
Mata Darwin melotot dan jantungnya berdegup kencang ketika melihat Hasan menyeka air mata Anisa! “Sudahlah Nis! Sekarang sebaiknya aku anter kamu pulang, nggak enak diliat orang kalo kalian bertengkar disini!” ucap Hasan.
Tanpa ragu-ragu, Anisa masuk kedalam mobilnya Hasan, dan meninggalkan tempat itu, Darwin hanya terdiam menatap kepergian Anisa dengan Hasan, hatinya terasa sakit bagaikan disayat sembilu melihat semua itu, kemudian ia ia berjalan dengan gontai pulang kerumahnya.
Ketika sampai di rumahnya dan berjalan melewati ruang baca, ia melihat Mbok Darmi sedang membersihkan makanan yang buatan Anisa yang ia lemparkan sendiri, dengan mata sayu, Darwin menatap makanan itu. “Tunggu Mbok, jangan dibersihkan dulu!” ucapnya dengan lemah.
“Lho kenapa Den?” Tanya Mbok Darmi, Darwin tidak menjawab, ia tiba-tiba membungkuk dan memungut makanan yang berserakan itu dan memakannya! Mbok Darmi kaget melihat itu. “Den, jangan makan itu Den! Aduh makanan itu kan udah kotor!”
Darwin tidak mempedulikan ucapan Mbok Darmi, dia tersenyum saat merasakan makanan itu. “Hmm… Enak juga, Mbok tolong bereskan makanan ini yang masih bisa dimakan! Biar saya makan siang dengan makanan ini!”
Mbok Darmi terkejut mendengar itu .“Tapi Den!”
Darwin lalu bangkit berdiri “Sudahlah Mbok, tolong lakukan apa yang saya minta!”
Dengan senyum yang dipaksakan, namun matanya menatap sayu, Darwin duduk di meja makan dan menyantap masakan Anisa yang tadi berserakan itu, ada sosis goreng saus kecap, Filet ayam goreng tepung, dan Tumis Kangkung bumbu terasi. Mbok Darmi menatap Darwin yang makan dengan lahap semua makanan itu.
“Den, apa Aden nggak apa-apa makan makanan yang tadi udah berceceran di lantai?” Tanya Mbok Darmi.
“Sudahlah Mbok, nggak apa-apa kok! Lagian makanan ini enak banget!” jawab Darwin.
Mbok Darmi terdiam mendengar jawaban itu, tapi melihat Darwin yang menyantap makanan itu dengan lahap, pertanyaannya meluncur lagi. “Den, apa Aden bener-bener suka sama Non Anisa?”
__ADS_1
Darwin menghentikan makannya sejenak, pikirannya melayang mengingat-ngingat semua momemont yang ia lalui bersama gadis cantik berkulit hitam manis itu sejak pertemuan mereka yang pertama kali sampai mereka ribut besar barusan, setelah menghela nafas baru dia menjawab. “Iya Mbok, aku suka sama Anisa, aku suka sama Anisa dari kecil dulu malahan!”
“Maaf kalau si Mbok lancang Den, tapi kenapa tadi Non Anisa marah-marah sama Aden?” Tanya Mbok Darmi lagi.
“Entahlah Mbok, mungkin karena aku telah menggores harga dirinya hingga hatinya terluka! Dia merasa terhina karena aku yang membeli lukisannya, karena seolah aku yang memberinya uang saku, dia mengharapkan orang lain yang membeli lukisannya agar dia dapat merasakan hasil kerja kerasnya!” jawab Darwin dengan lemah.
Setelah selesai makan Darwin merenung sendiri dikamarnya, dia bingung harus melakukan apa agar Anisa mau memaafkannya, selain itu hatinyajuga terasa panas karena kehadiran Hasan yang tiba-tiba itu! Dia merasa sangat panas sebab dulu Hasan pernah mempunyai hubungan khusus dengan Anisa!
Disaat dirinya sedang menggalau hebat seperti itu, tiba-tiba HPnya bergetar, ternyata ada satu pesan Facebook yang masuk, Darwin langsung membukanya, dan ia terkejut karena yang mengirimi ia pesan adalah Samuel, begini isi pesannya “Win, aku mau bertemu kamu untuk berterima kasih karena kemarin kamu sudah membantu membetulkan mobilku yang mogok, aku tunggu nanti jam 7 malam di café dekat sekolah SMA kita.”
Darwin mengernyitkan keningnya, dia merasa heran dengan ajakan Samuel yang tiba-tiba itu. “Hmm… kenapa si Samuel tiba-tiba mengajakku ketemuan ya? Aneh…” gumamnya, setelah merenung agak lama, Darwinpun memutuskan untuk memenuhi ajakan Sam tersebut.
Petang itu Anisa sedang berdandan, matanya masih terlihat sembab, dia terus memikirkan masalahnya dengan Darwin. “Win, kenapa sih kamu nggak jujur padaku? Terus terang selama satu bulan ini aku merasakan perubahan besar dalam dirimu, tapi kamu selalu menutup-nutupi apa yang sebenarnya sedang terjadi!” ratapnya dalam hati.
Dua butir air matanya mengalir lagi dari matanya. “Win jujur, aku tuh seneng banget akhirnya kamu mau nembak aku! Tapi aku merasa dengan ulahmu yang mengejutkanku dengan lukisan-lukisanku itu, kamu gak akan selalu jujur padaku dan akan selalu ada yang disembunyikan padaku!”
Saat itu HP Anisa bergetar, ada 1 LINE masuk. “Oh ternyata Hasan udah nyampe didepan, sebaiknya aku bergegas!” ucapnya sambil mengusap air matanya.
Jam 7 malam, sesuai dengan perjanjian, Darwin sudah sampai di café dekat sekolah SMAnya, dia lalu melangkah masuk dan celingukan mencari Samuel, Samuel yang melihat Darwin sudah datang lalu melambaikan tangannya, Darwin yang melihatnya lalu melangkah mendekatinya dan duduk dimeja yang sama.
Sejenak Darwin terdiam menatap Samuel, kecurigaannya pada Samuel mendorongnya untuk selalu waspada pada orang itu. Setelah beberapa saat ia baru membuka suaranya. “Ada apa Sam nggak mau ketemu gue?”
__ADS_1
Samuel tersenyum lebar mendengar pertanyaan itu. “Aku cuma mau berterima kasih padamu Win, karena telah menolongku waktu mobilku mogok tempo hari!”
Darwin merasa sedikit curiga dengan sikap Sauel yang ramah serta tidak seperti biasanya itu. “Lalu?”
Samuel tersenyum lagi. “Oh aku cuma mau memberimu hadiah sebagai balas budiku!”
Darwin mengangkat alisnya. “Hadiah apa?”.
Samuel lalu menujuk ke salah satu meja yang agak jauh dari meja mereka, “Hadiahku berupa informasi kalau Anisa lagi Dinner sama si Hasan, teman satu SMA kita dulu!”
“Apa?” Darwin lalu melirik kemeja yang ditunjuk oleh Samuel tersebut, betapa terkejutnya ia melihat Anisa yang berdandan dengan gaya cuek namun membuatnya nampak sangat menarik itu sedang mengobrol dengan akrab bersama Hasan! Anisa nampak sangat akrab dan intim dengan Hasan. Kontan dada Darwin terasa sesak, hatinya bagaikan dibakar api melihat keakraban Anisa dengan Hasan. Dia tidak menyadari keberadaan Anisa dan Hasan tadi karena perhatiannya terpusat pada Samuel.
Melihat Darwin yang sangat terkejut melihat Anisa, Samuel merasa senang, dia merasa rencana sukses besar! “Win, kamu kan teman dekatnya Anisa, jadi aku mau ngasih lihat berita gembira ini secara langsung sebagai ucapan terima kasihku! Akhirnya sahabatmu itu bisa jalan bareng lagi dengan Hasan setelah sekian lama nggak bertemu!” ucapmu dengan senyum sinis.
Darwin tidak menghiraukan ucapan Samuel yang membuatnya semakin panas itu, dia hanya terdiam menatap Anisa yang sedang mengobrol dengan Hasan.
Anisa merasa senang sapat mengobrol lagi dengan Hasan setelah sekian lama tidak bertemu, tawa dan canda menyelingi acara makan malam mereka, Anisa memang sengaja menerima tawaran Hasan untuk melupakan masalahnya dengan Darwin, tiba-tiba ia melihat Hasan tersenyum dan melirik kearah lain.
“Ada apa San?” Tanya Anisa sambil ikut melirik.
Anisa terkejut melihat Darwin yang sedang berdiri mematung memandang mereka berdua, untuk beberapa saat mereka saling beradu pandang hingga terdengar suara Hasan. “Eh ternyata ada Darwin! Mau gabung disini Win?”
__ADS_1