Cute Spy Detective

Cute Spy Detective
Eps.5


__ADS_3

“Jangan terus menerus hanya bisa membuat alasan dengan mengatakan ‘Karena kau membenciku’. Jujur, sama sekali tak pernah terlintas perasaan benci untuk dirimu.. kau hanya mengada-ada!” Aku mulai menarik knop pintu,


saat pintu sudah sedikit terbuka


“Aku pernah mengajarimu menalar, namun sepertinya sia-sia. Kau tak pernah menalar perasaanku padamu, padahal, aku terus menerus menalar tentang bagaimana perasaanku padamu, nyata atau hanya sekedar delusi, tentu saja, kau tak pernah bisa melakukan itu kan? Menalar.. bahkan mungkin kau sebenarnya bukan tak bisa, namun kau tak pernah ingin menalarnya.” Ava memegangi kakiku, memeluk kakiku yang ingin beranjak masuk, ia menangis membuat kakiku basah.


“Lagi-lagi menangis..” Aku berbalik badan, berjongkok, lalu langsung memeluknya erat dalam dekapanku.


“A-aku.. memilihmu Levi. Karena, berada dekat dengan Hegard yang sekarang, membuatku seperti menjadi orang yang berbeda. Aku seperti di paksa harus memiliki kepribadian sesuai kriterianya! Secara tak langsung, sikapnya yang manis, dan ramah, membuatku merasa harus menjadi gadis yang manis. Aku yakin perasaan kami salah, sepertinya ini hanya sebagai pelampiasan karena kami saling pergi dan menghilang.” Ia bicara sambil menangis dalam dekapanku, air matanya turun membasahi kaos ku.


“Lalu sekarang kau ingin apa?”


“Aku ingin menjadi diriku sendiri, aku ingin bersamamu! Menjauh dan diam tak bicara padamu membuatku merasa sesak, se-seperti ada sesuatu yang hilang dari hidupku. A-aku ini detektif, dan aku sangat tahu bagaimana caranya menalar. Dan aku bahkan, terlalu sering berusaha menalar perasaanku padamu! Meski begitu, seberapapun bagusnya indra penalaranku, semua itu benar-benar tak bisa menjelaskan perasaan apa ini? Perasaan selalu ingin bersama denganmu ini, perasaan nyaman di dekatmu, perasaan sesak jika harus menjadi pribadi orang lain, perasaan-perasaan ini tak bisa ku mengerti. Hanya saja, menurut hipotesisku, ada sesuatu hal yang membuatku berketergantungan padamu. Meski tak hanya denganmu diri ini bisa menjadi diri sendiri, tapi rasa yang ada jika di dekatmu ini membuatku yakin ada sesuatu.. tapi apa?” Gadis dalam dekapanku ini terus bicara. Kausku basah karena air matanya, aku mengelus ujung kepalanya, menepuk-nepuknya pelan. Terkadang aku juga tidak mengerti, apa maksud hal yang ku lakukan itu.


“Tepat di hari kau berpacaran dengannya, aku merasa lega, karena kau tak menggangguku lagi…” sahutku


“Oi! Jahat sekali!” Ia memukul kepalaku pelan, wajahnya tampak kesal.


“Aku belum selesai bicara loh! Jangan memotong!” Aku mendorong nya keluar dari dekapanku. Ia bersungut-sungut, memukul-mukul tanah dengan kedua tangannya, jelas sekali ia kesal.


“Di hari ketiga, aku merasa.. ada yang hilang, seperti sebagian cahaya dalam hidupku terbawa pergi olehmu. Sempat berpikir aku tak bisa hidup tanpamu, namun jelas itu tidak mungkin, buktinya aku masih bisa bernafas hingga saat ini.” Aku menatap tepat ke dalam matanya.


“Kehilanganku?” tanyanya pelan.


“Entahlah, aku hanya merasa begitu. Tapi mungkin bukan merasa kehilanganmu, namun hanya merasa terlalu belum siap dengan beberapa keadaan yang berubah tiba-tiba. Awalnya kau selalu datang dengan teriak, sedang sekarang tidak. Itu membuatku merasa aneh.” Setelah mengatakan itu, aku tertawa, tawa yang hambar.

__ADS_1


“Baiklah, baiklah. Mari bicarakan tentang penerbangan kita lusa” Katanya mengganti topik pembicaraan, padahal matanya masih terlihat belum puas. Seperti belum puas dengan penjelasanku, seperti belum puas jika ia belum tahu klarifikasi tentang perasaannya.


“Lusa? Bukankah itu terlalu cepat?” aku terkejut


“Entahlah, mereka bilang ada urusan bisnis, dan hanya memiliki waktu 2 hari menemui kita di sana. Yaitu sesampainya kita di Sidney, dan sehari setelahnya. Lalu dua hari setelah menemui kita mereka akan terbang ke Tiongkok. Sepertinya orang tua asliku orang yang sangat sibuk ya.. dan aku merasa kasihan pada anak yang mereka rawat selama ini. Anak itu tinggal sendirian, dan lagi ternyata mereka terihat sangat sibuk dengan bisnis, pasti anak itu sangat kurang akan kasih sayang orang tua. Dan parahnya, meski ayahnya memberi begitu banyak uang ia hanya mengambil sedikit.. hidupnya.. terlihat sangat suram. Aku sampai takut jika harus tinggal dengan orang tua kandungku itu, rasa-rasanya.. aku lebih nyaman dengan orang tuaku yang sekarang, meski kita hanya hidup berkecukupan dan sesekali pernah mengalami kekurangan.. aku tetap merasa mereka menyayangiku, meski mereka banyak mengoceh, tapi aku akui daripada orang tua cuek dan dingin seperti itu, aku lebih suka orang tuaku yang sekarang” Ucapan Ava membuatku teringat pada orang tuaku, yang aku sendiri tak tahu keberadaannya.


“Anak yang kau bilang tadi perempuan?” aku penasaran, dengan gadis yang definisinya sangat mirip denganku.


“Entahlah, aku tak tahu pasti. Namun sepertinya memang perempuan, mana mungkin bisa salah jika berbeda gender” Ava tertawa, di ikuti olehku. Akhirnya setelah lebih dari sebulan tak mendengar ocehannya, kali ini ia mengoceh sepuasnya di hadapanku.


<•>•<•>•<•>•<•>


Malam ini aku mempersiapkan apa-apa yang di perlukan untuk memenuhi kebutuhan di Sidney. Tiba-tiba ponselku berdering, menandakan panggilan masuk dari sebuah nomor tak dikenal.


“Dengan siapa?” Tanyaku.


“Hegard” Jawab orang itu pendek. Mendengar itu entah mengapa perasaaku jadi bercampur aduk.


“Oh. Ada apa?”


“Selamat” katanya datar.


“Untuk?”


“Tentang Ava”

__ADS_1


“Hah? Maksudmu?”


“Kau berhasil merebut nya kembali dariku”


“Jujur aku tak pernah merasa, bahwa aku merebutnya darimu. Kau sangat egois, itu mempengaruhi kewarasanmu” Aku terkekeh, pelan dan terdengar sinis.


“Entahlah, tapi sepertinya aku juga merasa aku egois. Maka dari itu aku tak menolak kau mengatakan itu.” Ucapnya masih dengan gaya khasnya.


“Tahu diri sekarang. Haha”


“Meski aku bukan lagi pacarnya, aku masih sahabatnya”


“Apa gunanya kau berkata tentang itu padaku?”


“Hanya mengingatkan”


“Terimakasih” ucapku dengan nada meremehkan, entah kenapa bicara padanya benar-benar terasa menyebalkan.


“Jaga dia, kau tak pernah tahu apa yang ia katakan padaku tentangmu. Biar hanya aku yang mengingatnya.” Ia memutuskan panggilan secara sepihak, padahal aku belum ingin selesai membicarakan ini, aku penasaran apa yang Ava katakan pada Hegard? Sampai aku selesai menulis cerita ini pun aku tak pernah mengetahui nya. Karena banyak pikiran aku pun memilih pergi tidur, membaringkan tubuh yang lelah, namun hati yang terus berdesir halus, rasanya ada banyak kapas tipis dalam dadaku, hatiku merasa lega, akhirnya aku terlelap.




***Bersambung***~

__ADS_1


__ADS_2