
Pagi harinya Darwin terlihat sedang mengurus tanaman-tanamannya yang ada di taman rumahnya, tidak biasanya ia membantu Mang Ujang mengurus tanaman-tanamannya di tamannya tersebut. Darwin menyirami bunga-bunga yang ada di taman rumahnya itu sambil tersenyum-senyum. "Tumben Aden mau ngebantu Mamang nyiram tanaman-tanaman ini." Mang Ujang yang merasa penasaran melihat tingkah laku Darwin yang tidak biasa itu.
"Ahahaha... Sekali-sekali kalau lagi ada waktu aku juga ingin mengurus tanaman-tanaman ini Mang." jawab Darwin dengan tersenyum sambil terus menyiram bunga-bunga yang sedang bermekaran itu.
"Oh iya, Mamang lupa kalau Aden sekolahnya di Biologi! Pasti ngurus taman ada hubungannya sama sekolah Aden ya?" Tanya Mang Ujang sambil menepuk jidatnya.
Darwin jadi merasa geli pada Mang Ujang, pria yang sudah 15 tahun setia berprofesi sebagai tukang kebun di rumahnya tersebut. "Hehehe... ya jelas ada hubungannya lah Mang, tanaman juga kan mahluk hidup! Tapi ada yang lebih penting dari urusan Biologi Mang."
"Lha apa itu Den?" Tanya Mang Ujang lagi yang masih asyik memangkas rumput-rumput yang sudah panjang.
Darwin menatap bunga-bunga yang telah bermekaran itu dengan seksama. "Aku bisa belajar arti kehidupan yang sebenarnya yang Tuhan berikan pada kita semua Mang!"
Dahi Mang Ujang berkerut, cara berpikirnya yang sederhana itu tidak dapat menangkap maksud dari ucapan Darwin tersebut. "Maksud aden? Mamang ga ngerti, seumur-umur Mamang kerja jadi tukang kebon belum pernah denger istilah yang kaya gitu Den."
Darwin tersenyum mendengar ucapan Mang Ujang yang polos dengan logat Sundanya yang kental itu, dia lalu menghela nafas. "Mang Ujang, setelah Papah meninggal aku jadi sangat tertarik untuk belajar Biologi, aku ingin sekali mempelajari kehidupan, dulu Papah meninggal karena penyakit kanker darah, dan karena kami tidak menemukan donor sumsum tulang punggung yang cocok untuk Papah, akhirnya Papahpun meninggal."
Darwin terdiam sejenak sebelum meneruskan ucapannya, dia berusaha menahan gejolak di hatinya yang selalu muncul ketika dia mengingat ayahnya almarhum. "Secara teknis, aku ingin meneliti tentang rekayasa genetika hayati, yang memungkinkan para Dokter untuk bisa menyelamatkan pasiennya tanpa operasi dan donor organ tubuh, itulah motivasiku untuk belajar Biologi, tapi ada satu pertanyaan yang mengganjal di dalam benakku, sekeras apapun aku belajar, pertanyaan tersebut adalah 'untuk apa aku hidup?' Begitu banyak teori-teori yang mencoba menjawab pertanyaan itu, tapi tidak ada yang pas dengan hatiku hingga akhirnya aku menemukan jawabannya dari bunga-bunga yang sedang bermekaran ini."
Darwin lalu melangkah dan meneruskan menyiram tanaman-tanaman yang lain. "Bunga-bunga ini pada awalnya tidak ada, ia hanya merupakan suatu benih, kemudian tumbulah dahannya, menyusul daun-daunnya, setelah itu baru kemudian muncul kuntum bunga hingga akhirnya bunga-bunganya bermekaran, namun setelah bunga-bunga itu mekar, ia akan layu, dan memulai kembali proses-proses sebelum ia berkembang. Mengapa hal tersebut harus demikian? Karena tujuan akhir dari bunga itu adalah untuk mekar, dan apa yang dicari dari mahluk hidup lainnya pun adalah bunga yang telah mekar tersebut!
Begitupun kita manusia, kita sedang berproses untuk menuju ke tujuan hidup kita, belajar dari segala sesuatu yang ada di alam sekitar kita, termasuk bunga-bunga itu, akhirnya aku menyadari bahwa Hidup bukan soal menang atau kalah, hidup adalah ketekunan dalam menjalani peran yang akan semakin bertambah, hidup bukan berarti menjadi "Figur", hidup bukan berarti hanya menjadi sumber inspirasi, tetapi bagaimana kita ikhlas dalam berusaha melakukan yang terbaik sebagai manusia insan Tuhan, insan sosial, serta insan dengan alam semesta, dan nilai yang paling tinggi dari suatu kehidupan itu adalah proses ketika dia berusaha melewati setiap prosesnya menuju akhir, menjadi insan yang senantiasa berguna bagi mahluk lainnya."
__ADS_1
Mendengar itu Mang Ujang merenung, mukanya nampak kebingungan, Darwin baru menyadari kalau ia terlalu nyerocos mengutarakan apa yang ada di benaknya. Ia lalu menpuk pundak Mang Ujang. "Ah sudahlah Mang, aku cuma lagi curhat aja kok…"
Setelah itu mendadak Mang Ujang jadi teringat pada almarhum Pak Sunarya, ayahnya Darwin, dia jadi terharu ketika teringat semua kebaikan dari Juragannya itu, dia kemudian menatap Darwin, dari muka dan sikapnya sampai pada logat bicaranya yang cukup kental dengan logat Sundanya, Darwin memang sangat mirip dengan Pak Sunarya. "Mamang jadi teringat sama almarhum tuan besar Den, Aden mirip banget deh sama almarhum tuan besar!"
Darwin menunduk dengan wajah sedih, dan dia ingat kalau hari ini adalah hari yang sangat penting bagi dirinya walaupun menyimpan kenangan yang menyedihkan baginya. Ketika ia tenggelam dalam lamunannya, terdengarlah suara Mbok Darmi memanggilnya. "Den Darwin, ini sarapannya sudah siap!" Darwin pun melangkah masuk.
Setelah mandi, Darwin lalu duduk di meja makannya, tak lama kemudian Mbok Darmi membawakan sepiring nasi goreng dengan secangkir kopi susu hangat. "Silakan den" ucap wanita tua itu dengan sopan.
"Makasih Mbok" jawab pria Sunda yang dipanggil Aden oleh Mbok Darmi tersebut, kemudian dia langsung menyeruput kopinya. Mbok Darmi nampak memperhatikan Darwin yang sedang menikmati kopinya itu, sejak lama Darwin telah kecanduan pada kopi, rasa khawatir didalam diri Mbok Darmi pun tak tetahankan lagi hingga meluncurlah ucapannya. "Maaf Den kalau si Mbok lancang, tapi si Mbok khawatir kalau Aden jadi sakit kalau kebanyakan minum kopi."
Mendengar itu Darwin lalu menatap Mbok Darmi, ditatapnya wanita tua yang sudah mengabdi di rumahnya itu semenjak ia belum lahir, kemudian seulas senyum mengembang diwajahnya. "Si Mbok benar, kopi tidak baik untuk kesehatan apalagi kalau minumnya kebanyakan, Ok kalo gitu tolong ambilin saya Teh Manis hangat Mbok!" ucapnya sambil menyodorkan cangkir kopi susu yang masih tersisa lebih dari setengah cangkir.
"Baik Den." jawab Mbok Darmi dengan tersenyum sambil mengambil cangkir tersebut, lalu dia pergi ke dapur untuk membuat Teh Manis, Mbok Darmi merasa senang karena tidak biasanya Darwin mendengar kata-katanya, biasanya Darwin bandel kalau dinasehati dan menganggapnya seperti angin lalu, tapi sekarang dia mendengarkannya nasehatnya tanpa membantah sedikitpun.
Sementara itu Darwin menyantap nasi goreng sarapannya, mendengar nasehat Mbok Darmi barusan membuatnya teringat peristiwa-peristiwa yang lalu, dia lalu menatap kesekeliling rumahnya, di pelupuk matanya bagai tergambar jelas ketika Darwin kecil berlari-lari di ruang tengah itu sambil dikejar-kejar Mbok Darmi yang sedang menyuapinya makan, Darwin kecil yang sedang malas makan itu kemudian mendekati sebuah guci besar di bawah tangga, dengan muka jahil dia mendorong-dorong guci besar itu, Mbok Darmi berteriak-teriak panik melihat hal itu. "Aduh jangan Den! Jangan! Nanti kalau pecah Tuan Besar sama Nyonya bisa marah!".
Darwin tersenyum mengingat itu, sudah tak terhitung kenakalan-kenakalannya yang membuat Mbok Darmi kewalahan, namun belum pernah sekalipun Mbok Darmi memarahinya, dengan sabar Mbok Darmi selalu mengasuh dan mengurusnya sejak kecil, diam-diam Darwin merasa sangat kagum pada kesabaran dan ketelatenan Mbok Darmi, bahkan Mbok Darmi lebih sering bersamanya dibandingkan dengan Bu Leny ibunya sendiri, bahkan ia merasa sangat sedih karea ibunya tidak ingat akan bermaknanya hari ini.
Saat itu Mbok Darmi datang sambil menyerahkan Teh Manisnya pada Darwin. "Ini silakan Den!"
"Makasih Mbok, oya sini dulu Mbok!" jawab Darwin.
"Ada apa lagi Den?" Tanya Mbok Darmi.
Darwin tersenyum menatap Mbok Darm.i "Mbok, terima kasih buat nasehatnya tadi ya."
__ADS_1
Mbok Darmi merasa heran dengan sikap Darwin yang tak biasa ini, tapi akhirnya ia menjawab juga. "Ah itu kan sudah kewajiban si Mbok Den."
Darwin kemudian menundukan kepalanya. "Mbok, apakah Mbok sayang padaku?"
Mbok Darmi kaget dan merasa semakin heran mendapat pertanyaan itu. "Lho Aden kok nanyanya begitu? Lha jelas si Mbok sayang sama Aden, si Mbok kan sudah ngasuh Aden sejak masih bayi, bahkan Aden sudah si Mbok anggap sebagai anak sendiri!"
Mendengar itu, Darwin yang masa bayi dan balitanya lebih 'akrab' dengan susu kaleng dibandingkan susu Ibunya serta lebih dekat dengan Mbok darmi daripada ibunya sendiri itu pun tak bisa menahan lagi gejolak di hatinya, air matanya mulai menetes, dan dengan serta merta ia memeluk Mbok Darmi. "Mbok, aku sayang sama si Mbok! Aku juga banyak salah sama si Mbok, maafin aku ya!"
Mbok Darmi terkejut dengan sikap Darwin itu, dia lalu memeluk Darwin. "Ya si Mbok juga sayang sama den Darwin, si Mbok juga udah lama maafin kesalahan-kesalahan Den Darwin!"
Darwin kemudian mengangkat kepalanya. "Makasih ya Mbok, si Mbok sudah kuanggap seperti Ibuku sendiri!"
Mbok Darmi menatap mata Darwin dengan lembut, tatapan mata perempuan tua itu terasa sangat teduh dan menyejukan hati Darwin, "Makasih ya Den, tapi si Mbok kan cuma orang kecil, kurang pantes kalo Aden nganggap si Mbok ibu Aden."
"Tapi Aku sayang banget sama si Mbok, si Mbok selalu ada buatku sejak dari dulu!" air mata Mbok Darmi pun menetes, dia sangat terharu oleh sikap Darwin itu, dan ia mafhum dengan sikap Darwin itu karena sejak kecil bahkan sejak bayi Darwin jarang sekali mendapatkan sentuhan kasih sayang seorang ibu.
__ADS_1