
________________________________________________
Setelah selesai dengan urusan kamar mandi, aku kembali ke dapur, kulihat gadis itu masih duduk di kursi makannya. Namun, kali ini wajahnya semakin pucat.
“Ayo pergi makan di luar?!” Aku berdiri di samping kursinya, menarik pergelangan tangannya, dan tersenyum padanya, sedikit aneh memang, tapi biarlah. Gadis itu menatap mataku lekat, seakan tak percaya, lalu berdiri dan tersenyum, semangatnya kembali.
“Ayo ke McDonald!!” teriaknya dengan semangat.
Sekarang posisi berganti, Ava menarik pergelangan tanganku. Gadis itu berlari keluar dengan cepat. Aku mengunci pintu kamar, kemudian menyusul nya keluar, mengunci pintu rumah, dan berjalan menyusulnya yang sudah meninggalkanku dengan berjalan duluan.
“Buku itu lagi?” tanyaku. Aku heran sekali mengapa gadis ini menyukai serial detektif, dan buku dengan genre misteri.
“Tentu saja, aku menyukai buku itu, tidak, tidak.. aku mencintainya!” Ava tersenyum lebar, menandakan ia bersungguh-sungguh sangat senang atas hari ini, serial buku kesukaannya akhirnya terbit. Aku hanya membuang muka, khawatir akan perasaan yang terlalu sulit di tahan,dan takut akan perubahan.
“Benar ke McDonald?” Aku tak yakin kita akan sarapan disana, di tempat yang hampir semua makanannya adalah makanan siap saji.
“Mmm.. yaudah toko kecil itu saja deh..” Gadis itu berlari ke toko itu dengan cepat, meninggalkan aku yang berjalan dengan santai.
Ava buru-buru membantu mengangkat kotak-kotak kayu berisi buah-buahan dan berbagai macam sayur. Wanita paruh baya yang Ava bantu tersenyum lebar, hingga gadis itu salah tingkah di buatnya.
“Ingin memesan sarapan?” tanya wanita paruh baya itu. Dirinya mengajak kami masuk ke dalam kedainya. Aku duduk dekat dengan jendela, dengan Ava di sampingku. Wanita itu menyuruh suaminya membuatkan kami sarapan, lalu ia menemani kami berbincang sebentar.
__ADS_1
“Anak muda jaman sekarang sudah jarang yang datang berkunjung ke kedai kami, saat aku dan suamiku melihat kalian berdua, kami sedikit terkejut dan tak percaya.. By the way, pasangan seperti kalian kelihatan cocok sekali ya.. aku jadi ingat saat aku dan suamiku masih muda, mungkin terlihat seperti kalian” Wanita itu tertawa, lalu mengambil telapak tangan Ava dan mengelusnya lembut. Sedangkan aku dan Ava berpandangan dengan tatapan bingung, kami yakin wanita ini salah paham.
“Emm, bibi salah mengira.. Pria ini sahabatku, kami baru saling kenal seminggu lalu, jadi.. bibi salah paham, hubungan kami bukan seperti yang bibi kira hehe” Ava menjelaskan perihal kesalah pahaman itu, kemudian wanita itu tertawa dan menoleh ke belakang tempat suaminya memasak untuk kami, kedai itu kecil dapurnya pun menyatu dengan tempat makannya, jadi para pengunjung bisa melihat langsung bagaimana makanan itu di buat.
“Yahhh.. sayang sekali, padahal jika di lihat-lihat kalian sangat cocok loh.. jadi, sangat di sayangkan jika kalian ternyata bukanlah pasangan..” seru suaminya sependapat dengan istrinya.
“Mungkin kecocokan kami hanya sebatas teman.. hehe..” Aku berusaha menyudahi obrolan canggung yang membicarakan hubungan ini, dengan bersikap kaku agar pasangan suami istri itu sadar kami berdua sedikit tidak nyaman dengan ini.
“Benar juga,” Ava menambahkan.
Wanita paruh baya itu hanya mengangguk, kemudian bangkit dari duduknya.
Wanita itu kembali dengan makanan di nampan, lalu menyajikannya pada kami, aku sedikit tersentak karena wanita itu ternyata juga menyajikan salad dengan lobak sebagai salah satu bahannya. Ava tampak tak mementingkan itu, ia langsung memulai makan seketika itu juga, jelas sekali ia sangat kelaparan.
“Oi Ava.. ingatkah kau dengan kasus tiga bersaudara william? Yang menurut hipotesismu terbunuh dengan menggunakan salad lobak, ingat?!” tanyaku sambil memulai makan.
“Tentu saja, itu salah satu kasus individu yang aku tangani.. bagaimana aku bisa lupa kan..” jawabnya sambil mengunyah makanan miliknya.
“Mengapa harus lobak yang kau tanyakan? Kandungan apa yang ada pada lobak hingga bisa membuat seseorang tewas? Dan bagaimana kau bisa tahu dan membuat hipotesis itu dengan begitu sempurna?!” Akhirnya aku bisa mengeluarkan pikiran-pikiran yang mengganjal dalam benakku.
“Water Hemlock.. jenis tanaman ini sebenarnya tak begitu mirip dengan lobak, namun buahnya.. kau tak akan bisa membedakannya, antara Water hemlock dengan lobak putih, bentuknya, baunya, bahkan rasanya benar-benar mirip, nyaris sama. Sekian banyak orang tak ada yang bisa membedakannya, entahlah, bagaimana denganmu? Tanaman ini biasa disebut cicuta, ia tumbuh dengan sangat baik di daerah di belahan bumi utara, terutama Amerika Utara dan Eropa, biasanya tumbuh di padang rumput basah, di sepanjang streambanks dan daerah basah dan berawa lainnya. Setelah mengkonsumsinya, beberapa puluh menit setelahnya akan ada gejala yang mulai muncul. Seperti mual, muntah, sakit perut, tremor, kebingungan, kelemahan, pusing, dan kantuk, meskipun aktivitas kejang yang cepat mungkin merupakan tanda pertama yang muncul setelah keracunan. Kematian biasanya terjadi karena kegagalan pernapasan atau fibrilasi ventrikel sekunder akibat aktivitas kejang yang sedang berlangsung. Namun ada sebagian orang yang selamat dari tanaman berbahaya ini, namun mereka pasti akan mengalami amnesia retrograde dalam jangka yang sangat panjang, dan mungkin tak bisa bertahan. Begitulah singkatnya..” jelasnya panjang lebar, penjelasannya membuatku sedikit takut untuk memakan salad lobak itu.
__ADS_1
“Untuk lobak tak perlu khawatir, aku akan bantu memakannya untukkmu,,” sahutnya, seperti membaca pikiranku. Aku hanya ternganga mendengarnya, karena ucapannya terdengar meremehkanku dan membuatku terlihat sebagai pengecut, tapi, jujur saja aku sedikit khawatir untuk bisa memakan lobak sekarang.
“Masih banyak menu lain yang bisa kau makan bukan?” Ava benar, akhirnya aku memilih roti croissant yang sudah di sediakan oleh paman dan bibi pemilik kedai.
***Bersambung***~
Jangan lupa like, Vote jika kau menyukai ceritanya, share untuk membagikannya pada orang-orang, follow dan berdiskusi banyak hal dengan author, simpan favorit jika kau jatuh cinta pada cerita ini (bukan suka sama authornya'v), komentar atas saran, kritik, pendapat, dan hal lain untuk berdiskusi dengan para pembaca lain, rate bintang 5 jika menurutmu cerita ini patut di beri 5 bintang, dan kau bisa juga bisa memberi gift atau tip, jika menurutmu cerita ini pantas mendapatkannya')
Sekian terimakasih,
Semoga harimu menyenangkan')
__ADS_1