
"Kau suka permainan catur Harry?" Aku bertanya padanya yang sedang membantu ayah mencabuti rumput.
"Permainan itulah yang sering aku mainkan di sekolah" Jawabnya sambil menatapku dengan tatapan sedikit curiga.
"Tapi kau menyukai permainan itu atau tidak bung?" Aku mengulangnya lagi.
"Sedikit, lagipula ayah.. sudah berapa kali aku mengatakan padamu hanya catur lah permainan yang cocok denganku" Ia terdengar kesal
"Benar juga, aku baru ingat sekarang, lalu? kau suka permainan apa lagi? " Tanyaku lagi
"Hei ayah.. daripada kau terus bertanya hal-hal tidak penting padaku dari sana, lebih baik kau kesini dan membantu aku dan kakek membersihkan halaman" Harry menatapku dengan tatapan seakan-akan ia mengatakan 'Berhenti bicara bodoh'. Tatapan seperti itu siapa sih yang mengajarkan hal itu padanya?
"Tapi Harry, tubuhku kelelahan karena terus bekerja" Aku mengatakannya dengan sedikit merengek.
"Kau selalu begitu, tubuhmu lebih lemah daripada kakek yang sudah tua" Harry lagi-lagi menyatakan hal yang terdengar sinis.
"Heiii!! Siapa yang mengajarimu berkata begitu hah?!" Aku tersulut emosi, dan bertanya sambil mengeraskan suara untuk memberitahunya bahwa aku kesal.
"Kau pikir saja sendiri" Dia malah tak mempedulikan aku.
"Sialan bocah kecil ini.. darimana kau mempelajari kata-kata orang dewasa itu hah? Darimana kau belajar bersikap begitu?!" aku menantangnya
"Siapa lagi jika bukan kau, dirimu kekanak-kanakan sekali Ayah'' ia lanjut pindah ke dekat pintu pagar, untuk menanam bunga di sisi pintu pagar itu.
"Sudahlah kalian ini.." Ayah berusaha melerai, tapi dia kelihatan menikmati pembicaraan ini.
"Sialan.. tak ada sama sekali yang mengerti aku, orang-orang dirumah ini benar-benar tidak peduli padaku" Aku mengelus dadaku, berusaha mendramatisir.
__ADS_1
"Kau orang aneh" Sahut Harry tak peduli
"sebenarnya berapa usiamu sialan?! Kau selalu mengatakan hal-hal yang orang dewasa biasa katakan" Aku emosi, lagi
"Umur hanyalah angka ayah" Harry lanjut mengecat pagar.
"Bocah ini, tapi kau tampak lebih dewasa dibandingkan anak anak seusiamu. Makan apa aku dihari saat aku dan ibumu membuatmu, hingga aku punya anak seperti ini" aku mendengus kesal, tapi berusaha menahan emosiku, aku menyesap kopiku, rasanya menenangkan.
"Kau? membuatku?" dia bertanya bingung
"Ya! memangnya ada apa dengan hal itu?" Sahutku sinis
"Mana mungkin, bukankah tuhan yang menciptakan manusia?" Harry menatapku dengan wajah bingung dan tatapan polosnya, aku ingin tertawa, aku sadar, bagaimanapun dirinya adalah anak-anak.
"Tapi tanpa perantaraku, kau tidak akan ada" kataku dengan bangga
"Semua di dunia ini tercipta karena tuhan harry.. namun tuhan tak turun tangan langsung dengan masalah manusia dan mahluk ciptaannya, dia mengirim perantara" Ayah menghampiri Harry, ia duduk disebelahnya, lalu mengusap kepala Harry lembut, aku jadi merasa tenang.
"Tapi kakek.. aku tidak mengerti" Harry bersikeras
"Seperti seorang raja, tuhan juga tidak melakukannya sendiri, yah.. ia seperti memerintah makhluknya untuk melakukan sesuatu, untuk mendapatkan sesuatu" Ayah berusaha menjelaskan dengan tenang, sembari tangannya menanam bunga di pot.
"Aku tidak mengerti, jika di samakan dengan raja, berarti tuhan tidak begitu hebat, bukankah raja juga manusia? Apa tuhan itu manusia? ahh kakek aku pusing namun aku penasaran" Harry menunduk lesu, tangannya menanam tanaman bunga dengan lemas.
"Tuhan jelas lebih hebat dari pada itu, tuhan bukannya memerintah, namun tuhan menggerakkan hati seseorang secara tidak sadar, sebagai perantara. Kau mau tahu bagaimana contohnya? kalau kau benar-benar seorang pemikir, seharusnya kau menyadari, bahwa semua yang kita dapat ini berkat tuhan. Kau makan nasi, secara logis kau pasti tak akan mampu menanam padi, membajak sawah, memanennya, menggilingnya hingga menjadi butiran beras, lalu memasaknya, secara harfiah itu tidak mungkin. Tapi itu memang mungkin sih untuk para petani padi, tapi tentu saja itu tidak mungkin, manusia tidak dapat mendapatkan berbagai hal hanya dengan kerja kerasnya sendiri" Sahut seseorang, suaranya seorang wanita, namun tubuhnya tertutup mobil bak milik pak george, tetangga kami.
"Ya, manusia tidak bisa mendapatkan sesuatu hanya dengan kerja kerasnya sendiri, untuk makan nasi, petani mungkin bisa bekerja keras sendiri ssperti yang aku katakan tadi. Tapi, untuk mendapatkan lauknya? Mana mungkin ia harus bekerja keras sendiri juga bukan? Coba pikir, jika untuk mendapatkan sesuatu kita harus bekerja keras sendiri, pasti butuh berbulan-bulan hanya untuk memakan nasi, butuh bertahun-tahun membesarkan sapi untuk dimasak dan dijadikan lauk, itu hanya semangkuk makanan loh, belum yang lainnya. Jadi, disinilah tuhan ambil bagian, tuhan menggerakkan hati pak petani untuk melakukan itu, lalu tuhan menggerakkan hati petani itu untuk menjualnya, begitupun para pedagang lain, tanpa kemampuan tuhan yang bisa menggerakkan hati dan segala hal ciptaannya, kau tidak akan bisa apa-apa, bahkan bisa saja mati dalam waktu sedetik karena tuhan tak menggerakkan oksigen dan menggerakkan tubuhmu untuk memprosesnya" Wanita itu mendekat ke arah Harry, lalu menunduk diatas kepalanya.
__ADS_1
Harry mungkin terkejut, ia ternganga menatap wanita itu, dengan kepalanya mendongak ke atas.
"Bahkan tuhanlah yang menggerakkan hati dan tubuhku untuk pergi kesini dan menemui mu anak manis. Jadi? sudah seberapa paham kau mengenai tuhan?" lanjutnya. Wanita itu tersenyum, ya, wanita itu tak lain adalah Ava.
"Ibu" Ucap Harry masih dengan terperangah menatap Ava.
Ava membelalakan mata, ia terkejut.
"Ibu!!'' Harry bangkit dan segera melompat kedalam pelukan Ava, hingga wanita itu jatuh tersungkur kebelakang, dengan Harry memeluknya, diatas pangkuannya.
"Ibu.. Kaukah itu? apakah kau sudah kembali dari rumah bibi?" Harry memeluk Ava erat, ia menangis kencang, layaknya anak kecil biasanya, setelah saat dimana aku memberitahunya bahwa Maria sudah tiada, aku tak pernah lagi melihat Harry menangis kencang seperti ini.
"Ehh.. Harry... itu bukan... " Ayah berusaha memberi tahu Harry, namun Ava memberi isyarat dengan tangannya untuk ayah berhenti.
Ava mengelus kepala Harry, lalu membisikkan sesuatu ke telinganya, tangisannya bertambah keras. Aku tak dapat mendengar apa yang Ava bisikkan pada Harry, dan aku jadi penasaran.
Aku menghampiri mereka.
"Harry, cukup. Berdiri kau nak" Aku memarahinya. Namun ia masih memeluk Ava dengan menangis bertambah keras.
"Ava?! Apa yang kau katakan pada anakku?!" Aku kesal, dan menatapnya dengan tatapan marah. Sedang Ava tersenyum kecut, mata kami saling menatap.
"Iya nak, ibu pulang" Sahut Ava dengan suara lembut namun seperti menegaskan kepadaku. Aku yakin itu yang ia ucapkan pada Harry.
Sialan kau Ava.
Bersambung...
__ADS_1
jangan lupa like, vote, gift, berikan bintang untuk penilaian, share jika menurutmu menarik, dan berikan komentar tentang chapter ini dikolom komentar ya!