Cute Spy Detective

Cute Spy Detective
Kepergian Maria


__ADS_3

"Mariaaaa!!! Dimana kauu Mariiaaaa!!" Aku terus berjalan, berteriak, meneliti semua tempat untuk menemukan jejaknya, namun tidak ada tanda-tanda keberadaannya dimanapun. Dibelakangku para warga juga turut mencari, meneriakkan nama Maria, bahkan banyak dari mereka yang pergi ke dalam hutan untuk memeriksa semua kemungkinan yang ada.


Malam itu menjadi malam yang paling mencekam seumur hidupku, rasanya perasaan dan adrenalinku lebih berkecamuk di bandingkan rasa takut selepas menonton film horror.


Kami semua terus mencari dan mencari, rasanya segala kemungkinan mengenai keberedaam Maria sudah kami telusuri, namun jejaknya sama sekali tak terlihat.


"Sudah pukul 3 pagi, tak lama lagi fajar terbit, lebih baik kita kembali ke rumah terlebih dahulu, dan melanjutkan pencarian nanti" Kepala desa memberi usul. Para warga menoleh ke arahku, mungkin menanyakan pendapatku, aku yang melihat wajah mereka tahu betul rasanya lelah dikarenakan pencarian semalaman, para wanita dan anak-anak yang ikut mencari sudah di pulangkan ke rumah saat tengah malam tadi. Aku tahu mereka semua membawa istri dan anaknya agar lebih aman, karena yang menjadi korban selama ini adalah wanita, para pria desa kami di setiap keluarga jadi khawatir akan keselamatan wanita di keluarganya. Membawa mereka dan tidak meninggalkan mereka, mungkin sekarang itulah keputusan yang tepat.


Aku mengangguk, mengiyakan pendapat kepala desa, karena aku sendiri tidak tega pada mereka orang-orang baik hati yang mau menolongku mencari Maria. Yang tersisa hanya aku, ayah, tuan Jakob, dan kakek Wilson, pemilik peternakan sapi yang kandangnya berada di perbatasan hutan. Bersama mereka aku melanjutkan mencari Maria, ibu dan Harry kami minta untuk menunggu di rumah tuan Jakob bersama beberapa wanita lain yang berusaha menghibur ibuku agar tak menangis keras-keras.


Pagi sudah benar-benar tiba, matahari menampakkan dirinya, sedang aku semakin dibuat khawatir karena berarti Maria telah hilang sekitar 8 jam lamanya, yang aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada istriku itu.


Kau dimana Mariaaa?! semoga tuhan selalu melindungimu. Tolong jangan tinggalkan aku Mariaaaa!!! Aku memang bukan suami yang baik untukmu.. aku belum cukup dewasa untuk membuatmu bahagia, aku belum cukup pintar untuk mengerti perasaanmu. Jangan tinggalkan aku Mariiaaa, aku membutuhkanmu disisiku!!. Batinku berkecamuk. Aku hanya bisa menangis, air mata bahkan turun sangat deras dari pelupuk mataku.

__ADS_1


Aku ini bukan pria yang bodoh, yang hanya karena ditinggal seseorang, bahkan wanita sekalipun, aku sampai kebingungan dan menjadi kehilangan arah, tidak. Aku ini seorang pria yang rasional, yang akan selalu bersikap tenang dalam keadaan dan situasi sesulit apapun, memikirkan matang-matang tindakan apa yang akan aku lakukan. Tapi kehilangan Maria membuat gelar pria rasional ini mungkin tak bisa lagi ku sandang. Karena wanita ini telah membuatku benar-benar bingung, aku malah jadi memutuskan pencarian di semua tempat, tanpa berpikir terlebih dahulu, yang ada dipikiranku sekarang hanyalah menemukan Maria, bagaimanapun caranya.


Ayah dan kakek Wilson kembali ke rumah untuk mengambil makan siang, waktu sarapan kami bahkan terlewat. Aku dan tuan Jakob masih berusaha mencari Maria ke dalam hutan, tak ada jejak satu pun yang ditinggalkan wanita itu. Sial, otakku serasa ingin meledak karena memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terlintas di kepalaku, memikirkan apa yang sedang terjadi pada wanita itu. Sudah 12 jam ia menghilang dan aku benar-benar tidak tahu apa yang menimpanya sekarang. Aku bahkan merutuki diriku sendiri karena telah menjadi seorang suami yang payah untuknya. Aku jadi kembali teringat, bagaimana hubunganku dan Maria bisa sampai ke saat ini.


α_α_α_α_α_α_α_α_α_α_α_α_α_α_α


"Menikahlah denganku!" Gadis itu menarik kerah bajuku ke atas, hingga tubuhku sedikit terangkat dan hampir saja kakiku tak menapak tanah. Aku yang merasa ia hampir saja membunuhku karena membuatku leherku tercekik, hanya bisa menatapnya dengan sinis.


"Apa? menikah dengan gadis yang bahkan tidak mengerti cara melamar yang baik dan benar? ck.. tidak akan." kataku ketus, mendorongnya mundur. Mendengar sarkasme dariku, ibu terkekeh.


"Aish, bagaimana aku bisa melamarnya? jika aku saja tidak mencintainya, aku hanya akan melamar gadis yang aku cintai" Ucapku datar, lalu berbalik untuk pergi meninggalkan gadis itu. Aku sendiri muak dengan semua omong kosong tentang pernikahan.


"Kalau begitu.." Ucap gadis itu lirih, langkahku terhenti. Ibu menoleh dengan tatapan heran, mungkin tak percaya padanya, karena ia masih tidak mau menyerah setelah aku menolaknya ratusan kali. Sedangkan, tanpa menoleh sedikitpun tubuhku berhenti karena mungkin tanpa sadar aku penasaran omong kosong apa lagi yang akan gadis itu ucapkan.

__ADS_1


"Bagaimana caranya agar kau mencintaiku?" Aku sedikit terkejut. Aku tidak tahu maksud perkataannya, atau aku hanya berpura-pura tidak tahu, atau aku bahkan berusaha untuk tidak mengerti. Yang aku tahu adalah, mendengar perkataannya membuatku terkejut. Aku tak menyangka bahwa seorang gadis bisa seberani ini dan sebertekad itu untuk memintaku menikahinya.


"Nak, sepertinya ucapanmu sudah berlebihan, Levi itu.." Sebelum ibu bisa melanjutkan ucapannya, gadis itu menyela.


"Tidak bibi. Aku hanya sedang bertanya padanya bagaimana cara untukku agar ia bisa mencintaiku?! Aku tahu gadis kota itulah yang kau cintai, dan aku sudah pasti tidak akan bisa menjadi seperti dirinya. Tapi, semua hal sebelum hari ini adalah kenangan, dan kau tidak bisa hanya meratapi itu. Levi! aku tekankan kepadamu, aku tahu aku sama sekali bukan gadis seperti yang kau inginkan, mungkin aku sama sekali bukan tipemu. Tapi aku benar-benar mencintaimu. Persetan dengan tipe, kau bahkan juga bukan tipeku'' Katanya tegas, membuatku semakin terkejut mendengar perkataan gadis itu.


"Bertemu denganmu, kemudian menyukaimu, semua itu bukan kehendakku sama sekali! Aku bahkan jadi melenceng dari tipe. Sebelum kau mengenal Ava, aku bahkan sudah mengenalnya lebih dulu! Ia lahir di desa ini, aku bahkan tahu ia adalah seorang gadis yang tidak akan menyerah pada apa yang ia inginkan. Jika ia mencintaimu dan menginginkanmu, ia pasti akan kembali dan mengejarmu! Aku belajar menjadi seperti ini darinya, dan mungkin jika Ava memang mencintaimu, yang akan berkata seperti ini pastinya bukanlah diriku, pastinya dia!" Setelah dengan keras mengatakan semua omong kosonh itu, ia berlari meninggalkan halaman rumahku sambil menutup wajahnya, ia menangis sesenggukan.


"Sial, aku bahkan terus terjebak dalam masalah rumit seperti ini, wanita memang menyusahkan" Aku melepas sandalku lalu naik ke teras, tersenyum simpul pada ibu yang sepertinya tertegun mendengar apa yang gadis itu ucapkan, ibu menatapku nanar, aku tidak mempedulikannya dan segera masuk ke dalam rumah meninggalkannya di luar dengan pikiran-pikirannya yang tidak ku ketahui.


Bersambung...


__ADS_1



Jangan lupa Support author


__ADS_2