Cute Spy Detective

Cute Spy Detective
Eps.3


__ADS_3

"O-obat tidur?!" Seru orang berseragam putih itu dengan mata terbelalak kaget.


"Tepat sekali. Seperti dugaanku" Ava meletakkan kapasnya ke dalam plastik kecil itu, kemudian tersenyum aneh.


“Permisi tuan detektif, aku menemukan sesuatu, sepertinya korban telah di beri obat tidur sebelum dibunuh, mengetahui sedikit cairan obat itu tertinggal di bantal, menurut analisisku,, awalnya pelaku mencoba membunuh korban dengan cara menutup saluran pernapasannya menggunakan bantal, dan mengenai tikaman, kemungkinan saat pelaku mencoba membunuh korban dengan menggunakan bantal, si korban terbangun dan membuat panik si pelaku, hingga pelaku memutuskan membunuhnya dengan menikam dadanya” Setelah mengatakan penjelasan yang panjang lebar itu, gadis itu lalu menghampiri petugas polisi.


“Apa wanita ini terdaftar di asuransi jiwa?” Tanyanya


“Iya,,” ucap petugas polisi itu, lalu menatap ke arah tuan detektif, dengan penuh tanda tanya.


“Bravo.. analisismu persis dengan analisisku” Tuan Baker memberi Ava applause lalu menepuk pelan pundak gadis itu. Ava hanya tersenyum.


“Namun, bagaimana kau membuktikan bahwa dugaan kita berdua benar? Bahwa suami korban yang bersalah.. sedang, suaminya memiliki alibi yang kuat” Detektif baker menyeringai, ia memang bertanya seperti itu, namun tatapan dan senyumnya menunjukkan ia sudah menyelesaikan kasus ini, ia tampak seperti menguji kemampuan analisa gadis itu.


“Alibi?” Ava langsung memandang sekeliling ruangan namun seperti tak menemukan apa pun. Ia pun berlari keluar ruangan, meninggalkan kamar korban, dan menuju ruang tengah rumah korban, di sana ia terdiam lalu tersenyum lebar.


“Cctv! Mari kita lihat rekaman cctv nya!” ia menatap kami satu persatu dengan begitu yakin.

__ADS_1


Lalu petugas polisi membawa kami semua ke loteng, terlihat ada beberapa komputer di sana. Kami semua pun menonton rekaman cctv itu, namun aku tak menemukan keganjilan sedikit pun di rekaman itu, namun berbeda dengan Ava yang tampak antusias, gadis itu terus mengulang rekaman itu, hingga senyum mekar di bibirnya. Aku yakin, ia menemukan suatu petunjuk, lagi.


“Yahoo!! Kuperintahkan kalian menangkap pria itu, ia telah membunuh istrinya dan anaknya yang tak bersalah sama sekali. Aku yakin sekarang ia tengah pergi ke rumah saudara jauh mereka untuk bersembunyi dari polisi. Cepatlah, sebelum ia pergi meninggalkan kota ini..” ucap Ava tiba-tiba, dan serentak semua anggota polisi bergegas pergi meninggalkan tempat itu, menuju tempat di mana saudara korban dan tersangka tinggal.


“Kau? Menuntaskannya?” Aku tak percaya melihat ini, namun aku benar-benar kagum dibuatnya.


“Tentu saja, sudah ku katakan si suamilah pelakunya!” Ava menyandarkan kepalanya ke kursi lalu memejamkan mata.


“Bisa kau jelaskan kronologis yang sebenarnya?” Ujar sang detektif


“Dengan senang hati, namun nanti setelah pelaku berada di hadapanku..” Ava menyeringai.


"Beraninya kau menuduhku membunuh istriku sendiri?! Alibiku jelas kuat, lagi pula tak ada alasan aku sampai membunuhnya!!" Tuan Chris, suami korban berteriak saat ia sampai di kantor polisi ketika tuan Baker mengatakan ia bersalah, namun jelas saat ini aku tidak melihat dimana letak kesalahannya.


"Mana bukti yang menunjukan bahwa aku yang telah membunuh istriku sendiri hah?! Kalian adalah polisi, orang-orang hukum dan penegak keadilan, kalian tidak boleh asal menuduh seperti itu! Aku bisa menuntut kepada jaksa atas sikap kalian yang dengan mudahnya menuduh seperti itu!" Pria itu masih bicara dengan suara keras, ia jelas tak terima.


"Silakan, namun kami tak bertanggung jawab jika kau kalah di pengadilan nanti.." Kami semua menoleh ke belakang, arah dimana suaranya datang. Di sana berdirilah ava, ia menyilangkan tangannya di depan dada. Tuan Chris jelas tampak emosi, wajahnya berkerut dan tentu saja tatapannya saat menatap Ava setajam pisau.

__ADS_1


"Hei bocah ini urusanku dengan para petugas polisi, mengapa kau ikut campur dalam masalah seperti ini?! Lebih baik bagimu untuk pergi menikmati acara kembang api akhir tahun itu, kemudian minum susu dan pergi tidur!!" Pria itu nampak menggertak, namun Ava malaj tersenyum.


"Mayat nyonya Hana di temukan polisi pada pukul 10 malam ini, namun melihat keadaanya, telah di perkirakan ia telah tewas kurang lebih 10-11 jam lalu. Darimana dan di mana kau di antara pukul 11 siang sampai pukul 10 malam. Dan jika kau tak keberatan bisa kah kau menceritakan lagi apa yanh terjadi, dan ceritakan ulang apa-apa mengenai alibimu itu?" Ava menatapnya dengan tatapan menantang. Akhirnya pria itu mulai menceritakan kronologi dan alibi yang menguatkannya.


"Hari ini, aku dan keluargaku yakni istri dan anakku, pergi ke tempat nakan untuk sarapan pagi, tidak biasanya kami sarapan di luar, itu karena teman dari istriku baru saja membuka sebuah rumah makan kecil. Kami berniat menjadi pengunjung pertama rumah makannya. Kami berangkat sangat pagi sekali, di sana kami berbincang agak lama, dan juga sedikit minum-minum, istriku minum terlalu banyak, sampai ia terlalu pusing dan mengantuk dibuatnya. Akhirnya tiba saatnya kami pulang, sepertinya saat itu pukul 10, namun aku dan anakku pulang lebih dulu, meminta teman istriku menjaga istriku terlebih dulu. Namun setelah sampai rumah dan menidurkan anakku, aku merasa malas menjemput istriku, maka aku meminta bantuan temannya mengantarnya pulang, sesampainya di rumah, istriku dan temannya mengobrol lagi sebentar, setelah temannya pulang ia berniat tidur lagi karena terlalu banyak minum dan mengantuk. Akhirnya setelah istriku tidur, aku menemui kakak iparku, yaitu kakak laki-laki istriku, mungkin itu sekitar tengah hari. Saudara iparku ini punya restaurant besar, aku mampir dan banyak berbincang, tapi setelah itu aku merasa butuh penyegaran maka dari itu aki pergi ke spa dan sauna sepulang dari restaurant nya. Saat itu sekitar pukul 3 sore. Aku baru pulang dari spa sekitar pukul 7 lewat 20 menit." Pria itu menjelaskan panjang lebar pada kami.


"Lalu? kau tak melihat istrimu?" Ava berjalan, lalu duduk di kursi di depan pria itu. Sorot matanya jelaa menggertak dan menantang.


"Aku melihatnya, mungkin sekitar pukul 7 lewat 45 menit, namun aku tak melapor pada polisi karena aku benar-benar takut. Lalu aku pergi ke kamar anakku, namun malangnya ia bernasib sama seperti ibunya" Pria itu nampak sedih, tatapannya mendung, lalu ia mulai menangis.


"Kemudian, saat benar-benar tenang, aku menelepon temanku dan menyuruhnya melaporkan ini pada polisi" Pria itu menangis sesenggukan, lalu berusaha menghapus air matanya.


Aku menoleh pada Ava, gadis itu hanya mengangguk. Kemudian berjalan menuju lemari milik petugas polisi, Ava pun meletakkan sebuah vcd (video compact disk) di atas meja yang mana perhatian semua orang dalam ruangan, menjadi tertuju pada vcd itu.


Bersambung~


Preview eps selanjutnya:

__ADS_1


"Haha, lagi pula kau menunggu gadis itu kan?" Ucapnya. Aku mengerjap mendengarnya, lalu saat tersadar terlihat tuan Baker mengedipkan sebelah matanya dan terkekeh padaku. Setelah mengatakan itu, tuan Baker keluar dari ruangan sambil terus menertawakan aku, entahlah aku tak tahu hal apa yang lucu dariku.


Sebelumnya mohon maaf, author sedang sakit covid jadi lama update')


__ADS_2