
Sesampainya di rumah Nicole, Anisa turun dari taksinya setelah membayar ongkosnya, kemudian melangkah perlahan mendekati pintu rumahnya, sementara Darwin memperhatikan dari kejauhan. Ting Tong! Bel itu berbunyi setelah dipijit Anisa, tak lama kemudian pintu rumah itu pun terbuka, ternyata yang membuka pintu itu adalah seorang wanita paruh baya berpenampilan sederhana yang tak lain adalah Ibunya Nicole. “Eh Anisa, silakan masuk Nis!” sapanya.
“Makasih Tante.” jawab Anisa.
Tak lama kemudian setelah dipanggil, Nicole pun datang, “Mau ngapain lo kesini?” tanyanya dengan muka jutek dan suara tidak bersahabat, sejenak Anisa terdiam mendapati sambutan sahabatnya itu karena ia merasa heran, biasanya Nicole tidak bersikap seperti itu.
Anisa merasa tidak enak dengan sambutan Nicole yang tidak bersahabat itu, tapi dia berusaha menekan perasaannya dan mulai membuka pembicaraan. “Nicole sebenernya maksud kedatangan gue kesini…”
“Apa? Sebaiknya kalo nggak ada yang penting mendingan lu pulang deh Nis!” Sahut Nicole dengan ketus mata melotot.
Lagi-lagi Anisa terdiam, dia sungguh merasa tidak enak dengan sikap Nicole kepadanya yang berbeda dari biasanya tersebut. Anisa lalu menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya, baru kemudian melanjutkan. “Nicole, masalah yang diomongin di café tadi… Nicole aku cuma mau nolongin kamu!”
Tubuh Nicole terlihat bergetar tanda ia sedang menahan emosinya, dia menatap Anisa dengan tajam! “Nis! Tolong lu jangan ikut campur urusan gue yang satu ini deh! Sekarang sebaiknya lu pulang Nis!”
“Tapi Nicole…” ucap Anisa.
“Nis gue masih mandang persahabatan kita, gue bilang lu jangan ikut campur urursan gue yang satu ini!” ucap Nicole.
“Nicole dengerin dulu!” pinta Anisa.
“Keluar!” bentak Nicole dia sudah tidak dapat menahan emosinya, Anisa melongo mendapati bentakan Nicole tersebut, Nicole lalu bangun dari kursinya dan mendorong-dorong tubuh Anisa. “Keluar Nis! Gue nggak mau nemuin orang itu lagi! Keluaaarrrr!”
Tubuh Anisa terdorong keluar, dan Braakkk! Pintu rumah Nicole ditutup dengan kasar, setelah bisa menguasai dirinya kembali Anisa lalu mengetuk-ngetuk pintu rumah Nicole. “Nicole! Please Nicole! Dengerin gue dulu! Nicole! Nicole!” namun tidak ada jawaban.
__ADS_1
“Nicole gue nggak akan pergi dari sini sebelum lu mau nemuin Ayah lu dan membicarakan semua ini!” teriak Anisa, kemudian dia duduk di kursi rotan yang ada di halaman rumah Nicole.
Satu jam kemudian, Bu Rosy Ibunya Nicole keluar dari pintu samping untuk mengangkat jemuran, Anisa yang melihat Bu Rosy langsung berlari menghampirinya. “Tante… Maaf Tante!”
“Lho Anisa belum pulang?” Tanya Bu Rosy.
Anisa menggelengkan kepalanya. “Belum Bu, saya nggak akan pulang sebelum bisa membuat Nicole mau memaafkan ayahnya!”
“Apa?” Tanya Bu Rosy yang terkejut mendengar jawaban Anisa “Kenapa kamu lakukan ini?”
“Karena saya sudah berjanji pada Om Tomy! Selain itu ini saya lakukan demi kebahagiaan Nicole! Dulu Nicole selalu bilang kalau dia ingin bertemu dengan ayahnya, Nicole juga pernah bilang kalau dia sangat merindukan ayahnya! Sekarang ketika ayahnya sudah mau menemuinya, Nicole malah menolak kehadirannya dan tidak mau memaafkan kesahannya!” jawab Anisa.
Anisa terkejut mendengar ucapan dari Bu Rosy tersebut. “Tapi… Tapi Tante…”
Bu Rosy menghela nafasnya setelah ia selesai mengangkat semua jemurannya. “Anisa, Tante memang sudah memaafkan kesalahan manan suamiku itu, tapi kalau untuk Nicole… ah biarlah Nicole yang memutuskannya sendiri, dan sekarang Tante minta kamu pulang dulu Nis!” setelah mengucapkan itu, Bu Rosy segera masuk kedalam rumahnya.
Anisa terdiam mendengar ucapan Bu Rosy tersebut, di pelupuk matanya terbayang ketika Anisa dan Nicole masih kecil, ketika mereka bermain bersama di sekolah, pada saat itu Pak Hady ayahnya Anisa datang menjemput Anisa karena kebetulan hari itu adalah hari sabtu, Nicole kecil hanya memandang dengan tatapan kosong melihat keakraban Anisa dengan ayahnya.
Anisa kecil lalu melirik pada Nicole kecil, “Lho Nicole, kamu nggak dikemput sama Papahmu?”
__ADS_1
Nicole kecil menggelengkan kepalanya. “Eng…. Enggak Nis…”
“Lho kenapa?” Tanya Anisa.
Nicole kecil menundukan kepalanya, bahunya berguncang, air matanya segera meleleh. “Kata Mamah, Papahku udah lama pergi, dan mpe sekarang belum pulang-pulang!”
Anisa kecil terdiam mendengar jawaban itu, dia merasa ikut sedih ketika melihat sahabatnya itu menangis, dia lalu menarik-narik tangan Pak Hady dan membisikan sesuatu ketelinga Pak Hady, Pak Hady lalu mengangguk-ngangguk setelah mendengar bisikan Anisa itu. “Nicole, ikut sama aku main yuk?! Ntar pulangnya aku anter deh!”
Mendengar itu Nicole mengangguk-ngangguk senang. “Wah beneran nih Nis? Makasih ya!” ucap Nicole yang kegirangan mendapati ajakan dari Anisa tersebut.
Mengingat semua itu, air mata Anisa menetes, dia lalu mengusapnya dan duduk lagi kursi rotan halaman rumah Nicole. “Nicole, bukannya elu pengen punya Ayah dari dulu? Sekarang ketika Ayahmu sudah hadir, kamu malah menolaknya…” desah Anisa.
Darwin yang memarkirkan mobilnya diseberang rumah Nicole terus menatap Anisa dari dalam mobilnya. “Hmm… tepat seperti yang kuduga, masalah Nicole ini bukan masalah mudah, dan Anisa, apa lagi yang akan kamu lakukan?” gumamnya dalam hati.
Waktu terus berlalu, hari telah malam, namun Anisa masih terus duduk di kursi halaman rumah Nicole, Darwin terus menatapnya dari dalam mobilnya “Anisa sampai kapan kamu bertahan?” gumamnya dalam hati.
Angin malam yang dingin bertiup cukup kencang, Anisa mulai menggigil ketika angin malam itu menusuk kedalam tulangnya, tiba-tiba HPnya bergetar dan berbunyi, ternyata telepon dari Carla. “Hallo Carl ada apa?”
“Gimana Nicolenya? Udah mau maafin dan nerima Om Tomy? Besok aja kita terusin!” sahut Carla.
“Belum Carl…” jawab Anisa dengan lesu.
“Ya udah, kita terusin besok aja ya, sekarang udah malem! Aku mau pulang dulu!” jawab Carla.
Setelah menutup teleponya, Anisa lalu menatap kearah jendela kamar Nicole, setelah agak lama dia lalu mengangguk dan mengepalkan tangannya. “Ya, gue ga akan nyerah! Gue nggak akan nyerah sampai Nicole mau maafin dan nerima Ayahnya!” tekad Anisa.
__ADS_1