Dance With Life

Dance With Life
Episode 1 - Darwin Dan Anisa (1)


__ADS_3

 


 


Gadis berambut panjang itu tersenyum-senyum sendiri sambil menatap sebuah album foto. Sudah tak terhitung berapa kali ia membulak-balik halaman-halaman album foto-foto masa kecilnya itu. Di banyak foto yang terdapat di album itu, terlihat dia sedang bersama seorang anak laki-laki, ada yang saling merangkul, ada yang sedang bertengkar, ada yang sedang saling ejek, sampai ada yang saling menjewer kuping.


Setelah puas melihat album itu, kemudian dia membuka laptopnya, dan melihat-lihat foto-foto dirinya dengan anak laki-laki yang di album tadi setelah dewasa, kembali dia tersenyum manis saat melihat foto-foto tersebut, “Darwin, ah seandainya kau tahu kalau sedang menunggumu, selama bertahun-tahun ini aku menunggumu! Tapi kenapa kau selalu tidak faham akan maksud hatiku ini? Ga mungkin kan kalo aku yang memulai duluan?” gumamnya kesal dengan bibirnya tipis dan merah ranum.


Tetapi kemudian muka gadis berkulit hitam manis itu berubah menjadi cemberut, “Selain itu, kamu tuh nyebelin banget! Dari kecil kamu selalu saja mengganggu dan menggodaku, kamu nggak pernah sekalipun nganggap aku serius! Kamu Cuma nganggap aku sahabat sekaligus musuhmu sejak kecil huh!” gumamnya dalam hati sambil mendengus menahan kesal.


Ketika dia sedang asyik tenggelam dalam lamunannya, tiba-tiba ada suara memanggilnya dari bawah, “Nis! Nis! Ini ada Mutia!”


Gadis yang bernama Anisa itupun segera terbangun dari lamunannya, “Iya bentar Kak!” sahutnya. Lalu ia menutup laptopnya dan membereskan album-album fotonya, dan turun menyambut Mutia yang datang berkunjung, “Eh Mut, lu kok mau dateng nggak ngasih kabar dulu? Sms dulu napa?” tanya Anisa pada Mutia.


 Gadis berambut pendek dan berpenampilan tomboy kawan Anisa yang bernama Mutia tersebut menjawab sambil cengengesan dan memegang kepalanya, “Eh sory Nis, soalnya gue ada keperluan mendadak ama elu hehehe…”


“Keperluan mendadak apaan?” tanya Anisa.


Mutia nampak sungkan untuk menerangkan maksudnya itu, “Eh itu anu… anu…”


“Anu apa?” tanya Anisa lagi dengan menaikan alisnya sebelah.


Akhirnya Mutia menjawab juga dengan tetap cengengesan, “Anu… Anu Nis, gue lagi bokek, maklum anak kost di tanggal tua, kiriman dari ortu belum ada hehehe…”


Anisa sudah bisa menebak maksud Mutia, inilah kebiasaan Mutia tiap akhir bulan pada teman-temannya, “Hooaaammmm… Terus?” tanya Anisa lagi dengan nada suara malas.

__ADS_1


“Gue belum makan Nis hehehe…” jawab Mutia sambil tetap cengengesan dan memegang tangan Anisa.


“Huh udah gue duga, ayo dah masuk!” jawab Anisa sambil mempersilahkan Mutia masuk.


***


Pada waktu yang sama di lain tempat, disebuah ruangan rumah sakit, seorang pria berkacamata duduk termenung dengan jantung berdebar. Beberapa saat kemudian datanglah seorang dokter dengan membawa hasil pemeriksaan pria itu. Sang dokter lalu duduk dikursinya dan menghela nafas panjang dengan wajah muram. “Win, menurut diagnosa dan hasil CT Scan ini…”


Dokter Yudi terdiam tidak meneruskan ucapannya, namun Darwin sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan dokter Yudi, Ruhnya serasa melayang terlepas dari raganya ketika mengetahui gelagat itu walaupun dia sudah mempersiapkan dirinya, tapi untuk lebih meyakinkan hatinya, ia bertanya juga. “Bagaimana dok? Tolong sampaikan yang sebenarnya!”


Dokter Yudi menghela nafas panjang lagi, kemudian ia menatap mata Darwin “Win maaf, dari hasil diagnosaku dan CT Scan ini kamu positif menderita Tumor Otak… Dan tumornya sudah parah, tumor ini membentuk seperti sebuah telapak tangan dan menjalar ke seluruh otakmu, dan secara perlahan merusak fungsi otakmu!”


Darwin, pemuda bertubuh kecil namun cukup tegap dan selalu berambut rapih itu tertunduk lemas mendengar vonis dari dokter Yudi tersebut, dia sudah tidak terkejut lagi dengan vonis tersebut karena sebelumnya ia juga telah divonis dengan hal yang serupa oleh beberapa dokter, kini ia pasrah, pandangan matanya mengabur dan seolah-olah semua menjadi gelap, dengan sisa tenaganya ia berucap dengan suara parau “dok, kira-kira menurut anda, sisa waktu yang dimiliki saya…”


“Mungkin paling lama hanya sekitar 6 bulan Win…” jawab dokter Yudi dengan suara pelan.


Dokter Yudi menghela nafas berat, kemudian ia memegang tangan Darwin, “Win, aku kenal baik dengan almarhum ayahmu, kami teman baik semasa SMA, dan aku juga mengenal Ibumu cukup baik, mengapa kamu tidak mengatakan hal ini pada Ibumu?”


Darwin terdiam, sebenarnya hubungan antara dokter Yudi dengan kedua orang tuanya lah yang membuatnya segan untuk berkonsultasi pada dokter Yudi, maka iapun menaruh dokter Yudi sebagai pilihan terakhir untuk memeriksa penyakit yang dideritanya itu.


Dokter Yudi mengangguk-ngangguk, dia mengerti masalah antara Darwin dengan ibunya. “Hmm… Ya aku tahu masalahmu, semenjak ayahmu meninggal, Ibumu yang mengelola perusahaan ayahmu, semua perhatiannya tercurah pada perusahaan peninggalan almarhum ayahmu sehingga ia tidak pernah memperhatikan dirimu, tapi cobalah perbaiki hubungan kalian, saat ini kamu sangat membutuhkan dukungan moril dari orang-orang yang kamu sayangi untuk bertahan hidup!”


Darwin tetap terdiam, dia tidak menanggapi saran dari dokter Yudi tersebut, dia malah bertanya hal lain, “Dok, apakah dengan operasi saya masih punya kesempatan untuk sembuh?”


“Dengan kondisi tumor yang sudah terlanjur parah dan menjalar ke seluruh otakmu itu, kemungkinannya hanya sekitar 3% saja…” jawab dokter Yudi dengan wajah muram.

__ADS_1


Setelah merasa cukup berkonsultasi, Darwin lalu meninggalkan rumah sakit itu dengan perasaan tidak menentu, dia betul-betul terpukul dengan vonis yang sama dari beberapa dokter itu, hatinya menggalau hebat ketika mengingat waktunya berada di kehidupan fana ini hanya tinggal 6 bulan!


Ketika sampai dirumahnya ia melihat mobil ibunya, “Ah ternyata Mamah sudah pulang” gumamnya, kemudian dengan langkah gontai ia masuk kedalam rumahnya, ketika melewati ruang keluarga Bu Leni ibunya yang sedang duduk beristirahat sambil menonton TV menyapanya, “Eh Win, kamu sudah pulang, udah makan nak?”


Darwin menggeleng sambil tersenyum, “Belum Mah.”


“Lho kok belum? Aduh ini sudah jam berapa Win? Nanti kamu sakit lagi, udah makan dulu sana!” ujar Bu Leni.


“Kan Darwin nunggu Mamah pulang, Darwin kangen sama masakan Mamah, udah lama banget Darwin nggak makan masakan Mamah.” jawab Darwin.


“Aduh Win, Mamah masih capek nih Win, udah kamu makan dulu aja! Mamah udah makan barusan, tadi Mbok Darmi udah masak kok, kapan-kapan aja Mamah masakin makanan kesukaan kamu.” jawab Bu Leni.


Semburat kekecewaan terlihat jelas di wajah Darwin dengan jawaban ibunya itu, dia berharap ibunya mau memasakan sop ikan gurame kesukaannya dan makan malam bersama seperti layaknya keluarga, sudah bertahun-tahun dia tidak merasakan moment itu, hatinya sangat merindukan masa-masa itu. Namun, kendati hatinya kecewa, ia tetap berusaha tersenyum dan bersikap sopan pada ibunya itu karena bagaimanapun ia sangat menyayangi dan menghormati ibunya itu. “Baik Mah, kalo gitu Darwin makan dulu ya.”


Ketika Darwin hendak meninggalkan Ibunya, Bu Leni memanggil Darwin lagi “Win tunggu, sini sebentar!”


“Ya, ada apa Mah?” tanya Darwin sambil mendekati ibunya.


“Besok pagi Mamah harus ke Seoul, terus langsung ke Hongkong buat urusan bisnis perusahaan kita, ya kira-kira sebulanan lah, Mamah tadi udah transfer uang ke rekeningmu buat bekalmu selama 1 bulan nanti, jaga dirimu baik-baik ya sayang! Jangan terlalu sering keluar malam!” jawab Bu Leni.


Darwin terdiam, sungguh dia sangat kecewa mendengar ucapan ibunya itu! Dengan keadaannya yang sekarang ini, dia tidak membutuhkan uang yang diberikan oleh ibunya itu, melainkan dia sangat membutuhkan perhatian ibunya, ia sangat haus akan kasih sayang seorang ibu yang sudah bertahun-tahun tak pernah ia rasakan! Ingin sekali ia mengatakan dan memperlihatkan hasil diagnosa doker Yudi pada Ibunya itu, namun ia menahan dirinya karena ia teringat pada tekad ibunya ketika ayahya meninggal, ya Bu Leni bertekad untuk meneruskan dan memajukan perusahaan milik almarhum suaminya itu, dan terbukti, perusahaan itu maju pesat setelah ditangani oleh Bu Leni. Ia tidak mau mengganggu konsentrasi ibunya yang sedang memajukan perusahaannya itu.


Setelah makan, Darwin lalu berbaring di kamarnya, pikirannya menerawang ke mana-mana, hingga tiba-tiba ia membangunkan badannya, “Ya disisa waktuku yang tinggal 6 bulan ini masih banyak yang harus aku lakukan! Aku harus menyelesaikan skripsiku, dan…” ia terdiam sejenak, ia mengingat-ngingat kehidupan “Ya aku juga ingin sekali menebarkan benih kasih sayangku pada orang-orang yang aku sayangi, Aku harus dapat berterus terang tentang perasaanku pada orang itu.” Demikianlah tekadnya untuk mengisi lemabran-lembaran terakhir kisahnya, selain itu, ia juga tidak akan mengatakan problema yang sedang dihadapinya kepada siapapun.


 

__ADS_1


 


__ADS_2