
Pagi ini aku bersiap untuk berangkat, seperti biasa matahari bahkan belum sempat menyapa, tapi desa ini sudah sangat ramai, sama seperti aku, para suami-suami lainnya pun sedang bergegas untuk pergi kerja. Semua rumah sudah terbuka jendela dan pintunya, menandakan pemilik rumah sudah bangun.
Sama seperti istri-istri lainnya, Maria juga sudah mulai sibuk dengan pekerjaan rumah. Ayah dan ibu pergi ke kandang ternak di belakang rumah, pagi yang bising namun sejuk dan menyegarkan, karena berbeda dengan kota, pedesaan jauh lebih menenangkan.
"Kalau begitu aku berangkat'' Ucapku, menghampiri Maria di dapur.
"Kalau begitu ini" Ia menyodorkan tempat bekal yang terbuat dari kayu.
"Aku akan memakannya sambil mengingat wajahmu" Aku menggodanya, ia hanya tersenyum kecut lalu mendorong tubuhku pelan. Seperti biasa aku tidak akan sempat untuk sarapan di rumah, dikarenakan harus berangkat kerja pagi-pagi sekali, perjalanan menuju kantorku juga menghabiskan banyak waktu, karena sangat jauh.
"Mau bagaimana lagi ya.. istriku manis sih, aku bahkan tidak bisa melepaskanmu dalam pikiranku hahahaha" Aku tertawa lepas, sangat lucu melihat Maria dengan wajah memerah karena malu, wajahnya seperti kepiting rebus.
"Oi, suami mana yang menggoda istrinya di pagi-pagi buta seperti ini hah?! Itu sangat tidak romantis hahahaha" Ibu yang muncul tiba-tiba dari pintu belakang rumah membuatku terkejut.
"Iya mungkin hanya Levi saja, pria yang masih sempat menggoda istrinya, padahal sudah sangat terlambat! Ayooo cepat berangkat, kau akan ketinggalan bus tahu!" Maria menarik daun telingaku, lalu menarikku menuju pintu, menyuruhku cepat mengenakan sepatu lalu berangkat.
"Levi.. bisa tolong ambilkan pakan ayam di belakang rumah, tuan jakob memintanya sedikit, katakan pada ibumu hanya ambilkan sedikit'' Ayah berteriak dari luar, ia sedang berbincang dengan tetangga.
"Aissshh aku sudah mengenakan sepatu! Lagipula aku akan terlambat, dan ketinggalan bus'' Aku merengek, bercanda.
"Biar aku saja, kau pergilah" Maria menepuk bahuku lembut.
"Kalau begitu aku pamit'' Aku mengecup keningnya, harum shampo kayu manis menyeruak masuk ke dalam lubang hidungku, itu memberi kesan manis.
"Hati-hati di jalan suamiku!" Maria berkata pelan.
"Hahaha, kau menyebutku suami? Itu lucu! Biasanya kau memanggilku dengan namaku, hahaha tapi aku sangat senang'' Aku tertawa, sedangkan ia tersenyum malu.
"Baiklah istriku.. jaga dirimu baik-baik, ingat pesanku, tetap di rumah! Kunci pintu dan jendela! Baik aku berangkat'' Aku berlari pergi, meninggalkannya sambil tanganku terus melambai.
Beberapa hari ini aku memang merasa ada perasaan aneh yang mengganjal, rasanya kekhawatiranku semakin menjadi entah karena apa.
Rasa kekhawatiran ini menggangguku, membuatku ingin cepat kembali ke rumah, padahal baru saja sampai.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah pekerjaanku selesai semua, aku menutup laptopku, kemudian melihat jam tangan yang bertengger di pergelangan, waktu menunjukan pukul 7:30, aku hanya perlu menunggu setengah jam lagi untuk diperbolehkan pulang, dan mungkin waktu itu cukup untuk mengisi data kehadiran.
Karena tinggal di pedesaan, data kehadiran masih di jalankan secara manual, aku harus pergi ke meja resepsionis di depan dan menuliskan namaku.
"Tuan Levi? Kau sudah akan pulang?" Tiba-tiba seseorang menyapaku. Aku menoleh dan mendapati pak direktur berdiri di sana.
"Ahh, iya Tuan Charlos, tugasku sudah selesai" Aku menggaruk tengkukku, sangat grogi bicara dengan atasan.
"Mengapa terburu-buru, biasanya kau meminta di beri tugas lembur, dan kau akan pulang sedikit lebih larut dari jadwal." Tukas pak direktur.
"Sepertinya kali ini aku sedang sama sekali tidak berminat dengan tugas lembur pak" Kataku, aku cengengesan.
"Adduuuhhh gimana ya tuan Levi.. tapi hari ini aku bukan ingin menawarkanmu tambahan tugas, tapi begini, aku kemari ingin.." Pak direktur tampak serius, namun tampak tidak enak untuk bicara.
"Iya pak, apa yang bapak perlukan dari saya?" Aku berdoa dalam hati dengan khusyuk, agar pak direktur tidak memberi tambahan tugas padaku.
"Jadi.."
"Jadi begini tuan Levi, maaf merepotkanmu, tapi maukah kau hari ini lembur lagi? karena ada beberapa tugas dadakan yang harus di kerjakan, sedangkan lusa akan ada para investor yang akan memeriksa perkembangan industri tambang kita, kita harus bekerja dua kali lebih giat, bukan hanya kau saja yang ku minta untuk lembur, para karyawan lain juga, namun, aku sedikit merasa tidak enak memintamu lembur karena setiap harinya kau sering meminta tugas tambahan untuk lembur, tanpa ku minta, jadi.. aku minta maaf sekali lagi" Tuan direktur membungkuk pelan, ia seperti berharap padaku, aku tidak enak menolaknya, lagipula sudah kewajibanku sebagai karyawan yang baik untuk memenuhi keinginan tuan direktur untuk perusahaan ini selagi itu tidak merugikanku dan perusahaan.
"Baiklah" Aku tersenyum pahit, senyum terpaksa yang ku keluarkan karena harus menerima kenyataan.
"Terimakasih tuan Levi, sekali lagi maafkan aku" Katanya, lalu pergi meninggalkanku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku berusaha menyelesaikan tugasku secepat yang aku bisa, namun tetap menelitinya kembali untuk menghindari kesalahan. Aku terus melihat ke arah jam dinding untuk mengecek waktu.
Sudah pukul 9, menurut perkiraanku aku akan selesai pada pukul 9 lewat 30 menit, aku harus mempercepat kerjaku untuk selesai dalam waktu sesingkat itu. Tiba-tiba hujan turun, jika hujan begini jalanan pasti sangat macet karena embun yang di hasilkan hujan menutupi kaca depan mobil, membuat pandangan para pengendara kabur.
"Aku harus pulang, akhirnya selesai juga.. tepat seperti waktu perkiraanku, hanya lebih 6 menit saja." Aku mengelus dada lega,
__ADS_1
"Kau sudah selesai Levi?" Tanya salah satu partner kerjaku.
''Sudah, aku akan pulang sekarang, aku duluan!!" Aku berlari, menembus hujan menunu halte bus, tak peduli bahwa seluruh tubuhku basah, sangat basah kuyup, begitupun tas kantorku, tapi aku tak peduli.
Aku hanya ingin cepat kembali, lalu mencium kening istri dan anakku, memastikan keduanya baik-baik saja.
Aku baru sampai di halte tujuan sangat larut, sekitar pukul 11 kurang beberapa menit saja, hujan sudah mulai reda, meskipun masih ada sisa-sisa gerimis. Aku berlari pulang menuju rumahku secepat yang aku bisa, aku hanya ingin melihat maria dan putraku baik-baik saja, membuktikan perasaan ini salah.
"Kau basah kuyup?" Tanya ibuku tampak heran
"Dimana Maria?" Ayahku menimpali.
Aku bingung apa yang mereka katakan, aku mencoba memahami.
"Dimana Maria?!!" Aku baru sadar maria tidak tampak batang hidungnya.
"Bukannya dia berangkat menjemputmu? Kau tidak melihatnya di halte?" Ibu malah semakin membuatku heran.
"Aku.. aku sama sekali tidak bertemu dengannya'' aku yang tersadar langsung keluar dari rumah, berlari kesana kemari mencari maria.
"Mariiiiaaaaa!!!!!" Aku berteriak, beberapa penduduk desa membantuku mencari wanita itu.
'Maaariiiiaaaa! Dimana kauuuuu Mariiiaaaaa!!!" Aku semakin berteriak keras,
"Pukul berapa Maria berangkat menjemputku?'' Aku kesal kenapa wanita itu tidak mendengarkanku, aku mengatakannya ubtuk tidak menjemputku malah ia melakukan ini.
"Mungkin sekitar pukul setengah 10, saat itu hujan, ia berniat menjemputmu, membawakan payung untukmu, tapi sampai sekarang ia belum kembali" Ayah menjelaskan secara singkat, sedangkan ibu menangis di pelukannya. Maria, kuharap kau baik-baik saja, aku tidak ingin hidup tanpamu, jangan tinggalkan aku Maria.
Jangan lupa like, komen saran kritik, follow author untuk memberi pendapat melalui pc, jangan lupa memberi gift, bintang 5, share!!! Masukkan perpustakaan agar tak ketinggalan episode berikutnya.
__ADS_1