Dance With Life

Dance With Life
Episode 6 - Jpop vs Kpop (1)


__ADS_3

Anisa duduk sendiri di halaman belakang rumahnya, dibiarkannya angin sore mempermainkan rambutnya yang indah, dia pandangi cahaya mentari senja itu yang merah keemasan yang memantulkan cahayanya di kolam renang itu, sementara kanvas lukisan dihadapannya terlihat masih kosong, dia berniat untuk melukis panorama sore di halaman rumahnya itu, namun bathinnya malah berkecamuk dahsyat! Di dalam benaknya bayangan Darwin terus menari-nari.


Dia teringat dulu, kalau Darwin sedang berkunjung main kerumahnya, mereka berdua sering bermain di halaman belakang rumahnya itu, mereka berlari-lari mengitari kolam renang itu dengan penuh tawa riang! Bayangan kenang-kenangan itu terus berputar di benak Anisa, dan hingga akhirnya Anisa menjadi kesal dengan keadaannya itu. “Heh pergi lo dari benak gue! Gangguin gue aja! Gue mau ngelukis tahu!” teriaknya tanpa sadar.


Anisa lalu menjambak-jambak rambutnya sendiri, dia tenggelam dalam emosi didalam dirinya hingga tidak sadar ketika seseorang melangkah mendekatinya. “Aduh Adek Kaka yang satu ini kenapa sih?” Tanya orang itu.


Anisa kaget mendegar teguran itu, dia lalu menoleh kebelakang. “Eh Kak Linda! Ah enggak ada apa-apa kok Kak, aku cuma lagi sebel aja, inspirasi buat ngelukis udah ada, tapi terus keganggu ama pikiran lain!” ujarnya pada seorang gadis bertubuh tinggi semampai, bermata kucing, berkulit putih, dan berambut panjang berwarna cokelat kemerahan.


Mata Linda menyipit memperhatikan raut muka Adiknya itu. “Oya? Emang kamu lagi mikirin apa Nis?”


Anisa jadi merasa sedikit gugup melihat pandangan mata Kakaknya yang nampak sedang menyelidikinya itu, setelah menelan ludahnya untuk menenengkan dirinya, dia lalu menjawab dengan berbohong tentunya. “Eh aku cuma kepikiran terus tentang kuliah Kak! Terutama masalah skripsiku!” ucapnya pada kakak perempuannya tersebut, ya Anisa dan Linda memang agak berbeda, Linda yang berkulit putih dengan wajah kearab-araban dan mempunyai mata kucing lebih mirip pada ayahnya yang keturunan Arab dan juga berkulit putih, sedangkan Anisa yang bermata bulat tajam dan berkulit hitam manis khas Jawa lebih mirip dengan Ibunya yang asli dari Pati Jawa Tengah.


Linda tersenyum jahil melihat perubahan tingkah laku Anisa itu, dia segera tahu kalau Adiknya itu sedang berbohong, maka diapun sedikir ‘memancing’ Anisa dengan tebakannya. “Lho bukannya kamu kesel karena kepikiran terus si Darwin ya Nis?”


Mata Anisa terbelalak mendapati pancingan dari Kakaknya itu! Dia tidak mengira kalau Linda Kakaknya itu bisa menebak apa yang sedang ada didalam benaknya itu, maka ditengah kekagetannya itu meluncurlah satu pertanyaan yang dia katakan diluar kesadarannya. “Kok Kak Linda tahu?”


Linda tertawa lebar mendapati pertanyaan Anisa itu. “Hahaha… ya tahulah! Hubungan kamu sama Darwin kan udah jadi rahasia umum! Semua orang yang kenal deket ma kalian pasti tahu! Hahaha…”


Anisa baru sadar kalau dia ‘salah omong’ dengan pertanyaannya tadi hingga kini Linda kakaknya tahu apa yang sedang dipikirkannya, mukanya memerah dan dia tidak sanggup berkata-kata saking malunya oleh Kakaknya itu, gemuruh perasaan yang bercampur aduk segera mengemuka di hatinya Anisa hingga dia tidak ingat kalau dia itu sedang duduk atau sedang berdiri.


***


Keesokan lusanyanya di kampus, Anisa, Darwin bersama keempat sahabatnya sedang nongkrong di kantin kampus, seperti biasa, gelak tawa, ejekan, candaan sampai saling mencela selalu menghiasi percakapan mereka, hingga Mutia membuka percakapan kearah yang lebih serius, “Eh Win, gimana kabarnya si Heru? Gimana proses PDKTnya sama Cynthia?”

__ADS_1


Darwin menjawab sambil menyeruput kopi hangatnya. “Katanya sih dia udah mulai berani smsan dan LINEan sama Cynthia, dan sejauh ini kayanya Cynthia cukup terbuka sama si Heru.”


Togar ikut nyeletuk. “Bah aku tidak percaya kalau si Cynthia yang katanya cewe pendiam dan dingin itu mau terbuka sama si Heru yang asalnya culun abis itu!”


“Tapi kan si Heru udah kita make over Gar! Selain itu si Heru sebenernya kan cowok baik, walau agak-agak aneh juga! Dan gue pingin misi pertama kita buat ngejodoin si Heru ama Cynthia sukses!” ujar Fina dengan penuh semangat.


Pada saat itu datanglah seorang gadis berwajah oriental (mukanya mirip orang jepang), berpipi chubby, berambut panjang pirang-pink-biru dan bertubuh tinggi serta agak montok, berdandan gaya harajuku Jepang duduk di salah satu meja kantin itu, dia terlihat asyik membaca komik, sesekali dia tersenyum dan tertawa kecil ketika membaca komik itu yang membuat pipinya yang chubby itu terlihat semakin lucu.


Tidak lama kemudian, munculah seorang pria bertubuh tinggi kekar, bergaya ala boyband Korea duduk disebelah gadis itu, gadis itu diam dan terkesan mengacuhkan kehadiran pria itu, pria itu merasa tak enak hingga akhirnya keluarlah kata-kata dari mulutnya. “Yumi, sampai kapan kita mau gini terus? Kok kamu marahnya berkepanjangan kaya gini?”


Si gadis yang ternyata bernama Yumi itu tidak mempedulikan omongan pria itu, dia pura-pura tidak mendengarnya dan tetap asyik membaca komiknya, si pria itu lalu menggemgam tangan Yumi, “Yumi please! Tolong dengerin dulu penjelasanku!”


Yumi yang merasa tidak nyaman dengan genggaman tangan pria itu lalu meronta “Andy lepasin tanganku!”


“Oh itu namanya Yumi Tatsuhiko Komalasari, mahasiswi FIKOM, dia cewe blasteran Jepang-Indonesia yang tergila-gila sama Jepang, dan semua yang dia pake juga serba Jepang!” jawab Fina. (catatan : FIKOM = Fakultas Ilmu Komunikasi).


Sementara itu Yumi terus meronta, namun Andy tidak bergeming dan nampaknya dia tidak akan melepas tangan Yumi, hingga akhirnya Yumi Menjerit. “Andy Lepasin Tangan Gue!” Andy yang terkejut oleh teriakan Yumi itu akhirnya melepaskan tangan Yumi, setelah tangannya lepas, Yumi lalu berdiri dan bergegas meninggalkan Andy.


Beberapa saat kemudian, setelah bubaran kuliah, Darwin cs keluar dari kelasnya menuju mobil mereka di tempat parkir. Pada saat itu juga Yumi terlihat berjalan cepat dengan muka kusut sambil dikejar oleh Andy. Yumi terus berusaha menghindari Andy, hingga ia melihat Darwin yang sedang berbincang dengan sobat-sobat csnya di tempat parkir itu, Yumi pun berlari menghampiri Darwin.


“Misi, kamu Darwin anak Bioteknologi itu ya?” sapa Yumi.


Darwin agak kaget dengan sapaan Yumi yang tiba-tiba itu, diapun lalu mengangguk, “Iya, aku Darwin, ada apa ya?”

__ADS_1


“Eh enggak, cuma pengen ngobrol aja.” jawab Yumi sambil tersenyum, lalu dia melirik kearah Andy yang berdiri agak jauh dari sana.


Darwin nampak keheranan dengan sikap Yumi itu, sementara Togar dan yang lainnya terdiam, Anisa malah menatap tajam pada Darwin dengan rasa tidak suka, Darwin jadi serba salah mendapati tatapan itu dari Anisa itu tapi diapun merasa tidak enak kalau harus meninggalkan Yumi begitu saja. Maka dengan sungkan dia bertanya lagi pada Yumi. “Mau ngobrol apa ya?”


“Eh Win, kamu ada keturunan Jepang ya?” Tanya Yumi yang pura-pura tidak mendengarkan pertanyaan Darwin tadi.


Darwin jadi makin bingung dengan pertanyaan dari Yumi tersebut, “Eh kenapa emangnya?”


Yumi lalu mengeluarkan salah satu komiknya dari dalam tasnya. “Ini lho, kamu mirip tokoh cowok di komik ini!”


Darwin lalu melihat komik itu. “Lho masa sih? Emang mirip gitu?”


Yumi lalu mendekati Darwin dan memegang bahu serta dada Darwin, tentu saja Darwin kaget dengan sikap Yumi itu, belum hilang kagetnya Yumi bersuara lagi. “Bener Win! Coba aja liat! Walau kamu sedikit pendek, tapi badanmu cukup kekar, dadamu berisi, dan bahu serta tanganmu cukup berotot! Belum lagi wajah kamu yang cakep yang membuatmu ngetop di kampus, walau keliatannya kalem, kamu bisa bikin cewek klepek-klepek deh!”


Mata Anisa terbelalak lebar menyaksikan itu, darahnya seperti mendidih hingga ke ubun-ubun, Fina segera memegangi Anisa, sementara Mutia segera menarik Yumi. “Aduh Yumi elu tuh apa-apan sih? Nyari masalah aja!”


“Lho nyari masalah apa? Aku ga nyari masalah kok!” jawab Yumi sambil mengangkat bahunya.


Mutia lalu melirik pada Anisa. “Masalah apa? Liat tuh!”


 


 

__ADS_1


__ADS_2