
Aku kembali dari kantor lebih cepat, karena entah kenapa perasaanku sangat tidak enak akhir-akhir ini. Mungkin karena pembunuhan yang terjadi pada Hana kemarin.
Hatiku jadi lebih sering merasa khawatir pada ibu dan Maria.
Meski aku sudah berkali-kali mengatakan padanya agar terus berhati-hati, tapi entah kenapa aku tetap khawatir.
Aku tidak ingin lagi kehilangan gadis yang aku cintai, biarlah Ava menjadi masa lalu bagiku, meski aku tidak bisa berbohong pada diriku bahwa aku masih merindukannya, tapi aku sekarang harus memfokuskan diriku pada istriku sendiri, aku bukanlah pria lajang sekarang.
Aku tidak boleh berlama-lama di kantor, bagaimana pun aku harus berusaha agar bisa pulang lebih cepat.
Aku kembali pukul 8 malam, saat tiba di halte bus aku langsung berlari secepat mungkin ke rumah. Saat aku masuk kedalam rumah ku lihat Maria sedang duduk di beranda, duduk di halaman belakang rumah dengan Harry di pangkuannya.
"Maria!" Teriakku.
"Eh? Ada apa? Mengapa kau pulang dengan terengah-engah? Apa kau pulang dengan berlari?'' Maria melemparkan banyak pertanyaan padaku.
"Syukurlah, syukurlah tuhan melindungimu'' Aku memeluk wanita yang berstatus sebagai istriku ini.
"Sudah, jangan bersikap seperti itu.. Harry memperhatikan kita'' Maria mendorongku dadaku pelan, keluar dari dekapanku.
"Dimana ibu dan ayah? Mengapa kalian hanya berdua?" Aku melihat ke sekeliling.
"Mereka keluar sebentar, baru saja mereka pergi, kau langsung tiba." Maria berdiri, ia menepuk-nepuk punggung Harry yang berada di dekapannya.
"Aku akan menidurkan Harry, kau pergilah mandi, lalu kita akan makan bersama" Maria, masuk ke kamar, meninggalkan aku.
__ADS_1
Aku sudah melihat, Maria dan Harry baik-baik saja, namun mengapa perasaan tidak enak ini masih ada, aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi ku harap padamu tuhan, jangan sakiti istriku dan anakku.
Aku pergi mandi, selesai mandi ayah dan ibu tiba.
"Kasihan pria itu, Putri satu-satunya meninggal akibat dibunuh. Sekarang ia benar-benar frustasi.. Kita sebagai tetangga harus berbuat apa, sepertinya pria itu bisa bunuh diri jika kita semua tidak mengawasinya'' Ibu masuk ke dalam rumah sambil mengoceh.
"Aku khawatir, keadaannya semakin memburuk.. Ia seperti akan menjadi gila" Ayah dan ibu langsung duduk di meja makan.
"Apa yang kalian bicarakan sebenarnya? Pria? Siapa pria yang kalian bicarakan?" Aku duduk di kursi di sebelah ayah.
"Kami sedang membicarakan tentang Garry, yang putrinya baru saja bernasib naas itu" Ibu mengusap wajahnya.
"Apa? kenapa dia?" Aku heran, yang aku tahu tuan Garry terus menangis selama 2 hari ini.
"Benar, rasanya aku juga ingin menyiksa si pembunuh itu. Semua warga di desa ini sangat ketakutan karenanya.. Ini bukan kutukan, tapi ini semua adalah perbuatan orang bejat'' Ayah mendukung ibu, ia menatap ibu dengan tatapan yang di penuhi keyakinan.
Aku merasa iri pada keduanya, kedua orang tuaku ini sangat lucu, tidak pernah ada pertengkaran di antara mereka, jika ada pendapat dan pemikiran mereka yang berbeda, mereka selalu bisa mengatasinya, selalu membuat pasangan satu sama lainnya tertawa. Aku memang baru mengenal mereka 6 tahun, tapi rasanya seperti aku sudah tinggal bersama mereka sejak kecil. Aku jadi ingat Ava, aku tahu seharusnya aku tidak mengingat wanita lain, padahal aku sudah menikah namun terkadang aku masih sering teringat padanya. Apa yang sedang di lakukan wanita itu, apa ia sudah memiliki anak, yang bisa kupastikan dan kutekankan pada diriku sendiri ialah bahwa ia sudah bahagia, meski bukan denganku, tapi aku hanya cukup tahu dia bahagia.
Maria keluar dari kamar, lalu meletakkan jari telunjuknya di bibir, memberi isyarat pada kami agar tidak berisik, lalu ia berjalan menuju dapur.
"Levi, anakmu sudah akan berusia 4 tahun di tahun depan, dia akan masuk sekolah primer.. Kau harus lebih banyak berusaha!" Ibu menepuk-nepuk punggungku, aku hanya tersenyum lebar lalu mengangguk.
"Tentu saja, aku akan bekerja keras untuk putraku!" Aku tersenyum lebar, membayangkan bagaimana putra kecilku itu mengenakan seragam sekolah untuk pertama kalinya.
"Hei.. Kau tahu Levi? Harry itu anak yang punya rasa penasaran tinggi, jiwanya selalu ingin tahu.. Anak itu selalu saja menimpali pertanyaan padaku, apa yang ia ingin ketahui selalu ia tanyakan padaku, setiap harinya mungkin ada sekitar seratus pertanyaan yang bisa ia lontarkan padaku! Harry seperti menyimpan banyak pertanyaan di kepalanya.. Aku tidak menyalahkanmu, tapi cobalah untuk membagi waktumu dengannya saat kau libur, ia butuh orang dewasa untuk ia beri pertanyaan, tapi aku bukan orang dewasa, aku hanya pria tua yang sudah mulai renta ini, ingatanku saja sudah mulai menghilang.. Hahahaha" Ayah terkekeh sambil memukul-mukul meja.
__ADS_1
"Ehh, ada apa ini? Tolong hentikan candaan kalian.. Aku sudah susah payah menidurkan bocah itu, jika sampai ia bangun.. Makanan ini akan ku taruh kembali ke lemari, kalian tidak perlu makan malam ini, besok saja'' Maria datang sambil membawa nampan berisi banyak makanan, wajahnya bersungut-sungut kesal. Tapi akhirnya ia terkekeh.
"Ahhh, ayah minta maaf nak, ayah lupa.. Kami hanya sedang membahas soal Harry yang sebentar lagi akan masuk sekolah" Ayah mulai menikmati makanannya.
"Iya, bocah itu bahkan bertanya padaku seperti apa sekolah itu.. Setiap hari, itu yang ia tanyakan, kau harus tahu bagaimana rasanya Levi, berusaha menjawab berbagai pertanyaan anak'' Maria terkekeh, ia tersedak..Aku yang terkejut, langsunh menepuk-nepuk punggungnya sambil mengambilkannya segelas air.
"Jangan makan sambil berbicara maria" Aku mengusap punggungnya.
"Tidak.. aku baik-baik saja'' Maria melanjutkan makannya.
"Owh iya Levi besok kau akan pulang jam berapa? Ibu dan ibu-ibu lainnya akan membuat banyak makanan untuk acara pernikahan putra pertama kepala desa" Tanya ibu, wanita tua ini lalu mengambil makanan di piringnya dan di letakkan di piringku.
"Mungkin jam 10 malam pekerjaanku sudah selesai, tapi aku tak tahu berapa menit perjalanan dari kantor menggunakan bus" Aku melihat jam tangan yang bertengger di pergelangan tanganku, itu menjadi satu-satunya barang berharga yang aku punya.
"Baiklah, semangat! Kau harus bekerja keras!'' Ayah menepuk punggungku
"Tentu saja, besok aku ingin mengambil jatah lembur ku lebih awal, makanya aku akan pulang jam 10" Aku terkekeh, rasanya meja makan ini penuh dengan kehangatan.
"Apa boleh aku dan Harry menjemputmu di halte?" Tanya Maria tiba-tiba.
Aku terkejut, dan langsung menoleh ke arahnya. Mendengarnya berkata seperti itu mengingatkan aku tentang perasaan khawatirku beberapa saat lalu.
"Tidak. Tidak boleh. Itu sudah larut malam, tolong tetap di rumah, kau tak perlu menjemputku, aku bisa menjemput diriku sendiri hehehe" Aku yang khawatir berusaha menghapus raut itu jauh-jauh dari wajahku.
Bersambung~
__ADS_1