Cute Spy Detective

Cute Spy Detective
Eps.4


__ADS_3

Gadis itu tetap nampak berpikir, meski sudah terlihat ia telah menyelesaikan tugasnya. Setelah aku mengambilkan mangkok itu ia memeriksanya, mangkuk yang belum di cuci itu pun di periksa, dan gadis itu menemukan sesuatu, menurutnya mangkuk itu tadinya berisi salad.


“Coba ku lihat daftar dan keterangan mengenai tanaman-tanaman itu!!” sahutnya cepat, ia membuatku terkejut.


“Ada apa? Aku benar-benar tak paham dengan jalan pikiranmu” kataku setelah memberikan informasi mengenai daftar tanaman beracun itu. Kulihat ia nampak serius membaca data dan informasi di ponselku.


“Jangan banyak bicara Levi, itu bisa merusak fokusmu pada suatu hal, fokus yang rusak dapat membuat kinerja otakmu menurun” jawabannya benar-benar tak membuatku puas.


Kemudian aku memilih memperhatikannya bekerja saja, ketimbang bertanya namun dijawab dengan jawaban yang menurutku tak ada hubungannya dengan pertanyaanku.


“Nah, Levi bisa kau periksa bak sampah pembuangan terakhir di halaman rumah? Tolong periksa apakah ada bekas masakan yang berbahan lobak di sana..” Lagi-lagi gadis itu memerintahku. Namun tak ada pilihan lain selain menurut.


Aku keluar, dan memeriksa keadaan makanan sisa berbahan lobak yang dibuang di sana.


“H-hah?” ucapku terbata-bata, aku terkejut saat menemukan potongan kecil lobak di sana. Bagaimana gadis itu sangat yakin jika ada bekas makanan berbahan lobak di sini?. Batinku.


“Ada!!” sahutku setelah sampai di ruangan tempat kejadian itu lagi.


“Sudah kuduga,, kalau begitu bisa kau panggilkan bibi Margareth dan tuan Ethan? Suruh mereka kembali ke sini..” Perintahnya lagi.


“Tapi.. bagaimana kau bisa tahu? Mengenai keberadaan lobak itu...”


“Sudah diam, lakukan saja perintahku!” sahutnya dengan mata melotot ke arahku.

__ADS_1


Aku langsung pergi keluar, mencari bibi Margareth dan tuan Ethan. Rumah itu memang berukuran tak begitu besar, namun halaman nya terlalu luas untuk sebuah rumah sewaan, dan itu membuatku kesulitan mencari mereka berdua.


Aku berpikir mereka berdua jika tak di halaman depan pasti berjalan-jalan dihalaman belakang. Halaman belakang rumah itu begitu menyeramkan, karena berdekatan dengan hutan yang hanya dibatasi dengan pohon ek besar. Saat aku sudah akan sampai di halaman belakang, sayup-sayup terdengar suara bibi Margareth dan tuan Ethan sedang berbincang, semakin dekat aku menuju ke sana semakin keras pula suara yang terdengar.


“Semuanya sudah berakhir Ethan! Bajingan rakus seperti dirimu tak akan bisa menghindar lagi, jelas gadis itu nampak jelas sudah mengetahui banyak hal.. dan kau tak akan bisa lari lagi” terdengar suara berat seorang wanita, siapa lagi kalau bukan bibi Margareth.


“Diam kau wanita ******! Diam! Diam! Dan diamlah! Kau tahu hal apa yang telah banyak ku korbankan untuk kehidupan para tikus hama seperti mereka? Mereka berdua sama-sama tak memiliki rasa malu, mereka terus membuat ekonomi keluargaku melorot tajam! Terlebih tikus pemabuk itu! Ia senang bermain wanita dengan uangku! Kau tahu betapa beratnya hidup yang kujalani untuk mengumpulkan semua kekayaan ini hah?” Tuan Ethan membalas


“Tidak, tidak Ethan.. kau salah tentang semua kekayaan ini! Semua harta ini milik ayah kalian! Kau hanya pantas mendapatkan 30 persen dari semua ini, setengah kekayaan ini hak kakakmu, dan 15 persen milik adikmu, 5 persen lagi tuan william sudah menyumbangkannya pada panti asuhan. Kau tak pantas mengambil hak mereka, mereka bukanlah tikus seperti yang ada dalam pikiran busukmu itu, mereka hanya domba tak bersalah yang dijebak olehmu! Kau serigala berbulu domba yang licik dan picik!” Terdengar suara berat seorang wanita lagi, yang aku yakin itu benar-benar bibi Margareth.


“Dasar kau wa…” Tuan Ethan langsung berhenti ketika melihatku, padahal ia hendak menampar bibi Margareth.


“Mmm.. maaf mengganggu kalian, sebenarnya aku mencari kalian tapi, jika sedang sibuk mengobrol silakan lanjutkan, aku akan kembali” Aku berbalik hendak pergi, namun bibi Margareth dengan cepat menyentuh lengan atasku.


“Berhenti, ada apa gerangan kau mencari kami berdua?”


“Ava memanggil kalian” Setelah mengatakan itu, aku segera pergi dari sana.


Aku melihat Ava yang sedang duduk di kursi yang pernah di tempati tuan Justin sebelum ia lupa segala hal semalam. Gadis itu sedang memperhatikan ponselku yang sengaja kutinggalkan karena berisi dokumen-dokumen yang ia perlukan. Namun gadis itu nampak cekikikan seperti sedang melihat sesuatu yang begitu lucu. Apa yang lucu dari ponselku? Atau hal apa yang ada di ponselku dan begitu lucu baginya? Atau jangan-jangan ia memeriksa ponselku?. Batinku. Namun tiba-tiba gadis itu melihat ke arahku yang berada di luar jendela. Lalu melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Ia mengisyaratkan agar aku masuk ke dalam.


“Oi, apa yang kau lakukan dengan ponselku?” sahutku setelah berada satu ruangan dengannya.


“Aish.. berhentilah bersikap dingin padaku, aku kurang senang dengan pria dingin seperti dirimu, tampang tak begitu bagus ditambah lagi dengan sikap dingin itu. Gadis mana yang akan menyukaimu kalau kau bersikal begitu! By the way, aku juga tak senang jika kau bicara dengan kedua tangan kau masukkan ke dalam saku celana.. itu.. nampak menyeramkan,,” Gadis itu menghujani aku dengan begitu banyak komentar, wajahnya nampak berkerut bibirnya dimajukan, sangat pas dengan ekspresi badut penghibur di taman.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba tuan Ethan dan bibi Margareth datang, membuat suasana kembali dingin dan serius.


“Hah.. Levi.. kau ku perintah memanggil mereka berdua saja sebegitu lama ya..” Gadis itu mendengus kesal.


“Maaf Ava, ada urusan yang perlu kami selesaikan tadi” Bibi Margareth segera duduk di kursi, mempersilakan tuan Ethan duduk di sebelahnya, sedangkan aku hanya berdiri dibelakang gadis itu.


“Tuan Ethan.. aku tahu malam itu kalian bertiga tak hanya minum-minum, sebelum ku jelaskan lebih lengkap lagi dengan kemungkinan hipotesisku yang akan salah besar dan terlalu memberatkanmu, maka ku beri kau kesempatan untuk menjelaskan terlebih dahulu” Ava mempersilakan pria itu menjelaskan apa yang terjadi dengan jujur.


“I-i-iya.. kami bertiga tak hanya minum, kami juga makan makanan yang disiapkan oleh nona bella pembantu di rumah ini, lalu kami berbincang beberapa menit, dan aku pulang” tukas tuan Ethan, di lihat dari gelagatnya pria itu seperti sedikit khawatir akan sesutu.


“Baiklah.. apa aku boleh mengetahui makanan apa yang kalian makan?” Ava tersenyum kecut, tampak menahan tawa melihat gelagat tuan Ethan, namun gadis itu memalingkan wajahnya.




***Bersambung***~



*Jangan lupa like, Vote jika kau menyukai ceritanya, share untuk membagikannya pada orang-orang, follow dan berdiskusi banyak hal dengan author, simpan favorit jika kau jatuh cinta pada cerita ini (bukan suka sam authornya'v), komentar atas saran, kritik, pendapat, dan hal lain untuk berdiskusi dengan para pembaca lain, rate bintang 5 jika menurutmu cerita ini patut di beri 5 bintang, dan kau bisa juga bisa memberi gift atau tip, jika menurutmu cerita ini pantas mendapatkannya*')


__ADS_1


*Sekian terimakasih*,


*Semoga harimu menyenangkan*')


__ADS_2