
Sepulangnya dari kampus, Darwin langsung menuju ke Optic untuk mendapatkan kaca mata baru, setelah itu dia menuju ke rumah sakit untuk menemui dokter Yudi, dia merasa khawatir dengan rasa pusing di kepalanya serta dengungan di telinganya yang dirasanya teramat sangat itu, dia sudah meminum obat yang diberikan dokter Yudi tapi tidak dapat menghilangkan pusing dan dengungan di telinganya itu.
Di rumah sakit, Darwin duduk sambil menatap Dokter Yudi dengan wajah tegang, kemudian meluncurlah pertanyaannya. “Gimana Dok?”
Dokter Yudi mengehla nafas panjang sebelum menjawab. “Dari hasil tes urine beberapa hari yang lalu dan pemeriksaanku barusan…”
Perasaan Darwin semakin berkecamuk ketika melihat Dokter Yudi seperti yang merasa segan untuk meneruskan ucapannya, maka setelah ia berusaha menekan perasaanya itu dia bertanya lagi. “Bagaimana Dok?”
Setelah menatap Darwin beberapa saat, barulah Dokter Yudi meneruskan ucapannya. “Eh tidak ada apa-apa Win kamu hanya kurang istirahat saja, ini resep obatmu!”
Mendengar itu Darwin jadi sedikit lega. “Oh gitu, makasih ya Dok!” ujarnya sambil hendak bangkit dari kursi itu, namun sebelum ia berdiri Dokter Yudi bersuara lagi, “Win bagaimana hubunganmu dengan Ibumu?”
Darwin terdiam sejenak mendengar pertanyaan itu, kemudian dengan suara berat ia menjawab. “Mamah sedang ke Seoul dan Hongkong untuk urusannya bisnisnya…”
Mendengar itu, Dokter Yudi menatap tajam pada mata Darwin. “Oh begitu, padahal aku sangat yakin kalau dukungan dari Ibumu akan sangat berarti untukmu menghadapi semua ini Win!”
Darwin menunduk, mukanya jelas nampak sedih mendengar ucapan Dokter Yudi tersebut, tapi ia buru-buru bangkit dari kursinya. “Eh ok Dok, aku akan segera ke apotek untuk resep ini, makasih Dok!”
Setelah Darwin keluar dari ruangan itu, Dokter Yudi terus menatap pintu yang baru saja ditutup oleh Darwin, tatapannya kosong dan raut mukanya berubah sedih. “Ah Darwin… Ya Tuhan hanya keajaibanMU lah yang dapat menolong dia!” gumamnya.
Ketika sedang menunggu obatnya di apotek, tiba-tiba Darwin mendengar suara yang sangat dikenalnya, suara nyaring dengan logat medok yang terdengar lucu baginya, ketika dia ikuti arah suara itu, dia tersenyum lebar! Ternyata benar apa yang dia duga, seorang gadis berambut lurus panjang berwarna hitam, bermata bulat tajam, dan berkulit hitam manis Nampak di apotek tersebut, diapun lalu mendekati orang itu. “Hallo Nis! Lagi ngapain nih?”
Anisa kaget mendengar suara yang sangat dikenalnya itu, ia kemudian menoleh, “Darwin?!”
__ADS_1
“Lagi ngapain Nis?” Tanya Darwin.
“Lu enggak liat kalo gue lagi di apotek? Ya lagi beli obat lah!” jawab Anisa dengan ketus, namun ketus yang dibuat-buat.
Darwin tersenyum mendengar Anisa itu, lalu ia bertanya lagi. “Lho emangnya kamu sakit apa Nis?”
Anisa jadi nampak sedikit grogi ketika mendapati pertanyaan itu, namun akhirnya dengan malu-malu ia menjawab. “Gue dari Dokter Gigi Win!”
Darwin tersenyum lebar mendengar itu. “Apa? Dari Dokter Gigi? Gigimu sakit ya Anisa Pramudyawardhani? Makanya jadi cewe jangan jorok, gosok gigi tuh harus rajin kaya aku! Hahaha…”
Gadis ayu berkulit hitam manis tersebut marah mendengar ejekan Darwin itu, dia lalu mencubit perut Darwin. “Enak aja ya! Nih rasain!” Darwin meringis kesakitan mendapati cubitan Anisa di perutnya itu. “Aduh Sakit Nis!” keluhnya.
Ketika itu, orang-orang di sana memandangi mereka, Anisa dan Darwin jadi malu sendiri, mereka berdua lalu duduk di kursi tunggu, “Kamu sakit apa sih Win? Apa gara-gara dipukulin sama Andy tadi?”
Di perjalanan, Anisa tampak memperhatikan kacamata baru Darwin. “Kaca mata baru Win?”
“Eh iya, baru aja aku beli sebelum ke rumah sakit tadi.” jawab Darwin.
Anisa lalu terdiam, diam-diam dengan ekor matanya dia memperhatikan kacamata Darwin, dia jadi teringat peristiwa beberapa tahun yang lalu ketika pertama kali ia melihat Darwin menggunakan kacamata, masih segar dalam ingatannya ketika dia menanyakan alasan kenapa Darwin menggunakan kacamata, dan dia jadi tertawa sendiri ketika mengingat penyebab kerabunan Darwin adalah karena Darwin terlalu sering main game, padahal awalnya Anisa mengira kalau penyebab kerabunan Darwin adalah terlalu banyak membaca buku.
Darwin merasa heran ketika melihat Anisa tertawa sendiri, dia tercekat ketika melihat Anisa yang sedang tertawa itu, namun tak urung, akhirnya suatu kalimat tanya keluar juga dari mulutnya. “Lho kamu kenapa ketawa sendiri? Jangan-jangan… Hiiii!”
Anisa menoleh dan melotot pada Darwin, “Jangan-jangan apa? Gue masih normal kok! Gue cuma inget waktu pertama kali liat elu pake kacamata, dan konyolnya lagi penyebab lu pake kacamata gara-gara keseringan main game, padahal gue kira gara-gara kebanyakan belajar! Dasar anak konyol! hahahaha….”
__ADS_1
Biasanya Darwin pasti melawan kalau diejek Anisa seperti itu, tapi kini dia jadi ikut tertawa juga menertawakan dirinya sendiri. “Eh Nis, kita makan malem dulu yuk?”tanyanya setelah berhenti tertawa.“Eh kamu kan lagi sakit Win” sahut Anisa.
Sebelum Darwin menjawab, tiba-tiba Darwin melihat sesuatu diluar, dia kemudian segera menepikan mobilnya, “Ada apa sih Win?” Tanya Anisa.
Darwin tidak menjawab, dia langsung keluar, Anisa pun mengikutinya melangkah keluar. Ternyata Darwin menghapiri seseorang yang nampaknya mobilnya sedang mogok, namun yang membuat Anisa terkejut, adalah orang itu yang tak lain adalah Samuel. Darwin berjalan dengan tenangnya menghampiri Samuel, Samuel yang segera menyadari kalau dia didekati seseorang segera menatap Darwin, dia menyeringai. “Lu mau apa Win? Mau balas dendam kejadian di kampus tadi?”
Darwin terdiam, dan diluar dugaan Samuel maupun Anisa, Darwin melongok mesin mobil Samuel, dengan kalmenya seolah tidak ada apa-apa di antara mereka dia bertanya, “Mogok Sam?”
Samuel menatap tajam pada Darwin, dia menjawab sambil menyeringai dengan ekspresi yang mencemooh Darwin. “Iya, emang lu mau apa? Mau gejek gue atau mau nantangin gue duel?”
Darwin diam tidak menjawab Samuel, dia melihat ada Tang dan beberapa peralatan di kap mesin Samuel bekas Samuel mengutak-atik mesin mobilnya, dan yang membuat Samuel maupun Anisa terkejut adalah ketika Darwin mencoba mengutak-atik mobilnya Samuel, berbekal sedikit pengetahuannya tentang mesin, Darwin mencoba memperbaiki mobil Samuel itu.
Samuel terdiam melihat Darwin yang sedang mengutak-atik mobilnya, hingga setelah beberapa saat Darwin mengeluarkan kepala dan tangannya dari dalam kap mesin mobil Samuel. “Sam coba stater!”
“Apa? Lu merintah gue HAH?!” bentak Samuel.
“Stater sajalah Sam!” jawab Darwin dengan kalem.
__ADS_1