
Sementara itu, didalam kamarnya, Nicole sedang tiduran, mukanya sangat kusut. “Huh ngapain sih si Anisa ikut campu urusan pribadi gue segala?! Malah mpe sekarang dia masih diem diluar!” gerutunya dalam hati.
Pada saat itu masuklah Bu Rosy. “Nicole, Anisa masih ada di halaman, kayanya dia masih nungguin kamu Nicole!”
“Huh biarin aja Mah! Lagian suruh siapa dia diem di halaman rumah kita? Kaya gelandangan aja!” jawab Nicole dengan ketus.
“Tapi kasian dia Nicole, diluar juga dingin banget! Coba deh kamu temuin dia lagi, bentar aja!” ucap Bu Rosy.
Muka Nicole malah makin cemberut. “Ogah ah Mah! Tadi Nicole udah bilangin ma dia baik-baik, tapi dianya bandel! Udah! Biarin aja dia!”
Bu Rosy kemudian terdiam, dia menatap Nicole dengan wajah sedih. “Nicole, apa kamu masih ga bisa maafin Ayahmu?”
“Kan udah Nicole bilang, Nicole nggak akan pernah maafin Ayah sampai kapanpun!” jawabnya dengan ketus.
Sementara itu, hujan mulai turun dengan cukup deras, Anisa yang masih duduk dihalaman rumah Nicole, menggigil kedingingan, disaat dia sedang menggil itu, tiba-tiba seseorang memakaikannya jaket, Anisa terkejut, lalu dia menengadahkan kepalanya untuk melihat orang yang ada dihadapannya itu, dia terkejut bukan main ketika melihat orang itu. “Darwin!” desisnya.
Darwin terdiam sejenak, dia menatap Anisa dengan prihatin. “Nis, sebaiknya kamu jangan diem disini, nanti sakit!”
__ADS_1
“Tapi aku gak bisa pergi dulu Win!” jawab Anisa.
“Tapi nanti kamu sakit Nis! Disini dingin banget! Hujan lagi!” ucap Darwin.
“Enggak bisa Win! Aku nggak bisa pergi dari sini!” jawab Anisa dengan tegas, dia tetap keukeuh pada sikapnya.
“Heuh keras kepala!” maki Darwin dalam hati, “Ok kalo gitu, sebaiknya kita nunggu Nicole di mobilku aja, kalo tetep disini, nanti kamu bisa sakit!” ucap Darwin dengan nada memaksa.
Setelah berpikir sejenak akhirnya Anisa menganggukan kepalanya. “Ok deh kalo gitu!” kemudian dengan dipayungi oleh paying yang dibawa oleh Darwin, mereka berdua berjalan dan masuk kedalam mobil Darwin.
Didalam mobil Darwin, Anisa menatap Darwin dengan seksama, ada rasa curiga dihatinya kenapa Darwin bisa tiba-tiba ada di rumahnya Nicole. “Win, kamu kok tiba-tiba ada disini sih?”
Darwin berusaha tetap tenang, dia tidak mau ‘aksi detektifnya’ ketahuan oleh Anisa, setelah mendapatkan akal diapun tersenyum lebar. “Kebetulan aku baru pulang dari rumahnya si Togar Nis, rumahnya kan di daerah sini, nahpas pulang aku liat kamu lagi kedinginan di halaman rumahnya Nicole, ya aku samerin deh!”
Darwin jadi agak salah tingkah tatapan Anisa yang penuh selidik itu, pada saat itu hujan mulai reda dan kebetulan ada tukang Nasi Goreng lewat, Darwin tidak menjawab Anisa, dan memanggil tukang nasi goreng tersebut. “Hmm… semakin mencurigakan!” gumam Anisa dalam hati.
Tak lama kemudian, Darwin dan Anisa menyantap nasi gorengnya didalam mobil Darwin, Darwin menatap Anisa yang makan dengan cukup lahap itu karena ia merasa sangat lapar, apalagi di udara sedingin malam ini. “Nis, kamu mau sampe kapan nungguin Nicole?” Tanya Darwin dengan tiba-tiba.
Anisa melotot karena kaget dengan pertanyaan Darwin tersebut, sebelum ia menjawab, Darwin sudah membuka suara lagi. “Nis, masalah Nicole adalah masalah yang sangat berat! Tidak sesederhana seperti ketika kita menjodohkan Heru dengan Cynthia atau mendamaikan Yumi dan Andy!”
Anisa bertambah kaget mendengar itu. “Kamu tahu darimana kalau aku lagi ngebantuin masalahnya Nicole? Dan tahu apa kamu dengan masalahnya Nicole?”
__ADS_1
“Ada deh Nis!” jawabnya, kemudian dia menghela nafas panjan.g “Nis, apa nggak apa-apa kamu mencampuri masalah Nicole? Ini masalah pribadi Nis! Masalah keluarga Nicole!”
“Win, aku nggak tahu kamu tahu masalah ini darimana, tapi dengerin aku! Apa yang kulakukan cuma mau membantu Nicole untuk mendapatkan kebahagiannya! Waktu kecil dulu, Nicole sering menangis karena dia merasa kesepian sebab nggak punya Ayah! Sekarang Ayahnya sudah ada, aku pingin mempersatukan mereka kembali! Itulah tanggung jawabku pada Nicole sebagai seorang sahabat! Dan aku nggak akan pergi dari sini sebelum tujuanku tercapai!” jawab Anisa dengan tegas.
“Tanggung Jawab? Tanggung jawab apa Nis? Mungkin tujuanmu memang baik mau menyatukan kembali Nicole dengan ayahnya, tapi apakah kamu memikirkan perasaan Nicole saat ini? Dia merasa sangat sakit hati karena sudah ditinggalkan dan tidak dianggap oleh Ayahnya selama ini!” Tanya Darwin lagi.
“Tapi ayahya Nicole juga merasa sedih dan bersalah karena harus meninggalkan Nicole dan ibunya secara terpaksa! Jadi meninggalkan dan ditinggalkan keduanya tetap merasakan sakit hati! Nicole harus paham hal itu agar dia bisa memaafkan ayahnya!” jawab Anisa.
“Ya, walaupun meninggalkan dan ditingglakan keduanya sama-sama sakit, tapi bagaimana dengan tanggung jawab Ayahnya Nicole selama ia meninggalkan Nicole? Dia tetap terikat pada tanggung jawabnya sebagai orang tua, tapi ia telah mengabaikannya selama ini!” ucap Darwin.
“Ayahnya telah menyadari semua kesalahannya Win! Dan kini ia menyesalinya! Kukira semuanya berhak untuk mendapatkan maaf dan kesempatan kedua! Tuhan saja mau memaafkan semua kesalahan umatnya dan akan memberikan kesempatan kedua untuk menebus kesalahanya itu! Win, pokoknya aku akan terus menunggu Nicole apapun yang terjadi, kalau kamu mau pulang, silakan pulang duluan! Biar aku nunggu dihalaman rumahnya Nicole lagi!” jawab gadis yang mempunyai tatapan mata tajam tersebut dengan tegas.
Darwin tercengang dengan jawaban Anisa tersebut, kemudian dia tersenyum “Hehehe… kamu memang pinter ngomong Nis!” ujarnya mengakui kekalahan adu argumennya pada gadis cerdas yang keras kepala tersebut.
Kemudian Darwin menatap tajam pada Anisa “Anisa, satu petanyaan terakhir dariku, ini akan menentukan berhasil atau tidaknya usahamu membantu Nicole, Anisa apa tujuanmu yang sebenarnya menolong Nicole?”
__ADS_1