidup, kehidupan yang hanya punya hitam dan putih sebagai warna. Aku menengadahkan kepalaku ke atas, menatap langit yang gelap tanpa adanya bintang, sambil sesekali menyeruput cokelat panas yang berada di tanganku, menatap langit yang malam ini bintangnya menghilang membuatku teringat bahwa ada satu bintang yang menghampiriku setiap hari, menemaniku meski sebenarnya ia yang meminta ditemani, sendirian seperti ini membuatku sadar, inilah aku sebenarnya jika tanpa dia, aku yang tanpa warna.
Setelah cokelat panas di cangkirku habis, aku meletakkannya di meja belajar di dalam kamar, lalu kembali ke balkon. Aku masih belum bosan menikmati langit malam ini, aku masih memandanginya, namun secara tak sengaja pandanganku jatuh pada balkon kamar yang berada di seberang balkonku. Jendela kamarnya tampak terang, mungkin menunjukan penghuni kamar itu masih terbangun. Dan entah apa yang mengganggu pikiran warasku, aku malah mengambil beberapa kerikil dari pot bunga dan melemparinya ke kaca jendelanya.
Sekali, tak ada jawaban
Dua kali, masih belum
Ketiga kali, dan keempat kali masih sama.
Aku pergi ke dalam untuk mengambil gelas, dan kembali dengan gelas di tanganku. Aku diam sebentar berpikir, entah-entah masih berharap si penghuni kamar membukakan jendelanya untukku.
Namun, karena tetap tak ada jawaban, aku melemparkan gelas itu ke balkon seberang. Gelas itu tak mengenai jendelanya, gelas itu pecah di lantai balkon, menghasilkan suara keras dan nyaring. Kukira itu akan berhasil, namun gadis penghuni kamar itu tetap tak menjawab. Hingga aku memilih untuk tak meneruskannya.
__ADS_1
Aku masih diam di sana, namun sudah berhenti melakukan hal bodoh itu. Aku berpikir, aku yang sekarang jadi lebih aneh dari aku yang dahulu, aku yang dulunya seorang pria suram, yang lebih senang mendekam dalam penjara kamarku yang gelap dan mengerikan. Aku yang dulunya dikenal sebagai pria dingin karena sangat jarang bicara, hingga teman-temanku sempat mengira aku bisu, namun tak jadi karena esoknya aku maju untuk persentasi di kelas. Akan tetapi karena gadis yang kamarnya terletak di depan mataku sekarang, aku jadi sedikit banyak bicara di kampus, meski aku hanya begitu padanya, namun penilaian orang lain terhadapku banyak berubah, karenanya aku mengomel, karenanya aku marah, karenanya aku berkomentar, rasa-rasanya seminggu lebih 5 hari ini aku jadi lebih banyak bicara. Aku manusia yang seperti tidak hidup ini, jadi tampak lebih hidup, jadi sekarang hidupku seperti terlalu bergantung padanya. Aku si manusia dengan julukan “a cool man” ini benar-benar mencair karena hangatnya gadis itu.
Aku yang masih di sini memandang balkon kamarnya tiba-tiba dikejutkan dengan pintu balkonnya yang terbuat dari kaca itu terbuka perlahan, menampakkan gadis yang aku tunggu keluarnya dari kamar itu. Gadis itu maju ke balkonnya, ia berdiri di seberang sana tepat di hadapanku, aku terkejut ketika sedikit sinar cahaya dari kamarku menerangi wajahnya. Gadis itu tersenyum padaku, matanya sembab tentu saja habis menangis, rambutnya berantakan, namun sempat-sempatnya ia tersenyum semanis itu padaku. Aku mengatakan ada apa padanya dengan isyarat, tapi ia hanya menggeleng. Lalu aku berisyarat agar ia mengambil ponselnya, ia masuk ke dalam lalu kembali dengan ponsel di tangannya yang ia tunjukan padaku.
Aku menghubunginya, namun ia menjawab panggilan ponselku cukup lama, setelah beberapa menit ia mengangkatnya, padahal aku yang memperhatikannya dari seberang sini tak melihat ia sedang melakukan sesuatu, hanya memandangku.
“….” Hening, tak ada suara yang terdengar dari ponselku, aku melihat ke arahnya, dan menemukannya sedang menatap ke arahku.
“Menangis?” tanyaku membuka percakapan di situasi yang kacau dan dingin yang dinginnya lebih dingin dari es, dengan pandangan ke depan, memandang ke arah di mana ia berdiri.
“Em” Hanya itu jawabannya, dan di tambah dengan gerakan menganggukan kepala.
“Levi tentu orang kedua setelah ku yang mengetahui perasaanku” Balasnya pelan.
“Benar-benar mencintainya?” tanyaku lagi, dengan harapan yang pastinya kalian ketahui.
“Entah, aku tak mengerti perasaanku” ia menjawabku lesu, bukan jawaban ini yang aku butuhkan, aku butuh jawaban pasti.
“Kau benar-benar gadis yang paling tak waras yang pernah aku temukan” balasku ketus.
__ADS_1
“Tentu saja, kau telah mengatakan itu ratusan kali,mungkin,,,” Ia tampak terkekeh.
“Karena itulah kenyataannya. Tunggu sebentar..Ngomong-ngomong boleh ku tahu siapa pria itu?!” Aku masuk ke dalam, mengambil buku catatan diaryku, dan kembali duduk di balkon.
\*\*\*Bersambung~
Jangan lupa like jika suka, komen atas saran kritik pendapat dan hal lainnya untuk membahasnya dengan pembaca lain, follow author untuk berdiskusi tentang cerita ini, vote jika menurutmu cerita ini patut mendapatkan vote mu, share ke teman-temanmu jika menurutmu mereka akan tertarik, tambahkan ke daftar favorit jika kau menyukai ceritanya (bukan authornya'v) Beri rate 5 bintang jika kau pikir cerita ini memang pantas di beri 5 bintang, beri gift atau tip jika menurutmu ceritanya pantas mendapatkan itu')
Semoga harimu menyenangkan,
Jaga kesehatan, tetap di rumah saja, jaga diri, jaga hatimu untukku\*\*\*
__ADS_1