
Aku menoleh pada Ava, gadis itu hanya mengangguk. Kemudian berjalan menuju lemari milik petugas polisi, Ava pun meletakkan sebuah vcd (video compact disk) di atas meja yang mana perhatian semua orang dalam ruangan, menjadi tertuju pada vcd itu.
“Tuan Chris, diketahui pada hari ini, jumat 11 September, dirinya mengaku bahwa ia memiliki semua alibi itu karena kejadiannya benar-benar hanya terjadi padanya, dan dia adalah satu-satunya saksi yang pertama kali menemukan mayat dari kedua korban, apalagi ada dua orang yang nyata dan bisa di jadikan saksi olehnya, yakni teman istrinya, dan kakak iparnya. Namun, jelas di rekaman cctv ini berbeda dari apa yang di katakannya. Pada pukul 10 ia memang benar-benar pulang terlebih dahulu bersama anaknya dan juga tidak kembali untuk menjemput istrinya. Akhirnya si istri kembali ke rumah dengan di antar temannya, karena ia terlalu mabuk. Namun istrinya sempat mengobrol dengan temannya lagi sebelum temannya itu pulang, nampak di cctv sang istri dan temannya sedang mengobrol, dan tuan chris menyuguhkan minuman pada keduanya. Setelah teman si istri pergi, si istri pun pergi tidur siang karena terlalu pusing, ia terlihat menaiki tangga menuju lantai atas dimana di sanalah letak kamarnya. Lalu terlihat kembali di rekaman cctv ini, tuan Chris yang turun dari lantai kamar menuju lantai dasar, kemudian pergi keluar, dan kembali membawa kantung keresek hitam besar. Lalu naik tangga menuju lantai atas lagi..” Jelas Ava panjang lebar, aku yang kurang mengerti hanya memperhatikan raut wajah tuan Chris dan tuan Baker bergantian, melihat apa mereka sama bingungnya sepertiku.
“Lalu? Setelah itu, nampak tuan Chris turun dan pergi keluar dengan pakaian berbeda. Dan mungkin seperti yang ia katakan, ia pergi ke restaurant milik kakak iparnya, kemudian pergi ke spa dan sauna setelahnya, itulah beberapa hal yang terekam oleh kamera cctv di rumah tuan Chris tepatnya di ruang tamu, atau lantai dasar. Namun ada hal yang terlupa, di rekaman cctv yang terpasang di balkon kamar tuan Chris dan nona hana, istrinya. Terekam oleh cctv itu, tuan Chris yang sedang melempar bungkusan plastik hitam besar ke beranda rumahnya. Dan di dalam rekaman cctv yang terletak di beranda rumah itu, terekam tuan Chris yang keluar menggunakan baju yang berbeda lalu membawa pergi bungkusan plastik hitam besar itu menggunakan mobil. Jadi? Bisa anda jelaskan mengenai bungkusan itu tuan Chris?!” Ava menyeringai, tentu saja semua rekaman itu seharusnya bisa menjadi bukti telak bagi pria itu, namun ternyata di luar dugaan ia masih tetap bersikukuh membuat alasan.
“Itu hanya sekedar sampah, barang-barang yang sudah tak terpakai dan akan ku buang..” Tuan Chris memberi alasan, lalu aku melihat tuan Baker beranjak pergi meninggalkan ruangan.
“Tuan Baker? Anda ingin pergi?” Aku menggenggam pergelangan tangan tuan Baker yang sudah meraih gagang pintu.
“Aku serahkan pada Ava, aku ingin pergi mencari makan dan segelas kopi, kau ingin ikut denganku atau menitip sesuatu?” Tuan Baker tersenyum, kerutan di sekililing matanya malah menambah kesan ramah di wajahnya.
“Ehm, tidak perlu, aku tidak ingin merepotkan pria tua dan baik sepertimu” Aku menggelengkan kepala seraya tersenyum.
“Haha, lagipula kau menunggu gadis itu kan?” Aku mengerjap, lalu saat tersadar terlihat tuan Baker mengedipkan sebelah matanya dan terkekeh. Tuan Baker keluar dari ruangan sambil terus menertawakan aku, entahlah aku tak tahu apa yang lucu dari diriku.
__ADS_1
Lalu aku kembali memperhatikan Ava, raut wajahnya jelas menunjukkan bahwa gadis itu sangat kesal pada tuan Chris.
“Sumpah! Itu hanya barang tak berguna, aku tak menyembunyikan apapun!” Saat fokusku kembali pada investigasi, aku hanya melihat tuan Chris memukul meja, membentak Ava, dan ia mengeluarkan air mata.
Dan mengenai kejadian sebelum itu, fokusku teralih karena mengobrol dengan tuan Baker, jujur saja sebagai pria aku benar-benar tidak menyukai hal ini, entahlah namun menurut banyak orang seorang pria memang sulit membagi fokusnya pada beberapa hal, ia hanya bisa fokus pada satu hal, dan itu sungguh, menyebalkan bagiku. Kembali ke fokusku pada infestigasi,
“Jangan bersumpah kau bajingan! Aku tahu, kau yang membunuh istrimu dan anakmu! Ambilkan benda itu!” Ava mengulurkan tangannya, lalu seorang polisi mengeluarkan sekantung plastik berisi sebilah pisau, ada darah yang sudah mengering di bilahnya.
“Baiklah bedebah! Aku ingin kau menjelaskan apa-apa mengenai pisau ini, ku beri waktu 10 menit untukmu menjelaskan semuanya padaku. Owh.. atau kau malah akan sangat senang jika aku yang menjelaskannya.. hemm?!” Ava yang duduk bersebrangan dengan tuan Chris mencondongkan tubuhnya ke hadapan tuan Chris, hingga tuan Chris hampir terjungkal ke belakang.
“Bisa menjelaskan? Atau butuh bantuan?” Ava menyeringai. Tuan Chris menelan ludah, mungkin sampai di sini kesaksian palsu yang ia berikan. Ava bangkit, gadis itu berjalan menghampiriku.
“Hei,, Levi! Bukankah.. kau dan aku yang menemukan barang bukti ini? Jadi, aku beri kesempatan untukmu menjelaskan tentang apa yang kau katakan padaku saat di tkp!” Ava meninju dadaku pelan. Tatapannya padaku terlalu percaya pada penalaran dan ucapanku, aku tak ingin ia terlalu yakin, namun apa boleh buat.
“Pelaku, akan lebih merasa aman jika senjata yang ia gunakan membunuh korbannya berada bersamanya atau sekedar berada dekat dengannya. Itu bagi kebanyakan pelaku yang masih amatir dalam membunuh, namun berbeda pada pelaku yang memang sudah ahli atau mungkin memang memiliki keahlian dalam membunuh, ia akan merasa yakin atau merasa aman meski senjata pembunuhnya berada jauh darinya, atau hal lain untuk membuatnya hilang dan tidak menjadi ancaman bagi si pelaku. Dan dugaanku, tuan Chris ini masih amatiran, maka aku mengajak Ava untuk mencari senjata pembunuhnya di sekitar rumahnya..” Aku memandang ke arah Ava, ia tersenyum lebar, nampak senang mendengar penjelasanku.
__ADS_1
“Bravo, tuan Detective.. aku merasa bangga bisa berteman denganmu, suatu kehormatan bertemu dengan orang sepertimu malam ini..” Ava berjinjit dan melingkarkan lengan kirinya di leherku, tangan kanannya menepuk-nepuk pundakku lalu ia mengacak-acak rambutku. Ahh, gadis sialan. Umpatku.
“Iya! Iya benar! Aku membunuh wanita itu! Wanita jalang itu hanya bisa menghabiskan semua uangku, aku berharap ia pergi ke neraka! Aku membenci wanita itu!” Tuan Chris memukul meja dan berteriak, itu bukti ia kalah telak. Ia berbalik menghadap Ava yang ada di belakangnya, lalu berjalan ke arahnya.
“Dan kau.. ada masalah apa seorang bocah sepertimu mengurusi urusan ini? Dengan sangat sombong kau membeberkan hasil analisismu, berusaha membuatku terpojok lalu mengaku, itu sama saja tidak adil” Wajah pria itu memerah karena amarah, matanya melotot ke arah Ava. Namun melihat itu Ava malah tertawa.
“Hahahaha.. Tidak, tidak, kau membunuhnya bukan karena ia menghabiskan banyak uangmu, kau membunuhnya karena kau tak mencintainya, karena kau lebih mencintai uang dibanding keluargamu! Kaulah yang paling pantas pergi ke neraka! Aku tahu semua pikiran busukmu itu bajingan, kau…” Belum selesai Ava menyelesaikan umpatannya, Tuan Baker masuk ke dalam ruangan, lalu segera menuju sofa dan duduk di atasnya.
“Eh? Mengapa berhenti? Apa kedatanganku mengganggu kalian? Tak apa, tak apa.. lanjutkan saja” Setelah berkata begitu, tuan baker terbatuk. Batuk-batuknya itu terdengar berat dan menyesakkan.
“Maaf tuan Detective, aku terlalu emosional” Ava menundukkan pandangannya, dalam sekali, kemudian menoleh ke arah tuan Chris. Pandangannya pada pria itu tetap menusuk seperti di awal, namun sedikit ada rasa sesal karena terlalu emosional dalam melakukan pekerjaan.
Bersambung~
*Jangan lupa like, coment, follow, vote, rate 5 bintang, dan bisa juga memberi gift loh')
__ADS_1
Author sakit, jadi akan lama update*')