
PERHATIAN! TERDAPAT BEBERAPA PENJELASAN ADEGAN KEKERASAN, DIHARAPKAN PEMBACA BISA MEMAKLUMI, KATA-KATA SUDAH DI PILIH DAN DI PROSES DENGAN BIJAK!
Flash Back:
Owsley, Amerika Serikat.
"Maria!! Kabar buruk Maria! Hal itu terjadi lagi! Pembunuhan... Sebenarnya kutukan apa yang terjadi di desa kita?!" Ibu masuk ke dapur dengan terengah-engah, ia lalu berusaha mengatur napasnya. Aku yang sedang mengeringkan tubuh karena baru saja selesai mandi terkejut, Maria yang sedang memasak makan siang pun jadi terkejut.
"Ada apa ibu? Jangan terlalu gelisah seperti itu, mari duduk, dan ceritakan pelan-pelan apa yang terjadi" Maria memapah ibu berjalan ke kursi makan. Aku yang melihatnya sangat kagum, maria, istriku ini selalu bisa menghadapi semuanya dengan tenang dan pikiran jernih.
"Lagi pula, ibu ini sudah tidak muda lagi, kenapa sampai lari-lari seperti itu, masuk rumah tanpa mengetuk pintu pula, aku dan Maria jadi terkejut'' Ucapku, sambil mengenakan kemeja.
"Ini benar-benar menyeramkan Levi, Pembunuhan itu terjadi lagi!!!" Ibu mengguncang-guncang pundak Maria.
"Pembunuhan apa bu? Jangan aneh-aneh kalau bicara'' Seruku ketus.
"Pembunuhan yang itu?! Ya tuhan.." Ucap Maria, meski tidak seheboh ibu, tetap saja air mukanya berubah, menunjukan bahwa ia takut.
"Kau kenal tuan Gerry?!!" Ibu bertanya, dengan masih tetap mengguncang-guncang bahu Maria.
"Tentu saja, rumahnya hanya berjarak beberapa rumah dari rumah kita" Jawabnya.
"Putri tuan Gerry, yang baru saja lulus sekolah menengah beberapa waktu lalu, ditemukan dalam keadaan sudah tak bernyawa Mariaaa!!" Ibu menangis, ia terus mengguncang-guncang pundak Maria.
__ADS_1
"Apa?! Dimana?" Tanyaku
"Di ladang, dekat jalan besar" Ibu menangis, Maria ikut menangis, namun ia terlihat berusaha tegar, ia terus mengusap-usap punggung ibu.
"Kunci pintu, tetap di rumah! Aku akan kesana untuk melihat'' Aku bergegas pergi ke ladang, di sana ramai sekali banyak orang berkerumun.
Sial, kasus ini lagi.. Kupikir pembunuh nya sudah tidak akan lagi melakukan hal keji ini. Batinku.
Kasus ini sudah terjadi selama 12 tahun, sudah ada 4 korban sebelumnya yang ditemukan tak bernyawa dengan keadaan yang sama seperti hana. Meski korban-korban itu ditemukan dan di bunuh di tempat yang berbeda, tapi si pembunuh membunuh korban-korban itu dengan cara yang sama.
"Tolong telepon polisi! Jangan ada yang menyentuh TKP! Ayo bantu aku membuat garis aman!'' Aku menyeruak masuk di kerumunan itu, lalu menarik salah seorang pria untuk membantuku membuat garis aman. Akhirnya kami para warga memilih menunggu polisi.
•~•~•~•~•
Hanya hal itu yang dapat diketahui oleh polisi, aku merasa marah, mengapa pelaku benar-benar tega melakukan semua hal ini pada mereka para korban yang ada, melihat kejadian ini aku jadi teringat Ava, namun aku tak pernah mendengar kabar tentangnya, tak pernah tahu dimana wanita itu. Mungkin jika ia disini, ia akan berusaha seperti para polisi itu.
Owsley memang sebuah desa terpencil dan sedikit tertinggal, tetapi aku dan keluarga memilih pindah kesini bukan hanya alasan ekonomi kami yang merosot tajam, tapi karena desa adalah tempat yang jauh dari kebisingan, desa adalah tempat nyaman, tentram, sejuk. Aku tak pernah mengira bahwa ini bisa terjadi. Owsley juga tertinggal dalam hal teknologi, jadi kasus seperti ini bahkan dalam waktu 12 tahun belum juga selesai.
•~•~•~•~•~•
"Semuanya hanya bisa kita serahkan pada tuhan nak, selama ini yang di serang pelaku adalah wanita, jadi kita harus berhati-hati" Kata ayahku, ia memeluk ibu dengan raut khawatir.
"Maria, jangan pernah kau sekali-kali meninggalkan rumah, terus kunci pintu dan jendela saat aku tidak di sini, aku tidak ingin kau.." Belum selesai aku bicara Maria memotong.
__ADS_1
"Jangan terlalu khawatir, menurutku pelaku ini memberi jarak atas tindakannya, sudah 12 tahun dari kasus pembunuhan yang pertama, sampai yang sekarang, namun hanya ada 5 orang yang di bunuh, ada kemungkinan pelaku akan membunuh setahun kemudian atau malah 2 tahun kemudian" Kata Maria tetap tenang, meski di pikir-pikir ada benarnya, tapi aku sebenarnya tahu dia juga takut, takut akan menjadi korban.
"Jangan meremehkan, kau tetap harus hati-hati!" Ucapku tegas, dengan nada memaksa.
"Iya aku tau, aku tak bermaksud meremehkan, aku hanya membuatmu tak terlalu khawatir. Sudahlah ayo makan'' Maria menarik lengan bajuku, aku mengikutinya.
"Harry masih tidur kah?" Tanyaku
"Iya, dia masih kecil biarlah banyak-banyak istirahat" Katanya.
Akhirnya kami sekeluarga makan siang dengan di penuhi rasa cemas, khawatir, takut yang semuanya bercampur aduk.
"Aku tidak ingin kehilanganmu Maria, tidak! Tidak boleh!'' Kataku, ia yang sedang mencuci tumpukan piring kotor hanya terkekeh. Aku tak tahu sejak kapan aku banyak bicara, tapi saat bersamanya aku merasa ingin, ingin terus bicara yang aku rasakan tentangnya.
"Iya, aku juga tidak berniat hilang darimu.. Kau tenang saja suamiku, hanya takdir yang dapat memisahkan kita'' Katanya, ia tersenyum kecut.
Hanya takdir katamu, kalau begitu aku memohon pada takdir. Takdir aku mohon jangan kau renggut juga Maria dari hidupku. Takdir, jangan kau permainkan aku lagi, aku tidak ingin untuk kesekian kalinya kau menertawakan aku. Takdir, jika aku bisa menyuap dirimu agar kau bisa berkompromi denganku, aku akan melakukannya. Tolong mulai saat ini, jangan pernah kau permainkan hidupku lagi.
Bersambung~
__ADS_1